
Amelia terdiam sejenak sebelum menanggapi Satya yang sedang berkeluh kesah, kemudian matanya menelisik ke semua arah, lalu berhenti di sosok punggung pria dengan warna baju yang dia kenali. Tangan Amelia pun menyentuh tangan Satya yang berada di atas meja seakan memberi tanda, lalu jari telunjuknya menempel di bibirnya, seakan memberitahukan untuk berhenti berbicara, lalu menunjukkan ke arah belakang Satya.
Satya pun menengok ke belakang, dan baru paham kode dari Amelia. Cukup lama Darial memunggungi mereka berdua, namun harapan akan ingin tahunya ternyata zonk.
“Kamu mau pesan minum apa, Mel, biar saya panggilkan waiters nya?” tanya Satya mengalihkan pembicaraan tadi.
“Minum yang hangat saja Mas, menemani hari yang dingin ini,” balas Amelia dengan santainya.
Darial menarik napasnya dalam-dalam setelah berdiri tak menghasilkan, dan memilih kembali ke ruangan Almira dengan hati yang penuh tanda tanya.
Amelia bernapas lega setelah melihat pria yang dia duga Darial sudah meninggalkan coffe shop.
“Untung saja kita tidak kepanjangan cerita tentang Om Rafael dengan Ayasha,” kata Amelia.
“Ya ... untung saja mata kamu jeli kalau ada Darial di sini, kalau tidak akan tambah runyam hubungan mereka bertiga,” jawab Satya ikutan bernapas lega.
Waiters kembali menghampiri meja mereka, dan Satya memesankan minuman hangat untuk Amelia serta beberapa donuts untuk menemani mereka berbincang.
“Mel, kalau boleh tahu Ayasha cinta gak sama Darial?” tanya Satya dengan tatapan menyelidik.
“Entahlah Mas Satya, saya kan tidak bisa menyelami perasaan orang walau dia sahabat saya sendiri, tapi yang jelas Ayasha belum banyak cerita tentang hubungannya bersama Darial. Ya ... Mungkin karena baru memulai hubungan,” tutur Amelia menjelaskan.
Satya menyesap americano lattenya. “Saya sih berharap suatu hari nanti Ayasha mau menerima Pak Rafael kembali,” ucap pria itu.
Amelia menatap Satya dengan seksama. “Rasanya tidak akan mungkin Mas Satya jika Ayasha akan kembali dengan Om Rafael.”
“Kenapa kamu bilang seperti itu? Allah bisa membolak-balikkan hati seseorang, kita tak akan pernah tahu akan hal itu.”
Amelia memaksakan bibirnya untuk tersenyum tipis. “Mas Satya bukan maksud saya takabur mendahulukan kehendak Allah, tapi Ayasha pernah berucap dia tidak akan pernah kembali dengan pria yang pernah selingkuh sampai sudah berhubungan intim, walau hatinya masih mencintai. Coba bayangkan kejadian lima tahun yang lalu ... Dia melihat hubungan intim live, bukan hanya sekedar kepergok jalan di mall berduaan sambil bergandengan tangan.”
“Tapi Amel, setiap orang pasti bisa berubah menjadi lebih baik dari masa lalu yang kelam, lagi pula kita berdua tahu sebab Pak Rafael seperti itu, dia di pelet oleh Delia ... dan ini tidak murni kesalahannya 100% Pak Rafael,” bela Satya, tidak terima dengan argumen Amelia.
Amelia menautkan kedua alisnya. “Sebentar Mas, kenapa kita jadi adu debat tentang Om Rafael dan Ayasha?” Amelia bertanya dengan mengedipkan kedua matanya.
“Huft ... iya juga kenapa kita berdua jadi berdebat. Mungkin saya terlalu terbawa perasaan dengan keadaan Pak Rafael, sedih lihatnya Amel,” jawab Satya, sembari mendesah.
“Saya hanya ingin lihat Ayasha bahagia Mas, sudah cukup rasanya dia berjuang mengobati luka dihatinya. Saya juga tidak berhak mengatur dengan siapa Ayasha akan bersanding, hanya bisa mendoakan yang terbaik.”
Satya manggut-manggut kemudian kembali menyesap minumannya, begitu juga Amelia yang baru menerima minuman yang dipesan oleh Satya. Dengan masing-masing memegang gelasnya, Satya dan Amelia sama-sama menatap keluar melalui kaca besar coffe shop.
Awan hitam, kencangnya hembusan angin hingga membuat pohon terhuyung-huyung, dan derasnya air hujan yang turun, inilah yang mereka lihat saat ini. Bukankah setelah hujan deras terbitlah pelangi yang indah?
Satya dan Amelia berharap akan ada kebahagian seindah pelangi untuk orang yang mereka sayangi.
“Amel, maukah kamu menikah denganku?” tanya Satya, wajahnya tampak serius sembari menaruh cangkir minumannya ke atas meja.
Amelia yang masih menyesap minumannya langsung mematung! Kedua netranya membulat!
...----------------...
Ruang rawat
Darial telah kembali ke kamar Ayasha dengan membawa minuman yang dibelinya beserta sekotak donut. Setibanya pria itu kembali mendekati ranjang Ayasha, di mana kedua wanita yang berbeda usia itu sedang bercengkerama.
“Aya, saya belikan kamu ice hazelnut milk,” ucap Darial sembari memberikan cup minuman tersebut.
“Terima kasih Kak, seharusnya tidak perlu repot-repot membelikannya,” jawab Ayasha, sambil menerima cup tersebut.
“Gak pa-pa kok, biar moodmu menjadi lebih baik kalau minum yang manis-manis, sekalian saya juga beli donuts. Mungkin Tante mau mencobanya.” Darial membuat kotak donutsnya lalu menawarkannya kepada Mama Rara.
“Terima kasih, nanti saja Tante akan coba, mungkin Aya mau ... dia suka donuts clasicc,” balas Mama Rara.
Darial pun menyodorkan kotak donuts tersebut lalu tanpa rasa sungkan Ayasha mengambil satu donuts tanpa topping apapun. Pria itu cukup senang melihat Ayasha mau minum dan makan pemberian darinya.
Melihat Darial sudah kembali, Mama Rara kembali duduk di sofa panjang dengan alasan ingin menselonjorkan kedua kakinya yang terasa pegal.
Darial pun kembali menarik kursi dan duduk di samping sisi ranjang Ayasha. “Ayasha, bolehkah saya menanyakan sesuatu padamu?”
“Tanya apa Kak?”
“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Rafael, benarkah hanya saudara saja?” selidik Darial.
Ayasha berhenti mengunyah lalu menatap serius wajah Darial. “Hanya saudara saja, tidak ada hubungan apapun,” Ayasha menjawabnya dengan tenang.
“Saya berharap kamu tidak menutupi apapun dariku Ayasha, karena saya sempat merasa aneh dengan sikap saudaramu Rafael, saat kamu tadi kesakitan. Di depan mata saya dengan seenaknya dia memelukmu, saya merasa tidak dihargai,” ungkap Darial.
“Aku tidak menutupi apapun denganmu Kak Darial, kami berdua hanya saudara.Kakak bisa bertanya pada mamaku jika tak percaya,” jawab jujur Ayasha, karena memang tidak menjalin hubungan apapun dengan Rafael.
“Aku juga tidak suka dengan hubungan yang penuh kebohongan Kak Darial, jika Kakak meminta aku untuk selalu jujur, maka aku juga berharap Kak Darial juga tidak menutupi apapun padaku. Karena cukup sekali aku dibohongi dalam menjalin hubungan, dan itu sangatlah menyakitkan,” lanjut kata Ayasha, lembut namun terkesan tegas.
“Banyak laki-laki di luar sana mengaku masih sendiri, lajang, namun kenyataanya mereka sudah punya istri dan anak, atau baru bertunangan. Bukankah ini bentuk pengkhianatan? Dan aku tak akan bisa menoleransi jika menemui laki-laki seperti itu, aku harap Kak Darial tidak seperti itu.”
Sejenak perkataan Ayasha seakan menyentil Darial, namun pria itu dengan cepatnya merubah raut wajahnya terlihat baik-baik saja, lalu menggenggam tangan gadis itu lalu mengecup punggung tangan gadis itu. “Saya berani sumpah, saya tidak termasuk pria seperti itu. Justru saya berharap hubungan kita serius menuju jenjang selanjutnya. Kamu kan tahu usia saya tak muda lagi, dan sudah waktunya memiliki istri dan anak-anak yang lucu-lucu. Saya berharap wanita yang menjadi istri saya adalah kamu,” tutur Darial dengan wajah yang sangat serius serta tatapannya yang begitu mendamba.
Kamu harus menjadi milikku Ayasha, saya sudah lama mengincarmu, semenjak saya melihat kamu pertama kali kerja di hotel Inna Garuda, persetan dengan Rafael yang kamu bilang saudara, karena saya bisa melihat jika pria itu sangat mencintaimu dari sorot matanya yang kulihat saat kita bertemu di coffe shop hotel, di tambah lagi kejadian barusan.
Saya akan berusaha membuatmu menjadi milikku seutuhnya!
bersambung ....