FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Ayasha akhirnya tahu



Bersyukur untuk sesuatu yang hadir itu sudah biasa, tetapi bersyukur atas sesuatu yang hilang itu luar biasa. Karena percaya bahwa dibalik setiap kehilangan ada Allah yang sejatinya sedang menyelamatkan.


Ayasha dan Rafael sama-sama menatap namun di tempat yang berbeda dengan suasana yang berbeda.


Darial menunjukkan senyum hangatnya di saat Ayasha sudah membuka kedua kelopak matanya. “Alhamdulillah, kamu sudah sadar,” pria itu berkata dengan lembutnya.


Tangan besar pria itu mengambil segelas air minum yang telah disiapkan di atas nakas, lalu memberikannya ke Ayasha. “Diminum dulu ya,” pinta Darial. Amelia yang ingin membantu Ayasha untuk sedikit mengangkat kepalanya, ternyata pria itu yang terlebih dahulu mengangkat kepala Ayasha.


Amelia hanya bisa menghela napas panjangnya, lalu menatap Mama Rara yang sedang duduk di sofa seorang diri. Sepertinya dia lebih baik menemani Mama Rara, ketimbang berada diantara Darial dan Ayasha.


Kedua netra Ayasha seperti sedang mencari seseorang di dalam ruangannya namun yang dicari tak ada, lalu tangannya mengusap perutnya yang sudah diperban.


“Ada yang kamu rasa lagi, Aya?” Darial bertanya.


“Tidak ...,” jawab Ayasha pelan.


“Jika ada rasa tak enak, tolong kasih tahu saya ya, biar saya panggilan Dokter,” pinta Darial penuh perhatian, sembari mengusap pucuk kepala Ayasha dengan lembutnya.


Ucapan lembut, sikap yang penuh perhatian yang ditunjukkan oleh Darial kepadanya, akan tetapi hati gadis itu terasa hambar begitu saja, tidak seperti awal menerima perhatian dari pria bule itu, entah kenapa.


Ditambah lagi posisi Amelia dan Mama Rara yang kini tidak ada disampingnya, malah duduk di sofa, apakah karena ada kehadiran Darial di sisinya, hingga mereka berdua sungkan lalu menjauh padahal Ayasha lebih membutuhkan Mama Rara dan Amelia ketimbang Darial, atau mungkin dia lebih membutuhkan_


Mohon bersabar Ayasha , maafkan aku, kamu tolong bertahanlah ...


Penggalan kata Rafael, raut wajah yang sangat terlihat cemas, kemudian kedua netra yang berkaca-kaca masih bisa Ayasha ingat jelas, belum lagi dekapan hangat pria itu seakan kekuatan buat dirinya. Mata Rafael sangat berbeda dengan mata Darial yang terlihat menunjukkan perhatiannya lalu berkata mengkhawatirkan namun tidak tersirat di kedua netra Darial.


“Kak Darial, bisa panggilkan Mama ku,” pinta Ayasha, karena tidak memungkinkan dia berteriak dari tempatnya berbaring.


“Kamu membutuhkan sesuatu kah? Biarkan saya saja yang membantu, kasihan Mama kamu nanti kecapean,” jawab Darial, menolak secara halus permintaan Ayasha, dia ingin menunjukkan jika hanya dia yang dibutuhkan oleh Ayasha, bukan orang lain.


“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, dan tak mungkin aku membicarakan dengan Kak Darial.”


“Baiklah.” Lagi lagi Darial menarik napas, karena menahan rasa kecewanya, lalu dengan terpaksa menghampiri Mama Rara.


Mama Rara pun mendekati Ayasha setelah diberitahukan oleh Darial, dan pria itu kembali duduk di sisi ranjang Ayasha.


“Kak Darial maaf, bisa agak sedikit menjauh. Karena aku butuh privacy bersama mamaku,” pinta Ayasha setelah melihat Darial kembali duduk dekatnya.


“Baiklah, kalau begitu saya keluar sebentar untuk beli kopi, Tante mau dibelikan kopi juga?” tanya Darial pada Mama Rara, sebelum meninggalkan kamar.


“Tidak, terima kasih Darial,” jawab tolak Mama Rara. Darial pun keluar dari ruangan.


Mama Rara menarik kursi ke sisi ranjang, lalu duduk sembari menatap sendu ke Ayasha. “Apa yang ingin kamu bicarakan Nak, keadaan kamu masih lemah, jangan dipaksakan?”


“Om Rafael ada di Jogja kan, Mah?”


Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya, rasanya tidak mungkin dia berbohong kembali.


“Sekarang Om Rafael kemana?”


“Mungkin Rafael sudah kembali ke hotel, dia tidak enak dengan Darial. Tadi sempat ada salah paham antara Rafael dengan Darial, Nak,” ucap Mama Rara, sembari mengusap lembut tangan Ayasha.


“Apa Om Rafael sudah tidak mau menemuiku lagi Mah?”


Mama Rara menundukkan kepalanya sejenak, mengalihkan kedua netranya yang mulai berkaca-kaca.


“Mah, tolong jawab?” pinta Ayasha memelas.


Ayasha mengapai tangan Mama Rara, lalu menggenggamnya dengan erat. “Bukankah aku dan Om Rafael masih bersaudara, kenapa harus bersembunyi jika ingin menemuiku, Mah.”


Tergelak dihati Ayasha saat berkata barusan, dulu Rafael juga pernah berkata yang sama dengannya, ‘bukankah kita masih bersaudara, dan masih bisa saling berhubungan baik.’


Sekarang ngiliran kata itu keluar dari mulutnya sendiri. Mama Rara mengangkat wajahnya lalu menatap Ayasha dengan kedua netranya yang masih berkaca-kaca. “Iya kalian masih saudara walau tidak miliki ikatan apapun, saudaramu ini sedang berusaha menjaga hatimu dengan caranya sendiri. Kamu sakit seperti ini pun dia menyalahkan dirinya sendiri, namun semuanya sudah terjadi. Dia titip minta maaf atas apa yang terjadi padamu, termasuk mama minta maaf yang tidak bisa mencegah apa yang terjadi padamu, Nak,” imbuh Mama Rara begitu lirihnya.


“Aku kena guna-guna ya Mah?” tebak Ayasha, setelah dia melihat dan merasakan antara dalam keadaan sadar dan tidak sadarnya ketika jarum keluar dari perutnya setelah mendengar ada orang yang membaca ayat suci Al-Qur'an.


“Iya Nak, kamu dikirim santet oleh Delia.”


Ayasha terhenyak sejenak, ternyata benar dugaannya, dan yang bikin kagetnya pelakunya Delia.


“Mbak Delia!” gumam Ayasha.


“Sudah lima tahun juga Rafael di pelet oleh Delia, pelet yang mampu memisahkan hubungan Rafael dengan kamu,” ujar Mama Rara.


DEG!


Ayasha yang sempat menatap ke arah yang lain, langsung menatap Mama Rara kembali.


“P-pelet ... Om Rafael dipelet.”


 “Iya Rafael dipelet, dan alhamdulillah sudah diobati, efek peletnya sudah berkurang.”


Ayasha tidak habis pikir mendengar kata pelet itu, bukannya tidak percaya, namun tidak menyangka. Karena yang dia duga selama ini Rafael memang sangat mencintai Delia, begitupun sebaliknya Delia, sampai-sampai dia diputuskan.


Mama Rara kembali mengusap lembut tangan Ayasha. “Sudah sekarang kamu jangan banyak pikiran, yang terpenting harus cepat sembuh biar tidak lama-lama dirawat di rumah sakit.”


“Temani aku di sini, Mah, jangan tinggalkan,” pinta Ayasha dari hati yang paling dalam.


“Iya, pasti mama temani sampai sembuh.”


Hanya ini yang dia pinta saat ini, karena sejujurnya dia tak nyaman jika ditemani oleh Darial seorang diri.


Selama Mama Rara menemani Ayasha, Amelia pamitan sebentar untuk menyusul Satya di coffe shop.


“Mas Satya kok malah duduk di sini, kenapa tidak balik ke kamar aja, terus Om Rafael kemana? Diluar mana lagi hujan,” cecar Amelia yang baru saja menghampiri Satya yang sedang menyesap coffe lattenya.


Wajah pria itu terlihat murung bagaikan awan hitam di luar sana. “Mas Satya, ih di ajak ngomong malah diam aja,” tegur Amelia, sembari menggoyangkan bahu pria itu.


“Lagi sedih Mel,” jawabnya memelas.


“Sedih, kenapa?”


“Sedih aja lihat Pak Rafael, kalau menurut kamu kira-kira Ayasha masih mencintai Pak Rafael gak ya?” tanya Satya dengan ekspresi serius.


DEG!


Darial yang tak jauh posisi berdirinya, habis memesan minuman di depan kasir, langsung menatap ke arah meja Satya dan Amelia


Ayasha mencintai Rafael? Bukannya mereka berdua katanya saudara! Geram batin Darial.


Pria itu buru-buru mengambil pesanan minumannya dan beberapa donut untuk Ayasha, kemudian dia sengaja membalikkan badannya tapi memasang kedua telinganya, agar lebih jelas mendengar pembicaraan antara Satya dengan Amelia.


bersambung ...