
Pertemuanmu dengan seseorang dalam hidupmu sudah dalam rancangan Allah. Mungkin akhirnya tidak jadi satu tapi bersyukurlah karena pernah saling mengenal.
Ada yang Allah ingin kamu pelajari dari mereka, tentang hidup, tentang menghargai, tentang kepercayaan, tentang cinta dan mungkin rasa sakit, karena semua yang terjadi di dunia ini bukan tanpa alasan. Allah ingin kamu belajar, Allah ingin kamu lebih kuat menghadapi rintangan dalam hidup ini.
Dua manusia di kamar yang berbeda, sama-sama menatap ke arah jendela dari atas ranjangnya masing-masing, sinar matahari yang terik di luar sana menyinari wajah mereka melalui jendela yang tirainya terbuka lebar. Apa yang mereka pikirkan saat ini? Yang jelas mereka larut dengan pemikirannya masing-masing.
Kedua netra Rafael masih terlihat kosong, seakan apa yang dilihatnya tak ada yang mengunggah hatinya. Sedangkan Ayasha menatap sendu sinar matahari yang menyinari wajahnya, kemudian sedikit menarik sudut bibirnya, senyum pilu mengingat perkataan mama Rara yang baru saja menemuinya.
Jika saat itu kamu mampu menegarkan hati sendiri, ternyata Rafael tak mampu menguasai hatinya sendiri, Ayasha.
Air mata mengalir begitu saja dari kedua netra wanita paruh baya itu, membuat hati Ayasha pilu.
Mungkin yang sekarang Rafael rasakan adalah karma buatnya yang telah menyakitimu dulu. Aya ... bolehkah Mama meminta sesuatu darimu?
Minta apa Mah?
Maafkan Rafael dari hatimu yang paling dalam dengan ketulusan hatimu, agar Rafael bisa lebih tenang menerima kenyataan yang dihadapinya sekarang.
Begitulah permintaan mama Rara darinya yang menjadi pikirannya saat ini, bukankah dia sudah memaafkan, apakah masih belum tulus dia memaafkan pria itu. Lalu kenapa kejadian saat ini seakan penyebabnya dia bukan Delia.
Ayasha mendesah, kemudian bangkit dari pembaringannya lalu mengambil kantong infusnya dari tiang namun sebelumnya menghentikan alirannya terlebih dahulu.
Langkah kakinya mulai menjejaki lantai marmer, kemudian keluar dari kamarnya. Sejenak dia menghentikan langkah kakinya lalu kedua netranya menatap pintu kamar sebelah yang tertutup itu.
Entah dapat dorongan dari mana gadis itu memutar kenop pintu kamar sebelah, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. Rafael terlihat meringkuk di atas ranjangnya menghadap arah ke jendela, hingga Ayasha tidak bisa melihat kondisi wajah Rafael saat ini.
“Pak Rafael ...,” sapa Ayasha begitu pelan sebelum melangkahkan kakinya lebih jauh lagi.
Belum ada jawaban dari pria itu, membuat Ayasha memutuskan untuk mendekati ranjang Rafael.
Ayasha tercenung melihat kondisi kedua tangan pria itu yang sudah dibalut perban, sama sekali tak menduga, ditambah dengan sorot mata Rafael yang mengarah ke jendela kamar.
“Pak Rafael ...,” kembali Ayasha menyapa, namun pria itu masih bergeming dan tidak menoleh ke arahnya. Di rasa tidak ada pergerakan, gadis itu duduk di tepi ranjang kemudian menatap wajah pria itu.
“Om Rafael,” panggil Ayasha.
Perlahan namun pasti pria itu menoleh dan menatap wajah gadis itu dengan tatapan kosongnya.
Kamu suka denganku, Aya?
Bohong jika ada perempuan yang tidak tertarik dengan pria seperti Om, yang ganteng, gagah dan kaya. Namun pertanyaan itu sudah tak ada gunanya untuk dijawab.
Penggalan cerita masa lalu kembali berputar di otak Rafael. Pertanyaan dia yang dijawab dengan kalimat kiasan.
Ayasha dan Rafael saling bersitatap dengan posisi yang berbeda. Tangan yang dibalut perban itu ingin menggapai tangan gadis itu namun jaraknya tak bisa membuat dia meraihnya. Melihat hal seperti itu, Ayasha mengulurkan tangannya agar Rafael bisa menyentuhnya.
“Mengapa Pak Rafael menyakiti diri sendiri seperti ini?” tanya Ayasha begitu lembutnya.
“Sakit bukan jika rasanya dikhianati oleh seseorang yang kita cintai, apalagi dengan orang pilihan sendiri?” kembali berkata Ayasha dengan tatapan teduhnya. Pikiran Rafael kembali menerawang ke masa lalu, begitu teganya dia menyakiti gadis yang kini duduk di hadapannya.
“Tapi tenang saja Pak Rafael, sakit yang sekarang dirasakan pelan namun pasti akan terobati dengan seiringnya waktu berjalan. Semuanya pasti bisa kita lewati dengan baik walau saat ini hati hancur tak terkira,” imbuh Ayasha, sembari memaling wajahnya dari tatapan Rafael, lalu menatap ke arah jendala besar dan menghembuskan napas panjangnya.
“Rasa sakit hadir di hati agar kita tahu akan perasaan kita sendiri, jika hati kita sebenarnya sudah terpaut dengannya. Luka yang menimpa kita, agar tahu jika tak terluka itu sangat menyenangkan ketimbang tersayat luka yang begitu perihnya. Hidup tak selamanya bahagia karena dengan hadirnya kesedihan maka kita tahu hakikatnya sebuah kebahagiaan,” imbuh Ayasha tanpa menatap Rafael.
Tanpa melepas tangan Ayasha, pria itu bangkit dari pembaringannya lalu ikut duduk di samping gadis itu, tatapan kosongnya berubah menjadi redup hilang tenggelam dalam kesedihannya.
“Aku baru tahu jika mencintai seseorang itu bukan saja membahagiakan tapi menyakitkan,” ucap Rafael lirih.
Ayasha langsung menoleh ke samping di saat mendengar suara Rafael. “Dia tersenyum manis dengan pria lain, dia bertutur lembut ketika berkata dengan pria itu, kedua matanya pun tampak berbinar-binar saat menatap pria itu, dan hal itu sangat jauh berbeda saat bersamaku. Ternyata sangat menyakitkan melihatnya, Aya,” imbuh Rafael.
Ayasha tersenyum tipis. “Mungkin ada hal yang membuat dia tertarik dengan pria itu, Pak Rafael. Dan karena hal itukah Pak Rafael cemburu buta dengan mbak Delia? Sampai melukai diri sendiri seperti ini, kemudian memecahkan semua barang yang ada dikamar ini, hingga Mama Rara khawatir?” cecar Ayasha dengan tatapan menyelidik nya.
Rafael terdiam namun menatap lekat gadis cantik itu, kemudian kembali mengusap tangan gadis itu.
“Aku baru kali ini merasakan cinta yang sebenarnya, cinta yang mampu membuatku emosi, cinta yang begitu dalam ... namun sayangnya aku terlambat menyadarinya,” kata Rafael pelan.
“Cinta jika sudah dikhianati sebaiknya tidak perlu dipertahankan karena sudah tidak ada kejujuran dalam menjalin hubungan. Bukankah hubungan itu harus dilandasi dengan sebuah kejujuran, bukan hanya ucapan cinta semata namun harus seiringan dengan perbuatan,” ucap Ayasha.
Rafael hanya menatapnya ...
“Sekarang belajarlah melupakan mbak Delia walau Pak Rafael sangat mencintainya. Kelak insya Allah Pak Rafael akan menemukan pasangan yang lebih baik dari mbak Delia,” lanjut kata Ayasha, sembari memalingkan wajahnya dari tatapan Rafael.
Pria itu sudah tak tahan lagi, dicondongkan dirinya agar lebih dekat dengan Ayasha, kemudian ...
CUP
Sontak Ayasha dibuat terkejut atas apa yang dirasakan di pipi sebelah kanannya, hingga dia menoleh ke samping dan akhirnya bibirnya dengan bibir Rafael sudah menempel dengan sempurnanya.
Jantung Ayasha berdegup cepat, begitu pula dengan degup jantung Rafael, pria itu tak peduli jika akhirnya gadis itu akan marah padanya, yang ada saat ini pria itu ingin mengungkapkan isi hatinya.
Kedua tangannya yang terluka, salah satunya menarik pinggang gadis itu agar semakin dekat, dan salah satunya meraih tengkuk gadis itu, agar gadis itu tak menarik wajahnya dari wajah pria itu.
bersambung .... berpisah untuk selamanya?
Kakak readers jangan lupa jejaknya ya, plus mau dong VOTE nya buat Ayasha. Makasih sebelumnya 🙏
Lope Lope sekebon 🌹🌹🌹🌹