
Perdana menikmati sarapan pagi di rumah baru Ayasha, apalagi sarapannya dibuat sama Ayasha, moment yang berharga buat Rafael. Sepiring mentung nasi goreng, lalu secangkir kopi hangat buatan Ayasha.
Perhatian kecil namun amat membahagiakan buat Rafael. Mama Rara pun bisa merasakan kehangatan di ruang makan tersebut, perasaan yang sudah lama tidak dia lihat antara Rafael dan Ayasha.
“Aya, jangan masuk kerja dulu ya, tunggu sampai kamu sehat dulu baru aku izinkan kembali kerja,” pinta Rafael, saat mendengar Amelia menanyakan kapan Ayasha kembali kerja.
“Iya Om, tapi hari ini aku sama Amel rencananya mau mengurus rumah kontrakan dulu Om,” balas Ayasha, sembari meletakkan alat makannya di atas piring.
“Kamu ambil barang yang penting saja, perabotan yang ada di sana kamu kasih ke tetangga aja tidak perlu dibawa ke sini, kebutuhan kamu di sini sudah lengkap, dan kalau butuh mobil buat bawa barang, nanti minta tolong Satya untuk hubungi mobil kantor, dan beberapa office boy untuk membantu kalian berdua. Ingat kesehatan kamu lebih penting,” tutur Rafael menunjukkan perhatiannya tanpa rekayasa, benar-benar dari hatinya.
Ayasha hanya manggut-manggut saja, dilawan juga percuma. Pria itu kemudian mengusap lembut punggung tangan gadis itu yang masih ada di meja makan. “Aku tidak bermaksud melarang mu, tapi mengingatkan kamu yang baru sembuh. Hari ini aku sama Satya harus kembali ke Jakarta, ada urusan penting. Tapi mama tetap di sini, temani kamu takut nanti kamu ada apa-apa, jangan bikin aku mengkhawatirkanmu ya selama aku tidak ada di sini,” tutur Rafael tidak menunjukkan otoriter atau posesifnya takut Ayasha merasa tidak nyaman.
Gadis itu rasanya ingin tergelak tawa melihat mimik wajah Rafael yang mau meninggalkan dirinya, tapi sudah berderet pesannya bagaikan seorang suami kepada istrinya.
“Jangan khawatirkan aku Om, aku kan sudah dewasa dan selama ini juga tidak ada Om kan disampingku,” sindir Ayasha dengan gaya santainya.
Rafael tersenyum getir, memang benar apa yang diucapkan Ayasha, tapi untuk sekarang sangatlah berbeda keadaannya, ada Darial si pria brengsek disisi gadis itu, lalu masihkah ada yang ingin mencelakai Ayasha? Ini yang membuat dirinya cemas, dia takut Delia masih mencoba mengirim guna-guna kepada Ayasha.
“Bolehkan jika aku khawatir padamu?” tanya Rafael pelan, gak enak didengar sama yang lain, tatapan matanya pun begitu dalam.
“Mmm ...,” gumam Ayasha, memperbolehkannya. Dan Rafael pun mengulas senyum hangatnya sehangat hatinya pagi ini.
Selesai sarapan bersama, Satya langsung menghubungi Pak Wibowo untuk memberikan pesan dari Rafael kemudian segera menghubungi pihak penerbangan untuk keberangkatan mereka berdua, mengunakan jet pribadi papa Stevan.
Ada rasa berat meninggalkan Ayasha, tapi dia harus meninggalkannya sementara demi memperjuangkan Ayasha serta masa depannya. Seperti saat ini, Ayasha sedang mencuci piring bekas makan mereka, mau berpamitan saja terasa berat bagi Rafael, yang ada dia memeluk gadis itu dari belakang. Gadis itu pun langsung menoleh bahunya, dan sudah bisa dipastikan jika ini ulah Rafael.
“Sebentar aja aku memelukmu,” pinta Rafael begitu lirih. Ayasha kembali mencuci piring dan membiarkan pria itu memeluknya.
“Jaga diri ya, selama aku pergi,” pinta Rafael.
“Astaga Om, dari tadi pesannya banyak amat. Kan aku udah bilang jangan pikirin aku, Om juga banyak kerjaan yang harus dikerjakan, jadi pergilah dengan tenang ya,” jawab Ayasha, sembari menyabuni piring-piring kotor.
Rafael menaruh dagunya di atas bahu Ayasha, hal itu membuat bulu kuduk gadis itu merinding. Wangi maskulin yang menguar dari tubuh pria itu pun sangat tercium di indra penciuman gadis itu, Rafael pun sama dia menghirup aroma tubuh gadis itu yang membuat hatinya nyaman.
“Aku mencintaimu,” bisik Rafael pas di daun telinga Ayasha, lalu mengecup pipi gadis itu, kemudian mengurai pelukannya. Apa yang dia lakukan itu adalah curahan isi hatinya yang tak ingin dipendamnya lagi, karena waktu ke depan tidak ada yang tahu, masih ada waktu atau tidaknya, namun paling tidak dia tak akan pernah menyesalinya, apa yang dirasa untuk Ayasha telah dia ungkapkan.
...----------------...
Rafael dan Satya telah berpamitan untuk kembali ke Jakarta, sedangkan Ayasha dan Amelia pergi ke rumah kontrakannya diantar oleh sopir hotel.
“Kak Darial,” gumam Ayasha sendiri, setelah mobil yang membawanya sudah tiba di depan rumah kontrakannya.
Amelia memutar malas kedua bola matanya setelah menangkap sosok Darial yang sedang terduduk di teras rumah.
Buat apa tuh orang itu ke sini, batin Amelia, kesal.
Darial bangkit dari duduknya dan melihat mobil yang baru tiba. “Ayasha,” gumamnya, saat melihat kekasihnya keluar dari mobil. Pria itu bergegas menghampirinya.
“Kamu dari mana, hampir satu jam saya menunggu, ponsel kamu juga tidak bisa dihubungi?” cecar Darial dengan raut wajah kesalnya.
Ayasha baru teringat dengan ponselnya, karena semenjak dirawat di rumah sakit hingga sekarang dia tidak memegang ponselnya.
“Maaf Kak Darial, aku semenjak di rumah sakit hingga saat ini tidak pegang ponsel,” jawab Ayasha, jujur.
Darial mendesah, lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam sakunya. “Sekarang saya tanya kamu dari mana?” kembali bertanya Darial, tatapannya begitu menyelidik.
Amelia yang berada di antara mereka berdua, langsung menyerobot melewati kemudian membuka pintu yang terkunci.
“Dari rumah Kak.”
“Rumah! Bukannya kamu tinggal di sini!” jawab Darial sembari jarinya menunjukkan rumah kontrakan.
Ayasha mengamati wajah Darial dalam-dalam, mendengar suara Darial yang terus mencecar dirinya membuat dirinya semakin tak nyaman.
“Aku sudah pindah rumah, sekarang aku ke sini ingin mengambil barang-barangku yang penting.”
“Pindah rumah! Kamu kan baru kemarin keluar dari rumah sakit!” terkejut Darial.
Ayasha jadi menarik napas mendengarnya. “Mendadak, kemarin langsung dari rumah sakit ke rumah baru.”
Darial berkacak pinggang, hatinya benar-benar kecewa merasa tidak dihargai oleh Ayasha sebagai kekasih, hal yang besar ini saja sampai dia tak tahu.
“Aya, masuk dong ... bantuin dulu!” teriak Amelia dari dalam rumah dengan sekencang mungkin, agar terdengar jelas. Amelia sengaja agar Ayasha menjauh dari Darial.
“Sebentar Mel,” sahut Ayasha dari luar rumah.
“Kak, aku harus ke dalam dulu. Sekarang Kakak datang ke sini ada apa?” tanya Ayasha, sembari memperhatikan wajah Darial.
Darial mengikis jaraknya dengan Ayasha, dan menatap lekat wajah gadis itu. “Memangnya salah jika saya menjengukmu, dan perhatian denganmu?” tanya Darial, pelan.
Perkataan Darial membuat gadis itu tersenyum tipis, karena apa? Di hari ini dia melewati harinya dengan dua pria yang berbeda, pria yang sama-sama menunjukkan perhatiannya, pria yang sama-sama menunjukkan rasanya, kini mana yang membuat hati Ayasha terasa nyaman, karena sebuah hubungan juga perlu rasa nyaman bukan hanya kata cinta semata.
Pria itu meraih tangan Ayasha lalu mengecupnya. “Kamu adalah calon istri ku, dan wajar jika saya perhatian denganmu, saya akan segera melamarmu secara resmi,” kata Darial.
Tak ada rasa bahagia dihati Ayasha saat Darial ingin melamarnya secara resmi. “Jangan terburu-buru Kak Darial, aku belum yakin dengan hubungan kita, bisa atau tidaknya kita sampai ke jenjang pernikahan, dan aku juga belum mengenalmu lebih jauh lagi, semuanya butuh waktu dan proses,” imbuh Ayasha.
“Tapi kita bisa saling mengenal setelah kita menikah Ayasha,” balas Darial.
Ayasha menggelengkan kepalanya, tidak menyetujui perkataan Darial. “Aku tidak mau terluka untuk kedua kalinya, kecuali Kak Darial menceritakan semua tentang Kak Darial secara jujur, agar aku bisa belajar menerima dan memahami Kak Darial.”
DEG!
Tidak mungkin ... tidak mungkin saya menceritakan tentang kelakuan saya, serta tentang anak saya. Ayasha tidak boleh mengetahuinya sampai kapanpun. Sialan pasti Rafael sudah menceritakan kejadian di club tempo hari, hingga Ayasha mulai meragukan saya!
Darial terdiam, lalu mengepalkan salah satu tangannya. Ayasha pun turut terdiam dan menatap pria bule itu, berharap ada jawaban yang dia terima.
bersambung ... mungkinkah Darial akan berkata jujur mengenai dirinya?