
Esok Hari.
Dokter yang menangani Rafael sudah mengizinkan pria itu untuk rawat jalan, dan melanjutkan pengobatannya di rumah sakit yang ada di Jakarta. Akan tetapi untuk sementara pria itu tetap menggunakan kursi roda, sedangkan tongkat penyanggah yang sudah disiapkan oleh Dokter belum dia coba.
Sesuai dengan permintaan Papa Stevan, jika Rafael sudah dapat lampu hijau dari Dokter, maka di hari yang sama mereka akan kembali ke Jakarta. Namun sebelum kembali ke Jakarta, Ayasha minta izin ke suaminya untuk berpamitan kepada teman-temannya yang ada di hotel. Dan disinilah mereka semua, sekarang ada di lobby hotel Inna Garuda.
Para karyawan selain mengucapkan selamat atas pernikahannya dengan Ayasha dan Rafael, mereka pun turut bersedih akan perpisahan dengan Ayasha sebagai rekan kerjanya. Hal ini memang membuat Ayasha sedih, tapi perpisahan ini menjadi konsekuensinya sebagai istri Rafael, yang harus ikut ke mana pun suami berada.
“Selamat ya Mbak Aya, semoga cepat punya momongan, dan sering-sering berkunjung ke sini,” ucap Reni dengan kedua netranya yang berkaca-kaca.
Ayasha memeluk erat Reni. “Amin terima kasih atas doanya mbak Reni, insya Allah aku akan datang berkunjung ke sini,” balas Ayasha. Sri dan Silvia bergantian juga mengucapkan selamat dan salam perpisahan.
Banyak karyawan yang berkumpul di lobby termasuk Pak Wibowo, karena Ayasha dan Rafael tidak bisa berlama-lama di sana karena jadwal keberangkatan jet pribadi milik papa Stevan sudah diatur.
Farel mengulurkan tangannya ke Ayasha dengan raut wajah begitu sendu dan sedih. “Selamat atas pernikahannya Ayasha, semoga menjadi keluarga yang SAMAWA, semoga cepat punya momongan. Dan jangan lupa kan aku ya,” ucap Farel, namun kalimat terakhir begitu pelan dia mengucapnya karena dirinya dapat lirikan tajam dari pria yang duduk di atas kursi rodanya, padahal posisi mereka tidak dekat.
Ayasha menyambut uluran tangan Farel, salah satu rekan kerjanya yang begitu baik, manis, hangat dan teman makan siang bersama, teman yang bisa membuat dia tersenyum dengan guyonan yang sering dilontarkan oleh Farel. Inilah kenapa Farel yang sejak awal tidak mau menyatakan cintanya pada Ayasha, mungkin yang terbaik adalah menjadi teman, agar tidak semakin patah hati dan sedih jika memang tidak berjodoh.
“Sayang, ayo sebentar lagi kita harus terbang,” kata Rafael dengan sedikit berteriak karena posisi mereka berdua agak jauh, sebenarnya alasan saja, Rafael gak mau lihat Ayasha lama-lama dekat Farel, cemburu.
“Ya Hubby, tunggu sebentar,” sahut Ayasha dari kejauhan.
Mmm ... mulai deh keluar sikap posesifnya si bos, gak boleh lihat istrinya dekat cowok, batin Satya, yang berdiri di belakang kursi roda Rafael.
Ayasha dan Farel kembali bersitatap untuk beberapa detik, lalu sama sama mengulas senyum tipisnya, kemudian Ayasha melayangkan pandangannya ke teman yang lain dan sama-sama tersenyum. Sesaat wanita itu menelisik ke semua sudut ruangan yang ada di lobby hotel yang lumayan besar, dia menarik napasnya yang begitu halus. “Sampai berjumpa lagi semuanya,” ucap Ayasha begitu lirihnya, menahan rasa sedih karena akhirnya dia mengalami kejadian perpisahan kembali namun dengan rasa yang berbeda.
“Sukses selalu Mbak Ayasha di Jakarta,” sahut Reni, sembari melambaikan tangannya.
Ayasha melambaikan tangan sembari melangkah mundur.
Mungkin ini bukan perpisahan untuk selamanya, namun di tempat inilah aku pertama kali berkarir, dan di tempat inilah banyak segala cerita yang amat berharga. Tapi di sinilah aku juga bertemu dengan kekasih hatiku yang sesungguhnya. Sejauh aku pergi, ternyata Allah masih mempertemukanku dengan pria yang membuatku pergi, batin Ayasha.
Tak ku sangka ternyata tempat ini menjadi tempat bersejarah buatku ... Hotel Inna Garuda. Di sinilah aku kembali bertemu dengan gadis yang selama ini kucari, gadis yang telah kukhianati, gadis yang telah kusia-siakan, namun dialah gadis yang sangat kucintai. Ya Allah, terima Kasih atas segala nikmat mu, Engkau menuntut langkah kakiku ke sini, Engkau pulalah yang membukakan mataku, dan Engkau pulalah yang menyatukan kembali. Tak akan aku sia-siakan istriku Ayasha, akan selalu ku jaga hingga akhir hayat ku, batin Rafael.
Rafael mengulurkan tangan kanannya, Ayasha langsung menyambut uluran tangan suaminya saat dia sudah memutar balik badannya.
Kali ini perpisahan untuk menjalankan bahtera rumah tangganya, bukan untuk menjauh dari segalanya.
“Jangan bersedih sayang, nanti kita akan sering kesini,” ucap Rafael melihat air mata yang mulai membasahi pipi istrinya. Ayasha mengangguk lemah, tak bisa dipungkiri yang namanya berpisah dengan teman-teman kerja pasti akan sedih, hati tak bisa dibohongi.
Dari kejauhan di luar hotel Inna Garuda, ada sosok yang sedari tadi memperhatikan mantan kekasihnya, pria itu hanya bisa mendesah berat, apalagi kemarin dia sempat mendengar dari orang suruhannya jika Ayasha mengalami kecelakaan hebat dengan Rafael, lalu dia juga mendapat kabar terbaru lagi jika mereka berdua sudah menikah di rumah sakit.
Seperti inikah rasanya sakit karena ditolak oleh seorang wanita yang sangat aku cintai. Jika dulu aku sering mempermainkan hati wanita, sekarang aku yang merasakan rasa sakit itu. Aku tidak bisa melupakan dirimu Ayasha, karena aku benar-benar jatuh cinta padamu. Dan ternyata cinta memang tidak bisa dipaksakan, batin Darial.
Melepaskan kepergian Ayasha dari kejauhan, kemudian masuk kedalam mobilnya kembali.
“Daddy tidak jadi bertemu dengan calon Mommy ku kah?” tanya anak remaja yang sedari tadi menunggu di dalam mobil.
Pria bule itu tersenyum getir melihat anak cowok yang wajahnya mirip dengannya. “Tidak ada mommy baru, cukup ada kamu dan daddy saja, kita hidup bahagia bersama dan hanya berdua saja,” jawab Darial. Exel yang masih berusia 13 tahun hanya manggut-manggut saja, seakan mengerti. Anak remaja itu baru beberapa hari tiba di Indonesia dari Inggris setelah ibu yang melahirkannya meninggal akibat kecelakaan mobil, dan tanggung jawab membesarkan Exel sekarang menjadi beban Darial, bukan hanya sekedar memberikan uang bulanan seperti beberapa tahun belakangan, tapi harus ikut merawat, mendidik dan mengawasinya secara langsung.
Mobil yang ditumpangi oleh Darial dan Exel, melaju meninggalkan pelataran parkir hotel, sesaat Darial menatap gedung hotel tersebut.
Ayasha, kamu adalah mantanku yang terindah walau hubungan kita hanya sebentar. Denganmu lah aku mengerti apa arti kata cinta yang bukan dilandasi oleh nafsu. Bersamamu ternyata aku mampu menjaga nafsuku demi menjaga kekasihku Ayasha, tapi ternyata kita tidak berjodoh. Andaikan ada reinkarnasi ingin aku menjadi suamimu, Ayasha.
I Love You, Ayasha Elshanum.
bersambung ...
CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI 😭😭😭😭
Mohon maaf Darial jika Ayasha tidak berjodoh denganmu, dan mohon maaf kepada Kakak Readers jika ada yang kecewa "kenapa Ayasha harus kembali lagi sih sama Rafael! Penulisnya kayak gak punya harga diri aja bikin kisahnya, padahal yang nulis cewekkan!" ini salah satu komentar yang membuat saya syok terapi 😮.
Andaikan Kakak baca ceritanya dari awal sampai akhir paham, disini tidak ada membuat harga diri Ayasha sebagai wanita menjadi rendah, justru bermartabat.
Setiap orang pasti punya kesalahan yang fatal, tapi ada sebabnya, lalu ada akibatnya. Disini Rafael memang awalnya sangat brengsek, tapi ada pemicu nya, dan tidak semudah itu juga Ayasha mau kembali dengan Rafael. Jika di dunia nyata saja Allah mengampuni dosa umatnya yang amat fatal dan menerima tobat hambanya, lalu mengapa sesama manusia tidak mau memaafkan nya walau kelakuannya sangat menyakitkan hati, dan masih menjudge dia menjijikkan dan sangat buruk!
Yang buruk tidak selamanya buruk, yang baik tidak selamanya juga baik tapi sebaiknya ya selalu baik.
Rafael sebagai pria brengsek, dia menyadari kesalahan besarnya, dan kembali memperbaiki dirinya dengan bertobat, walau sempat pasrah jika tidak bisa kembali dengan Ayasha, namun jika dalam kehidupan selalu melibatkan Allah, maka segala hal yang mustahil menjadi nyata.
Untuk Kakak readers yang sudah chat dan komentar bilang author nya bodoh gak punya harga diri, makasih banyak loh, semoga yang komentarnya pintar dan punya karya yang lebih keren dari saya 😊.
Cuma saya mau bilang, kalau saya penulis bodoh kenapa juara 1 ya Kak. Semoga Kakak cantiknya baca komen saya ini ya.
Kakak Readers mohon maaf jadi sedikit curhat 🙏🏻😊, maklum lagi gemas.