
Amelia dan Satya usai menyantap sarapannya, mereka berdua kembali ke kamar 515.
“Selamat Pagi Nyonya Rara, Tuan Stevan,” sapa Satya ketika melihat kedua orang tua Rafael ada di ruang tamu.
“Pagi juga Satya,” balas sapa Mama Rara, sembari melirik gadis yang ada di samping Satya, serasa pernah lihat tapi samar-samar.
“Pagi Tante, Om ... saya Amel temannya Ayasha waktu sekolah dulu,” kata Amelia memperkenalkan diri kembali, karena sebelumnya pernah bertemu di rumah Amelia.
“Oh kamu teman Aya waktu di SMU ya, kita ketemu di rumah Aya kan,” balas Mama Rara mulai teringat.
“Iya Tante, betul saya teman SMU nya Aya,” jawab Amelia, sembari mendaratkan bokongnya di salah satu sofa single.
“Nyonya, Pak Rafael ada di mana?” tanya Satya, sembari menelisik setiap sudut ruangan dari tempat dia duduk.
“Rafael lagi ke restoran menemui chef, mau pesan beberapa menu untuk makanan buat Ayasha katanya.”
“Kalau begitu kebetulan sekali jika Pak Rafael sedang ke bawah,” kata Satya, sembari mencolek Amelia memberi kode agar kamar yang di tempati oleh Ayasha ditutup rapat, gadis itu bangkit sebentar dari duduknya lalu menutup rapat kamar Ayasha tanpa meninggalkan suara, karena melalui celah pintu dia melihat Ayasha sedang tertidur.
“Ada apa memangnya?” Mama Rara jadi penasaran.
“Kami berdua mendapatkan fakta terbaru Nyonya, Tuan ... semua terekam di sini,” ucap Satya. Amelia mengeluarkan ponsel milik Delia dari tas bahunya, kemudian langsung menyetel rekaman percakapan dia dengan Bu Laras.
Mama Rara dan papa Stevan memasang telinganya agar tak satupun terlewati, dan benar-benar menyimaknya dengan ekspresi yang begitu serius dalam waktu beberapa menit.
“Ya Allah, Ya Rabbi ... akhirnya terbuka juga siapa yang melakukan perbuatan jahat itu pada anakku,” kata Mama Rara dengan linangan air mata, papa Stevan merangkul bahu istrinya kemudian mengusap air mata mama Rara.
Mama Rara dan papa Stevan ada perasaan lega setelah tahu siapa tersangkanya karena selama ini Pak Ustadz memberitahukannya secara gamblang, ‘tidak perlu tahu orangnya, yang terpenting diobati dan kembali diingatkan dalam beribadah. Dan jangan pernah membalas perbuatannya, karena sama saja kita seperti mereka. Cukup didoakan saja buat pelakunya, karena hukum Allah sangatlah kejam.’ Namun sebagai seorang Ibu, mama Rara bisa merasakan jika hal itu menunjuk ke Delia.
Mama Rara menatap Amelia dan Satya secara bergantian. “Terima kasih banyak Amel, telah membantu Tante menemukan bukti yang terbaru.”
“Sama-sama Tante, saya sejujurnya juga terkejut dengan hal ini. Tidak menyangka jika selama ini Mbak Delia main dukun ke om Rafael,” balas Amelia.
“Hal yang sama, Tante juga tidak menyangka, namun sudah garis takdir dan tentunya seizin Allah, Rafael mendapatkan musibah seperti ini. Mungkin ini salah satu teguran karena kelalaiannya selama ini,” tutur Mama Rara.
Ceklek!
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, ternyata Rafael sudah kembali dari restoran dengan salah satu pelayan restoran yang membawa troly makanan.
Mama Rara, Papa Stevan serta Satya dan Amelia menghentikan percakapannya sejenak karena ada Rafael.
“Mah, Pah ... aku bawakan sarapan. Takutnya Mama sama Papa belum sempat sarapan,” kata Rafael, sarapan yang sangat telat karena sudah jam 10.30 wib.
“Makasih Nak.” Mama Rara dan Papa Stevan juga baru sadar mereka belum sempat sarapan saat ke kamar Rafael.
Pelayan tersebut menyajikan beberapa makanan di atas meja makan yang akan disantap oleh kedua orang tua Rafael, sedangkan Rafael mengambil semangkok bubur kacang ijo serta buah potong.
“Nanti siang jangan lupa antar kan makanan yang sudah saya pesan ke chef,” pinta Rafael, mengingatkan kembali.
“Baik Pak Rafael akan saya antar.”
Amelia melihat Rafael yang ingin masuk ke kamar Ayasha dengan membawa nampan, gadis itu segera berdiri namun Satya menahan tangan Amelia. “Berikan kesempatan Pak Rafael mengurus Ayasha untuk kali ini saja Mel, karena saat Ayasha sudah sembuh pasti mereka tidak akan sedekat ini,” pinta Satya begitu pelannya, untung saja Mama Rara dan Papa Stevan sudah berada di meja makan, tidak dekat dengan mereka berdua.
“Tapi Mas,—“ Amelia menatap dalam Satya, tak terima.
“Duduklah kembali,” pinta Satya dengan lembutnya, Amelia pun menurutinya.
Satya saksi bisu yang suka memergoki Rafael diam-diam meneteskan air mata sambil menatap foto acara tunangannya dengan Ayasha. Itulah mengapa terkadang kita tidak bisa menebak hati seseorang.
Amelia bergeming mendengar kata-kata Satya, kemudian teringat akan masa lalu ketika mereka baru tinggal di Jogja, jika dulu dia juga sering memergoki Ayasha menangis dimalam hari dan sering menyebut nama om Rafael, begitulah cinta. Mulut berkata tegar menerima perpisahan, namun sesungguhnya hati sangat berat menerima sebuah perpisahan.
...----------------...
Rafael melangkahkan kakinya pelan-pelan, karena melihat Ayasha terlelap dalam tidurnya. Nampan yang dibawanya diletakkannya di atas nakas.
Drret ... Drret ... Drret
Kak Darial calling
Baru saja meletakkan nampan di atas nakas, Rafael sudah di kejutnya dengan suara ponsel milik Ayasha yang tergeletak di atas nakas.
“Ck ... Kak Darial,” gumam Rafael sendiri, pria itu mengambil ponsel milik Ayasha kemudian menekan tombol merah, menolak panggilan.
Drret ... Drret ... Drret
Kak Darial calling
Baru sebentar ditolak, ponselnya kembali berbunyi dengan nama panggilan yang sama, membuat hati Rafael memanas. Pria itu kembali menekan tombol merah, padahal ingin rasanya dia membanting ponsel Ayasha.
Ayasha terlihat menggeliat dan melenguh karena tidurnya terganggu dengan suara teleponnya. “Siapa yang menelepon, Mel?” tanya Ayasha, masih memejamkan kedua matanya.
Rafael tidak menjawab hanya menatap wajah Ayasha yang masih menggeliat mengemaskan. Gadis itu mulai mengerjap-ngerjap kedua netranya, dan menangkap wajah serius Rafael yang sedang berdiri di sisi ranjangnya dengan memegang ponsel miliknya.
“Pak Rafael.”
“Maaf aku tolak panggilan teleponnya, agar kamu bisa istirahat,” ucap Rafael tegas, moodnya mulai berubah.
“Mmm ... boleh aku minta teleponku, ingin tahu siapa yang menghubungiku ... takutnya penting,” pinta Ayasha dengan mengulurkan tangan kanannya ke arah Rafael.
Ponsel Ayasha dimasukkannya ke kantong celana panjangnya. “Bukan dari orang penting, saat ini kamu harus fokus dengan pemulihan biar cepat sembuh. Untuk sementara ponsel kamu ... aku simpan dulu,” kata Rafael, ekspresi wajahnya sudah model seperti dulu, datar dan dingin.
Ayasha menaikkan salah satu alisnya, merasa heran dengan sikap Rafael. “Tapi gak begitu juga Pak Rafael,” tolak Ayasha.
Rafael duduk ditepi ranjang lalu mencondongkan dirinya agar lebih dekat dengan Ayasha yang masih terbaring, lalu salah satu tangannya menyelisip ke punggung gadis itu.
“Aakhh,” tersentak Ayasha, ketika punggungnya agak terangkat, hingga kedua matanya terbelalak, beradu pandang dengan kedua netra pria itu yang sudah terbakar api cemburunya.
bersambung .....
Masya Allah, Alhamdulillah terima kasih buat Kakak Readers yang telah menemani kisah Ayasha hingga hari ini, pagi ini masuk rangking 11 karya baru.
Simpan di sini, buat kenang kenangan Ayasha