FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Minta berhenti bekerja!



Rafael masih menatap teduh kedua orang yang masih duduk dihadapannya.


"Satya, jangan pernah meniru sikap buruk saya selama ini. Jangan pernah menyakiti hati wanita jika kamu sangat mencintainya. Jika kamu berniat serius dengan Amelia, maka segerakan menjadi pasangan yang halal, nanti biar mama sama papa yang akan melamarnya untukmu,” tutur Rafael.


Hati Amelia jadi tersentuh dengan tutur mantan tunangan Ayasha, gadis itu pun turut berbinar-binar ketika menatap Rafael. Pria yang pernah dia umpat dengan kata-kata kasar karena telah menyakiti hati sahabatnya, lalu menilai buruk tentang Rafael akan tetapi semakin lama semakin terkikiskan dengan banyaknya perubahan dalam diri pria itu. Orang yang memiliki masa lalu buruk belum tentu menjadi buruk selamanya, hidup adalah pilihan, mau tetap menjadi buruk atau berubah menjadi lebih baik dan meninggalkan segala hal yang buruk.


 “Terima kasih Pak Rafael, sudah diingatkan, mohon restui kami, insyaAllah saya memang serius dengan Amelia, tidak ingin mempermainkannya, karena saya ingin menjadikan dia teman hidupku, menjadi istriku.”


Rafael mengulas senyum tipisnya. “Amelia, Satya pria yang baik, dia tidak pernah macam-macam dan bukan pria brengsek seperti saya. Saya sudah mengenalnya dari dia kelas 1 SMU, Satya selain asisten saya, dia bagian keluarga kami, anak angkat kedua orang tua saya dan sudah saya anggap sebagai adik angkat. Ini pertama kalinya dia mau mendekati dan perhatian dengan seorang wanita. Amel, kamu tak akan menyesal menerima Satya menjadi pendamping mu,” tutur Rafael begitu meyakinkan, apa adanya karena memang selama ini Satya tidak pernah dekat dengan seorang wanita dari dulu. Satya selama ini hanya fokus sekolah, kuliah lalu bekerja menjadi asistennya.


Amelia menoleh ke samping, dan menatap wajah tampan Satya, kemudian tersenyum hangat, Satya pun membalas senyuman itu.


...----------------...


Satu jam kemudian ...


Ayasha kembali menjalankan USG abdomen di temani oleh Mama Rara dan Amelia di ruang praktek Dokter spesialis penyakit dalam, sedangkan Darial menunggu di luar begitupun juga Satya. Sedangkan Rafael agak menjauh menunggunya.


“Buat apa kamu ada di sini! Apa sudah jadi mata-mata buat bosmu!” celetuk Darial, agak mencemooh.


Wajah Satya terlihat biasa saja. “Bukan urusan Pak Darial, saya ada di sini!” jawab Satya dengan ketusnya.


“Bilang sama bos mu, jangan berani-beraninya mendekati calon istri saya!” ancam Darial, menunjukkan wajah garangnya.


Satya memutar bola matanya lalu menatap Darial dengan ekspresinya yang datar. “Sepertinya Pak Darial terlalu percaya diri menyatakan Ayasha sebagai calon istri! Memangnya kedua orang tuanya merestui hubungan Anda berdua. Perlu saya kasih tahu ya Pak Darial yang terhormat, Ayasha sangat menghormati dan menyayangi kedua orang tuanya. Jika kedua orang tuanya tidak menyetujui hubungannya dengan Anda, maka dia akan mematuhinya. Jadi pastikan dulu siapa Anda! Apakah Anda sudah pantas untuk Ayasha!” balas Satya penuh penekanan.


“Oh ternyata asistennya bisa kasih nasihat juga rupanya ya! Perlu kamu ketahui ya, mama dari Ayasha sudah merestui hubungan saya dengan anaknya, dan perlu kamu ketahui saya sudah meminta dan melamar secara tidak resmi dengan mamanya!” pungkas Darial.


Anda salah melamar, Nyonya Rara bukan orang tua Ayasha, tapi Nyonya adalah mamanya Pak Rafael.


Satya tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya, salut dengan percaya dirinya Darial.


Rafael mengeram batinnya, lalu mengepalkan kedua tangannya di saat mendengar percakapan Darial dengan Satya melalui sambungan teleponnya.


Kembali ke ruang prakter Dokter ...


“Hasil usg abdomennya bagus semua, hanya ada maag tapi belum terlalu akut, jadi diperhatikan pola makan sehatnya serta pola pikirnya agar tidak terlalu stress agar tidak kambuhan,” kata Dokter.


“Alhamdulillah, berarti hari ini saya sudah boleh keluar dari rumah sakit kan, Dok?” tanya Ayasha, yang sejak dulu tidak suka dengan rumah sakit, karena keadaan gawat saja akhirnya kemarin pasrah dilarikan ke rumah sakit.


“Iya siang ini Mbak Ayasha sudah bisa keluar dari rumah sakit,” jawab Dokter.


Akhirnya Ayasha bernapas lega, tidak menginap di rumah sakit lagi.


...----------------...


Amelia dan Satya saling tolong menolong untuk mengemasi barang milik Ayasha beserta milik Amelia dan Mama Rara. Darial yang niatnya ingin membantu sudah ditolak oleh Satya terlebih dahulu, akhirnya Darial hanya bisa duduk di samping Ayasha. “Alhamdulillah, kamu sudah diperbolehkan pulang,” kata Darial.


“Iya, Kak ... akhirnya bisa keluar dari rumah sakit,” jawab Ayasha tanpa menatap Darial, karena sedang fokus melihat Satya dan Amelia yang semakin hari terlihat dekat dan kompak.


“Mas Satya, kita bawa Ayasha langsung ke rumah baru aja ya,” bisik Amelia.


“Oke, nanti saya bilang ke Pak Rafael,” jawabnya berbisik juga. Satya pun langsung mengirim pesan ke Rafael, lalu dijawab iya, jika rumahnya sudah siap ditempati.


Hati Ayasha tiba-tiba terasa gamang, padahal ada Darial di sisinya. Naifkah Dia! Munafik kah Dia! Jika saat ini dia mencari sosok Rafael yang tak menjenguk nya kembali, hingga waktunya dia sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit, namun pria itu tak juga menghampirinya.


 Dia ingin menjaga perasaanmu dan perasaan Darial, Nak. Makanya Rafael tidak menjenguk mu kembali, tapi Mama tahu pasti dia selalu mendoakan demi kesembuhanmu.


Darial yang melihat Ayasha melamun sejak tadi, dia menyentuh lembut tangan gadis itu namun tiba-tiba saja Ayasha menarik tangannya seperti orang terkejut. “Eh ... Maaf Kak, aku agak kaget,” kata Ayasha, baru menyadari jika Darial lah yang menyentuhnya.


“Gak pa-pa, lagian apa yang kamu lamunkan, padahal saya ada di sampingku?” tanya Darial, begitu lembutnya.


“Tidak melamunkan apa-apa, hanya tiba-tiba kepikiran pekerjaan ku di kantor, mungkin saat ini sudah menumpuk,” jawab Ayasha berdusta, tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan.


Darial jadi teringat kata Ayasha waktu di hotel, jika Rafael adalah pemilik hotel Inna Garuda. “Ayasha, bisakah kamu berhenti bekerja di hotel dan bekerja di perusahaanku?”


Ayasha seketika itu juga menoleh, menatap Darial yang terlihat serius wajahnya. “Aku berhenti kerja di hotel, kenapa?”


“Ya ... saya ingin kamu segera berhenti bekerja di hotel, dan bekerja di perusahaan saya, lagi pula kamu calon istri saya,” ucap Darial dengan tegasnya.


Satya dan Amelia yang tak sengaja mendengar, langsung menegakkan punggungnya, mereka berdua ada rasa tak setuju dengan permintaan Darial.


“Tidak semudah itu aku pindah bekerja, Kak Darial. Lagi pula apa salahnya aku bekerja di sana. Dan satu lagi Kak Darial, kita belum berada di tahap menuju pernikahan. Belum ada hak Kak Darial untuk mengatur aku bekerja di mana pun. Lagi pula sebelum aku mengenal Kak Darial, aku sudah terlebih dahulu bekerja di sana.”


Darial berusaha menahan emosinya agak tidak meledak karena Ayasha tidak mau menuruti keinginannya. “Tapi saya berharap kamu mengikuti keinginanku, untuk pindah bekerja di perusahaan saya, dan saya akan mengaji mu tiga kali lipat dari gaji kamu di hotel atau terserah kamu mau minta gaji berapa, akan saya turuti.” Darial menunjukkan kekuatan uang yang biasa dia gunakan untuk menggaet para wanitanya.


bersambung ... tergiurkah Ayasha dengan tawaran Darial? Dan mungkinkah Ayasha berhenti


Kakak Readers terima kasih atas like, komen, hadiah dan VOTE nya 🙏🙏🙏


Lope lope sekebon 🌹🌹🌹🍊🍊🍊