FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Makan siang bersama keluarga



Delia, wanita yang pendendam, wanita yang penuh obsesi dalam hidupnya. Rasa sakit yang menjalar di bagian perut hingga bagian intimnya, dia tak peduli, saran dari Dokter untuk di kemoterapi saja belum dia lakukan, saat ini hanya konsumsi obat yang pernah diresepkan oleh Dokter.


Wanita yang wajahnya masih melepuh, tersenyum sinis dari tempat duduknya saat melihat Rafael menyambut kedatangan kedua orang tuanya dan kedua orang tua Ayasha, wanita itu masih ingat wajah keempat orang tersebut, karena dia juga hadir di acara tunangan Rafael dan Ayasha lima tahun lalu.


Rafael menggiring mereka berempat menuju restoran, lalu ke salah satu sudut di restoran tersebut, tempat yang sudah dipersiapkan oleh pria itu. Meja makan yang mereka tuju, sudah dihiasi dengan bunga-bunga yang indah di atas meja. Mama Rara dan Mama Nia saling bersitatap kemudian tersenyum tipis.


Mau ada acara apakah ini? bukannya hanya makan siang biasa saja. Batin Mama Rara.


Lain halnya dengan Papa Stevan dan Papa Tisna yang melihat ada luka memar di wajah Rafael, namun belum sempat untuk ditanyakan langsung pada Rafael.


“Silahkan duduk Mah, Pah, aku harus menjemput Ayasha terlebih dahulu,” kata Rafael, sebelum meninggalkan mereka berempat.


Beberapa waiters mulai menghidangkan minuman dingin serta beberapa cemilan, setelah Rafael memberikan kode pada chef.


“Nia, sepertinya siang ini ada acara special nih,” kata Mama Rara, bibirnya masih mengulas senyum cantiknya, dan wanita paruh baya itu masih mengagumi  dekorasi indah yang ada di meja yang mereka tempati.


Delia yang sempat mengendap-endap turut masuk ke dalam restoran, dia memilih menempati meja yang tak jauh dari tempat yang Rafael siapkan.


“Mau ada acara apa mereka?” Penuh tanda tanya Delia.


Ayasha dan Amelia sudah turun ke lobby, bergegas menuju restoran, namun sebelum sampai di restoran, Rafael sudah menghampirinya. Pria itu pun menyentuh lekuk pinggang ramping wanita itu. “Sudah enakkan badannya?” tanya Rafael, penuh perhatian.


“Sudah lumayan enakkan, tapi masih agak sakit tengkukku.” Rafael mengusap lembut tengkuk gadis itu, “nanti aku olesi obatnya lagi ya,” jawab Rafael, sembari jalan beriringan, Ayasha hanya mengangguk pelan.


Amelia langsung menghampiri Satya, lalu sama-sama berjalan mengikuti Rafael dan Ayasha dari belakang.


Semua mata karyawan yang berada di lobby, menatap penuh tanda tanya melihat Rafael yang begitu mesra pada Ayasha, walau mereka tahu jika mereka berdua mantan tunangan.


“Jadi benar mbak Ayasha sudah putus sama Pak Darial? Terus sekarang balikan sama Pak Rafael?” tanya Tia pada Reni.


Reni menggidikkan kedua bahunya. “Sepertinya begitu, tadi pagi kita’kan sama-sama lihat kejadian tadi pagi. Sampai Ayasha kena pukul juga sama Pak Darial,” balas Reni.


“Luar biasa mbak Ayasha, direbutin sama cowok keren ... CEO lagi, kapan ya aku bisa kayak mbak Ayasha,” gumam Tia sendiri, sambil berkhayal.


“Berdoa saja, siapa tahu dikabulkan sama Allah,” timpal Reni, kemudian melanjutkan menerima tamu hotel.


...----------------...


Ayasha sempat terkejut melihat meja yang mereka tempati, pria itu hanya bisa tersenyum hangat melihat mimik wajah Ayasha seperti itu. Karena menurut Ayasha agak berbeda dengan meja yang lain, dan biasanya kalau berbeda itu pun pasti ada special request dari tamu hotel.


Rafael menarik salah satu kursi untuk gadis itu duduk, baru kemudian turut duduk di bangku sebelah kanan Ayasha, sedangkan Amelia dan Satya turut duduk di meja panjang tersebut.


“Om Rafael kah yang menyiapkan ini semua?” bisik Ayasha.


Ayasha tersenyum, benar kata Rafael yang mengerjakan pasti karyawan hotel, bukan Rafael.


Makan siang pun dimulai, menu-menu makanan mulai dihidangkan oleh para waiters.


“Rafael, wajah kamu kenapa? Kok kelihatan memar?” tanya Papa Stevan.


Rafael menyentuh salah satu pipinya. “Oh ini ada sedikit kesalahpahaman, tapi sudah beres masalahnya, Pah.”


“Syukurlah jika masalahnya sudah selesai,” jawab Papa Stevan. Mama Rara yang baru menyadari wajah anaknya terlihat berbeda baru bertanya. “Kamu habis berkelahi sama siapa. Dengan Darial?” tanya Mama Rara, tiba-tiba teringat ke pria bule itu.


“Iya Mah, tadi Om Rafael sempat berkelahi dengan Kak Darial,” jawab Ayasha terlebih dahulu.


Mama Rara mendesah, ternyata dugaannya benar. “Sebaiknya kita tidak membicarakan masalah ini Mah, Pah, aku tidak mau mengungkitnya kembali, nanti akan merusak suasana makan siang bersama ini,” pinta Rafael, dia tidak ingin masalah mereka bertiga tidak dibicarakan, bisa merusak keadaan apalagi kedua orang tua Ayasha tidak tahu jika anaknya punya kekasih yang barus saja berakhir hubungannya.


Mereka semua pun mengiyakan dan menganti topik pembicaraan, jika mama Rara dan mama Nia mengomentari makanan yang di saji, maka papa Stevan dan papa Tisna menanyakan tentang hotel.


Hidangan demi hidangan sudah keluar semua, dan habis di santap, sekarang chef restoran menyajikan cake sebagai penutup ditemani oleh secangkir kopi atau teh.


Rafael yang berada di samping Ayasha, ujung ekornya melirik gadis itu yang sedang menyantap cake potongnya.


Tak lama kemudian salah satu waiters mengantarkan buket bunga tulip merah kepada Rafael, pria itu pun langsung berdiri. Melihat pria itu memegang buket bunga tulip itu, kedua orang tua Ayasha dan Almira menatap Rafael. Ada apa gerangan?


“Ayasha,” panggil Rafael dengan lembutnya.


Seketika Ayasha mendongakkan wajahnya, lalu sedikit mendorong kursinya agak ke belakang. Melihat Rafael berdiri di sampingnya dan memegang buket bunga tulip, jantung Ayasha mulai berdegup cepat, suhu udara yang terasa sejuk di dalam restoran tiba-tiba terasa hangat di kulitnya, membuat kedua tangan gadis itu berkeringat.


Pria itu mulai berjongkok di sisi Ayasha itu, dan menatap lekat-lekat wajah cantik gadis itu.


Delia yang melihat itu mulai mengeram, rahangnya mengetat keras, tatapannya sangat tajam, dan batin Delia pun sudah mulai mengumpat tak jelas.


Ayasha terlihat gugup melihat Rafael, namun tidak dengan pria itu yang terlihat percaya diri.


Semua orang yang ada di restoran dan tak sengaja melihat moment tersebut, sedang ikutan menunggu adegan selanjutnya.


“Bunga ini untukmu, gadis kecilku,” ucap Rafael memberikan bunga tersebut, kemudian memegang salah satu tangan gadis itu dan menggenggamnya.


Ayasha menerima bunga dari Rafael, dan mereka pun saling mengunci tatapan.


“Aku memang bukan pria yang sempurna, banyak kesalahan di masa lalu denganmu. Namun aku menyadari segala kesalahanku, dan perasaan hatiku. Kini aku berjuang untuk memperbaiki nya, Ayasha. Jika dulu kita dijodohkan karena kedua orang tua kita, maka untuk hari ini bukan karena dijodohkan.” Rafael menjeda ucapannya, tangan pria itu merogoh kantong dalam jamnya, kemudian mengeluarkan kotak kecil berwarna biru navy, lalu dia membuka kotak itu.


bersambung .... Rafael mau ngapain ya? kira-kira diterima gak ya sama Ayasha??