FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Dia tak ada di sini



Jam 07.30 wib


Satya dan mama Rara sudah datang kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Ayasha, dan mereka sudah di wanti-wanti oleh Rafael untuk tidak mengatakan jika dia turut ke Jogja.


Ayasha yang baru saja terbangun dari tidurnya sedang dicek kondisinya oleh perawat, namun tatapan matanya terlihat heran dengan kamar yang dia tempati sekarang.


“Assalamualaikum,” sapa mama Rara yang baru saja tiba.


“Waalaikumsalam,” balas sapa Amelia, di lanjut dengan Ayasha.


“Mama Rara ...,” kata Ayasha, tak menyangka akan kehadiran wanita paruh baya itu.


Mama Rara memeluk Ayasha, lalu mengusap lembut punggung gadis itu. Hati gadis itu menghangat dengan kedatangan mama Rara, sebagai ibu kedua dirinya.


“Mama kapan sampai?” tanya Ayasha ketika mengurai pelukannya, namun tatapan kedua netranya seakan mencari seseorang di ambang pintu.


“Sampai tadi pagi bareng Satya, semalam Mama dapat kabar dari Amelia kalau kamu dilarikan ke rumah sakit,” jawab mama Rara, sedikit berbohong.


Ayasha yang masih terlihat pucat, mengulas senyum tipis. “Terima kasih Mah, sudah sempat datang.”


“Jangan bilang begitu, Mama kan Mama kamu juga, sudah sewajarnya Mama datang. Kamu sudah kabarin ke Mama Nia?”


Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Belum Mah, takut Mama Nia khawatir ... tapi nanti aku akan telepon Mama Nia.”


“Ya sudah, yang penting ada Mama di sini buat jagain kamu sampai sembuh. Dokter sudah berkunjungkah?”


“Belum Mah, baru dicek sama perawat.”


Satya menaruh beberapa makanan dari hotel yang sudah dipesan oleh Rafael buat Ayasha di atas meja, beserta sarapan buat Amelia. Ada bubur ayam, bubur kacang ijo, sop ayam kampung, serta buah potong, sedangkan nasi gudeg buat Amelia.


Amelia membantu Satya menyiapkan sarapan untuk sahabatnya.


“Mama bawa sarapan buat kamu, di makan ya,” pinta Mama Rara, saat melihat Amelia membawa semangkok bubur ayam.


“Mau disuapi gak?” tanya Amelia, menawarkan diri.


“Boleh Mel, tangan gue juga masih lemas banget.”


Semangkuk bubur ayam tanpa kacang kedelai, yang sedang dinikmati oleh Ayasha, tiba-tiba saja hatinya berdesir, tidak banyak yang tahu jika Ayasha tidak suka bubur ayam pakai kacang kedelai hanya Mama Nia dan Rafael yang tahu.


Siapa yang pesan bubur ayam ini? Mungkinkah Om Rafael, tapi tidak mungkin ... dia tak ada di sini.


Ingin rasanya bertanya dengan Mama Rara tentang keberadaan pria itu, namun ada rasa enggan dihatinya.


Mama Rara menyiapkan air yang dibawanya semalam, untuk diminum oleh Ayasha, berharap guna-guna yang dikirim oleh Delia terpental, dan kembali ke pemiliknya.


 


...----------------...


Rumah Sakit, Bogor.


Bu Laras masih terbaring lemah di ruang ICU. Pak Tony dan Delia terlihat menunggu di ruang tunggu khusus pasien ICU.


Wajah Delia tampak masam karena dia harus membeli beberapa obat untuk ibunya yang tidak dijamin oleh BPJS.


“Nyusahin aja, lama-lama uangku akan habis kalau begini!” gerutu Delia, dan ucapannya terdengar oleh pak Tony.


Pak Tony meradang mendengarnya. “Jika Bapak punya uang lebih, bapak yang akan membayarnya Delia. Lagi pula yang sakit itu ibu kandung kamu, bukan orang lain. Tak akan rugi kamu berbakti pada orang tua!” jawab sarkas pak Tony.


“Iya aku tahu Pak, tapi yang gak sampai belasan juta juga Pak!” balas Delia kesal.


“Jadi kamu tidak rela membantu membiayai ibumu yang sedang sakit! Dan lebih rela membuang uangmu untuk bayar dukun!” emosi pak Tony dibuatnya. “Ingat Delia, jangan sampai kamu menyusul seperti ibu kamu! Karma itu pasti ada!” ancam pak Tony tak main-main.


Delia berdecak kesal kepada bapaknya, lebih baik dia beranjak dari duduknya ketimbang mendengar ceramah bapaknya dari semalam, apalagi dia dicecar tentang orang yang datang mencari ibu saat ibunya tiba-tiba pingsan.


Pak Tony mengelus dadanya dan menahan rasa kecewanya setelah mengetahui secara tidak langsung jika istri dan anaknya suka pergi ke dukun walau Delia berkata tidak dan bercerita secara gamblang, pria paruh baya itu memasrahkan keadaan bu Laras dan Delia jika terjadi hal yang tak diinginkan.


“Duh ini perut kok sakit banget ya, apa perlu sekalian cek ke dokter ya,” gumam Delia sendiri saat dia bawa nongkrong di kamar mandi, siapa tahu mau buat hajat besar.


Sebenarnya sakit perut yang di alami Delia sudah di rasakannya dalam waktu tiga bulan terakhir ini, belum lagi di saat sedang haid pasti darah haidnya sangat banyak, namun ya begitu muncul lalu hilang lagi rasa sakitnya. Makanya tidak ada keinginan untuk diperiksakan ke dokter.


Kembali ke ruang ICU, bu Laras sudah mulai menunjukkan tanda-tanda bangun dari komanya. Beberapa dokter bergegas memeriksa keadaan Bu Laras, hampir satu jam melihat keadaan wanita paruh baya itu, Dokter pun memanggil pak Tony.


“Begini Pak Tony, istri Bapak sudah melalui masa kritisnya.”


“Alhamdulillah.”


“Tapi kondisi Bu Laras tidak bisa kembali normal, karena mengalami stroke jadi ada beberapa bagian tubuhnya yang mengalami kelumpuhan, tidak berfungsi dengan baik,” penjelasan Dokter yang bertugas di ruang ICU.


Hal ini sudah di duga oleh pak Tony, dan harus menerimanya dengan lapang dada. Walau sebenarnya pak Tony sudah ada niatan untuk menceraikan bu Laras. Bisa jadi perceraian itu tetap terjadi!


...----------------...


Kembali ke rumah sakit, Yogyakarta.


Jam 10.15 wib.


Amelia baru saja menerima panggilan telepon masuk dari ponsel Ayasha karena disuruh oleh gadis itu.


“Siapa yang telepon, Mel?” tanya Ayasha, melihat Amelia menaruh kembali ponselnya di atas nakas.


“Dari Darial, sorry Aya ... Gue bilang lo dirawat di rumah sakit. Dan katanya dia mau datang,” jawab memelas Amelia, terlihat tidak suka.


“Oh ... iya gak pa-pa.” Ya mau bagaimana lagi Darial kekasihnya dan harus tahu keadaannya, karena tak mungkin dia berbohong, karena jika pria itu ke hotel pun, pasti karyawan hotel akan bilang Ayasha sedang di rawat di rumah sakit.


Ayasha kembali membaringkan tubuhnya, kemudian kembali berdzikir di dalam hatinya karena perutnya kembali terasa sakit. Amelia kembali duduk di sofa dengan Satya, sedangkan mama Rara kebetulan sedang keluar menemui dokter.


“Ck ... dia pakai mau datang lagi,” keluh Amelia.


Satya yang mendengar langsung menoleh ke Amelia. “Siapa yang mau datang?”


“Tuh pacarnya Ayasha, si Darial.”


“Oh Darial.” Satya baru teringat akan tugas yang pernah di minta oleh Rafael, bergegas saja dia mengirim pesan kepada orang yang diminta untuk menyelidiki Darial.


✅Satya


Saya minta dipercepat penyelidikannya, bos sedang ada di sini, jadi bisa langsung di laporkan.


✅Andi


Baik Pak Satya, saya akan bergegas mengumpulkan data yang terkait dengan pemilik PT. Praja Land.


Satya belum bisa bernapas lega untuk saat ini, apalagi banyak kejadian yang beruntun dihadapi oleh bosnya. Pria itu memberanikan diri memegang tangan Amelia lalu menggenggamnya seakan dirinya butuh dukungan juga. Amelia jadi tercengang dan jantungnya berdebar-debar.


 


bersambung .....


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komentarnya ...