FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Keadaan Rafael



Klek!


Satya begitu hati-hati ketika membuka kenop pintu, sedangkan dokter mengikuti nya dari belakang. Kamar yang ditempati oleh Rafael sudah kayak kapal pecah, semua figura yang terpasang di dinding sudah tergelatak di lantai, sedangkan segala vas dan kaca keramik pecah berkeping-keping, tak berbentuk lagi.


Terlihatlah Rafael duduk di lantai bersandar pada ranjangnya, kedua tangannya sudah berlumuran darah bukan hanya satu tangan saja, tapi sudah kedua tangannya. Tatapannya begitu kosong saat menatap Satya masuk ke dalam kamarnya, tak ada suara yang begitu tegas saat berucap, namun sekarang tak bersuara.


Amelia saking keponya ikutan mengintip dari ambang pintu, tiba-tiba saja gadis itu pilu hatinya melihat kekacauan tersebut, terutama melihat wajah Rafael yang sangat jauh berbeda seakan tak ada nyawa ditubuhnya. Setelah mengintip, Amelia berinisiatif menghubungi cleaning servise untuk membersihkan kekacauan yang ada di kamar Rafael.


“Pak Rafael,” sapa Satya, dengan langkah penuh kehati-hatian pria itu melewati pecahan kaca yang mengotori lantai kamar saat ingin mendekati Rafael.


“Pak ...,” kembali menyapa Satya, sembari berjongkok di hadapan bosnya.


Tak ada jawaban dari Rafael, hanya tatapan kosong yang diberikan oleh pria itu. Ah sungguh Satya tidak menyangka keadaan bosnya bisa separah ini.


“Kita obati tangannya dulu ya Pak, saya sudah memanggil dokternya,” pinta Satya begitu lembutnya. Rafael mendongakkan wajahnya agar bisa menatap pria yang berbaju jas putih, kemudian kembali menatap kedua tangannya.


Kedua netra yang sudah memerah kembali meneteskan air matanya, hatinya kembali membuncah, sakit tak terkira.


Satya tak peduli jika Rafael adalah bosnya, pria itu langsung mendekap tubuh bosnya, dan menepuk-nepuk punggung pria itu. Mama Rara yang baru saja berdiri diambang pintu kamar, meneteskan air matanya, hatinya turut sedih, akhirnya wanita paruh baya itu memilih kembali ke ruang tamu karena tak sanggup untuk menghampiri putra sulungnya.


“Pak Rafael pasti akan bisa melaluinya semua ini, kemana sikap bos yang selalu optimis selama ini dan tegar. Sekarang boleh bersedih hati, namun jangan lama-lama. Ingat banyak karyawan yang membutuhkan seorang pemimpin seperti Pak Rafael,” tutur Satya ketika mendekap Rafael, dia hanya bisa memberikan sedikit motivasi, ya walau tidak bisa banyak membantu.


Rafael hanya terdiam dengan derai air matanya, tak lama Satya mengurai pelukannya, kemudian dibantu oleh dokter dipapahnya Rafael ke atas ranjang.


Dengan sigapnya saat Rafael sudah direbahkan diatas ranjang, Dokter bergegas membersihkan luka ke di kedua tangan Rafael, sedangkan Satya masih mendampingi pria itu. Dan tak lama petugas cleaning service datang untuk membersihkan kamar Rafael.


...----------------...


Sementara itu di kamar sebelah ...


Amelia menghampiri Ayasha yang masih bersandar di headboard ranjangnya, sesaat dia menatap kotak makanan yang masih utuh diatas nakas.


“Diluar ada apa Mel?” tanya Ayasha dengan rasa ingin tahunya.


Amelia menarik napasnya dalam-dalam, lalu duduk ditepi ranjang kemudian menatap sahabatnya.


“Om Rafael,” kata Amelia.


“Ada apa dengan om Rafael, Mel?” tanya Ayasha, dengan raut wajahnya yang nampak biasa saja tapi tidak dengan hatinya.


“Om Rafael sepertinya sedang melampiaskan amarahnya, kamar sebelah terlihat kacau balau sampai kedua tangan om Rafael berlumuran darah, wajahnya pun juga sangat terlihat berbeda,” jawab Amelia apa adanya.


Amelia tersenyum tipis mendengarnya. “Om Rafael sepertinya benar-benar sangat mencintai mbak Delia ya, sampai sebegitu emosinya dikhianati sama mbak Delia,” kata Ayasha, agak sesak ya jika mengetahui mantan tunangan begitu emosi, ketimbang dirinya saat dekat dengan Darial, dia tak seemosi itu hanya kata yang meninggi diucapkan oleh Rafael.


Amelia mendesah dan menatap lekat  wajah Ayasha yang baru saja menduga penyebab kekacauan tersebut adalah Delia. Padahal Amelia ingat sekali bagaimana Rafael berdiri lama diambang pintu kamar Ayasha, setelahnya mama Rara mengajaknya ke kamar, dan terjadilah kegaduhan itu, tapi Amelia tidak mau memberikan persepsinya seperti itu.


“Entahlah Aya, mungkin banyak problem yang sedang dihadapi om Rafael bukan hanya sekedar pengkhianatan Delia, bukankah kamu lihat sendiri dia tidak terlalu emosi saat tahu mbak Delia ada main dengan mas Rian. Bahkan saat mbak Delia tak sadarkan diri dia tidak bergegas menolongnya malah dia suruh orang lain. Jika om Rafael benar-benar mencintai mbak Delia pasti dia panik dan bergegas menolongnya,” jawab Amelia.


Ayasha memalingkan wajahnya ke arah pintu kamarnya, hatinya membenarkan jika semalam Rafael tidak terlihat panik dan tidak bergegas menolong Delia.


“Tapi saat lo tak sadarkan diri di pelukan gue, om Rafael berlari cepat, wajahnya sangat cemas dan langsung membopong dirimu. Dia sangat mengkhawatirkan mu,” lanjut kata Amelia.


“Maaf Aya jika gue terpaksa berbohong, gue takut lo marah sama gue jika gue jujur. Tapi semalam memang sudah kepepet, om Rafael lah yang membawa lo ke kamar, karyawan lain ingin membantu membopongmu malah ditolak mentah-mentah sama om Rafae,” jawab Amelia, lalu menundukkan kepalanya.


Ayasha meraih salah satu tangan Amelia lalu mengusapnya. “Gue tidak marah sama lo Amel, gue hanya terkejut saja.”


Sebenarnya banyak hal yang menyangkut Om Rafael, tapi aku tidak berhak menceritakan padamu. Lagi pula sepertinya kamu sudah ada pria lain dihatimu.


“Ayasha, pria bule itu ... Pria yang dekat denganmu?” tanya Amelia dengan tatapan menyelidik.


“Iya, namanya Kak Darial.”


 “Kerja di mana Kak Darial?”


“Dia pemilik PT. Praja Land,” jawab Ayasha.


“Oo ...,” hanya membulat bibir Amelia.


Praja Land ... batin Amelia, masih meraba-raba nama perusahaan itu.


Melihat tatapan Amelia seperti orang berpikir membuat Ayasha bertanya, “Kenapa Mel, lo kayak mikir sesuatu?”


“Oh enggak ... gue hanya coba mengingat-ingat nama perusahaannya saja. Ya ... semoga aja Kak Darial tidak seperti Om Rafael ya, biasanya kalau pria yang memiliki perusahaan pasti banyak godaannya, dan semoga saja lo tidak menemui hal yang serupa seperti masa lalumu,” tukas Amelia.


Ayasha bergeming ...


Kali ini Amelia yang mengusap tangan Ayasha. “Sudah jangan dipikirkan, bukan maksud gue menakuti-nakuti lo ya. Tapi gue berharap hubungan lo dengan Kak Darial bukan sebagai pelarianmu agar Om Rafael jauh darimu, tapi benar-benar karena saling mencintai dan tak ada orang ketiga atau pengkhianatan,” tutur Amelia kembali.


Ayasha masih bergeming, tenggelam dalam ucapan Amelia yang begitu menyentil hatinya.


 


bersambung ......