
Hotel Inna Garuda
Jam 18.30 wib
Amelia memarkirkan motornya di pelataran parkir khusus motor, kemudian dia merapikan lipatan blus yang di kenakannya sejak pagi saat bekerja, dia sengaja dari tempat kerjanya langsung menuju tempat kerja Ayasha tapi bukan untuk menemui sahabatnya, tapi untuk menemui calon suaminya yang katanya menginap di hotel Inna Garuda. Sebelum datang pun, Rian tadi siang sudah menghubunginya untuk bertemu ditempatnya menginap saja ketimbang bertemu diluar.
Setelah Amelia merapikan rambutnya yang sebahu, lalu merapikan makeup dengan bercermin di kaca spion setelah dirasa oke barulah gadis itu bergegas masuk ke dalam hotel.
Dengan langkah yang terburu-buru, Amelia tidak melihat orang yang juga berbarengan masuk ke lobby hotel, hingga Amelia pun tak sengaja...
BUG!
“Akhh...”
Tubuh Amelia hampir saja terjerembap ke lantai gara-gara tubuhnya bersinggungan dengan seseorang, untungnya ada tangan yang merangkul pinggangnya dengan erat.
Amelia dan pria itu sama-sama bersitatap dalam beberapa menit, saling terpesona dalam posisi pria itu masih menahan bobot tubuh wanita itu dengan salah satu tangannya.
Jantung pria itu berdegup kencang melihat wajah manis Amelia, sampai lupa untuk melepaskan rangkulannya.
“P-Pak bi-bisa lepaskan saya,” pinta Amelia agak terbata-bata, jantung Amelia juga berdegup cepat, dalam hidupnya baru sekali ini pinggangnya dirangkul oleh seorang pria, walau sebenarnya maksud pria itu hanya sekedar menolongnya saja bukan bermaksud melecehkannya.
Ya Allah, wajahnya ganteng banget melebihi mas Rian ... ya ampun badannya wangi pula ... batin Amelia.
“Maaf, saya hanya bermaksud menolong mu,” ucap pria itu lalu menarik tangannya dari pinggang Amelia, dan Amelia memperbaiki posisi berdirinya kembali tegak.
“T-terima kasih Mas,” balas Amelia.
“Sama-sama,” jawab pria itu sembari tersenyum tipis. Amelia rasanya ingin mengipas wajahnya yang terasa panas karena dapat senyuman dari pria itu.
Oh kenapa tambah ganteng ... Astaga Amelia, ingat sudah punya mas Rian ... batin Amelia.
Amelia memutar balik badannya dan kembali melangkahkan kakinya. “Maaf, boleh tahu namanya?” tanya pria itu mengajak berkenalan. Demi Tuhan pria itu memberanikan diri mengajak berkenalan, karena jantungnya sudah dibuat berdebar-debar oleh gadis muda itu.
Amelia kembali memutar badannya. “Saya Satya,” kata pria itu sembari mengulurkan tangannya, setelah mendapat respon dari gadis itu.
“Saya Amelia,” balas Amelia malu-malu menyambut uluran tangan Satya, duh terasa ada sentruman ketika berjabat tangan.
“Senang berkenalan denganmu,” kata Satya saat menatap gadis muda itu.
“Sama-sama Mas Satya, kalau begitu saya permisi duluan, karena sudah ditunggu sama teman di dalam,” ucap Amelia sopan, sembari menunjuk ke arah restoran yang ada di dalam hotel.
Satya melepas jabatan tangannya. “Oh iya silakan, Amelia,” balas Satya, kemudian Amelia meninggalkan Satya.
“Manisnya ..., semoga kita bertemu lagi,” gumam Satya sendiri sembari menatap punggung gadis itu sampai masuk ke dalam restoran. Selanjutnya Satya menuju resepsionis mengurus kamar untuk kedua orang tua Rafael.
...----------------...
Restoran hotel
Amelia ternyata lebih dulu sampai di restoran dan sudah menempati salah satu meja, kemudian mengirim pesan ke Rian jika dia sudah sampai dan sedang menunggunya. Andaikan Amelia tahu jika Rian saat ini belum selesai menggumuli Delia dikamarnya.
"Ck ... dia yang ngajak ketemuan, tapi belum datang," gerutu Amelia sendiri.
Rian dari kejauhan terlihat sudah masuk ke restoran dan bergegas menghampiri Amelia.
“Assalamualaikum Amel, maaf sudah menunggu dari tadi ya ... aku ketiduran, badanku agak capek setelah kontrol ke tempat proyek,” kata Rian memberikan alasan palsu.
“Waalaikumsalam Mas Rian.” Amelia langsung salam takzim mengecup punggung tangan pria itu.
“Oh iya Mas, gak pa-pa,” jawab Amelia menerima alasan yang masuk akal baginya.
Mereka berdua kembali duduk, “kamu sudah pesan makanan?” tanya Rian sembari melihat buku menu.
“Belum Mas Rian, baru pesan minum ... aku menunggu Mas datang dulu baru pesan makanan.”
Pria itu tersenyum hangat kemudian memanggil waitres dan memesan beberapa makanan buat mereka berdua. Di saat pria itu sibuk memesan, tak sengaja Amelia melihat tanda merah di bagian leher Rian, tidak hanya satu tanda tapi ada beberapa tanda merah.
Amelia memang belum pernah berpacaran, ini adalah pertama kalinya dia dekat dengan seorang pria, yaa ... yang bernama Rian Hidayat. Tapi dia bukan gadis bodoh yang tidak tahu apa yang ada di leher pria itu, teman-teman kerjanya juga sering menunjukkan kissmark buatan kekasih mereka kemudian menutupinya dengan foundation.
Amelia menyandarkan punggungnya dikursi, tatapannya juga tidak lepas dari wajah Rian, kemudian dia mengulas senyum sinisnya.
“Mas Rian sedang sakitkah?” tanya Amelia, setelah waiters meninggalkan meja mereka.
“Tidak sakit, apa wajahku kelihatan seperti orang sakit?” balik bertanya Rian.
“Bukan wajahnya sih Mas, tapi lihat leher Mas Rian banyak tanda merah tuh.”
Pria itu terkesiap, lupa tidak mengecek jejak percintaannya dengan Delia terlebih dahulu. Wanita itu memang ganas saat bercinta, suka sekali meninggalkan jejaknya, dan untuk kali ini Rian teledor ... lupa kalau ada janji temu dengan kekasihnya sekaligus calon istrinya Amelia.
Rian mengusap lehernya dan pura-pura mengaruk-garuknya. “Ooh ini merah-merah karena alergi udang, tadi siang di proyek tidak sengaja ke makan udang yang ada di campuran nasi goreng, ini juga masih terasa gatal,” jawab dusta Rian.
Batin Amelia berdecak kesal. Sejak kapan Mas Rian alergi udang, waktu pertama kali bertemu dia juga makan udang dan tidak ada tanda apa-apa.
“Oh alergi udang, aku kira tanda cinta dari wanita lain!” celetuk Amelia.
DEG!
Rian menarik tangannya dari leher, lalu menatap wajah Amelia.
“Kenapa kamu bilang seperti itu Amel? Kamu sedang menuduhku berselingkuh kah?”
Amelia melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Aku tidak menuduh Mas Rian selingkuh kok, aku kan hanya bilang tanda merah itu seperti tanda cinta, kissmark dari seseorang ... itu saja,” sindir Amelia. Hati Amelia sudah mulai mencurigai pria yang ada di hadapannya, namun bisa mengontrol emosinya.
Makanan yang dipesan oleh Rian sudah datang, dan mereka berdua pun tidak melanjutkan pembicaraannya, sibuk dengan makanannya masing-masing. Hati yang merindukan sang kekasih mulai terkikis karena noda merah di leher Rian.
Sedangkan sikap Rian juga menjadi canggung dengan gadis yang dia sukai itu. Pria itu pun merutuki dirinya kenapa begitu cerobahnya hingga dirinya tersindir telak oleh Amelia.
Dipikirnya aku bodoh, tidak bisa membedakan yang mana tanda alergi karena makan udang sama tanda kissmark.
Huft ... sepertinya nasibku sama dengan Ayasha, di khianati sama calon suami! Tapi aku harus mencari buktinya terlebih dahulu, jangan gegabah.
bersambung ....
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komen, kembang kopi dan VOTE nya ya. Makasih sebelumnya 🙏