FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Datang kembali ke Jogja



Dari awal keberangkatan ke bandara Soekarno sampai di bandara Adisutjipto, Rafael tampak tak tenang dalam duduknya, berulang kali dia meminta sang sopir membawa mobilnya lebih cepat ketika menuju rumah sakit, untungnya waktu sudah menunjukkan jam satu pagi, jadi lalu lintas di jalanan kosong, hanya beberapa mobil dan motor yang berlalu lalang.


Mobil yang membawa Rafael, mama Rara dan Satya akhirnya tiba juga di rumah sakit. Rafael bergegas turun dan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar yang sudah diberitahukan oleh Satya. Sang asisten pribadi juga tidak kalah cepat mengejar langkah kaki Rafael. Sedangkan mama Rara tertinggal jauh di belakang.


Ruang Mawar


Rafael baru tahu jika ruang rawat inap Ayasha dikelas 3, dia lantas meminta Satya mengurus perpindahannya ke kamar VVIP.


Klek!


Perawat yang bertugas membukakan pintu kamar untuk Rafael, pria itu pun melangkahkan kakinya dengan pelan-pelan agar tidak terganggu dengan empat pasien yang berada di kamar tersebut.


Dengan tatapan sendu Rafael menatap Ayasha yang sudah terlelap tidur, sedangkan Amelia yang baru saja selesai menunaikan sholat malam di sebelah ranjang Ayasha menyapa kehadiran pria itu.


“Om Rafael,” sapa Amelia pelan.


Pria itu menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri, tanda Amelia untuk tidak banyak berbicara. Amelia pun menganggukkan kepalanya lalu memberi ruang agar Rafael bisa mendekati Ayasha.


Hati siapa yang tak akan kalut dan sedih mendengar orang dicintai tiba-tiba jatuh sakit yang sangat mendadak. Rafael mencondongkan badannya agar lebih dekat saat menatap Ayasha, lalu dirapikannya surai rambut coklatnya yang menutupi keningnya, kemudian pria itu mengecup dengan lembutnya kening gadis itu bersamaan dengan jatuhnya air mata pria itu.


Amelia yang berada di sana, matanya mulai berembun, entah kenapa melihatnya bikin hati melow.


Maafkan aku, Ayasha. Ini semua karena ulahku hingga kamu menjadi sasaran nya. Aku akan berusaha melindungi mu ...  Ayasha ... batin Rafael.


Kecupan hangat di kening gadis itu, tidak mengganggu tidurnya karena Ayasha diberikan obat tidur agar bisa beristirahat.


Beberapa perawat datang untuk memindahkan Ayasha setelah Satya mengurus administrasinya.


“Mel rapikan bawaannya, kita pindah kamar,” pinta Rafael dengan intonasi yang rendah.


Tanpa menjawab Amelia dibantu Satya merapikan barang yang sempat dia bawa walau tak banyak.


“Suster, biar saya yang mengendong pasien, jangan dibangunkan atau menggunakan ranjang ini,” pinta Rafael pada suster yang ingin membangunkan Ayasha.


“Baik Pak,” jawab perawat.


Rafael dengan hati-hati, tangannya mulai menelisik ke bagian punggung dan bagian bawah, kemudian langsung mengangkat nya, lalu mengikuti langkah perawat yang menunjukkan kamar VVIP.


Ingin rasanya pria itu memeluk gadis itu saat membopongnya namun yang ada hanya bisa menatapnya dengan harapan semuanya akan baik-baik saja. Sesampainya di kamar VVIP, Ayasha direbahkan kembali ke atas ranjang, lalu perawat kembali memasang infus di tiangnya dan mengatur tetesan air infusnya. Sedangkan Rafael memakaikan selimut ke Ayasha.


Mama Rara sudah berada di kamar VVIP, dan mengusap lembut lengan gadis itu dengan tatapan sedihnya.


“Mama, bisa istirahat di hotel saja. Besok pagi bisa kembali ke sini, biar mama tidak ikutan sakit,” pinta Rafael dengan lembutnya.


Satya menaruh beberapa air mineral yang diberikan oleh pak Ustadz ke atas nakas. “Satya, antar mama ke hotel dulu, kamu juga bisa istirahat di sana. Besok pagi baru ke sini kembali,” pinta Rafael saat menoleh ke arah Satya.


“Baik Pak, mari Nyonya ... kita kembali ke hotel dulu,” ajak Satya, mama Rara hanya menganggukkan kepala, lalu mengusap bahu anaknya. “Kamu juga istirahat, Nak ... tubuh kamu juga sedang kelelahan,” kata mama Rara sebelum meninggalkan kamar.


“Iya Mah.”


Satya yang belum sempat mengobrol banyak dengan Amelia, menyempatkan menyapanya sebentar, Amelia juga memahami kondisi di awal pagi mereka semua baru tiba, wajah lelah dan mengantuknya juga sangat terlihat.


“Kamu istirahat ya, besok kita ketemu lagi,” kata Satya lembutnya.


“Iya Mas Satya,” jawab Amelia wajahnya tersipu malu-malu, hanya kata seperti itu aja hati Amelia yang sedari tadi sedih memikirkan Ayasha sedikit menghangat karena perhatian Satya, apalagi tatapan pria itu sangat hangat sekali.


Rafael menarik kursi dan menaruhnya dekat ranjang Ayasha, kemudian pria itu duduk di kursi itu. “Amel, kamu bisa istirahat di bed tambahan itu,” tunjuk Rafael ke arah bed tersebut.


“Saya cukup duduk di sini saja, di samping ranjang Aya,” jawabnya pelan. Sebenarnya masih ada sofa panjang yang bisa ditempati untuk tidur, namun pria itu lebih menginginkan berada di samping Ayasha. Pria itu kembali menatap Ayasha lalu menyentuh tangan gadis itu yang tidak ada jarum infusnya kemudian menggenggamnya dengan erat, Ayasha yang genggam tangannya tiba-tiba saja memiringkan tubuhnya hingga mereka berdua dalam posisi berhadapan.


“Cepat sehat ya Aya, aku takut kehilanganmu,” ucap Rafael begitu lirih.


Rafael mengecup tangan gadis itu, kemudian mengecup pipi Ayasha, lalu kembali menatapnya sembari membacakan ayat kursi, surat Al-Fatihah surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas, dan akhirnya turut tertidur dengan merebahkan kepalanya di atas ranjang Ayasha dalam posisi duduk.


...----------------...


Jam 04.50 wib.


Rafael sudah terbangun dari tidurnya, sebelum ke masjid pria itu kembali mengecup kening Ayasha lalu keluar dari kamar. Amelia pun turut terbangun untuk menunaikan sholat shubuh di kamar saja.


Usai menunaikan sholat shubuh, pria itu kembali ke kamar dan melihat jika Ayasha masih terlelap tidur.


“Amel, saya minta tolong nanti jika Ayasha sudah bangun, setiap mau minum tolong berikan air yang ada di atas nakas. Itu air dari pak Ustadz, air yang sudah didoakan untuk mengusir guna-guna yang dikirim ke badan Ayasha. Lalu jangan bilang kalau saya ada di sini, cukup Mama saya dan Satya yang tahu kedatangannya di sini.”


Amelia agak tercenung. “Kok begitu Om, memang kenapa kalau bilang Om Rafael ada di sini?”


Pria itu tersenyum pilu. “Saya tidak enak hati dengan Ayasha Mel, keadaan dia sekarang karena ulah saya. Lebih baik dia tidak tahu tentang kehadiran saya, tapi saya akan memantaunya dari jauh. Jika dia tahu jika ini ulah Delia, Ayasha pasti akan semakin membenci saya. Cukup rasanya saya dibenci oleh  Ayasha akan masa lalu yang saya perbuat, saya tidak ingin menambahnya lagi,” jawab Rafael pelan.


“Jadi sakitnya Ayasha semalam karena diguna-guna Delia ya, Om?”


Rafael mengangguk kepalanya pelan. “Astagfirullah, jahat sekali tuh cewek ... Gila... Gak waras otaknya!” umpat Amelia kesal.


“Nanti saya akan minta dokter untuk memeriksa kondisi Ayasha, dan kemungkinan siang akan ada teman Pak Ustadz yang kebetulan ada di sini akan menjenguk dan membantu Ayasha, kamu dan Satya tolong dampinginya,” pinta Rafael, nada terdengar sedikit frustasi karena tak berani untuk menemaninya padahal sangat ingin mendampinginya.


“Baik Om Rafael, tapi beneran Om tidak mau mendampingi Ayasha.”


Rafael hanya terdiam, lalu bangkit dari duduknya kemudian mendekati Ayasha kembali dan mengecup pipi Ayasha. Dan akhirnya berpamitan untuk pergi pada Amelia.


Amelia tidak bisa menahan kepergian Rafael, akhirnya hanya bisa menatap nanar Ayasha yang masih tertidur dan Rafael yang baru saja pamitan dengannya.


Cukup aku melihatmu dari kejauhan Ayasha, karena kamu sudah ada yang memilik, dan aku tak ingin menjadi orang ketiga dalam hubunganmu, walau sesungguhnya aku ingin merebut mu kembali.


Rafael mengusap kedua netranya yang mulai berembun dan kembali melanjutkan langkah kakinya meninggalkan kamar Ayasha.


 


 bersambung ...