FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Menemui orang tua Ayasha



Cukup lama mereka berdiam diri, Darial masih tidak mau menjawab, dan Ayasha tak akan bertanya kembali, karena tak ada gunanya untuk menuntut kejujuran dari kekasihnya jika dari hati kecil pria itu tidak mau berusaha untuk jujur kepadanya. Ayasha setidaknya bisa menilai dari sini sejauh mana Darial bersungguh terhadap dirinya, jika masih ada yang dia tutupi darinya berarti pria itu juga belum yakin dengannya.


Walaupun hanya sekedar masa lalu, yang mungkin tidak akan kembali atau terulang, namun tetap saja sebagai pasangan setidaknya perlu tahu dan saling terbuka, karena kita tak akan tahu jika suatu saat akan bertemu dengan bagian dari masa lalu kita.


Ayasha juga punya masa lalu namun belum dia ceritakan pada Darial, karena dia juga masih belum yakin dengan pria bule itu. Andaikan dia dari awal sudah sangat yakin, tidak hanya sekedar menerima pernyataan cinta Darial, mungkin dia sudah banyak bercerita tentang dirinya ke Darial. Inilah yang membedakan menerima sebuah hubungan karena mencoba membuka hati untuk orang lain dengan rasa suka, dengan menjalin hubungan karena jatuh cinta, akan terlihat jauh berbeda.


“Kalau begitu, aku masuk dulu Kak Darial, mau rapi-rapi dulu,” pamit Ayasha, setelah sekian lama menunggu Darial yang terpaku diam.


Maafkan saya Ayasha, saya tidak menceritakan semuanya. Jika kamu tahu semuanya tentang saya. Kamu pasti akan meninggalkanmu. Saya tidak ingin kehilanganmu!


“Saya bantu ya.” Darial menawarkan dirinya untuk membantu.


“Tidak perlu Kak, aku sudah mengajak office boy hotel untuk membantu, lagi pula barangku dikit kok,” tolak Ayasha secara halus.


Darial harus mau terima penolakan dari Ayasha, “kalau begitu saya tetap menunggumu di sini sampai selesai, saya ingin tahu rumah yang kamu tempati sekarang,” pinta Darial, sembari mengambil paper bag yang dia letakkan di meja teras lalu memberikan ke Ayasha.


“Tadi saya sempat belikan kamu makanan, di makan ya,” kata Darial.


Ayasha meraih kantong paper bag nya. “Kalau begitu Kak Darial tunggu saja di sini, aku buatkan minum dulu,” pinta Ayasha, sembari menunjukkan kursi di teras rumahnya.


“Iya, Sayang,” jawab Darial, bibirnya mengulas senyum tipis  Setelahnya gadis itu masuk ke dalam menuju dapur.


“Aya, Kak Darial sudah balik?” tanya Amelia sambil membuntuti Ayasha ke dapur.


“Belum, masih ada di depan,” jawab Ayasha, sembari membuat teh manis.


“Dikirain udah balik,” gumam Amelia, terdengar tak suka.


“Kak Darial pengen tahu rumah yang baru,” sambung Ayasha.


Amelia kembali menengok ke dapur, lalu terdengar hembusan napas beratnya. “Kamu, yakin mau kasih tahu rumah kamu yang baru?”


Ayasha mengangkat kedua bahunya. “Habisnya mau bagaimana lagi, suatu hari pasti Kak Darial pasti akan rahu juga,” jawabnya, suara dentingan sendok pada cangkir teh beriringan dengan jawaban Ayasha.


“Ya, gue takut aja nanti Kak Darial berantem lagi sama Om Rafael, kayak—,” Amelia langsung mengatup bibirnya, tidak melanjutkan kalimatnya, hampir saja keceplosan.


Ayasha mengernyitkan keningnya saat menatap Amelia. “Berantem kayak apa Mel?”


“Berantem kayak waktu di rumah sakit Ay, waktu itu sempatkan Kak Darial menghajar Om Rafael,” jawab Amelia, tanpa ragu-ragu.


Gadis itu berusaha mengingatnya karena saat itu keadaannya antara sadar dan tidak sadar.


“Sudah tidak usah berusaha ingat-ingat lagi, waktu itu lo lagi kesakitan, untung aja ada tante Rara yang meleraikan nya, kalau tidak mereka berdua bisa ikutan dirawat di rumah sakit juga,” pungkas Amelia, lalu dia meninggalkan Ayasha begitu saja.


Ayasha hanya bisa menghela napasnya, kemudian mengantar teh untuk Darial di teras, lalu dia kembali masuk ke dalam rumah untuk mengemasi barang-barangnya.


Selama memberesi barang-barang, Ayasha tidak bisa meladeni, menemani Darial, dan membiarkan pria itu tetap menunggunya di teras rumah.


...----------------...


Hampir total tiga jam perjalanan dari Jogjakarta menuju Jakarta, lalu lanjut ke perusahaan untuk menjemput papa Stevan, lalu lanjut ke rumah orang tua Almira. Dan sekarang Rafael ditemani oleh papa Stevan dan Satya sudah berada di rumah orang tua Ayasha.


Mama Nia dan papa Tisna sejenak tertegun melihat kedatangan Rafael, lepas terakhir papa Tisna mengusir pria itu empat tahun yang lalu dan meminta untuk tidak datang kembali, sekarang mantan calon menantunya datang kembali.


“Mari silakan masuk Kak Stevan,” ajak Papa Tisna pada saudara sepupunya.


Rafael terasa canggung ketika mengikuti papanya masuk ke dalam, apalagi setelah melihat tatapan mama Nia yang terlihat tidak menyukai kedatangannya.


Bismillah, Ya Allah mudahkan aku untuk menghadapinya.


Satya yang membawa buat tangan, segera memberikannya ke mama Nia. Mama Nia terlihat heran dengan bawaan yang amat banyak tersebut, sudah kayak mau lamaran saja.


Ada apa ini, kenapa bawaannya begitu banyak?


Mama Nia pun, meminta asisten rumah tangganya untuk membawa barang bawaan tersebut ke ruang tengah, lalu meminta dibuatkan minum untuk tamunya. Kemudian bergabung dengan suaminya untuk menyapa tamunya.


Rafael yang duduk di samping papa Stevan terlihat gugup, sudah berapa kali dia menyeka keningnya yang berkeringat. Ternyata begini ya rasanya menghadapi orang tua dari gadis yang dia cintai, berbeda rasanya saat dahulu mereka sudah dijodohkan dari awal tanpa mengetahui perasaan anaknya masing-masing. Sekarang dia datang memang dari hatinya dan kemauannya sendiri, tanpa paksaan.


Papa Stevan membuka awal pembicaraan dengan saudaranya terlebih dahulu sebelum Rafael yang akan mengutarakan maksud kedatangannya.


Papa Tisna dan mama Nia sebagai tuan rumah, menyimak pembicaraan papa Stevan, sebelum ke hal intinya.


Sebelum Rafael memulai berbicara, pria itu meneguk segelas air putih, kemudian mengatur napasnya terlebih dahulu.


“Pah, Mah, sebelumnya aku minta maaf atas kesalahan yang terdahulu, dari hati yang paling dalam aku benar-benar telah menyesalinya, telah melukai hati Ayasha, belum juga aku telah membuat malu dua keluarga karena berakhirnya pertunangan aku dengan Ayasha,” tutur pria itu sesaat, kemudian dia menundukkan kepalanya.


Sebelum Rafael kembali berbicara, papa Stevan menceritakan Rafael yang kena guna-guna selama ini, dan baru saja diobati, hal itu membuat kedua orang tua Ayasha terkejut mendengarnya.


“Kak Stevan, jadi selama ini Rafael, diguna-guna sama sekretarisnya?” tanya Mama Nia agar lebih meyakinkan hatinya.


Papa Stevan mengiyakan dan melanjutkan ceritanya agar kedua orang tua Ayasha bisa memahaminya terlebih dahulu.


Mama Nia jadi mengurut dadanya sendiri mendengar cerita Rafael, sungguh tak disangka. “Alhamdulillah jika semuanya sudah terbongkar, dan Rafael kembali ke jalan yang benar,” imbuh Mama Nia, sembari menatap iba Rafael, menantu yang tak jadi.


Rafael menarik napasnya dalam-dalam, kemudian bangkit dari duduknya lalu menghampiri kedua orang tua Ayasha, dan tiba-tiba saja dia menjatuhkan kedua lututnya di hadapan kedua orang tua Ayasha.


Papa Tisna dan mama Nia terhenyak melihat anak saudaranya berlutut di hadapan mereka berdua. Saat ini Rafael menanggalkan atributnya sebagai pemilik perusahaan baru bara di hadapan kedua orang tua Ayasha,  kini dia terlihat sebagai pria kebanyakan yang sedang merendahkan dirinya, membuang ego tingginya selama ini demi pujaan hatinya, demi meraih restu dari orang tua pujaan hatinya, dia rela melakukan apa pun untuk memperbaiki keadaan.


 bersambung .... berhasilkah Rafael mendapatkan restu dari kedua orang tua Ayasha?


 


...----------------...