FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Memohon maaf



Manusia tidak ada yang sempurna di dunia ini, sebaiknya apapun seseorang pasti pernah melakukan hal yang buruk. Karena kesempurnaan itu hanyalah milik Allah.


Noda kotor yang pernah ditorehkan dalam perjalanan hidup bisa dibersihkan dengan cara bertaubat dengan sungguh-sungguh, dan kembali ke jalan yang lurus.


Ridho-nya Allah ada di ridho-nya orang tua, maka dari itu raihlah ridho Allah dari kedua orang tua selagi mereka masih hidup. Hal ini yang telah diabaikan oleh Rafael, sudah lupa diri jika kesuksesan yang dia raih, bisa jadi berkat doa seorang Ibu. Dan dia lupa hancurnya hati seorang Ibu kepada anaknya karena bentakan keras dari anak terkasihnya, sungguh menyakitkan.


Rafael menundukkan kepalanya, air matanya kembali membasahi pipinya. Kesombongannya selama ini hancur di hadapan mama Rara, mana kata-katanya jika Delia wanita pilihan yang terbaik dari pada Ayasha, semua terpatahkan dengan kejadian kemarin.


“Selama lima tahun matamu telah tertutup dengan wanita itu. Mama sabar menunggu matamu terbuka atas wanita yang kamu pilih namun belum juga terjadi, karena apa! Karena kamu selama ini pasti jauh dari Allah. Mama sejak dulu selalu mengingatkan jangan pernah meninggalkan ibadahmu, sholat lima waktu karena itu salah satu pondasi untuk diri sendiri, tapi sepertinya kamu telah lalai, kamu tenggelam dengan kesuksesan mu, kamu tenggelam dengan kemaksiatanmu!” imbuh mama Rara.


Rafael tak kuasa menegakkan wajahnya, hanya bisa menundukkan wajahnya dan hatinya mengakui segala ucapan yang terlontarkan oleh mama Rara.


“Sudahkah kamu menyadari perbuatan zinamu dengan wanita itu! Sudahkah kamu tahu jika perbuatan itu benar-benar berdosa besar. Melakukan hubungan intim dengan pasangan yang tidak halal! Jangan berbangga hati dengan kelakuanmu itu Nak, kami sebagai orang tua tidak ingin anaknya tenggelam atas dosa-dosa besar, maka dari itu kami marah, kecewa dengan perbuatan mu, seperti kamu bukan anak kami,” lanjut kata mama Rara.


Rafael menganggukkan kepalanya, “I-iya a-aku benar-benar berdosa, Mah,” ucapnya lirih. Tak lama pria itu bersujud di atas kedua kaki mama Rara.


“M-mohon m-maafkan aku Mah, aku yang selama ini lupa diri, aku yang telah mengecewakan Mama dan Papa,” ucap Rafael mulai terisak menangis.


Kedua netra mama Rara dan papa Stevan mulai berembun melihat sikap Rafael kali ini, sangat jauh berbeda saat terakhir mereka bertemu. Tangan Mama Rara mengusap lembut punggung anaknya yang sedang bersujud. “Bertaubatlah Nak, mohon ampun kepada Allah. Perbaikilah dirimu menjadi orang lebih baik bukan karena keinginan Mama dan Papa atau orang lain, tapi benar-benar dari dirimu sendiri. Umurmu tidak muda lagi Nak, lakukan selama masih diberikan kesempatan untuk menghirup udara di dunia,” imbuh mama Rara.


“Bangunlah Nak,” lanjut kata mama Rara. Kedua netra pria itu masih basah dan memerah, mama Rara pun memeluk anaknya. “Mama selalu mendoakan mu, Mama ingin yang terbaik buatmu. Berubah lah Nak, kembalilah ke jalan yang benar.”


Rafael mengeratkan pelukan wanita paruh baya itu dengan rasa amat menyesal, namun hatinya kali ini terasa ringan seakan beban berat yang selama ini dipikul sudah terangkat dari tubuhnya.


“Makasih Mah.”


...----------------...


Restoran


Satya terlihat sibuk mengambil beberapa makanan lalu meletakkan semuanya di atas meja yang ditempati oleh Satya dan Amelia.


Amelia yang lagi menyantap salad sayur sampai bengong melihat Satya bolak balik ke prasmanan, namun belum juga menyantapnya.


“Mas Satya, banyak banget ambil makanannya. Yakin bakal habis tuh?”


“Saya sengaja ambil buat kita berdua Amel, jadi kamu tidak capek bolak balik,” jawab Satya, sembari tersenyum  manis.


Blush...


Pipi Amelia mengeluarkan semburat merah jambu atas perhatian kecil dari Satya.


“So sweet banget si Mas, padahal saya bisa ambil sendiri loh Mas, gak perlu repot-repot segala.”


“Gak pa-pa kok Amel, saya senang kok melayani kamu.”


Duh hati Amelia jadi melayang ke angkasa.  Haduh mimpi apa aku semalam, kok Mas Satya perhatian banget sih ... batin Amelia.


Satya kembali duduk di hadapan Amelia, kemudian mulai menyantap nasi gudeg yang diambilnya. Sambil menyantap, sambil melirik gadis manis itu, sungguh pagi hari yang indah buat Satya yang baru kali ini sarapan pagi ditemani oleh seorang gadis, begitu pula dengan Amelia pertama kali sarapan pagi dengan seorang pria tampan.


“Amel, kamu suka nasi gudeg atau bubur ayam?” tanya Satya sambil menunjukkan kedua piring makanan itu, karena melihat piring salad Amelia telah habis.


“Nasi gudeg dulu deh Mas,” jawab Amelia menerima piring dari tangan Satya.


“Masih Mas, tuh ada didalam tas saya.”


“Baguslah kalau begitu, saya mau minta rekaman video yang kamu rekam di kamar.”


“Baik Mas, mau sekarang atau nanti?” tanya Amelia, sembari mengambil tasnya yang diletakkan di bangku kosong.


“Nanti saja setelah kita selesai makan.”


“Ok Mas.”


Mereka berdua melanjutkan menikmati sarapan paginya. Namun tak lama ...


Derrt ... Derrt ... Derrt


Ada suara ponsel yang berbunyi di dalam tas Amelia, gadis itu pun merogoh tasnya lalu melihat ponsel miliknya tapi ternyata bukan miliknya yang berbunyi, lanjut Amelia mengecek ponsel milik Delia, rupanya ada panggilan telepon.


Ibu calling ...


“Mas Satya, ponsel Mbak Delia bunyi nih, kayaknya dari ibunya,” kata Amelia menunjukkan layar ponsel milik Delia.


Satya mengerutkan keningnya tampak memikirkan sesuatu lalu menatap wajah Amelia. “Amel, saya minta tolong kamu kan wanita, teleponnya kamu terima aja, tapi kalau bisa direkam,” pinta Satya.


Amelia menganggukkan kepalanya paham, berhubung teleponnya masih berdering, gadis itu memilih tombol hijau lalu lanjut pilih rekam.


“Halo Bu,” sapa Amelia suaranya dibikin pelan.


“Delia, Ibu sudah ke orang pintarnya. Dia lagi ngerjaiin agar supaya Rafael kembali tunduk denganmu, tapi kata orang pintarnya kali ini agak susah kirim peletnya dan mengerjainya. Jadi dia minta tambahan uang 20 juta lagi untuk menembus pagar yang ada ditubuh Rafael. Ibu gak nyangka jika Rafael ada orang yang melindunginya, Ibu juga baru tahu dari orang pintar itu,” cerocos Ibu Laras.


Bibir Amelia menganga seketika, dan terbelalak ketika ditatap oleh Satya, membuat pria itu tampak heran. What pelet! ... kaget batin Amelia.


“Halo ... Halo ... Halo Delia ... Kamu dengar Ibu kan?” tanya Ibu Laras yang merasa belum ada tanggapan dari Delia.


“Ada apa?” tanya Satya dengan bahasa bibir tanpa suara. Amelia mengibaskan rambut sebahunya lalu mengelus dadanya.


“Halo Delia, kamu masih ada di sana kan?” kembali bertanya Bu Laras.


Amelia pura-pura batuk, “Iya Bu, aku masih dengar.” Sungguh hal yang mencengangkan apa yang Amelia dengar barusan, dan sepertinya gadis itu segera memutar otak untuk mengulik lebih jauh lagi tentang pelet tersebut.


 bersambung ......


 


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ta, like, komentarnya.