
Tiga hari kemudian.
Rumah sakit, ruang rawat kelas dua.
Suara dentingan dan pecahan dari barang-barang yang di pegang oleh perawat, menggelegar di ruangan tersebut. Teriakan-teriakan yang keluar dari suara wanita itu benar-benar memekak orang yang mendengarnya.
Di luar ruang rawat terlihat pria yang berjas putih dengan salah satu perawat berjalan dengan cepat nya menuju ruangan yang bertuliskan mawar 2, polisi dan polwan yang berjaga di depan pintu kamar memberikan ruang untuk dokter masuk ke dalam ruangan.
Piring, gelas, nampan serta alat stanlies yang berisikan perban, obat alkohol, gunting, berserakan di lantai, sudah tidak berbentuk lagi. Perawat yang ada di dalam ruangan tampak kewalahan menghadapi kebrutalan wanita yang sudah tidak memiliki kaki.
“Kalian pikir mereka bisa membawaku ke kantor polisi, aku tidak bersalah. Tapi Ayasha-lah yang bersalah, telah merebut suamiku ... Mas Rafael!” teriak Delia, lalu kembali mengamuk di atas ranjangnya.
Semenjak tahu dirinya telah diamputasi kedua kakinya, Delia sering mengamuk, apalagi setelah ada beberapa polisi mendatanginya, dan sudah ada penjagaan ketat karena status Delia sudah naik jadi tersangka, bukan korban.
Pelan namun pasti, Delia sudah mulai mengalami kehilangan kewarasannya, kadang menangis, kadang berteriak, kadang tertawa namun nama Rafael seringlah dia sebut.
“Mana suamiku Mas Rafael! Panggil suamiku, kalian harus tahu suamiku orang kaya, dan kalian tidak bisa menangkapku!” teriak Delia dengan tatapan bengisnya, lalu tak lama dia tertawa kencang.
Rafael yang kini duduk di atas kursi roda dan didorong oleh Satya, bersama istrinya Ayasha sekarang mereka sudah ada diambang pintu karena ingin bertemu dengan Delia.
Rafael menggandeng tangan istrinya lalu menatap wanita cantik itu yang masih berdiri di sampingnya, kemudian kembali menatap Delia yang masih mengamuk, memberontak, dan menyebut namanya, para perawat dan dokter terlihat sedang menanganinya.
Ayasha menatap dingin wanita yang telah mencelakakan dirinya bersama suaminya, dihatinya tidak ada perasaan sedih melihat keadaan Delia.
Kini wanita itu bersama suaminya mendekati ranjang yang ditempati oleh Delia, akan tetapi tidak terlalu dekat, untuk antisipasi dari hal yang tidak diinginkan.
Napas Delia tampak memburu karena terus memberontak, tapi sejenak wanita itu berhenti mengamuk, lalu mengangkat wajahnya untuk melihat orang yang berada di atas kursi roda.
“Suamiku, akhirnya kamu datang,” ucap Delia, raut wajahnya berubah menjadi terlihat bahagia, tapi sepuluh detik kemudian wajah Delia kembali terlihat garang setelah melihat tangan yang digenggam oleh Rafael.
“Kurang ajar, dasar pelakor, kamu telah merebut suamiku!” maki Delia dengan mengacungkan telunjuknya ke arah Ayasha. Ayasha hanya menatapnya dengan santai, tidak menggubris caci maki Delia.
“Bertobatlah kamu Delia, ingatlah azab Allah sudah menghampiri dirimu tapi kamu makin menggila saja!" tegur Rafael dengan tatapan dingin.
Delia melayangkan pandangan ke Rafael. “Suamiku peluk aku, aku sangat merindukanmu. Gara-gara pelakor yang ada disamping mu, membuat kita terpisah,” ucap Delia memelas, sembari salah satu tangannya dibentangkannya.
Satya jadi ingin tertawa melihat Delia yang memang sudah terlihat tidak waras, azab Allah memang nyata dan tidak tahu kapan datangnya.
“Kamu memang sudah gila Delia! sejak kapan aku menikahimu, perlu kamu ketahui istriku adalah Ayasha, dan kami sudah menikah empat hari yang lalu.” Rafael yang masih menggandeng tangan Ayasha, dikecupnya tangan istrinya dengan lembut.
Hati Delia mulai memanas, wanita itu juga menggelengkan kepalanya, seakan tidak terima kenyataan yang dia dengar. “BOHONG ITU TIDAK BENAR!” teriak Delia sekencang mungkin.
Andaikan kedua kakinya masih ada, mungkin wanita itu sudah turun dari atas ranjangnya, dan memberikan tamparan keras buat Ayasha, tapi kenyataannya dia takut untuk turun dari atas ranjang, dia tidak bisa berdiri, hanya bisa duduk.
Wajah Delia tampak ingin mengamuk lagi, tapi untuknya Dokter dan perawat sudah kembali menahan kedua tangannya yang ingin melempar barang yang ada didekatnya.
“DASAR SETAN!” teriak Delia
“Dia sendiri yang setan kok teriak setan, dasar orang gila!” celetuk Satya, apa adanya dan memang benar.
“Hush ... Pak Satya,” timpal Ayasha, Satya hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
Dokter terpaksa menyuntikan obat depresi yang mengandung obat tidur, agar Delia kembali tenang dan tidur. Setelah itu Dokter yang menangani Delia menghampiri Rafael dan Ayasha.
“Sepertinya saya harus koordinasi dengan pihak kepolisian perihal Delia, Pak Rafael,” ucap sang Dokter.
“Maksudnya koordinasi seperti apa Dokter?” tanya Rafael dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Diagnosa kami, pasien sudah mengalami gangguan jiwa. Jadi sebaiknya harus segera dipindahkan ke rumah sakit khusus yang menangani masalah kejiwaan, tapi berhubung Delia adalah tersangka, kita harus koordinasi dengan pihak polisi,” tutur sang Dokter paruh baya itu.
“Kalau begitu saya akan menyerahkan kepada Dokter sesuai prosedur yang ada,” jawab Rafael.
Obsesi yang tidak terwujud, terpaan dari satu persatu kejadian yang menimpa tetap tidak menyadarkan Delia, karena mata batinnya sudah dikuasai oleh setan, ingat jika pernah berteman dengan setan, maka setan itu akan terus berada disampingnya, raga Delia sudah ada dunia lain yang memilikinya, seperti Pak Tua sampaikan tempo jika dia harus berani menanggung resikonya.
Rafael dan Ayasha sudah melimpahkan semua kasus yang akan memberatkan Delia, dan mereka berdua siap menghadiri persidangan tersebut jika sudah masuk kasusnya ke pengadilan. Lalu bagaimana dengan keadaan orang tua Delia, sudah tahukah dengan kejadian yang menimpa anak satu-satunya, yang jelas belum tahu. Rafael ada rencana akan memberitahukan tentang Delia setelah mereka sudah ada di Jakarta.
Sekarang Ayasha, Rafael sedang menunggu hasil kesehatan mereka berdua, jika dinyatakan sudah bisa rawat jalan oleh Dokter, maka mereka beserta keluarga akan segera terbang ke Jakarta, dan melanjutkan pengobatan di Jakarta.
Sedangkan Amelia dan Lena sudah dari tiga hari yang lalu berada di Jakarta, mereka sudah mengunjungi kediaman Ibra, untuk bertemu dengan Ibunya Ibra dan benar saja Lena melihat kondisi ibu Ibra butuh penanganan khusus, mau tidak mau harus dirawat di rumah sakit, dan Rafael bertangungjawab penuh atas biaya rumah sakit serta menyewa perawat untuk mengurus ibunya Ibra.
Sore ini di kediaman rumah Amelia, gadis itu bercerita semua kejadian yang terjadi dengan dia dan Rian, calon suami pilihan ayahnya kepada keluarganya, ayah Amelia tampak menyesali namun beruntung anaknya tidak berjodoh dengan pria brengsek tersebut. Setelahnya Amelia menunjukkan foto Satya lalu menceritakan dan mengabarkan niat baik keluarga Rafael kepada kedua orang tuanya.
Ayahnya Amelia memeluk anaknya dengan erat, kedua netranya pun terlihat berkaca-kaca. “Masya Allah, alhamdulillah, ternyata anak ayah dapat calon suami yang lebih baik.” Rupanya dunia itu hanya selebar daun kelor, rupanya ayahnya Amelia pernah bertemu dengan Satya di jalanan saat mobilnya tiba-tiba saja pecah ban, dan Satya lah yang membantu menggantikan ban mobilnya, serta menawarkan segelas kopi saat melihat ayahnya Amelia kelelahan ketika sendirian mendongkrak mobilnya.
Amelia memanjatkan syukur ternyata ayahnya sudah mengenal sosok Satya, dan mau menerima kedatangan calon menantunya ke rumah, apalagi ayahnya baru tahu jika Satya kedudukan dalam bekerja lebih tinggi ketimbang Rian yang hanya sebagai manajer proyek.
bersambung ...