FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Don't say you love me



Jangan bilang kamu cinta padaku kecuali selamanya kamu akan mencintaiku. Jangan bilang kamu butuh diriku jika kamu takkan terus berada disisiku. Jangan beri aku perasaan ini. Aku hanya akan percaya, jika semua ada buktinya atau pergilah menjauh dan jangan lagi berada di hadapanku.


Ketika Ayasha memalingkan wajahnya dari tatapan pria itu, ungkapan cinta, ciuman pertamanya terasa hadir di hadapannya, serta pelukan hangat Rafael dengan tatapan cemasnya di saat dia kesakitan di rumah sakit masih terasa ditubuhnya. Bayang wajah Darial mampu terhapuskan dengan kehadiran Rafael.


Sekarang mereka duduk bersama di meja yang sama, saling berdampingan, kedua bahunya pun saling bergesekan. Semangkok wedang ronde mampu menghangat badan yang terasa dingin, lalu bagaimana dengan kehadiran mantan bagi Ayasha mampukah menghangatkan hati yang sudah membeku karena sebuah pengkhianatan?


“Selama lima tahun Rafael dipelet oleh Delia, dan terjerembap di jalan yang salah. Dia meninggalkanmu, jauh dari orang tua, dan lalai dalam beribadah,” ungkap Mama Rara.


“Jika Rafael benar-benar mencintai Delia dari hatinya, saat ini dia pasti bersama wanita itu, atau sejak dulu sudah menikahinya,” lanjut kata Mama Rara.


Ayasha kembali teringat pembicaraan dengan mama Rara saat makan malam tadi. Amelia juga mengiyakan, lalu menunjukkan bukti rekaman percakapannya dengan Bu Laras yang sempat dia copy ke ponselnya, semuanya sudah ada buktinya jadi tidak hanya sekedar omong kosong belaka.


Rafael turut menikmati wedang ronde, sambil menatap Ayasha. “Kenapa melamun, nanti keburu dingin wedangnya, tadi katanya mau minum yang hangat-hangat?” tanya Rafael.


“Oh ... ini lagi di aduk sebentar, agak panas soalnya,” jawab asal Ayasha, lalu dia menyeruput wedang tersebut, pelan-pelan.


“Om, terima kasih untuk hadiahnya, tapi itu sangat berlebihan,” kata Ayasha lirih.


Rafael meletakkan mangkok wedangnya ke atas meja. “Tidak ada yang berlebihan buatmu, justru menurutku belum seberapa. Aku benar-benar ingin kamu menerimanya ya dengan hati yang senang.”


Ayasha mencoba mengulas senyum tipisnya pada Rafael. “Aku menerimanya, tapi jangan beranggapan aku menginginkan nya dan matre ya, Om,” jawab Ayasha.


Rafael membelai rambut panjang gadis itu dengan lembutnya. “Gak pa-pa kalau kamu matre padaku, aku rela diporotin sama kamu,” jawab Rafael sembari terkekeh kecil.


“Janganlah, nanti yang ada calon istri Om Rafael bisa cemburu padaku,” sahut Ayasha.


Tangan yang masih membelai rambut Ayasha, berhenti membelai lalu menariknya dari kepala Ayasha. Pria itu pun terdiam, lalu kembali memposisikan dirinya ke hadapan mangkok wedangnya, dan kembali menyeruput isi wedang rondenya.


Istri Om Rafael


Pria itu tidak tersinggung dengan ucapan Ayasha, namun hati kecilnya terasa tersentil dengan ucapan Ayasha. Dia sudah tak ada keinginan untuk mencari wanita lain.


Melihat perubahan raut wajah Rafael, Ayasha tak enak hati rasanya. Seharusnya dia peka atas semua tindakan yang dilakukan oleh Rafael, di luar dari pengkhianatnya.


“Sudah mau larut malam, cepat habiskan wedangnya, kamu harus segera beristirahat, jangan sampai sakit lagi,” pinta Rafael terdengar datar, kemudian dia memanggil penjual wedang untuk meminta wedang yang dipesan bawa pulang, lalu membayarnya.


Ayasha menuruti permintaan Rafael, kemudian menyusul pria itu yang sudah berdiri menunggunya dengan membawa jinjingan. Tanpa bertanya lagi atau minta izin, Rafael kembali menggenggam erat tangan mungil Ayasha.


Kesunyian kembali terjadi di antara mereka berdua saat kembali pulang ke rumah, namun langkah kaki mereka berdua seakan melangkah lambat, menikmati moment jalan berduaan yang dirasa tak mungkin terulang kembali.


Tapi lagi-lagi Rafael memecahkan kesunyian yang terjadi di antara mereka berdua. “Jika kita memang  ditakdirkan bukan sebagai pasangan suami istri, aku berharap kita masih bisa bersilaturahmi sebagai saudara dan bisa kembali akrab seperti dulu,” imbuh Rafael ketika kakinya masih tetap melangkah.


“Mungkin aku harus belajar untuk menerima takdirku atas kesalahan yang pernah aku perbuatan di masa lalu. Kesalahan yang amat fatal,” lanjut kata Rafael penuh kepasrahan.


Gadis itu menghentikan langkah kakinya, lalu melepaskan genggaman tangan pria itu, Rafael pun turut menghentikan langkah kakinya kemudian menatap Ayasha.


Ayasha pun membalas tatapan Rafael. “Om Rafael, jangan pernah bilang mencintai pada seorang wanita jika tak ingin berjuang untuk mendapatkannya, jangan pernah juga memberikan perhatian kepadanya yang berlebihan jika tak mampu berada di sisinya untuk selamanya. Wanita tak ingin dipermainkan hatinya, wanita selalu butuh kepastian atas segala sikap yang dia terima. Jika dirasa Om sudah memantaskan dirinya untuk wanita itu, kenapa tidak meraihnya kembali, dan tidak dalam sebuah keraguan lagi,” tutur Ayasha tiba-tiba begitu saja.


Hati Rafael bergetar tiba-tiba, lidahnya pun menjadi keluh, tak bisa berkata-kata dalam waktu sekian menit.


Ayasha kembali menatap ke depan dan melangkahkan kakinya, meninggalkan Rafael yang masih bergeming.


Tak lama ...


“Aakkhh,” tubuh Ayasha tersentak kaget, tangan pria itu mulai melingkar diperutnya.


“A-aku ingin berjuang, m-masihkah aku pantas untukmu Aya. Bolehkah aku egois untuk merebut mu dari Darial? Aku s-sangat mencintaimu, Ayasha,” ungkap Rafael yang tak bisa terbendung lagi, apalagi setelah Ayasha berucap seperti itu, seakan sindiran untuknya.


Ayasha memejamkan matanya sejenak lalu mendengarkan kata hatinya yang sedang berbicara, samar-samar mendengar suara isak tangis yang tertahankan dari tenggorokan Rafael.


Tak lama tangan Ayasha mengusap lembut tangan Rafael yang masih memeluknya dari belakang. “Mintalah pada Allah, dan berjuanglah jika memang Om Rafael benar-benar mencintaiku. Aku hanya minta kepada Allah untuk ditunjukkan mana yang lebih pantas dan terbaik untukku,” jawab Ayasha penuh kelembutan, dia membuang egonya, rasa bencinya pada Rafael, sudah waktunya dia mengikuti isi hatinya, yang kebetulan isi hatinya meminta untuk memberikan kesempatan buat Rafael.


Rafael yang sudah mulai menitikkan air matanya, mengeratkan pelukannya, jawaban Ayasha bagaikan angin segar untuk dirinya dan dia akan menunjukkan ke sungguh hatinya pada Ayasha.


“Aku akan berjuang Aya, aku sangat mencintaimu, terima kasih.” Pria itu mengurai pelukannya, kemudian memutar balikkan tubuh Ayasha.


“Aku akan berusaha lebih baik lagi, dan tak akan membuang kesempatan ini. Aku akan membuktikan jika aku sangat mencintaimu, dan akan membuatmu mencintaiku lagi,” imbuh Rafael. Pria itu mengecup kening gadis itu dalam-dalam, dan kembali memeluk Ayasha.


Mama Rara yang kebetulan sedang duduk di balkon, terlihat terharu melihat Rafael dan Ayasha yang berada di bawah sana.


“ Ya Allah, semoga mereka berdua berjodoh kembali, dan tak terpisahkan hingga mereka menikah,” gumam Mama Rara sendiri. Percayalah setiap langkah anak, ada doa ibu yang selalu menyertainya. Kekuatan doa ibu mampu menembus langit ke tujuh, maka dari itu sebagai ibu doakan  anaknya selalu dalam hal kebaikan bukan keburukan.


Sosok dua ibu yang berbeda antara Mama Rara dan Ibu Laras, sudah lihat kan seperti apa anak mereka berdua! Yang satu berjuang bangkit dari kubangannya sedangkan yang satu makin menenggelamkan dirinya dalam kubangan tersebut.


 bersambung ....


Bagaimana perjuangan Rafael merebut Ayasha dari Darial, dan bagaimana kedok Darial terbongkar di hadapan Ayasha? Dan bom waktu semakin dekat dengan kedatangan Delia ke Jogja ...


Mungkinkah Ayasha jodoh Rafael? happy ending atau sad ending? Ikuti terus sampai tamat ya kisahnya Ayasha.


...----------------...