
Guratan kerinduan dan keterkejutan menjadi satu ketika melihat siapa yang berada di ambang pintu. Setelah sekian lama dia berusaha untuk mendekati kedua orang itu, namun tidak ada hasil apapun, yang ada dia harus menerima penolakan berulang kali hingga tak ada lagi komunikasi antara mereka bertiga.
Namun pagi ini seakan ada hadiah yang luar biasa dia rindukan, mama Rara dan papa Stevan ada dihadapannya.
“Mama, Papa,” ucap Rafael terdengar lirih, pria itu langsung menubrukkan dirinya dan memeluk orang terkasihnya ... Mama Rara.
Memeluk erat wanita yang telah melahirkannya, wanita yang pernah dia sakiti karena membela kekasihnya Delia. Pria itu terdengar terisak ketika memeluk wanita paruh baya itu, air matanya mulai mendesak kedua netranya untuk terjun bebas membasahi pipinya.
Tangan yang sudah keriput mengusap punggung putra sulungnya, putra yang pernah menyakiti hatinya, namun tetap pria itu adalah anak kandungnya yang dia lahirkan. Di dunia ini tidak ada yang namanya bekas orang tua, atau bekas anak ... karena di setiap pembuluh darahnya, ada darah yang sama di antara mereka, orang tua dan anak.
Papa Stevan yang berada di samping mama Rara mengusap kedua netranya, ikutan terharu akan pertemuan mereka bertiga.
“Aku sangat merindukanmu Mah, maafkan aku ...” Isak tangis pria masih terdengar ditelinga Mama Rara, wanita itu tak menjawab namun menepuk dengan lembutnya punggung Rafael.
Puas memeluk mama Rara, sekarang Rafael bergantian memeluk papa Stevan dengan kedua netra yang masih basah. “Maafkan aku Pah,” kata Rafael dengan tulusnya.
Sama halnya dengan mama Rara, papa Stevan menepuk punggung Rafael tanpa bersuara.
Setelah menyambut kedua orang tuanya diambang pintu, pria itu mengajak kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam kamar.
“Mama ingin bertemu Ayasha, dia ada di sinikan!” pinta Mama Rara tanpa basa basi terlebih dahulu dengan putranya sendiri, sebelum mereka duduk bersama untuk berbicara.
Banyak sekali pertanyaan yang ada dikepala pria itu, namun untuk saat ini dia hempaskan terlebih dahulu agar tidak merusak moment pertemuan ini setelah sekian lama tidak bertatap muka.
“Ayasha ada di kamar, aku antar Mah,” jawab Rafael, kemudian mengajak mama Rara dan papa Stevan ke kamar yang ditempati Ayasha.
“Siapa yang datang Pak Rafael?” tanya Ayasha tanpa menatap karena sedang merapikan selimut yang dipakainya.
“Ini Mama, sayang,” ucap mama Rara penuh kerinduan dengan gadis kecilnya, gadis kecil yang sudah banyak perubahan.
Sontak Ayasha menoleh dan menatap ke arah ambang pintu, wanita paruh baya itu masih terlihat cantik, sama seperti lima tahun yang lalu. Kedua netra Ayasha mulai berkaca-kaca, tidak bisa dipungkiri dia pun merindukan wanita paruh baya itu, ibu keduanya. Dengan kedua netra yang berembun mama Rara menghampiri Ayasha yang ada di atas ranjang.
“Mama sangat merindukanmu, nak,” kata mama Rara. Ayasha merentangkan kedua tangannya lalu menerima dekapan hangat dari mama Rara.
“Ya Allah, anakku semakin cantik. Mama sangat merindukanmu, Nak,” kata mama Rara dengan berurai air mata.
“Aya juga rindu sama Mama, maafin Aya Ma ...”
“Iya sayang, Mama paham.” Mama Rara mengurai pelukannya kemudian menatap lekat wajah gadis itu dengan linangan air mata. Ayasha pun mengusap air mata mama Rara. “Jangan nangis dong Mah, nanti tambah tua loh,” goda Ayasha, agar dia tidak ikutan pecah tangisannya.
“Mama gak nangis Nak, tapi Mama bahagia ... akhirnya Mama bisa bertemu denganmu Nak.”
Ayasha tersenyum tipis sembari menganggukkan kepalanya pelan. “Ayasha, gak kangen sama Papa?” tanya papa Stevan merasa diabaikan kedua wanita itu.
Ayasha dan mama Rara sama mendongakkan kepalanya. “Aya juga kangen kok sama Papa,” balas gadis itu, kemudian merentangkan kedua tangannya di saat Mama Rara memberi ruang Papa Stevan untuk mendekati Ayasha.
“Anak Papa sudah banyak perubahan, makin cantik,” puji papa Stevan disaat memeluk gadis itu.
“Papa juga semakin tampan saja,” balas puji Ayasha, sembari terkekeh kecil.
Rafael hanya bisa diam terpaku melihat keakraban kedua orang tuanya dengan Ayasha, di satu sisi hatinya terasa hangat namun di satu sisi hatinya sedih tak terkira. Andaikan dulu dia tidak membuat keputusan yang salah, mungkin hubungan dengan kedua orang tuanya tidak akan terpecahkan dan mungkin saja hidupnya juga bahagia dengan Ayasha bersama anak-anak mereka, namun sayangnya itu hanya andaikan saja.
Pria itu memutar balik badannya lalu keluar dari kamar, memilih untuk menunggu diruang tamu ketimbang bersama sama di dalam kamar dengan hati yang pilu.
Sejenak gadis itu menundukkan wajahnya beberapa detik lalu kembali menatap teduh mama Rara dan papa Stevan.
“Maafkan Aya, jika Aya sempat menutup komunikasi dengan Mama dan Papa, bukan maksud untuk menjauhi selamanya namun Aya butuh ruang untuk sendiri tanpa dibayang-bayangi oleh masa lalu, tapi ...”
“Kalian dipertemukan kembali dengan cara yang berbeda,” sela Mama Rara.
Ayasha mengangguk pelan.
Wanita paruh baya itu tersenyum hangat, kemudian mengusap lembut punggung tangan gadis itu. “Dipertemukan kembali bukan berarti menjalin kisah lama Ayasha, Mama dan Papa tidak mengharapkan seperti itu setelah anak Mama mengkhianati kamu. Kamu berhak memilih pasangan yang terbaik untuk dirimu tanpa dijodohkan kembali. Mungkin pertemuan kalian berdua hanya untuk memperbaiki tali silaturahmi saja,” tutur mama Rara meyakinkan gadis itu.
“Iya Mah.”
“Berhubung kamu sakit, dan Mama ada di Jogya ... Mama akan merawatmu sampai sembuh, lagi pula Mama juga kangen sama anak bungsu Mama ini,” kata mama Rara.
“Makasih Mah.” Gadis itu pun tersenyum hangat.
...----------------...
Usai mengobrol sebentar dengan Ayasha di kamar, dan gadis itu rupanya sudah terlihat mengantuk efek habis minum obat. Mama Rara dan Papa Stevan menyambangi anaknya yang sudah duduk di ruang tamu.
“Hatimu sudah menyesalkah, Rafael?” tanya mama Rara dengan tatapan menyelidik.
Rafael yang sedang termenung menatap sendu wajah wanita paruh baya.
“Jika kamu memang punya hati seharusnya ada penyesalan setelah menyakiti hati Mama dan Papa demi wanita yang kamu bela. Wanita yang tidak pernah Mama restui sejak dulu,” tukas mama Rara.
“Mama dan Papa tidak akan pernah memilih pasangan buat anaknya dengan orang yang tidak baik. Pasti orang tua punya penilaian sendiri, tidak seperti ini,” sambung mama Rara, sembari menunjukkan video tok tok Delia dengan Ayasha.
Rafael menatap video tersebut yang ada di ponsel Mama Rara.
“Seperti inikah pasangan hidup yang kamu pilih, pasangan berzina kamu! Pasangan kumpul kebo kamu!” Mulai naik dua oktaf suara mama Rara.
Papa Stevan mengusap punggung mama Rara agar mereda emosi istrinya, takut darah tingginya kumat.
“A-aku s-sangat menyesal Mah,” ucap Rafael terbata-bata dengan menundukkan kepalanya sejenak, tak sanggup menatap kedua netra mama Rara dan papa Stevan, dia malu akan dirinya sendiri.
Mama Rara mengatur napasnya berulang kali agar tidak terlalu emosi di saat berbicara dengan anaknya.
“Orang tua ingin anak-anaknya hidup bahagia dengan pasangan hidupnya. Jika orang tua tidak merestui dengan pilihan anaknya mungkin ada feeling yang tidak baik untuk anaknya. Sekarang apa yang telah kamu dapatkan dari wanita itu! Kebahagiaan atas nama cinta atau hartamu yang habis diporoti oleh wanita murahan itu atau dirimu yang semakin bodoh dengan rayuan wanita itu!” geram mama Rara, emosi ingin membuncah.
Rafael beringsut dari duduknya kemudian bersimpuh di hadapan mama Rara, lalu menangkup kedua tangannya ke dada.
“Aku salah Mah, maafkan aku atas semua kesalahanku. Aku benar-benar menyesal Mah, Pah,” ucap Rafael menahan rasa sesak di dadanya, hanya ini yang bisa dia lakukan, mengakui kesalahan terbesarnya dan memohon maaf kepada kedua orang tuanya.
bersambung .....
Kakak readers jangan lupa tinggalkan jejaknya, dan yang masih punya VOTE mau dong buat Ayasha, makasih sebelumnya.