FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Obrolan Rafael dan Larissa



Esok hari


Seperti hari-hari sebelumnya Ayasha dan Amelia sibuk dengan rutinitas di pagi harinya sebelum mereka berangkat kerja ke kantor masing-masing, namun ada kegelisahan yang tersirat di wajah Amelia.


Bagaimana tidak gelisah, jam 5 pagi dia sudah dapat telepon dari Satya lalu dilanjutkan oleh Rafael, meminta dia untuk bekerja di hotel milik Rafael dan resign dari tempat kerjanya sekarang. Dan untuk posisi kerja akan disesuaikan dengan kantor sebelumnya, sedangkan untuk salary sudah pasti melebihi gaji sebelumnya.


Gadis itu berulang kali mengusak rambut sebahunya hingga nampak berantakan ketika sedang menyapu rumah.


Amel, saya benar-benar membutuhkan bantuan mu kali ini. Saya ingin kamu selalu bisa memantau kegiatan Ayasha 24 jam, dan hal itu pasti tidak bisa saya lakukan. Jika saya selalu menghubunginya, dia pasti semakin lama akan tidak suka, apalagi Aya sudah memiliki kekasih.


Please Amel, tolonglah saya ... Saya tidak mau terjadi sesuatu hal dengan Ayasha. Saya juga sudah menugaskan beberapa orang, tapi kamu yang paling dekat dengan Ayasha.


Sesaat Amelia menghentikan menyapunya, kemudian menghela napas panjangnya. “Baiklah gak ada salahnya satu tempat kerja dengan Ayasha, lagi pula gajiku lumayan besar,” gumamnya sendiri.


Gadis itu segera mengambil ponsel dikamarnya.


✅Amelia


Om Rafael permintaan nya saya terima, semoga ini bisa menjaga Ayasha dari dekat.


✅Om Rafael


Terima kasih Amel, nanti Satya akan langsung konfirmasi dengan Pak Wibowo general manager hotel, hari ini kalau bisa kamu langsung masuk kerja.


✅Amelia


Baik Om, pagi ini saya ajukan pengunduran diri dulu di kantor, jika sudah selesai saya akan langsung ke hotel.


Rafael yang menerima jawaban atas permintaannya dari Amel, sedikit bernapas lega dan langsung memberitahukan ke Satya untuk mengurus posisi Amelia di hotelnya.


...----------------...


Hotel Inna Garuda


Jam 10.15 wib


Ayasha dan Lena terlihat sedang supervisi ke beberapa ballroom, kemudian beberapa kamar untuk acara besok. Gadis itu sibuk mengelist diatas workpapernya yang dirasa kurang agar stafnya segera memenuhi beberapa kekurangan. Kemudian lanjut kebagian restoran untuk memastikan semua persiapan bahan baku untuk gathering selama dua hari aman, tidak ada yang kurang.


Usai kebagian restoran, Ayasha dan Lena lanjut ke bagian resepsionis.


“Amel, loh kok ada di sini ... memangnya gak kerja?” tanya Ayasha melihat sahabatnya datang ke hotel.


Amelia yang terlihat rapi dengan setelan baju kerjanya, mengulas senyum tipisnya. “Mulai sekarang gue kerja disini, dapat tawaran dari Om Rafael di bagian keuangan,” ucap Amelia.


Ayasha tampak terkejut lalu menepuk bahu sahabatnya. “Astaga kenapa lo gak bilang dari semalam, gue kan seneng kalau kita satu tempat kerja,” kata Ayasha riang.


“Biar suprise buat lo, lagian Mas Satya juga baru konfirmasi ke Pak Wibowo pagi ini,” balas Amelia.


“Ya sudah gue anter ke Pak Wibowo biar lo langsung laporan,” ajak Ayasha sambil menarik lengan Amelia.


Amelia hanya bisa nyengir kuda melihat Ayasha tersenyum sumringah. Dia benar-benar tidak curiga kenapa gue bisa kerja disini, tapi ya sudahlah lebih baik dia tidak tahu, biar dia tak banyak pikiran.


Sedangkan dua bodyguard yang sudah mulai bertugas, berada di hotel menyamar menjadi petugas house keeping dan securty, setiap jam selalu memberikan laporan terbaru ke Rafael.


Sudah tenangkah Rafael? belum ... Dia belum tenang.


...----------------...


Jakarta


Mulai dari melek mata di pagi hari, Larissa si gadis cilik sudah ngintilin uncle-nya. Seperti sekarang Larissa sedang menikmati es susu coklatnya dengan cookies dipinggir kolam renang, sedangkan Rafael menikmati jus melonnya.


Gadis cilik itu selalu menatap sendu wajah unclenya, ingin rasanya Rafael bertanya lagi dengan Larissa, namun adiknya sudah mengingatkan untuk tidak bertanya, cukup gadis cilik itu berbicara sendiri.


“Uncle,” panggil Larissa setelah menyesap es susu coklatnya.


“Ya Nak,” jawab Rafael, sambil menatap gadis cilik itu.


“Uncle cinta gak sama tante cantik?” tanyanya dengan wajah polosnya.


Rafael merasa aneh dengan pertanyaan yang begitu pribadi buatnya. “Jawab aja Uncle, matanya jangan lirak lirik,” lanjut kata Larissa.


“Anak kecil kok tanyanya tentang cinta cintaan sih, Nak.”


Bibir Larissa mengerucut lalu melipat kedua tangannya di depan dadanya, seakan sedang ngambek dengan uncle-nya.


“Ya sudah kalau Uncle tidak mau menjawabnya. Berarti Uncle tidak cinta sama tante cantik, makanya badan tante bakal penuh—,” raut wajah Larissa kembali berubah menjadi sedih.


Tubuh Rafael yang awalnya sedang rileks, sekarang kembali menegang saat menatap keponakannya.


“Apa karena tante cantik punya pacar bule, jadi Uncle tinggalin tante cantik lagi?” Larissa mengalih perkataannya yang belum terselesaikan.


Gadis cilik itu menghela napasnya panjang lalu tatapannya menerawang ke arah kolam renang. “Nenek seram itu jahat Uncle, dia jahat. Dan pacar tante cantik itu sebenarnya tidak baik,” ungkap Larissa.


Kenapa Larissa bisa bilang Darial tidak baik? Di saat pertemuan di restoran, Larissa sempat melihat pria yang duduk di hadapan Ayasha, dan seperti biasa dia bisa melihat masa lalu seseorang secara sekilas, sama halnya ketika melihat Delia.


Rafael mencoba kembali menenangkan jiwanya yang mulai gusar lalu menatap teduh keponakannya. “Kenapa kamu bilang pacar tante cantik tidak baik, padahal tante suka dengan pria itu.”


“Uncle, tidak selamanya yang terlihat baik itu memang benar-benar baik. Bisa saja orangnya pura-pura baik,” jawab Larissa apa adanya, kemudian kembali menyesap minumannya.


Mendesahlah Rafael ketika mendapat jawaban yang terlontarkan oleh Larissa, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


Tak lama pria itu mendekati dirinya agar lebih dekat dengan Larissa. “Larissa, Uncle boleh tanya sesuatukah?”


“Tanya apa, Uncle?” jawab Larissa menunjukkan raut wajah seriusnya.


“Kemarin saat Larissa menangis, sebenarnya melihat apa? Boleh kah Uncle tahu?” tanya Rafael, suaranya bernada rendah.


Sesaat Larissa bergeming, lalu menatap dalam wajah unclenya. Kemudian tangan mungil sebelah kanannya menyentuh pipi Rafael. Kedua netra gadis cilik itu mulai berkaca-kaca. “Uncle juga harus hati-hati, banyak orang yang jahat dengan tante cantik. Aku lihat akan ada yang mencelakakan tante ... dan—“


Rafael langsung mendekap tubuh kecil itu, sudah tak sanggup lagi untuk mendengarnya. Larissa pun kembali menangis. “K-kalau Uncle sangat mencintai tante, kenapa tidak mengejar tante ... sebelum—“


“Uncle sangat mencintai tante, sangat ... tapi Uncle tak ingin membuat tante terluka lagi Nak, dia sudah ada yang memiliki,” balas Rafael dengan rasa yang menyesakkan, didekap eratnya tubuh mungil Larissa, mereka sama-sama menangis.


Uncle kejarlah tante cantik itu, hanya Uncle yang bisa menolong tante dari kecelakaan itu ... batin Larissa.


Ya Allah, mohon petunjuk darimu. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku ingin Ayasha hidup bahagia dengan caranya sendiri, tapi aku ingin melindunginya dari semua orang yang ingin berbuat jahat padanya.


bersambung ....


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Makasih sebelumnya.


Lope lope sekebon 🌹🌹🌹❤️❤️❤️🍊🍊🍊