
Darial dan Ayasha sudah berada di coffe shop, sebelum mereka ngobrol pria itu memanggil waitres untuk memesan minuman buat mereka berdua.
Ayasha sedang mencoba untuk tidak terlalu gugup, dan berusaha terlihat biasa saja saat ditatap Darial, buket bunga pemberian pria itu dia letakkannya di atas meja.
Satya yang masih berada di bagian resepsionis, menghubungi Rafael untuk memberitahukan jika Darial sedang berada di hotel menemui Ayasha. Pria yang dihubungi oleh asistennya, bergegas menyelesaikan urusannya di luar dan segera kembali ke hotel.
Semoga tidak ada keributan di hotel, batin Satya, usai menghubungi Rafael.
Pria bule itu tampak tersenyum hangat pada Ayasha, sebelum berkata. “Ada apa ingin bertemu denganku, kangen ya?” tanya Darial.
“Justru aku minta bertemu sore hari, malah Kak Darial langsung datang sekarang.”
“Lebih cepat, lebih baik kan kalau ingin bertemu, saya takutnya ada yang penting buat kamu,” jawab Darial, sembari menyesap kopi yang baru dihantarkan oleh waitres.
Gadis itu mengulas senyum tipisnya, lalu mencoba agar bisa rileks sebelum bicara hal yang penting buatnya.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Darial.
“Sebelum aku berbicara, aku minta maaf terlebih dahulu jika nanti ada kesalahan atau menyinggung perasaan Kak Darial.”
Darial hanya bergumam dan menganggukkan kepalanya pelan.
Bismilah ... mudahkanlah urusanku hari ini Ya Allah, batin Ayasha.
“Jadi begini Kak Darial, aku sepertinya tidak bisa melanjutkan hubungan kita, aku ingin mengakhirinya sampai di sini,” tutur Ayasha begitu tenang dan lembut.
Damn! Umpat batin Darial.
Raut wajah Darial yang awalnya tersenyum hangat, tiba-tiba saja sudut bibirnya turun, dan mulai terlihat datar wajahnya.
Pria itu kemudian mencondongkan dirinya, tububnya hampir menyentuh meja.
“Saya tidak salah dengar kamu minta hubungan kita berakhir! Kenapa! Apa apa! Apa saya melakukan kesalahan padamu hingga kamu minta kita berakhir sampai di sini!” cecar Darial, menahan emosi yang mulai bergejolak.
“Tidak ada salah pada Kak Darial, tapi di sini akulah yang salah,” jawab Ayasha.
Dari semua keburukan Darial yang dia ketahui, Ayasha sengaja tidak bilang jika dia tahu dan tidak mengungkapkannya, karena bukan masa lalu atau kelakuan buruk pria itu yang membuat dia mengakhiri, namun hatinya memang bukan untuk pria bule itu.
“Saya tidak terima kamu minta putus dengan saya, lagi pula saya sudah melamarmu sama mama kamu, dan saya akan segera melamarmu secara resmi. Hubungan kita ini baru sebulan Ayasha, jangan bercanda dengan saya!” tukas Darial, tidak terima dengan keputusan Ayasha.
“Aku tidak bercanda Kak Darial, bukankah sejak awal aku sudah bilang kalau kita saling mengenal terlebih dahulu, dan yang aku rasakan sekarang ... aku tidak bisa menjadi kekasih atau calon istri buat Kak Darial. Aku sudah mencoba untuk belajar menerima cinta Kak Darial, tapi hati kecilku tak bisa membalasnya,” ungkap jujur Ayasha.
“Itu karena kita baru mengenal sebulan Ayasha, lagi pula semakin lama kamu pasti bisa mencintai saya, dan kamu ingat saya tidak menuntut kamu cepat mencintai saya, yang terpenting kamu tetap jadi pacar dan calon istri saya. Titik!” suara Darial naik satu oktaf.
“Lagi pula apa kurangnya saya, Ayasha! Saya memiliki perusahaan yang sangat bonafit, kekayaan yang berlimpah, wajah saya tampan dan perlu kamu ketahui di luar sana banyak wanita yang ingin menjadi istri saya. Tapi saya memilih kamu, harusnya kamu bangga bisa bersanding dengan saya!” lanjut kata Darial, tanpa pria itu sadari sisi sombongnya mulai muncul.
Ayasha baru kali ini melihat wujud Darial yang sangat berbeda, gadis itu pun menyeringai tipis, lalu menyesap hot chocolatenya pelan-pelan.
“Berarti aku wanita yang buta ya matanya, tidak bisa melihat sosok Kak Darial yang begitu amat dibanggakan oleh para wanita di luar sana, ya! Hingga jadi rebutan para wanita dan harusnya aku beruntung dipilih dan dicintai oleh Kak Darial, begitukah?” sindir Ayasha secara halus, lalu dia kembali menyesap hot chocolatenya.
“Saya tidak bilang matamu buta Aya, tapi saya hanya memberitahukan tentang saya di luar sana,” sahut Darial, ada rasa tidak enak dengan Ayasha.
Gadis itu meletakkan kembali cangkir yang dia pegang ke atas meja, lalu dia menatap wajah Darial dengan seksama. “Aku memilih pendamping hidup bukan melihat dari kekayaannya, ketampanan, dan aku justru tidak berbangga hati punya calon suami yang jadi rebutan para wanita di luar sana, sudah bisa aku pastikan jika pria itu seorang casanova yang sering menunjukkan pesonanya pada para wanita dalam hidupnya,” kembali menyindir halus.
GLEK!
Tenggorokan Darial agak tercekat dengan salivanya sendiri karena kata casanova yang diucapkan oleh Ayasha, secara halus telah menyinggung kebenaran tentang dirinya.
“Aku juga memilih calon suami yang bisa menuntutku, membimbingku, mengajariku dalam kebaikan dan agama, walau aku tahu calon suamiku punya masa lalu yang kelam yang harus aku terima. Namun jika mampu memperbaiki dan memantaskan diri untuk menjadi imam yang baik buat calon istrinya, mungkin aku akan belajar menerimanya. Apakah Kak Darial mampu seperti itu, bukan hanya sekedar kata cinta namun bisa menjadi imam ku saat kita sholat berjamaah?” tutur Ayasha begitu lugas dan tegasnya.
Darial bergeming ...
Kenapa diam Darial? Karena agamanya hanya Islam KTP, untuk masalah ibadah sangatlah jauh, apalagi kehidupan di Iuar negeri yang mayoritas non muslim membuat dia hampir tidak melakukan ibadah menurut agamanya.
Darial menarik napas panjangnya lalu menyandarkan punggungnya ke bangku dan masih menatap Ayasha. “Jangan-jangan ada pria lain yang membuat kamu ingin pisah dengan saya?” tanya Darial, mengalihkan pembicaraan Ayasha sebelumnya.
Damn! Pasti Rafael yang telah membongkar kejadian di club. Pasti Ayasha sudah tahu! Geram batin Darial.
“Hubungan kita di awali secara baik-baik Kak Darial, dan aku harap kita berakhir secara baik-baik. Cinta tidak bisa dipaksakan, karena kalau tetap berjalan dan dipaksakan yang ada hanya saling menyakiti, itu bukan hubungan yang sehat.”
Darial mulai menatap tajam wajah gadis itu yang masih terlihat tenang. “Saya tidak terima kamu memutuskan hubungan kita, otak kamu pasti sudah dicuci, sudah didoktrin sama pria brengsek itu kan, mantan tunangan kamu, Rafael!” balas Darial, mulai menunjukkan emosi yang tidak tertahankan.
“Bukan Kak, bukan karena Om Rafael, tapi dari diriku sendiri," jawab Ayasha jujur.
Pria itu mendengkus kesal, lalu bangkit dari duduknya. “Dasar brengsek Rafael, mana orang itu!” geram Darial, kemudian meninggalkan meja.
Ayasha mulai tampak panik melihat amarah Darial, lalu dia bergegas menyusul Darial yang sudah keluar dari coffe shop, takut pria itu mencari Rafael.
Gayung bersambut rupanya, Rafael baru saja kembali ke hotel dan sekarang ada di lobby sedangkan Darial yang baru keluar dari coffe shop menyeringai sinis, kemudian langkah kakinya begitu cepat mendekati Rafael yang sedang berbicara dengan pak Wibowo serta Satya.
BUGH!
Darial yang sebenarnya memiliki tempramen tinggi langsung menghadiahkan bogeman mentah kepada pria itu, hingga Rafael jatuh tersungkur ke lantai karena tidak siap menerima serangan dari pria bule itu.
“DASAR BADJINGAN, BERANI REBUT CALON ISTRI SAYA!!” maki Darial, kedua netranya berapi-api.
Rafael bangkit dari tersungkurnya dengan mengusap sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah, kemudian ...
BUGH!
“JUSTRU KAMULAH YANG BADJINGAN, SAYA TAHU TENTANG KAMU SEMUANYA!” balik maki Rafael, setelah menghajar Darial.
Darial pun membalas menghajar Rafael, terjadilah perkelahian antara kedua pria tampan itu menunjukkan kekuatan dirinya. Satya dan Pak Wibowo yang ingin melerai mereka berdua, malah ikutan kena pukulan.
Ayasha yang baru tiba langsung terbelalak. “HENTIKAN!” teriak Ayasha, namun tidak ada yang menggubrisnya, hanya menoleh sesaat kemudian melanjutkan lagi perkelahian mereka berdua.
Terpaksa Ayasha maju, dan masuk di antara mereka berdua secara tiba-tiba.
BUGH!
“AAKKHH...”
Ayasha tiba-tiba teriak lalu terdiam, kemudian pandangan matanya gelap
Tubuh Darial tiba-tiba jadi kaku seketika melihat Ayasha kena pukulannya pas bagian tengkuknya.
“AYASHA!” teriak Rafael ketakutan, langsung menangkap tubuh Ayasha yang sudah tak sadarkan diri.
bersambung ...