
Ya Allah ...
Terima kasih sudah pernah menitipkan rasa yang begitu luar biasa pada hatiku untuk seseorang. Setidaknya aku pernah menemukan sosok yang membuat saya mencintainya dengan rasa sabar yang tiada habisnya.
Dia laki-laki yang mengajarkan aku titik tertinggi mencintai yaitu mengikhlaskan, dia membuat saya jatuh cinta. Dia laki-laki yang aku cintai dengan tiba-tiba dan mengikhlaskan secara terpaksa.
Ketika aku berusaha untuk terbiasa tanpanya, rasanya aku hampir gila karena melawan rindu. Aku pernah sabar karena menahan diri untuk tidak mencari tahunya kembali, bahkan aku menangis terisak mengingatnya.
Jika takdir kami saat ini tidak bisa lagi bersatu, maka bantu aku dengan rasa ikhlas.
20 September 2018
Diary Ayasha
...----------------...
Gadis yang masih pucat wajahnya menatap dua orang yang berdiri diambang pintu kamar. Ada rasa senang melihat sosok pria yang menatapnya penuh damba itu.
“Ayasha,” sapa Lena dari ambang pintu, belum berani untuk masuk dan mendekati Ayasha.
Mama Rara bangkit dari duduknya, lalu tersenyum tipis. “Mari silakan masuk,” kata wanita paruh baya itu, sembari memberi ruang untuk Lena dan Darial.
“Terima kasih Bu,” balas Lena yang belum mengenal siapa sosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik serta anggun.
“Lena, Kak Darial kenalkan ini mama ku,” ucap Ayasha dari tempatnya bersandar.
“Mah, kenalkan ini Lena rekan kerjaku di sini, dan ini Kak Darial,” lanjut kata Ayasha memperkenalkan mereka berdua dengan mama Rara.
Lena mengulurkan tangannya. “Saya Lena, Bu,” ujarnya, mama Rara menyambut uluran tangan Lena dan tersenyum hangat.
Sedangkan Darial mulai terlihat canggung ketika Ayasha menyebut wanita paruh baya itu mamanya, serasa sedang bertemu dengan calon mertua.
Kini giliran Darial mengulurkan tangannya ke Mama Rara. “Saya Darial Bu, teman dekatnya Ayasha ... anak Ibu,” ucap Darial.
Mama Rara menganggukkan kepalanya, namun menatap lekat wajah tampan Darial. “Pacarnya Ayasha!” Langsung menebak mama Rara, karena wanita paruh baya itu bisa melihat dari sorot mata Darial dan sorot mata Ayasha.
Darial menatap wajah Ayasha sebelum menjawab pertanyaan Mama Rara, gadis itu hanya mengulum senyum tipisnya. “I-iya Bu, kami baru saja menjalin hubungan. Mohon maaf saya tidak tahu jika ada kedatangan Ibu, dan bertemu dadakan seperti ini,” kata Darial.
“Iya gak pa-pa Darial, silakan kalau mau menjenguk Ayasha,” balas Mama Rara.
Amelia hanya bisa menarik salah satu alis matanya melihat perkenalan antara nama Rara dengan Darial, bagaikan pertemuan calon mertua dan calon menantu dadakan.
Kenapa Ayasha tidak bilang Tante Rara mamanya om Rafael malah bilang sebagai mamanya... batin Amelia.
Mama Rara menepuk lembut bahu Amelia hingga lamunannya buyar, kemudian wanita paruh baya itu tersenyum tipis lalu berlalu meninggalkan kamar Ayasha.
Akhirnya kamu sudah memiliki tambatan hati, nak. Inilah yang harus aku siapkan dari dulu, siap melihat kamu bersanding dengan pria lain bukan anakku Rafael.
Kamu berhak untuk bahagia dengan pria pilihanmu, semoga pilihanmu tidak menyakiti hatimu kembali seperti anakku, Rafael.
Mama Rara menarik napasnya pelan-pelan, lalu terduduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu dan kembali menyesap teh hijau yang masih tersaji di meja. Wanita paruh baya itu memang sangat berharap Ayasha menjadi menantunya, namun rasanya egois jika memaksakan kehendaknya, nasi sudah jadi bubur yang tak mungkin kembali menjadi nasi. Mama Rara hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Rafael dan Ayasha, walau hatinya sebenarnya sedih ketika melihat Rafael menatap Ayasha dengan tatapan penuh cintanya.
...----------------...
Kembali ke kamar ...
Lena duduk di sisi tepi ranjang sedangkan Darial duduk di sofa singel dekat ranjang Ayasha.
“Aku kelelahan Lena, makanya sampai di infus begini,” jawabnya pelan.
“Kenapa tidak kasih tahu kalau kamu sakit,” sambung Darial.
“Maaf Kak, aku tidak mau merepotkan Kakak,” jawab Ayasha.
Lena sebenarnya banyak yang ingin ditanyakan sama Ayasha, tapi tidak enak karena ada Darial. Dan takutnya pria itu tidak tahu kejadian yang sebenarnya menimpa Ayasha.
“Cepat sembuh ya Aya, kebetulan tadi di lobby ketemu Pak Darial, datang ingin menemui kamu jadi aku antar ke sini. Pekerjaanku juga lagi banyak, aku hanya bisa sebentar menjengukmu, tapi nanti sore aku ke sini lagi,” ucap Lena berpamitan.
“Iya Lena, makasih ya sudah kesini,” jawab Ayasha, kemudian Lena meninggalkan Ayasha dengan Darial di kamar dengan pintu sengaja tetap terbuka.
Darial pindah duduk, sekarang duduk di sisi tepi ranjang gadis itu. “Seharusnya kalau kamu tidak enak badan dari kemarin, kasih tahu saya, Aya, jadi saya bisa antar kamu ke dokter,” kata pria itu penuh perhatian.
“Kak, aku gak tahu kalau badanku sakit, soalnya datangnya tiba-tiba,” balas Ayasha, gadis itu sengaja menutupi penyebab dirinya sakit.
“Lain kali jangan begitu ya, saya ingin selalu menjagamu di sini,” kata Darial, tangan pria itu mengusap lembut pipi gadis itu, dan Ayasha tidak menolak dengan sentuhan lembut itu, rasanya hangat dihatinya.
“Terima kasih, Kak,” jawab Ayasha.
“Kamu menginginkan makan sesuatu? biar saya belikan.”
“Apa ya Kak, tadi dokter sudah bilang kalau aku harus makan makanan yang sehat.”
Darial tampak berpikir sesuatu, lalu mengambil ponsel miliknya. “Kita pilih sama-sama ya, karena saya juga tidak tahu kesukaan kamu, sekalian pesankan buat mama kamu ya,” ajak Darial.
Ayasha mengangguk tanda setuju, lalu mereka berdua pun sibuk memilih menu makanan.
Dari balik pintu mama Rara mengusap kedua netranya yang mulai berembun saat ingin kembali masuk ke kamar Ayasha, namun yang dia dapati suasana yang begitu romantis tercipta antara Ayasha dan Darial.
...----------------...
Sedangkan di kamar lain, lebih tepatnya di kamar Delia.
Tangan yang masih berlumur darah, Rafael datang ke kamar Delia dengan wajahnya yang terlihat garang. Satya sudah berulang kali meminta bosnya untuk diobati terlebih dahulu tangannya, namun Rafael tidak mengindahkan permintaan Satya. Dan Satya juga tidak bisa mencegah Rafael untuk tidak ke kamar Delia dulu, karena pria itu benar-benar tampak murka terlihat dari wajahnya yang sudah memerah.
PRANK!
Rafael melempar vas bunga ke arah cermin, hingga membuat wanita yang masih beristirahat di atas ranjang mengerjapkan kedua netranya karena kaget, begitu juga Rafael sampai tersingkat kaget melihatnya
“KAU PENIPU DELIA!” teriak Rafael, penuh kemarahan.
Mas Rafael, aku menyerahkan milikku yang berharga untuk pertama kali hanya kepada dirimu karena aku sangat mencintaimu, aku telah jadi milikmu. Dan aku harap Mas Rafael bertanggung jawab dengan apa yang telah kita lakukan Mas.
Aku akan bertanggung jawab, akan menikahimu segera setelah aku memutuskan pertunanganku dengan Ayasha.
Pria itu dalam amarahnya kembali menertawakan dirinya yang bodoh, sudah termakan dengan godaan palsu yang disajikan oleh Delia saat lima tahun yang lalu, hingga menjadi beban untuknya karena telah mengambil mahkota wanita itu.
Satya melirik bosnya yang tiba-tiba saja tertawa.
Baru tahu Delia sudah tidak perawan saat pertama kali digaulinya sudah se emosi ini, bagaimana kalau Pak Bos tahu Delia pakai pelet sejak dulu, wah bisa mati nih kayaknya Delia atau si Bos bisa jadi gila ... batin Satya, malah jadi tergidik sendiri.
bersambung ......