
Hotel A.
Setelah kedua pria itu dipisahkan, Satya mengajak bosnya untuk kembali ke kamar, pihak hotel pun memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Rafael.
Rafael pun juga meminta Satya untuk membayar ganti rugi akibat perkelahiannya tadi di Bar & Club.
Sekarang punggung Rafael sudah mulai merasakan sakit, ternyata benar dugaan Satya, setelah pria itu membuka kemeja berwarna abu-abunya, sudah ada luka di bagian punggung pria itu akibat hantaman botol wine hingga pecah, terlihat ada goresan dari pecahan beling botol wine itu.
Dengan menahan rasa sakitnya, Dokter mengobati luka dibagian punggung Rafael lalu menutupinya menggunakan perban.
Usai diobati, Rafael ke kamar mandi sebentar untuk membersihkan dirinya lalu setelahnya kembali menghampiri Satya di ruang tamu.
“Pak Rafael, untuk rekaman video tadi haruskah saya share ke Ayasha?” tanya Satya.
Rafael diam sejenak, lalu mengambil ponsel milik Satya kemudian memplay rekaman kejadian di clubbing hotel.
“Satya, untuk saat ini sebaiknya kamu simpan baik-baik rekaman video ini. Rasanya tidak etis kalau kita memberitahukan ke Ayasha untuk saat ini,” jawab Rafael.
Satya terlihat heran dengan jawabnya Rafael. “Bukankah ini kesempatan untuk membuka kedok Darial yang sesungguhnya!” kata Satya.
Pria itu memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing. “Jika saya yang memberitahukan tentang siapa Darial sesungguhnya, akan terkesan saya ingin memisahkan Ayasha dengan Darial, walau sebenarnya saya ingin seperti itu. Biarkanlah Ayasha tahu dengan sendirinya, Satya,” sahut Rafael.
Satya mendesah, dan tak habis pikir dengan jalan pikiran bosnya, padahal ini salah satu cara untuk merebut hati Ayasha.
“Tapi tadi Pak Rafael bilang akan merebutnya kembali dari Darial, dan ini bisa jadi salah satu caranya!”
Pria itu tersenyum getir. “Merebutnya kembali bukan dengan cara memberitahukan keburukan Darial, Satya. Saya menginginkan kamu mencari data tentang Darial bukan untuk memberitahukan ke Ayasha juga, tapi untuk buat saya pribadi. Saya ingin tahu langkah yang harus saya ambil selanjutnya, jika background Darial memang baik ... saya tenang. Namun jika ternyata buruk, maka saya akan melindungi Ayasha tapi tidak seperti itu caranya, “ kata Satya memberikan penjelasannya.
“Wanita jika selalu kita ceritakan sisi buruk pasangan nya walau kita memiliki buktinya, dia akan merasa terpojokkan dengan pilihannya, akan malu, saya ingin menghindari perasaan itu dan menghargai pilihannya. Kecuali wanita itu memang ingin tahu tentang pasangannya maka baru saya akan menunjukkan buktinya. Lagi pula yang ingin saya rebut bukan hanya raganya saja tapi saya ingin merebut hatinya Ayasha.”
Satya dibuat bungkam dengan penjelasan Rafael, pikir Satya bosnya akan buru-buru menginformasikan tentang apa yang mereka lihat kepada Ayasha, namun ternyata berbeda.
“Satya, jangan lupa apa yang telah kamu janjikan sebelumnya, besok pertemukan saya dengan orang yang telah kamu tugasi itu.”
“Baik Pak.”
Rafael kembali bersinergi beberapa tugas ke Satya menyangkut hotel miliknya, sebelum sang asisten balik ke hotel Inna Garuda untuk beristirahat. Namun sebelumnya Rafael minta Satya video call Amelia, karena dia ingin melihat keadaan Ayasha secara diam-diam.
Semoga cepat sembuh Ayasha, dan semoga kamu selalu dalam perlindungan Allah SWT.
...----------------...
Esok hari
Rumah Sakit
Jam 07.15 wib.
Mama Rara dan Amelia semalam menginap di rumah sakit menemani Ayasha, pagi ini Ayasha sudah terlihat lebih baik daripada hari sebelumnya. Perutnya sudah tidak merasa sakit, dan tubuhnya tidak terlalu lemas. Agar badannya lebih segar, Ayasha minta dibantu oleh Mama Rara untuk membersihkan dirinya dikamar mandi.
Di saat Ayasha di kamar mandi, tibalah Satya dengan membawa beberapa bungkusan ditangannya.
“Assalamualaikum calon istriku yang cantik,” sapa Satya waktu masuk ke dalam ruangan.
“Kok sepi Mel, pada kemana?” tanya Satya sembari menaruh bungkusan yang dia bawa di atas meja bundar.
“Tante Rara lagi temani Aya di kamar mandi, baru aja masuk,” jawab Amelia, turut menghampiri Satya di meja bundar, lalu membantu mengeluarkan isi paper bagnya.
Satya melirik pintu kamar mandi, kemudian menarik lengan Amelia agar lebih dekat dengannya, hingga membuat jantung Amelia berdebar-debar.
“Amel, ada yang ingin saya kasih lihat ke kamu, tapi setelahnya jangan cerita ke Aya atau ke Nyonya ya,” kata Satya agak berbisik.
Amelia mengangguk paham, lalu melihat Satya mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan video kejadian semalam. Kedua netra Amelia melotot, mulutnya pun mengangga. “Astagfirullah, punya dosa apa Ayasha, sampai kekasih kayak begini!” Amelia keceplosan berucap dengan nada tinggi. Refleks Satya membungkam bibir Amelia dengan bibirnya.
Hening sejenak di antara mereka berdua.
Tambah melototlah mata Amelia, dapat serangan pagi dari Satya. Walau hanya sekedar menempel saja namun lama, Satya pun mau tidak mau menarik bibirnya dengan lembut. “Maaf,” kata Satya agak takut, tak enak hati.
Haduh bodoh banget sih, kenapa pakai cium Amel segala, mana itu ciuman pertama.
OMG ... Ciuman pertamaku diambil sama Mas Satya.
Satya dan Amelia sama-sama tertunduk malu, namun video rekaman itu masih berjalan.
“Maaf ya Mel, jangan marah, habisnya tadi kamu ngomongnya kekencangan takut terdengar sama Aya,” kata Satya menyesal.
“Iya Mas, gak pa-pa ... tapi anu ... Mas Satya udah ambil ciuman pertamaku,” jawab Amelia pelan.
“Itu juga ciuman saya pertama kali sama perempuan, Mel. Kamu yang pertama,” jawab jujur Satya, yang memang belum pernah berpacaran.
Amelia yang awalnya menundukkan kepalanya, langsung mendongakkan wajahnya, agar bisa menatap pria yang kini berdiri dihadapannya. “Betulkah? Saya yang pertama?”
Pria itu menatap hangat Amelia. “Kamu yang pertama dan yang terakhir buatku, lamaran saya kemarin itu sangat serius Mel. Saya masih menunggu jawaban dari kamu. Jika kamu menerimanya saya akan segera melamar di hadapan kedua orang tuamu,” jawab Satya menunjukkan keseriusannya.
Amelia juga ada perasaan terhadap Satya, dia bisa merasakan ketulusan dan kejujuran Satya walau belum lama mengenal.
“Mas Satya saya minta waktu untuk menjawabnya, saya shalat istikharah dulu agar hati saya mantap untuk memilihnya, karena menikah itu bukanlah permainan. Dan Mas Satya kan tahu jika saya baru dikecewakan oleh calon suamiku, saya tidak mau terulang kembali.”
Tangan Satya mengusap lembut pipi Amelia. “Saya akan sabar menunggu jawabanmu, dan saya akan selalu berdoa meminta pada Allah agar kamu menjadi istriku, aamiin semoga terkabul,” jawab Satya.
Jawaban Satya membuat hati Amelia terasa hangat dan merasa dirinya sangat dicintai karena Satya meminta pada sang pemilik jiwa raganya walau Satya tidak mengucapkan kata cinta.
bersambung ....
Kakak Readers terima kasih atas dukungannya, rate-nya kembali naik yang tadinya sempat nyungsep ke 4,6 kembali ke 4,9 🙏🙏.