
Malam semakin larut, namun Rafael dan Satya masih terjaga. Seperti saat ini Satya menemani Dokter untuk memeriksa keadaan Delia atas perintah Rafael, bukan atas dasar cinta namun atas dasar kemanusiawiannya. Lagi pula berulang kali Satya menanyakan perihal keadaan Delia yang belum diperiksa oleh Dokter.
Delia merintih kesakitan waktu diobati oleh Dokter, khusus bagian kepala, wajah rasanya sakit sekali, apalagi bagian hidungnya.
“Sepertinya hidung Mbaknya mengalami patah tulang, sebaiknya besok dibawa ke rumah sakit. Untuk sementara hidungnya jangan disentuh,” ujar Dokter.
Menahan rasa sakitnya, wanita itu membulatkan kedua matanya menatap Satya yang berdiri tak jauh dari ranjangnya.
“Mas Satya, mana Mas Rafael ... kenapa dia tidak ke sini?” tanya Delia.
Satya melangkah kakinya maju sebanyak tiga langkah. “Memangnya harus Pak Rafael datang ke sini untuk menemuimu setelah apa yang telah kamu lakukan, sepertinya setelah kamu diberi pelajaran oleh Ayasha, otakmu jadi amnesia!” sentak Satya.
Dokter yang sedang menangani Delia hanya menyimak saja.
“Masih untung Pak Rafael meminta dokter untuk mengecek keadaanmu! Saya ingatkan Delia, kamu sudah diputusi oleh Pak Rafael karena ulahmu sendiri. Jadi jangan banyak tingkah!”
Lagi lagi Delia menajamkan kedua netranya. “Ingat Satya, aku tidak terima diputusi oleh Mas Rafael, sampai kapanpun Mas Rafael harus bertanggungjawab denganku!” balas bentak Delia.
Satya menyeringai tipis. “Bermimpilah terus kamu sampai ke atas awan, tapi jangan lupa kamu harus menyiapkan parasut agar tidak terlalu sakit saat kamu terjatuh! Ingatlah Delia tidak selamanya apa yang kamu impikan akan tercapai, apalagi jika kamu melakukan dengan hal yang tidak baik. Cepatlah sadar diri dan bertobat sebelum terlambat!” tutur Satya.
Delia berdecak kesal. “Ck ... gak usah pakai nasehati aku, kayak orang sok baik aja!”
“Menasehati orang tidak mesti dari orang baik saja, selama orang itu otaknya waras, apa salahnya untuk mengingati akan hal kebaikan.”
Wanita yang dinasihati membuang mukanya dengan hati yang terasa jengkel.
“Dokter jika sudah selesai bisa menemui saya kembali di kamar Pak Rafael,” ucap Satya, malas berlama-lama berada di kamar Delia.
“Baik Pak Satya.”
Awas saja kalian semua akan aku balas rasa sakit ini, terutama Ayasha! Dan Mas Rafael tunggulah kamu akan kembali tertunduk padaku seperti dulu lagi ... batin
Namun teringat ponselnya tidak ada ditangannya, wanita itu terlihat kesal. Bagaimana mau hubungi Ibu, semoga saja tuh dukun sudah ritual untuk memelet Mas Rafael kembali.
...----------------...
Rafael merebahkan dirinya diatas ranjang yang ada dikamar sebelah, sudah berulang kali dia memutar balik posisi tidurnya namun tak bisa juga memejamkan kedua netranya, padahal waktu sudah menunjukkan jam 00.30 wib. Terpaksa dia memilih untuk keluar kamar.
Ketika Rafael keluar kamar, dia mendapati Satya sedang merebahkan dirinya di atas sofa panjang.
“Satya, kamu kok gak istirahat di kamar sendiri?” tanya Rafael, agak heran, sembari menggoyangkan bahu Satya.
Untung saja Satya belum terlalu pulas tidur, “oh anu Pak Rafael, di dalam kamar kan ada dua wanita, kalau Pak Rafael sendirian ... apa kata karyawan bapak di sini, makanya saya temenin Pak Rafael di sini biar gak sendirian dan tidak ada gunjingan,” dusta Satya, padahal sebenarnya karena ada Amelia makanya dia ada di sana, aji mumpung.
Rafael hanya manggut-manggut saja. “Pak Rafael belum tidur?” tanya Satya sembari ganti posisi dari rebahan menjadi duduk.
“Saya tidak bisa tidur.”
Satya bangkit dari duduknya kemudian menuang air mineral dari mama Rara yang ada dimeja makan. “Diminum dulu Pak Rafael, siapa tahu susah tidur karena haus.”
Rafael mengambil gelas dari tangan Satya, lalu meneguknya sampai tandas. “Satya besok kamu cek cctv, cari bukti tentang Delia dengan pria itu yang katanya calon suami Amel,” pinta Rafael.
“Tadi saya sudah koordinasi dengan bagian keamanan, besok akan saya cek kembali.”
“Lukanya cukup parah, kata dokter hidung Delia patah dan butuh perawatan intensif di rumah sakit.”
Rafael sudah bisa bayangkan tentang luka seperti itu, tendangan Ayasha benar-benar bertenaga. “Tolong Kamu urus aja Delia sampai lebih baik,” pintanya. Satya hanya bisa mengangguk pelan kepalanya.
Sesaat pandangan Rafael teralihkan ke pintu kamar yang ditempati oleh Ayasha, hal itu terlihat oleh Satya.
“Gadis yang selama ini diam ternyata bisa menunjukkan taringnya, saya tidak menyangka ternyata Ayasha mampu melakukan hal yang tak pernah diduga. Padahal setahu saya waktu Pak Rafael ketahuan selingkuh dengan Delia, Ayasha tidak pernah se marah itukan?” Entah ini pujian atau sindiran buat Rafael dari Satya, namun bisa mengingatkan kembali ke kenangan yang buruk itu.
Rafael menundukkan kepalanya. “Iya saya juga tak menyangka, jika dia bisa semarah itu. Dulu dia tak se marah ini, Aya hanya diam lalu pergi begitu saja tanpa menunjukkan rasa marahnya atau sedihnya ... Apakah Aya tidak pernah mencintaiku saat itu Satya?”
Satya jadi tergelak tawa mendengar pertanyaan Rafael. “Kenapa Pak Rafael sekarang menanyakan tentang perasaan Ayasha, sedangkan dulu Pak Rafael tidak pernah mengutamakan Ayasha yang sudah jelas calon istri saat itu.”
Sejenak mereka terdiam dalam waktu beberapa menit.
“Sudahlah Pak Rafael, sebaik kita istirahat lagi pula keadaan Pak Rafael juga kurang enak badan,” pinta Satya secara halus.
Tanpa menjawab Rafael bangkit dari duduk, lalu kembali ke kamarnya dan duduk di tepi ranjangnya dengan wajah yang tertunduk lesu.
Ayasha, Aku ingin menjagamu dihatiku dan disisiku, dimana keyakinanku berada. Jika kamu tidak bisa menjadi milikku. Maka aku juga tidak akan menjadi milik siapapun.
Tidak ada yang tahu tentang masa depan kita berdua. Tidak ada yang tahu ...
Setelah berkeluh kesah dihatinya, Rafael beranjak dari duduknya lalu mengambil wudhu dikamar mandi, kemudian membentangkan sajadah untuk menunaikan sholat malamnya. Sudah terlalu lama Rafael tidak melakukan sholat tahajud namun malam ini seakan dirinya ada yang menuntun untuk kembali bersujud dan memohon kepada Sang Maha Pencipta.
Bersambung ....
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, dan jangan lupa mampir ya ke karya terbaru Badboy For Little Girl. Makasih sebelumnya