
Ayasha dan Darial sama-sama berjalan menuju pelataran parkiran ke tempat mobil milik pria itu. Ponsel milik Ayasha yang tersimpan di dalam tas bahunya terdengar berdering.
“Sebentar Kak, aku terima telepon dulu,” ucap Ayasha sebelum dia masuk ke dalam mobil Darial.
“Saya tunggu di dalam ya,” balas Darial saat membuka pintu mobilnya.
“Ya Kak.” Ayasha segera menerima telepon masuk yang tertulis ‘Om Rafael', sebenarnya ini hal yang tak biasa buat Ayasha ketika pria itu kembali menghubunginya, padahal baru tadi siang meneleponnya.
“Halo ... assallammualaikum, “ sapa Ayasha.
“Waalaikumsalam Aya, sudah di rumahkah?” tanya Rafael, suara baritonnya terdengar lemah.
“Aku baru mau pulang Om, masih di depan hotel.”
“Pulang sendiri, atau ada barengannya?” tanya Rafael mulai terdengar cemas.
Ayasha diam sejenak lalu menatap Darial yang sudah berada di dalam mobilnya. “Aku dijemput sama Kak Darial, Om,” jawab Ayasha apa adanya.
Suara desaahan panjang terdengar di sambungan telepon Ayasha, Rafael dibalik teleponnya tersenyum pilu, lupa kalau Ayasha sudah memiliki seorang kekasih. Namun rasa cemas dan khawatirnya membuatnya lupa akan hal tersebut, dan juga lupa jika dia dan Ayasha tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, hanya saudara saja.
“Ini sudah malam, langsung pulang ya, jangan mampir kemana-mana. Kalau kamu belum makan malam, aku pesankan makan malamnya biar langsung dikirim ke rumah kamu, Ingat apa kata dokter, jaga kondisi tubuhnya, jangan lupa minum vitaminnya, aku tidak ingin kamu sakit lagi,” cerocos Rafael, tak peduli Ayasha mau mendengarkan atau tidaknya.
Ayasha sejenak terdiam, entahlah hatinya terasa aneh. Kenapa mantannya bisa sebawel ini, tak seperti biasanya.
“Iya Om, kalau begitu aku pulang dulu Om,” jawab Ayasha.
Ingin rasanya Rafael melarang Ayasha pulang di antar oleh Darial, tapi mau bagaimana lagi, bukan hak dia untuk melarangnya, dia bukan siapa-siapanya Ayasha, walau hatinya sangat khawatir.
“Hati-hati di jalan Aya, assallammualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Ayasha mengakhiri percakapan mereka via telepon.
Usai menerima telepon, Ayasha menyusul masuk ke mobil Darial, dan pria itu langsung menyalakan mesin mobilnya.
“Aya, kita mau makan malam di mana nih?” tanya Darial terdengar semangat.
“Maaf Kak Darial, kayaknya aku mau langsung pulang saja. Badanku rasanya kurang nyaman,” jawab Ayasha.
Pria yang awalnya tersenyum hangat tiba tiba raut wajah berubah menjadi datar. Siapa yang barusan menelepon Ayasha, kenapa dia bisa jadi berubah pikiran?
“Ya sudah kalau begitu, kita ganti di hari lain saja makan malamnya,” kata Darial.
“Mmm ... iya Kak,” jawabnya dengan rasa tidak yakin.
Ayasha membuang pandangannya ke arah jalanan, enggan rasanya untuk menatap Darial yang sedang mengemudi. Sedangkan Darial yang fokus mengemudi mencoba menggenggam tangan kanan Ayasha lalu meletakkan genggaman tangannya di atas pahanya, akan tetapi Ayasha menarik tangannya yang sudah menyentuh paha Darial.
“Aya, kamu tidak suka ya jika tangannya saya genggam?”
Ayasha langsung menoleh ke samping kanan dan menatap wajah Darial. “Maaf Kak Darial, aku tak terbiasa berpegangan tangan dengan laki-laki. Apalagi belum terlalu lama kenalnya.”
“Ooh ... Saya pikir semua wanita suka tangannya dipegang oleh kekasihnya, ternyata kamu berbeda,” jawab Darial, nada suaranya terkesan mengejek.
“Setiap wanita itu pasti berbeda-beda, jangan pernah menyamakannya. Mungkin Kak Darial dengan mantan kekasihnya terbiasa dengan sentuhan itu, mulai dari pegangan tangan atau mungkin lebih dari itu. Aku tak ingin disamakan Kak, apalagi hubungan kita juga baru saling mengenal, belum sangat terlalu dekat, jadi aku harap Kak Darial bisa memakluminya,” tutur Ayasha.
Darial yang memegang stir kemudi terlihat tangannya begitu erat menggenggamnya, dan wajahnya pun fokus ke depan tidak menoleh ke arah Ayasha.
“Maaf kalau aku terburu-buru memegang tanganmu seperti tadi.”
“Maafkan aku juga Kak.” Sebenarnya Ayasha tidak munafik jika dia juga suka saat tangannya dipegang, tapi yang membuat dia risih tangannya diletakkan diatas paha pria itu, yang sedikit lagi bisa menyentuh benda pusaka pria itu. Buat Ayasha tidak wajar dalam awal menjalin hubungan seperti itu, atau karena Ayasha belum sepenuhnya menerima hubungannya dengan Darial, mungkin buat wanita yang sedang jatuh cinta terkesan biasa saja, malah bikin tambah mesra. Ah biarlah jika Ayasha dibilang kolot sama Darial, ya walau tanpa sepengetahuan Darial, Ayasha sudah pernah ciuman dengan Rafael.
Untung saja jarak ke rumah kontrakkan Ayasha tidaklah jauh, jadi keheningan yang tiba-tiba saja terjadi antara Ayasha dan Darial hilang saat Ayasha tiba di rumah, dan pria itu tidak diizinkan mampir ke rumahnya, jadi Darial langsung meninggalkan rumah gadis itu dengan wajah kecewanya.
Ayasha bernapas lega telah sampai di rumahnya dengan selamat, dan sesampainya di rumah sudah di sambut oleh Amelia yang tersenyum lebar sambil melirik kantong makanan dari restoran favoritnya.
“Lo abis borong makanan Mel?” tanya Ayasha.
Amelia menggelengkan kepalanya. “Lah gue pikir lo yang pesan, inikan makanan kesukaan lo, ayam goreng,” celetuk Amelia, buru-buru buka bungkusan makanan tersebut.
TING!
Suara pesan masuk di ponsel Ayasha.
✅Om Rafael
Aya, makanannya sudah tiba belum? Jangan lupa dimakan ya. Kamu sudah sampai rumahkan?
Ayasha langsung tepok jidat saat membaca pesan dari Rafael, rupanya pria itu benar-benar mengirim makanan ke rumahnya.
Amelia sebenarnya pura-pura tidak tahu, padahal tahu, karena Satya meneleponnya minta alamat rumahnya karena bosnya mau delivery food buat Ayasha.
“Makanannya dari om Rafael,” ucap Ayasha, sembari menduduki dirinya di atas karpet.
“Oh ... tumben kena angin apa om Rafael? Padahal beberapa hari yang lalu bikin lo menangis,” tanya Amelia.
“Entahlah Mel, hari ini saja om Rafael sudah dua kali telepon gue. Pokoknya sangat aneh deh,”
Amelia tanpa permisi sama Ayasha, langsung melahap potongan ayam goreng dengan kentang goreng.
Andaikan lo tahu Ayasha, om Rafael sedang mengkhawatirkan loe. Tadi mas Satya bercerita panjang sama gue. Gue juga bingung Aya harus bagaimana, tapi gue berharap tidak akan terjadi hal yang buruk sama lo.
Amelia terlihat lahap menyantap makanannya, sampai Ayasha menggelengkan kepalanya, lalu gadis itu beranjak dari duduknya untuk ke kamar mandi mencuci tangannya.
Berhubung sahabatnya ke belakang, Amelia buru-buru mengusap kedua netranya yang mulai berkaca-kaca dengan lengannya sendiri.
Amel, saya minta tolong awasi keadaan Ayasha, jika ada sesuatu yang mencurigakan tolong kabari ke saya atau ke Pak Rafael.
Menurut keponakan Pak Rafael, anak indigo, akan ada orang yang berniat membuat Ayasha celaka, namun kita belum tahu. Pak Rafael belum bisa menjaganya di sana, hanya bisa menugasi beberapa orang untuk mengawasinya dari jauh.
Ah, dada Amelia rasanya jadi sesak, padahal sedari tadi sudah memaksakan diri untuk tersenyum di depan sahabatnya, namun ternyata tak bisa.
bersambung ....