FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Kapan kalian menikah?



Malam yang hangat buat Rafael, kenapa tidak dari dulu saja pikirnya? Kenapa dulu dia bisa terjebak dengan Delia hingga dia mampu memutuskan Ayasha yang sudah jelas gadis yang dijodohkan, calon istrinya! Semuanya sudah garis takdir perjalanan hidup Rafael dan Ayasha.


Cukup lama Rafael dan Ayasha terlelap saling berpelukan di atas sofa panjang. Kali ini ego Rafael yang menginginkan tidur memeluk gadis itu, walau tahu ini salah, tapi hanya tidur saja tanpa melakukan apapun. Namun ada hal yang membuat dia tersenyum dalam tidurnya, benda pusakanya yang sudah lama tertidur pulas, kini tiba-tiba saja mengembang saat tubuh Ayasha menghimpit tubuhnya serta benda pusakanya, sensasi gairah itu kembali hadir, dan hal itu membuat tidur pulas pria itu terbangun.


Pria itu mengerjapkan kedua bola matanya, lalu tersenyum melihat Ayasha masih pulas tidur dengan kepala di dadanya. Ternyata indah rasanya kalau punya istri yang sangat dicintai dari hati, tanpa pelet ya.


“Sepertinya aku harus cepat menghalalkanmu, Ayasha, semoga disegerakan Ya Allah,” gumamnya sendiri.


Rafael mencoba melepaskan dirinya dari Ayasha, lalu membopong gadis itu yang masih terlihat pulas tidurnya, lalu memindahkannya ke kamar utama, untung saja pintu kamar tidak dikunci oleh Amelia.  Setelah itu pria itu keluar dan menunaikan sholat malam di ruang tengah yang ada di atas.


...----------------...


Esok hari.


Terlihat Ayasha menggeliat di atas ranjang, merentangkan kedua tangannya, namun tak lama salah satu matanya terbuka, kemudian disusul dengan mata sebelahnya, lalu tangannya meraba tempat tidurnya yang terasa berbeda.


Bukannya semalam aku di—


Gadis itu jadi senyum sendiri, baru teringat kalau dia tertidur di pelukan Rafael, aah baru kali ini dia merasakan tidur sama laki-laki dan itu sama Rafael bukan dengan pria lain. Gadis itu menarik selimutnya lalu tersenyum kembali dibalik selimutnya.


Amelia yang sedari tadi sudah bangun dari tidurnya dan melihat tingkah Ayasha jadi geleng-geleng kepala. “Cie ... Cie semalam ada yang tidur sama siapa ya?” sindir Amelia.


Ayasha menyibakkan selimutnya dan menatap Amelia. “Apaan sih lo,” jawab Ayasha malu-malu.


“Udah gak usah malu-malu, suka'kan tidur sama ... eeheeemm,” goda Amelia, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Ayasha.


Ayasha hanya mesam mesem aja belum mau mengakuinya. “Ayo bangun ... sholat shubuh dulu. Dari tadi Om Rafael udah nanyain lo, udah bangun apa belum. Ayo cepetan bangun, Om Rafael ternyata cerewet juga orangnya,” pinta Amelia, sembari menarik selimut yang dikenakan oleh Ayasha.


“Iya ... iya ... gue bangun nih,” jawab Ayasha, langsung beringsut dari ranjangnya, dan bergegas ke kamar mandi.


Rafael dan Satya yang sudah sholat shubuh berjamaah, sekarang mereka berdua lagi jogging mengelilingi kompleks.


Ayasha dan Amelia yang sudah sholat shubuh bergegas ke dapur, melaksanakan tugas mereka sebagai wanita, tapi ternyata sudah ada dua wanita paruh baya di dapur, akhirnya mereka berempat sama-sama saling membantu untuk memasak sarapan.


Mama Tania selama di dapur memperhatikan wajah anaknya yang tampak berseri-seri, wajah yang sudah lama tidak dia lihat, dan berharap dia akan selalu melihat wajah bahagia Ayasha.


“Aya, Mama senang kalau lihat kamu tersenyum terus,” kata Mama Tania, ketika mereka sama-sama menghidangkan makanan di atas meja makan.


“Doakan Aya, agar selalu bahagia Mah,” balas Ayasha, tersenyum tipis.


“Sudah pasti akan selalu mama doakan, untuk kebahagiaan kamu,” jawab Mama Tania.


Waktu sarapan pagi sudah tiba, Rafael yang baru balik jogging langsung mencari Ayasha. “Pagi, cantikku,” bisik pria itu lalu mengecup telinga Ayasha, sebelum Ayasha marah karena kaget, pria itu bergegas ke kamar yang ditempati orang tuanya untuk mandi. Wajah gadis itu sejenak cemberut lalu tersenyum kembali.


Tak selang berapa lama, semua berkumpul di ruang makan untuk menikmati sarapan pagi, Rafael sudah tampak rapi dengan setelan baju kerjanya begitu pula dengan Ayasha sebelum sarapan dia bergegas merapikan dirinya lalu kembali ke ruang makan.


“Aya, kok kamu pakai baju kerja?” tanya Rafael, terlihat tidak suka gadis itu sudah terlihat rapi.


“Hari ini aku boleh masuk kerja ya Om, badanku udah sehat kok,” pinta Ayasha dengan menunjukkan puppy eyesnya.


Rafael mendesah panjang. “Benar sudah enakkan badannya, lagi pula ada mama sama papa masih kangen sama kamu.”


Rafael menatap pasrah sama Ayasha, kemudian menatap kedua papanya. “Nanti siang kita makan bersama di hotel ya, Pah, Mah,” pinta Rafael kepada kedua orang tuanya dan orang tua Ayasha.


“Oke, nanti kita ketemu di hotel kamu, sekalian papa juga pengen lihat hotel milik kamu,” sahut Papa Stevan.


Rafael kembali melirik Ayasha yang sedang menikmati makanannya. “Nanti berangkat kerjanya bareng, kalau pas kerja badanmu gak enak, bilang sama aku ya, jangan diam aja,” pinta Rafael, sebenarnya dia belum mengizinkan gadis itu kembali bekerja.


“Oke Bos Rafael, perintah siap dilaksanakan,” ucap lantang Ayasha, kemudian dia terkekeh.


Rafael dibuat kaget sama suara lantang Ayasha yang biasanya terdengar lembut, refleks pria itu menarik hidung mancung gadis itu.


“Jadi kapan kalian berdua menikah, papa dan mama gak mau kalian bertunangan lagi, langsung akad nikah saja,” celetuk Papa Stevan dengan gaya santainya, menegur Rafael dan Ayasha. Bagaimana tidak langsung ditanya, dari semalam papa Stevan melihat kemesraan antara Rafael dan Ayasha, belum lagi semalam gak sengaja lihat Rafael dan Ayasha tidur di sofa.


“Papa juga gak mau punya cucu sebelum kalian berdua menikah,” sambung papa Tisna ikutan, maklum semalam kedua papa ini keluar malam dari kamarnya masing-masing hanya buat main gaplek di ruang bawah.


Rafael dan Ayasha sama-sama main tatap-tatapan, lalu saling mengedipkan mata. “Kalau aku siap kapan saja Pah, hari ini juga bisa kok langsung ke KUA buat nikahi Aya, tapi aku kembalikan ke Aya, Pah. Yang jelas aku memang ingin sekali meminang Ayasha sebagai istri, namun aku tidak ingin memaksanya,” jawab Rafael dengan lugas, dan kemantapan hatinya.


Ayasha dibuat melongo sama jawaban Rafael, pria itu kembali menatap Ayasha, lalu dia meraih tangan gadis itu. “Aku serius Ayasha, mumpung kedua orang tua kita ada di sini, aku ingin melamarmu kembali, dan ingin menikahimu secepatnya,” imbuh pria itu, dengan ekspresi seriusnya, tidak terlihat sedang bercanda.


Amelia membungkam mulutnya dengan salah satu tangannya, tak percaya lamaran kembali terjadi lagi, akan tetapi untuk kali ini Amelia sangat mendukungnya. Satya yang duduk di sebelah Amelia, mencondongkan dirinya. “Saya juga ingin segera melamarmu kayak Pak Rafael,” bisik Satya, Amelia pun menoleh. “Insya Allah Mas, aku juga mau dilamar kamu di depan ibu bapakku.”


Mama Nia dan Mama Rara tertunduk sejenak, rasa haru membuat mereka meneteskan air matanya karena melihat kesungguhan Rafael kembali melamar Ayasha, untuk kali ini pria itu yang berucap sendiri bukan lagi kedua orang tua Rafael.


Tangan Rafael dan Ayasha saling bertautan kemudian gadis itu tersenyum pada Rafael. “Om, beri aku waktu untuk menyelesaikan hubunganku dengan Kak Darial. Dan satu lagi aku tidak ingin gegabah lagi untuk memutuskan masa depanku. Aku ingin kita sama-sama sholat istikharah, agar kita berdua sama-sama mantap memutuskan masa depan untuk seumur hidup kita. Jadi untuk jawabannya, aku minta waktu. Bisakan?” tutur Ayasha begitu lembut menjawabnya.


“Insya Allah aku akan sholat istikharah, dan memberikan kamu waktu. Tapi gak pakai lama ya, Sayang,” jawab Rafael, sembari menunjukkan tatapan memohonnya, namun juga menunjukkan puppy eyesnya.


Ayasha jadi geli sendiri melihat mata Rafael yang berkedip-kedip kayak bocah cilik. “Iya, Om ... tapi matanya jangan begitu, aneh ... pengen ketawa lihatnya.” Akhirnya Ayasha jadi tertawa, semua yang tadi terlihat serius melihatnya jadi ikutan tertawa juga, Rafael hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


Moment lamaran dadakan versi Rafael, namun ambyar karena puppy eyesnya. Satya juga gak tahan untuk ikutan menertawakan bosnya, baru kali ini lihat mata bosnya kayak bocah, padahal biasanya terlihat menyalak atau tegas.


 


...----------------...


Di tempat berbeda, namun masih di Yogyakarta. Ada wanita yang memakai masker diwajahnya tersenyum sinis saat melihat gedung tinggi bercat putih itu. "Aku kembali lagi!"


bersambung ...


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komen, poin, nonton iklan, plus VOTE nya dong di hari Senin, buat Kakak yang sudah kirim VOTE nya terima kasih banyak 🙏🏻.


Lope lope sekebon 🌹🌹🌹🌻🌻🌻🍊🍊🍊


 


...----------------...