
Mama Rara tidak tega melihat keadaan Rafael berlama-lama di ruang ICU, amat sangat menyayatkan hati seorang ibu namun harus menerima keadaan yang menimpa putra sulungnya. Usai menatap sendu wajah anaknya lalu mendoakan demi keselamatan serta kesembuhan, wanita paruh baya itu memilih untuk keluar dari ruang ICU.
Ternyata semua orang yang berada di luar ruang ICU sedang memeluk Ayasha yang duduk di atas kursi roda, satu persatu memanjatkan rasa syukur dengan keadaan Ayasha yang selamat namun dibaliknya terdengar rasa sedih yang masih menyelimuti keluarga Rafael.
Mama Rara yang baru saja keluar dari ruang ICU pun menghampiri Ayasha dan memaksakan diri untuk tersenyum dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
“Alhamdulillah, kamu sudah mulai pulih,” ucap Mama Rara penuh dengan rasa kesedihan saat memeluk calon menantunya. Ayasha tak sanggup berkata-kata, karena sesampainya dia di ruang ICU, matanya sudah tertuju pada pria yang berbaring di dalam sana. Hati gadis itu ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya, sanggupkah dia melihat keadaan calon suaminya, pria yang sudah menyelamatkan dia dari maut, yang seharusnya dialah yang terbaring tak sadarkan diri di sana.
Larissa yang turut kembali datang ke rumah sakit bersama Valerie, melihat Ayasha datang gadis kecil itu pun menghampirinya.
“Tante cantik,” sapa gadis cantik itu sembari mengulas senyum indahnya di wajah mungilnya.
Mama Rara yang masih memeluk Ayasha, melerai pelukannya sembari mengusap kedua netranya yang sedari tadi basah. Ayasha tersenyum tipis pada gadis kecil yang belum dia kenal, namun saat melihat Larissa seperti melihat dirinya waktu masih kecil.
“Kenalkan Ayasha, ini Larissa anaknya Valerie,” kata Mama Rara memperkenalkan Larissa.
Gadis cantik itu tanpa malu-malu mengecup pipi Ayasha. “Tante cantik, kenalkan aku Larissa,” sapa Larissa, sikapnya begitu manis.
Ayasha mengusap rambut panjang Larissa. “Kenalkan juga aku Ayasha, sayang,” jawab Ayasha, gaya bicaranya mengikuti tingkah Larissa yang masih anak-anak.
Larissa menatap dalam wajah Ayasha seperti melihat ada sesuatu, kemudian tangan mungilnya menyentuh tangan Ayasha. “Tante cantik sudah ditunggu sama uncle. Nanti kalau ketemu sama uncle ajak uncle pulang ya, suruh jangan lama-lama perginya,” pinta Larissa.
Ayasha terhenyak mendengar kata-kata Larissa, namun dia menganggukkan kepalanya, paham yang dimaksud oleh gadis kecil itu.
“Uncle sudah merindukan Tante. Uncle sangat mencintai Tante,” kata Larissa kembali.
Bolehkah kali ini Ayasha menangis kembali, buliran bening itu kembali jatuh dari ujung ekor matanya. Bibirnya sudah bergetar, susah untuk berkata-kata lagi, rasanya beban yang dia hadapi sangat berat, lebih dari rasa saat dikhianati oleh Rafael saat itu, karena ini menyangkut hidup dan matinya Rafael.
Ayasha menarik napasnya dalam, dan membiarkan air matanya jatuh membasahi pipinya. Salah satu perawat sudah kembali dan tibalah gadis itu untuk masuk ke ruang ICU.
Wangi disinfektan, obat-obatan, suhu ruangan yang dingin amat terasa ketika Ayasha masuk ke dalam ruang ICU. Degup jantungnya pun amat cepat iramanya, kursi roda yang di dorong oleh sang perawat semakin mendekat ke ranjang Rafael.
Tatapan mata Ayasha yang sudah basah dengan air mata, semakin deras berjatuhan buliran bening itu setelah melihat kondisi Rafael secara dekat. Perawat yang mengantar Ayasha meninggalkannya demi privasi keluarga pasiennya.
Tak kuasa sudah gadis itu menangis sesenggukan, hatinya benar-benar sedih dan hancur seketika. Dan di waktu bersamaan gadis itu menyentuh tangan Rafael.
“Om Rafa ...,” Lidahnya terasa keluh ketika ingin berkata-kata, yang ada gadis itu menelungkupkan wajahnya di atas tangan pria itu hingga tangan Rafael basah kena air matanya.
Sejenak dalam waktu beberapa menit ruang ICU terdengar suara isak tangis Ayasha, setegar-tegarnya orang jika sudah berada di ruang ICU, pasti akan rapuh melihat kondisi pasien apalagi jika pasien itu keluarga sendiri.
“A-aku tak sanggup melihatmu, Om,” kata Ayasha dalam isak tangisnya.
Tangannya mulai menyentuh rahang pria itu lalu mengusapnya dengan lembut. “Om, apakah sekarang Om sedang menyiksa hatiku, apakah Om sekarang sedang membalas ku karena pergi jauh tanpa memberi kabar sama Om... hem,” gumam Ayasha, seolah-olah mengajak bicara kepada pria yang masih betah memejamkan kedua netranya.
Gadis itu mencondongkan dirinya agar lebih dekat dengan wajah pria itu lalu mengecup pipi Rafael dengan lembutnya. “Bangunlah Om Rafael, katanya ingin menikahiku, menua denganku, tapi kenapa masih betah memejamkan matamu. Apa Om bohong padaku, Om tidak cinta samaku?” tanya Ayasha sendiri.
Ayasha menaruh wajahnya di samping wajah pria itu, kemudian dia kembali mengecup pipi Rafael, sembari mengusap rahang pria itu yang sudah ditumbuhi oleh bulu-bulu halus.
“Om ... dengar tidak dengan suaraku? Rindu kah denganku, Om? Kapan Om akan bangun, apa perlu aku menikah dengan Kak Darial agar Om mau membuka matanya,” bisik Ayasha pas di daun telinga pria itu, terdengar agak mengancam.
Tanpa sepengetahuan Ayasha, tangan kiri Rafael mulai bergerak.
Ayasha mengusap air matanya kembali. “Kalau Om memang berniat ingin meninggalkan aku, baiklah! Aku akan menikah dengan Kak Darial aja, tidak jadi menikah dengan Om Rafael,” gumam Ayasha sendiri, kini kedua tangan Rafael yang mulai bergerak, tapi Ayasha tidak melihatnya.Tapi suara monitor detak jantung Rafael terdengar amat cepat.
Ayasha menarik wajahnya, lalu menarik napasnya dalam-dalam ketika menatap kembali calon suaminya. “Aku sangat mencintai Om Rafael, tapi Om Rafael berniat ingin meninggalkanku. Om Rafael jahat! Kalau begitu jangan pernah Om bilang cinta sama aku, jangan melamar aku! Kalau begitu besok aku menikah sama Kak Darial aja, jika Om Rafael benar-benar ingin pergi jauh!” teriak Ayasha sembari menangis, dan menahan rasa sesak di dadanya.
Kedua bola mata Rafael terlihat bergerak ke kanan – ke kiri walau dalam keadaan terpejam.
“OM RAFAEL JAHAT! Besok aku akan menikah saja dengan Kak Darial!” teriak Ayasha frustasi.
Terbukalah kedua mata pria itu, tubuh Ayasha pun tiba-tiba bergetar melihat kedua mata Rafael terbuka, Dokter jaga ICU yang kebetulan melihat, langsung masuk ke ruang ICU bersama perawat.
Kedua bola mata pria itu terlihat iris matanya tertuju kepada Ayasha, dan tiba-tiba saja kedua bola mata pria itu berkaca-kaca.
“O-Om Rafael,” panggil Ayasha pelan.
“Sebentar ya Mbak, pasien akan kami cek terlebih dahulu keadaannya,” pinta Dokter yang bertugas.
Ayasha menurut dan kembali duduk di kursi roda, lalu sang perawat membawanya ke luar ruangan terlebih dahulu. Semua orang yang melihat dari luar jendela, tampak menangis terharu, dan menanti kabar baik.
Benar dugaan Larissa, jika tante cantiknyalah yang mampu membawa uncle nya kembali dari perjalanannya.
Mama Rara dan Papa Stevan langsung memeluk calon menantunya dan sama-sama menangis haru, setelah melihat keajaiban datang, Rafael sudah terbangun dari komanya.
bersambung ...