FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Extra Part - Hubby



Sehubungan acara pernikahan dadakan antara Ayasha dan Rafael di ruang HCU atas izin Dokter dan pihak rumah sakit tanpa mengurangi kode etik dalam penanganan pasien, hanya satu jam diperbolehkan beberapa orang berada di ruang HCU, lalu untuk selanjutnya acara dilanjutkan di luar ruang HCU.


Prasmanan makanan yang sudah tertata rapi di luar ruang HCU disajikan untuk para Dokter dan perawat rumah sakit, serta beberapa keluarga pasien HCU yang sedang menunggu pasien dan juga karyawan hotel yang turut hadir, acara makan bersama pun berlangsung tertib tidak menimbulkan kebisingan.


Jika di luar ruang HCU ada acara makan bersama sebagai tanda berbagi kebahagiaan dari kedua mempelai, sedangkan di dalam ruangan hanya ada Rafael dan Ayasha yang sedari tadi tersenyum bahagia.


“Sekarang Om Rafael sudah waktunya istirahat ya biar cepat pulih, dan aku harus kembali ke kamar,” kata Ayasha, jemari tangannya masih bertautan dengan jemari pria itu.


“Sayang, kamu kok masih panggil Om, aku'kan suami kamu,” tegur Rafael.


Alis mata Ayasha naik sebelah. “Eeh iya ya, habis sudah kebiasaan panggil Om dari kecil, jadi sekarang Om mau dipanggilnya apa sekarang?” tanya Ayasha.


Iris mata Rafael terlihat ke atas sedang memikirkan sesuatu. “Panggil sayang, suamiku, mas, atau kakak juga boleh, asal jangan Om lagi,” jawab Rafael.


“Mmm ... bagaimana kalau aku panggil hubby saja, boleh gak?” tawar Ayasha, dengan mengerlingkan kedua netranya.


“Hubby, sangat boleh dong.” Rafael menyetujui sambil mengecup tangan Ayasha berulang kali.


“Ya sudah sekarang hubby istirahat ya, biar besok bisa pindah ke ruang rawat inap kalau hasil pemeriksaan hubby bagus,” pinta Ayasha dengan lembutnya membujuk suaminya, yang sedari tadi masih menahan dirinya untuk tidak meninggalkan nya seorang diri di ruang HCU, untuk saja Dokter jaga masih mengijin kan Ayasha untuk ada disana.


“Tapi sayang, kita kan baru nikah, masa langsung pisah,” rengek Rafael.


“Hubby, bukan nya pisah, kita masih satu rumah sakit, tapi berbeda ruangan. Kalau aku'kan juga masih dalam pemulihan harus cepat sehat, biar bisa ngurus hubby, jadi paham ya. Dan gak enak sama keluarga pasien yang lain jika terlalu lama di dalam ruangan walau kita dapat izin dari Dokter,” imbuh Ayasha.


“Ya sudah, cium aku dulu baru keluar,” pinta Rafael dengan manjanya.


Ayasha geleng-geleng kepala mendengar permintaan. “Lagi sakit, masih ada ingat sama yang mesum-mesum,” celetuk Ayasha.


“Sayang, ayo,” rengek Rafael, kok jadi manja ya.


Demi bakti pertama jadi istri, Ayasha mengecup pipi suaminya, sedangkan bibirnya sengaja dia lewatkan soalnya berpapasan dengan perawat yang masuk untuk meminta Ayasha beristirahat dan minum obat.


“I love you, istriku.”


“I love you to, suamiku,” jawab Ayasha sembari melambaikan tangannya ketika sudah berada diambang pintu.


Lena dan Amelia ikut mengantar Ayasha ke kamarnya sekalian membawa beberapa makanan dari prasmanan.


...----------------...


Ruang Kamar


Ayasha sudah kembali ke kamarnya, kali ini ditemani oleh kedua temannya, sedangkan kedua orang tuanya masih berada di luar ruang HCU menemani kedua orang tua Rafael.


Sekarang Ayasha sudah berbaring kembali di atas ranjang nya.


“Selamat ya Ayasha, akhirnya nikah juga sama Om Rafael,” ucap Amelia, gadis itu duduk di tepi ranjang.


“Alhamdulillah, habis ini giliran lo sama Pak Satya nyusul nikah,” sahut Ayasha.


“Aamiin semoga di segera kan,” jawab Amelia.


Lena menarik salah satu kursi dan meletakkan kursi tersebut dekat dengan ranjang kemudian duduk di kursi tersebut. “Aku bersyukur akhirnya kamu sama Pak Rafael menikah juga, setelah mengalami hal yang mengerikan itu dan alhamdulillah kalian berdua selamat,” ucap Lena suaranya terdengar serak sepertu menahan untuk tidak menangis, kedua netranya mulai berkaca-kaca mengingat kejadian kemarin yang begitu cepatnya pas di depan matanya sendiri.


Amelia yang kebetulan posisinya ditengah-tengah, mengusap lembut bahu Lena yang mulai mengusap air matanya. Mata Ayasha jadi ikutan berkaca-kaca saat melihat Lena, apalagi dialah yang turut mengalaminya.


“Dan Aya, kamu tahu siapa pelaku yang sengaja menabrak kamu dengan Pak Rafael?” lanjut kata Lena, sambil menatap wajah teman kerjanya.


Ayasha menggelengkan kepalanya, tanda dia tidak tahu karena sampai detik ini dia belum dapat cerita lebih lanjut tentang kejadian kecelakaan yang menimpa dirinya dengan suaminya baik dari kedua orang tuanya maupun dari Amelia. Yang ada dipikirannya adalah ada mobil yang melintas dengan cepat lalu tak sempat mengerem saat dia masih ada di tengah jalan.


“Mobil yang menabrak kamu dengan Pak Rafael, dikemudikan oleh Delia, dan selain kalian berdua yang ditabrak ada satu orang yang sempat melindungi kamu, namanya Ibra dia dirawat di rumah sakit ini juga,” ucap Lena.


“A-apa Delia! Delia yang sengaja menabrak aku dengan Om Rafael!” terkejut Ayasha.


“Iya benar apa yang diceritakan oleh Lena,” timpal Amelia.


“Dan naasnya setelah menabrak kalian berdua, dia menabrak truk semen yang berlawanan arah, dan kamu tahu wanita iblis itu kedua kakinya sudah diamputasi karena kedua kakinya sudah hancur terjepit mobil,” lanjut kata Lena.


“HAH ... diamputasi!” kembali lagi Ayasha dibuat terkejut.


“Kamu tahu dari mana kalau kakinya Delia di amputasi?” sekarang giliran Ayasha yang bertanya pada Lena.


“Dokter bedah yang kasih tahu ke kita semua, Amel juga tahu, soalnya waktu mau di operasi butuh persetujuan dari wali jadi terpaksa orang tua Pak Rafael yang menandatangani nya. Keluarganya Delia aja sampai detik ini tidak bisa kita hubungi, keburu modar tuh orang kalau kakinya tidak di operasi kata Dokter,” jawab Lena bernada kesal.


“Seharusnya tuh Delia dibuat modar aja sekalian! Emang gak punya otak, dasar setan!” timpal Amelia terbawa emosi.


Ayasha menghela napas panjangnya, sembari memijit pangkal hidungnya efek dari rasa pusing yang datang mendadak karena Delia.


“Lena, tapi kamu tahu siapa yang nama Ibra itu?” tanya Ayasha.


“Aku belum menemui pria yang nama Ibra itu, mungkin nanti aku minta temani sama Amel dan Pak Satya untuk menemuinya. Soalnya aku agak curiga kenapa dia mau mengorbankan dirinya buat kamu, Aya.”


“Kalau sempat aku minta tolong juga Len, cari tahu tentang Ibra. Dan masalah Delia akan aku bicarakan sama suamiku.”


“Cie ... Cie .... udah ada yang sebut suamiku nih,” goda Amelia dan Lena serempak.


Wajah Ayasha mulai merah merona menahan rasa malunya, lalu menepuk lengan Amelia. “Apaan sih, aku kan jadi malu,” jawab Ayasha.


Disela menggoda pengantin baru, Amelia kembali menetas kan air mata kebahagiaan buat sahabatnya yang dia kenal dari kelas 1 SMU, suka duka sudah mereka lalui bersama selama delapan tahun.


Kesedihan, hancurnya hati Ayasha sangat dia ketahui, dan Amelia lah sahabat yang selalu ada untuk Ayasha, begitu juga dengan Ayasha selalu ada untuk Amelia.


Musibah yang menghampiri sahabatnya tetap ada kebahagiaan yang menyelimuti kesedihan itu, air mata yang jatuh karena kesakitan sekarang tergantikan dengan air mata kebahagiaan.


Seyogianya musibah yang datang bisa jadi salah satu penggugur dosa-dosa kita selama ini, dan musibah tak selamanya membawa kesedihan, karena Allah pasti akan memberikan kebahagiaan buat umatnya yang selalu taat dalam beribadah, namun berbeda dengan umat yang jauh dari ajaranNya, musibah menjadi hukuman buat umatNya tersebut jika dia belum juga bertobat.


 


Bersambung ...


 


Spesial request dari Kakak Readers semuanya ya karena banyak yang minta lanjut, jadi kita mulai extra part kisah Ayasha dan Rafael, jangan lupa selalu temani ya, sampai benar-benar TAMAT 😁😁