
Satu jam sebelum Ayasha pingsan...
Tubuh Mama Rara gemetar hebat dalam pelukan Papa Stevan, setelah mendapatkan kabar dari salah satu perawat yang keluar dari ruang operasi, menyodorkan surat persetujuan yang membutuhkan tanda tangan keluarga pasien, jika dokter akan melakukan tindakan CPR karena pasien mengalami penurunan detak jantung setelah operasi yang baru saja selesai, dan memberitahukan kemungkinan buruk yang akan terjadi jika CPR tidak berhasil, yaitu kematian.
Mama Nia yang masih berada dekat dengan Mama Rara, tubuhnya langsung lemas tak berdaya mendengar, ini benar-benar kabar buruk. Apa yang harus dia katakan pada Ayasha yang masih berada di ruang intensif, dengan kedua kaki yang terasa melayang Papa Tisna memapah Mama Nia untuk menemani Ayasha, dan menyiapkan hati dan tenaga untuk segala kemungkinan yang akan terjadi pada Ayasha.
CPR : Cardiopulmonary resuscitation
...----------------...
Ruang Operasi
Suara monitor detak jantung Rafael terdengar semakin lemah dan lama-lama terdengar akan menghilang. Semua perawat dan dokter yang berada di ruang operasi bergegas mengambil tindakan CPR sesuai ketentuan prosedur penyelamatan pasie.
Salah satu perawat menaruh masker oksigen pada hidung Rafael lalu memompa nya dengan salah satu tangannya, sedangkan Dokter memompa dada Rafael dengan kedua tangannya.
“Epinefri satu mililiter,” perintah Dokter yang masih memompa dada Rafael kepada salah satu perawat, untuk memberikan injeksi pada infusan Rafael. Sang perawat bergegas melaksanakan perintah sang Dokter.
Detak jantung Rafael makin melemah saat Dokter melihat layar monitor detak jantung. “Siapkan defibritator!” seru Dokter mulai cemas.
“Ada fibrilasi vertikal! Kita kejutkan pasien!” perintah Dokter pada teamnya, pria yang masih memakai baju berwarna hijau itu menarik kedua tangannya dari atas dada Rafael
Mesin pengejut jantung mulai dinyalakan, salah satu perawat terlihat mengolesi gel pada kedua alat tersebut, kemudian memberikan kedua alat kejut itu pada Dokter.
“Isi hingga 150 joule!” perintah Dokter, perawat yang bertugas langsung memutar tombol mesin keangak yang diminta sang Dokter.
“Minggir, bismilllah ... Satu, dua, tembak!” ucap Dokter ketika menempelkan kedua alat kejut ke dada Rafael, hingga tubuh pria itu terangkat sedikit.
Masih belum ada reaksi dari Rafael. “Kasih amiodaron 300 miligram, isi 200 joule!” perintah Dokter, kedua netranya sambil melirik monitor detak jantung Rafael.
Semua perawat dan dokter bekerja cepat, demi bisa menyelamatkan hidup pasien, dengan sekuat tenaga.
Jangan tinggalkan aku, Om Rafael ...
Jangan tinggalkan aku, Om Rafael ... suara teriakan Ayasha begitu terdengar memekak di telinga pria tampan itu.
Alat kejut mulai ditempelkan ke dada Rafael, tubuh pria itu kembali sedikit terangkat. Melihat belum ada perubahan detak jantung Rafael, Dokter menatap sendu ke wajah pasiennya, lalu menarik napasnya dalam-dalam, dan siap-siap menerima keadaan pasien selanjutnya.
“Sekali lagi, isi 200 joule!” perintah Dokter, sembari mengembalikan alat kejut untuk diolesi gel oleh perawat.
Kedua tangan Dokter kembali menerima alat kejut tersebut, dan perawat sudah memutar mesin ke angka yang diminta oleh Dokter.
Dalam hati sang Dokter melafadzkan doa untuk keselamatan pasiennya. “Minggir, satu, dua, tembak!” kata sang Dokter agar semua orang tidak mendekat.
Suara irama monitor detak jantung Rafael yang hampir saja tak terdengar, sekarang mulai terdengar, grafiknya juga mulai naik.
“Alhamdulillah,” ucap serempak Dokter dan perawat yang ada di ruang operasi, ada kelegaan di hati mereka setelah berjuang mengembalikan denyut jantung Rafael.
...----------------...
Ruang Intensif
Masih di dalam lorong ruangan intensif namun berbeda kamar, terbaringlah Delia yang sudah menjalankan operasi, wanita itu mulai mengerjapkan kedua netranya. Tidak ada satupun yang menemaninya, hanya perawat yang kebetulan datang untuk memeriksa keadaan pasien. Untuk saja pihak keluarga Rafael bersedia menjadi wali untuk menandatangani surat persetujuan untuk melakukan tindakan amputasi terhadap kedua kakinya, jika tidak segera ditindak maka nyawanya bisa menjadi taruhannya.
Wanita yang sudah tidak memakai masker terlihatlah wajah buruk rupanya, dia mulai teringat dengan luka yang ada di kedua kakinya. Delia mencoba menggoyangkan kakinya, tapi tidak merasakan apapun.
“Mbaknya sudah sadar?” tanya sang perawat yang datang untuk mengecek keadaan Delia.
“Suster, aku kok gak bisa merasakan kakiku ya. Aku gerakkin gak bergerak?” tanya Delia, mulai agak cemas.
Perawat melihat keadaan Delia yang seorang diri, tidak ada yang menemaninya, lalu melihat bagian pinggang Delia yang tertutup dengan selimut. “Tunggu sebentar ya Mbak, saya akan panggilkan Dokter yang menangani Mbaknya, biar dijelaskan,” jawab perawat sebelum keluar dari kamar.
Delia hanya menjawab iya, tapi hatinya penasaran untuk membuka selimut yang menutupi bagian pinggang ke bawahnya. Merasa lama menunggu kedatangan Dokter, disibaklah selimutnya dan melihat ada apa dengan kedua kakinya.
“TIIDAAAAAAAKKK, MANA KAKIKU!” teriak Delia sekencang-kencangnya.
Dokter dan perawat yang baru saja ingin mendatangi kamar Delia, langsung berlarian setelah mendengar teriakan Delia.
Delia tampak teriak histeris, sembari memukul kedua pahanya dalam pembaringannya.
“Mbak, sabar Mbak,” kata perawat berusaha menenangi Delia.
“KEMANA KEDUA KAKIKU DOKTER!” teriak Delia dengan kedua sorot matanya yang menajam namun terlihat berembun.
“KEMBALIKAN KEDUA KAKIKU! AKU TIDAK RELA KEHILANGAN KEDUA KAKI! KALIAN SEMUA BENAR-BENAR BEJAT!” teriak maki Delia bagaikan setan.
Dokter pria itu terlihat tenang saat mendekati brankar Delia. “Kedua kaki Mbak, sudah hancur saat dibawa ke rumah sakit, karena kecelakaan mobil tersebut. Demi menyelamatkan nyawa Mbak, kami pihak dokter memutuskan mengambil tindakan harus mengamputasi kedua kaki sampai bagian atas lutut,” tutur sang Dokter.
Wajah Delia masih terlihat memerah karena marah namun hatinya juga terasa sakit setelah mengetahui kehilangan kedua kakinya.
“SIALAN, DOKTER BEJAT!” umpat Delia masih belum terima keadaannya.
Pria paruh baya itu tersenyum melihat wanita berwajah buruk rupa. “Oh iya Mbak, saya ingin sekalian informasikan jika nanti akan ada pihak polisi yang akan menemui Mbaknya. Menurut kabar terbaru mobil yang Mbak kendarai sengaja menabrak orang, terlihat dari CCTV salah satu gedung yang merekam kejadian tersebut,” tutur sang Dokter begitu tenangnya.
Sontak saja raut wajah Delia berubah menjadi tegang dan tubuhnya kaku. Dokter mengulas senyum tipisnya, lalu meminta perawatnya untuk memberikan injeksi obat penenang.
Pihak polisi bergerak cepat dalam penyelidikan kecelakaan yang terjadi, apalagi ada beberapa saksi, berbekal info dari saksi, pihak polisi mencari rekaman CCTV untuk memperkuat mana yang korban mana yang pelaku!
Hukuman untuk Delia sudah jelas menanti, bukan hanya kehilangan kedua kakinya, tapi masa depannya sudah bisa dipastikan akan mendekam di hotel prodeo, belum lagi penyakit kanker serviks yang dia idap. Sungguh sempurna hidupmu Delia!
bersambung ...
Kakak Readers makasih masih mengikuti ceritanya Ayasha, dan makasih yang sudah kasih votenya.
Lope Lope sekebon 🌹🌹🌹🍊🍊🍊🌻🌻🌻