FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Abaikan aku kembali seperti dulu.



Buatlah aku menjadi milikmu. Cintaku hanyalah untukmu. Aku tak akan pernah jauh darimu. Ayasha dengarkanlah aku...


Kita akan duduk bersama sambil menatap mata masing-masing lalu kita berbicara tentang hati kita.


Namun mengapa kamu menyiksaku. Mengapa kamu melakukan ini padaku, matamu telah berbeda.


Apa yang ingin kamu perlihatkan dengan menunjukkan matamu yang terlihat dingin. Masih marah kah padaku?


Mereka berdua mengunci tatapan mereka berdua, jika Ayasha menatapnya dingin namun tidak dengan Rafael, pria itu menatapnya penuh dengan api cemburu.


Rafael masih menahan tubuh Ayasha, dan salah satu tangan gadis itu mencengkeram lengan kekar pria itu. Tatapan pria itu yang berawal ke mata namun tiba-tiba turun ke bibir ranum gadis itu yang sedikit terbuka karena rasa terkejutnya, wajah pria itu sedikit memajukan wajahnya hingga kedua hidung mancung mereka berbenturan, namun secepat itu juga Ayasha membuang mukanya. Hingga amat terasa napas hangat dari hidung Rafael mengusap pipinya.


Mereka berdua hening sejenak, seakan larut dengan sentuhan sesaat itu.


“Eeugh,” lenguh Ayasha, ketika tubuhnya kembali menyentuh dada Rafael bagaikan sedang dipeluk, yang rupanya pria itu sedang berupaya mendudukkan dirinya hingga bersandar di headbord ranjang.


Ayasha mulai terasa canggung sempat berpikir negatif ketika Rafael sudah menarik tangannya dari balik punggungnya. Sedangkan wajah Rafael masih terlihat datar dan dingin.


“Aku bawakan bubur kacang ijo,” kata Rafael setelah mengambil mangkok bubur yang sempat dia letakkan di atas nakas.


“Makasih, Pak.” Ayasha ingin mengapai mangkok buburnya, namun Rafael menepis tangan mungil gadis itu dari jangkauannya.


“Biar aku yang menyuapi mu,” pinta Rafael, sembari menyodorkan sendok yang ke bibir Ayasha.


“Ayo, buka mulutmu. Bukankah kamu ingin cepat sehat dan ingin segera bertemu dengan kekasih hatimu,” ucap Rafael, dingin.


Ayasha menatap wajah Rafael yang sedang menahan dirinya untuk tidak meledak emosinya karena cemburu. “Biar aku makan sendiri saja Pak Rafael, aku sudah bisa dan kuat,” pinta Ayasha menolak suapan Rafael.


Pria itu menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian menarik sendok yang dipegangnya, lalu kembali menatap lekat wajah mantan tunangannya.


“Jika kamu benar-benar sehat, aku tak akan menyuapi mu, Ayasha. Beri aku kesempatan kali ini untuk mengurusmu seperti tadi pagi,” pinta Rafael, terkesan memaksa.


“Aku tidak tahu kenapa menjadi risih akan sikapmu Pak Rafael, kembalilah bersikap seperti biasanya. Lagi pula ada Amelia yang biasa membantuku di saat aku sakit. Tolong janganlah seperti ini.”


“Salahkah aku memberikan perhatian untukmu, salahkah aku yang ingin merawatmu di saat sekarang kamu sedang sakit?”


“Tidak ada yang salah Pak, namun rasanya aneh saja buatku."


“Apakah kamu ingin menjaga perasaan kekasihmu, hingga tak ingin berdekatan denganku!” sentak Rafael, mulai agak marah.


Ayasha tersenyum tipis. “Mungkin Pak Rafael lupa saat kita pernah bersama, saat aku sudah tahu dijodohkan olehmu dan akan menjadi suamiku. Pernahkah Pak Rafael melihat aku dekat dengan seorang pria?”


“Tidak,” jawab cepat Rafael.


“Saat itu aku menjaga perasaan calon suamiku agar tak terluka, dan aku juga menjaga diriku hanya untuk pria yang akan menjadi suamiku. Apakah aku salah bersikap seperti itu, Pak Rafael,” kata Ayasha begitu lembut.


Tertunduk lah kepala Rafael, hatinya bagaikan dihantam oleh bongkahan batu besar dengan pernyataan Ayasha. Setelah seperkian detik pria itu tertunduk, pria itu beringsut dari duduknya kemudian meletakkan mangkok bubur di atas nakas, lalu keluar dari kamar tanpa berkata lagi.


Apakah Om Rafael tahu betapa beratnya aku merasakan cinta bertepuk sebelah tangan. Aku yang menaruh hati padamu saat itu, namun Om Rafael mengabaikan ku...


...----------------...


“Satya antar saya menemui pria yang semalam itu, saya ingin menyelesaikan perkara Delia!” perintah Rafael tiba-tiba yang baru saja keluar dari kamar Ayasha. Mama Rara dan papa Stevan yang masih ada di meja makan hanya menatap tanpa bertanya.


Sontak Satya langsung berdiri dari duduknya. “Baik Pak Rafael, tapi sebelumnya saya ingin melaporkan tentang laporan cctvnya terlebih dahulu Pak,” jawab asisten pribadi.


Rafael mendaratkan bokongnya di atas sofa berhadapan dengan Satya, yang kembali duduk. Sang asisten mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan rekaman cctv lorong yang menuju ke kamar no. 410 tempat Rian.


“Di sini sekitar jam 3 sore, Delia ke kamar no. 410, kita bisa lihat di sini ada tangan yang menarik lengan Delia. Lalu sekitar jam 6 sore Delia keluar dari kamar tersebut.” Satya menjelaskan secara detail sesuai dengan hasil rekaman cctv yang dia perolehi dari bagian keamanan hotel.


Tidak ada lagi rasa cemburu di hati Rafael saat melihat Delia masuk ke kamar itu, namun rasa kecewa pasti ada karena dirinya telah dikhianati ... tapi tidak se kecewa dan tidak sesakit dia ketika melihat Ayasha bersama Darial.


Amelia yang masih duduk di samping Satya, terlihat mengepalkan tangannya. Dia bisa membayangkan apa yang terjadi di antara dua makhluk berbeda jenis itu, apalagi dia sempat melihat bekas tanda tanda cinta di bagian leher Rian.


“Pasti mereka berdua olahraga ranjang, dasar cowok brengsek ... mana waktu itu ada bekas kissmark nya di leher Mas Rian, untung saya belum nikah sama tuh orang!” geram Amelia.


Satya dan Rafael sama-sama melirik Amelia dengan tatapan empatinya. “Eh ... maaf jadi mengganggu perbincangannya ... Silakan dilanjut,” kata Amelia jadi tidak enak hati sendiri.


“Gak pa-pa Amel, saya juga bisa memahaminya. Dan—,” Rafael menatap nanar pintu kamar Ayasha, tidak melanjutkan perkataannya. Pandangan Rafael membuat Satya dan Amelia turut menatap pintu tersebut.


Hatimu saat itu sangat sakit sekali Aya karena kamu melihatnya dengan kedua matamu sendiri, berbeda dengan aku dan Om Rafael ... batin Amelia.


“Satya, sekarang antar saya menemui pria itu,” perintah Rafael sembari beranjak dari duduknya. Satya pun ikutan beranjak duduk kemudian bergegas mengantar pak bosnya.


Wajah Rafael kembali terlihat tegas namun muram seperti tak ada gairah saat melangkahkan kakinya menuju lantai empat.


Aku sangat menyesal telah salah memilihmu Delia, kenapa aku dulu begitu tertarik denganmu hingga aku mengabaikan calon istriku sendiri, dan sampai tak mau berpisah denganmu Delia?


Kenapa Delia? Apakah aku selama ini benar-benar mencintaimu, tapi mengapa aku tidak cemburu saat kamu berada dikamar berduaan dengan seorang pria? Namun aku sangat marah saat melihat Ayasha dengan Darial walau hanya sekedar berbicara!


bersambung ....


Kakak readers terima kasih atas ucapan selamat, semangat dan doanya 🙏. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komentar, kembang kopi, VOTE nya dan rate bintang 5 nya ya.


Lope Lope sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹