FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Sidak ke kamar



Amelia melangkahkan kakinya dengan santai di samping Rian ketika mereka sama-sama akan ke kamar yang ditempati oleh Rian, sedangkan Rian sendiri mulai terasa gerah karena mencemasi keadaan kamarnya, berharap partner ranjangnya sudah tidak ada dikamarnya. Berulang kali pria itu menarik kerah kemejanya dan sedikit mengibasnya, dan hal itu tertangkap oleh kedua netra Amelia.


Semoga saja Delia tidak ada dikamar ... batin Rian.


Ting ...


Pintu lift sudah terbuka dilantai 4, sekilas ujung ekor mata Rian melirik Amelia yang tampak tenang.


“Loh kok Mas Rian diam aja, ayuk keluar ... pintu liftnya sudah terbuka tuh,” ajak Amelia, dengan menggerakkan kepalanya ke depan.


“Eeh iya.” Rian segera keluar dari lift diikuti oleh Amelia.


“Kamarnya nomor 410 kan Mas Rian?” tanya Amelia memastikan kembali.


“I-iya ...” Mulai panas dingin Rian, jantungnya sedang lari maraton ketika Amelia mencari kamar nomor 410, mendahului dirinya.


Ya Tuhan tolong bantu aku jangan sampai ada Delia di kamar ... batin Rian memohon keajaiban.


Amelia tersenyum sinis ketika sudah menemukan pintu kamar no. 410, lalu dia menoleh ke arah Rian yang belum mendekat, entah kenapa langkah pria itu bagaikan siput sedangkan langkah Amelia bagaikan kelinci sangking semangatnya.


“Mas Rian lama amat jalannya, mana access cardnya?” pinta Amelia, tangan kirinya sudah menengadah.


Dengan tangan yang gemetar dan menahan napas, pria itu merogoh kantong kemejanya lalu memberikan access cardnya ke tangan Amelia.


“Makasih.”


Gadis itu bergegas membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam, namun sebelumnya gadis itu sengaja membuka lebar pintu kamar, tidak menutupnya, sedangkan Rian masih terpaku di luar pintu kamarnya, namun tak lama pria itu menyusul masuk ke dalam kamarnya.


Kedua netra Amelia langsung menelisik setiap sudut kamarnya yang tidak terlalu luas, alhasil memang tidak ada seseorang hanya saja ranjang terlihat berantakan seperti habis ada yang tidur di sana.


Sejenak Rian bisa bernapas lega ternyata Delia sudah tidak ada di kamarnya.


“Kamu sudah percayakan kalau aku tidak menyimpan wanita kan di kamar. Kamu-nya yang terlalu berpikiran negatif padaku,” tutur Rian dengan hati yang tenang, dan mulai melengkungkan senyuman bak bulan sabit di bibirnya.


Ada rasa kecewa dihati Amelia ternyata dugaannya tidak tepat dan tak terbukti, tapi kalau menurut feeling dirinya seakan ada yang mengganjal, apalagi ada bukti tanda cinta di leher Rian.


“Hem ...,” deheman saja yang keluar dari mulut gadis itu, namun kedua netranya masih mencari sesuatu. Gaya Amelia mungkin kentara sedang mencurigai Rian, sampai-sampai dia membuka lemari pakaian dan membuka kamar mandi, alhasil kembali zonk, tidak ada seorang pun didalamnya.


Wajah Rian masih betah tersenyum puas melihat tingkah Amelia yang tidak bisa membuktikan dugaan terhadap dirinya.


“Aku ke kamar mandi dulu ya, Amel,” pamit Rian, ingin membuang hajatnya yang tertunda. Amelia hanya berdehem saja, tanpa menatap pria itu.


Iseng-iseng ketika Rian berada di kamar mandi, Amelia mendekati ranjang yang terlihat berantakan. Kemudian dia menyibak selimut bed cover yang tergulung, kedua netranya menangkap ada noda basah, refleks Amel menyentuh noda yang terlihat belum mengering.


“Apa ini, kok lengket ya.” Sangking jiwanya ingin tahu, di ciumlah tangannya sendiri. “Hueek...” Amelia rasanya ingin muntah saat mencium aroma tangannya sendiri, lalu mengidikkan kedua bahunya, aroma yang tidak familiar buat gadis itu.


Maklumlah Amelia tidak tahu kalau yang di sentuh itu benih yang dikeluarkan dari senjatanya Rian yang tumpah mengenai seprai ranjang.


Masih merasa jijik dengan noda tersebut, tak sengaja dia melihat ponsel yang tersembunyi di dalam selimut. Amelia pun langsung mengambil dan mengecek ponsel tersebut, karena setahu gadis itu saat di restoran Rian membawa ponselnya, lalu ini punya siapa!


Kedua netra Amelia membulat seketika saat melihat layar ponsel tersebut, terpampang dengan nyata wallpaper ponsel tersebut memuat foto Delia bersama Rafael.


“Ini punya pelakor itu atau mantan tunangan Ayasha?” gumam Amelia penuh tanda tanya.


Untung saja layar ponselnya tidak terkunci, langsung saja gadis itu membuka galeri agar tahu siapa pemilik ponsel tersebut, dan semuanya penuh dengan foto Delia bersama Rafael.


Amelia tersenyum kecut dan menatap nanar pintu kamar mandi. “Apa hubungannya Mas Rian dengan si pelakor itu, lalu kenapa bisa ada ponselnya di sini. Lantas—.” Amelia langsung mengatup bibirnya mengingat noda basah di seprai, langsung ke pikiran jika noda itu pastinya noda habis melakukan persetubuhan Rian dengan siapa??? Apakah dengan Delia!


“Rian!” ada suara wanita terdengar, dan langkah kaki masuk ke dalam kamar.


Amelia yang masih memegang ponsel tersebut, langsung menyembunyikan dirinya dibalik celah lemari. Sedangkan Rian masih di dalam kamar mandi.


“Rian, kamu ada di mana? Kok pintu kamar di ablakkin begitu saja,” ucap wanita itu, suara derit pintu kamar tertutup pun terdengar.


Amelia  tubuhnya menegang dan mulutnya pun menganga ketika melihat wanita yang memanggil Rian calon suaminya. “Oh ternyata pelakor itu lagi,” gerutu Amelia di batinnya.


Rian yang baru saja keluar dari kamar mandi tersentak kaget melihat kehadiran Delia, lalu kedua matanya mencari keberadaan Amelia, namun tidak ada, raut wajahnya pun mulai tegang.


“Kamu ngapain di sini, bukannya tadi kamu tidak ada disini?” tanya Rian, kedua netranya masih melirik ke semua sudut berharap memang tidak ada Amelia.


“Ponselku ketinggalan makanya aku ke sini lagi,” jawab Delia, sembari mencari-cari ponselnya.


“Kamu tadi waktu masuk ke kamar tidak ketemu dengan calon istriku kan?” tanya Rian.


“Gak ada, waktu aku masuk ke kamar tidak ada siapa-siapa. Memangnya kamu ajak dia ke sini, wah jangan-jangan kamu mau ajak main di ranjang ya. Memang kamu kurang puas apa ... habis main tiga ronde barusan denganku,” gerutu Delia terdengar kesal, sembari membuka kedua pahanya lebar-lebar di hadapan Rian.


Dibalik lemari, Amelia menajamkan kedua netranya, sudut bibirnya pun naik ke atas, tangannya pun terkepal dengan eratnya. Sudah tak tahan lagi bersembunyi, gadis itu pun keluar dari balik lemari.


“PROK ... PROK ... PROK”


Tepuk tangan menggema dari kedua tangan Amelia. “Wow luar biasa, ayo Mbak dibuka lagi kedua pahanya lebar-lebar biar mantap jualannya!” tegur Amelia.


Sontak Rian dan Delia terkejut dengan keberadaan Amelia.


“Amel ...”


“Kenapa Mas Rian ... wajahnya gak usah pakai kaget begitu dong, benarkan dugaan aku kalau Mas Rian ada main dengan wanita lain,” ucap sinis Amelia.


Amelia mengikis jaraknya dengan Delia, lalu menatap Delia yang sudah berdiri di samping Rian. Gadis itu berdecak kesal melihat wajah Delia. “Kayaknya mbak ini hiperse ks ya, tidak cukup dengan satu pria, atau jangan-jangan mbak lagi jual diri dengan Mas Rian. Bukankah Mbak ini istrinya om Rafael ya ... yang namanya Delia, kerjanya sekretaris Om Rafael!” ejek Amelia.


Delia masih diam terpaku dan juga kaget kenapa gadis itu menyebutkan nama Om Rafael, namun tangan kiri Amelia sudah mengusap rambut panjang Delia yang tergerai itu.


Gadis itu tersenyum smirk


 Bersambung ..... ayo kira-kira Amel mau ngapain coba???