
Ikhlas merupakan hal yang paling tersulit, karena berbesar hati untuk menerima kenyataan walau pahit. Belajar untuk percaya bahwa semua akan ada waktunya mendapatkan yang terbaik.
Ikhlas salah satu ilmu yang paling berat, mudah ketika diucapkan namun sulit untuk dijalankan. Lima tahun yang lalu Ayasha ikhlas melepaskan dan tidak mempertahankan Rafael. Dan kini saatnya Rafael yang belajar ikhlas menerima garis takdir yang telah ditentukan, jika gadis yang dia tatap bukanlah miliknya.
Rafael masih betah bersimpuh di hadapan Ayasha, gadis itu tak berhasil membujuk pria itu yang masih saja bersikukuh dan beranggapan jika hati gadis itu tak tulus memaafkannya. Sebenarnya bukan itu yang diinginkan oleh Rafael, ada hal lain yang ditujunya namun dia tak bisa mengungkapkan nya seakan ada penghalang.
Berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya Ayasha, bukan hanya sekedar maaf darimu. Aku ingin kita bersama kembali.
Hati dan mulut benar-benar tidak bisa kerjasama, membuat batin Rafael frustasi.
Kenapa aku tidak bisa mengungkapkan keinginanku, Ya Allah. Kenapa lidahku keluh ...
Dalam keheningan ...
“Assalamualaikum,” sapa suara bariton di ambang pintu rumah Ayasha yang terbuka lebar.
Ayasha mendongakkan kepalanya, kedua netranya terkejut melihat siapa yang datang. “Waalaikumsalam, Kak Darial,” balas sapanya, tak lama gadis itu bangkit dari hadapan Rafael.
Rafael turut menoleh, dan menatap pria yang masih berdiri di ambang pintu. Dengan terpaksa pria itu bangkit dari duduk bersimpuhnya.
Aku sudah memiliki calon suami. Perkataan Ayasha mulai berputar dikepala Rafael.
“Kak Darial, kenapa bisa ada di sini?” tanya Ayasha, penuh tanda tanya.
“Boleh saya masuk?” pinta Darial, sorot matanya begitu tajam melihat ada sosok pria lain di dalam ruang tamu.
Ayasha langsung melirik Rafael kemudian menatap Darial secara bergantian, entah kenapa suasana tiba-tiba jadi agak canggung seketika itu juga, seakan gadis itu ketahuan selingkuh padahal tidak seperti itu.
“Tadi saya mencari kamu di hotel, tapi katanya kamu sudah pulang sejak tadi pagi. Saya takut kamu kenapa-napa, makanya langsung ke sini, setelah tidak bisa menghubungi ponselmu,” lanjut kata Darial penuh perhatian. Rafael hanya bisa menggeram dalam hatinya saja. Ayasha hari ini memang sengaja tidak mengaktifkan ponselnya, alhasil kedua pria ini datang secara tiba-tiba.
“S-silakan masuk Kak Darial, d-dan ini perkenalkan ini saudara saya Om Rafael kebetulan beliau pemilik hotel Inna Garuda,” kata Ayasha, buru-buru memperkenalkan mereka berdua, agar tidak timbul salah paham.
Hancurlah seketika perasaan Rafael dirinya hanya diperkenalkan sebagai saudaranya saja, walau kenyataannya mereka memang masih saudara. Sedangkan wajah Darial yang semula terlihat cemburu mulai terlihat tenang kemudian mengulurkan tangannya. “Saya Darial, kekasih Ayasha,” ucap Darial ramah, dengan penuh percaya diri memperkenalkan sebagai kekasih.
Mulut Ayasha menganga sekejap gara-gara Darial, namun dia tak menyanggahnya. Sepertinya dia harus bersiap-siap dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Dua pria dengan usia yang sama, dengan wajah dan kharisma yang tak jauh berbeda, sama-sama tampan, sama-sama pengusaha, berdiri berhadapan dan tenggelam dengan pemikirannya masing-masing.
Rafael menyambut uluran tangan Darial, kemudian mereka berjabat tangan dengan eratnya serta penuh tekanan diantara mereka berdua. “Rafael!” balas Rafael dengan tegasnya. Sebenarnya kedua pria itu raut wajahnya penuh dengan rasa tidak suka dan tanpa alasan yang bisa dijelaskan, aura mereka berdua merasa bagaikan musuh bukan teman.
Darial langsung teringat kejadian di coffe shop, pria yang sengaja menabrak Ayasha hingga baju gadis itu kena kopi.
Benarkah pria ini saudaranya Ayasha? Lalu kenapa dia sengaja menabrak Ayasha? Batin Darial.
Ayasha, kamu benar-benar bermain api dengan klien hotel kita! Kamu telah melanggar peraturanku! batin Rafael
“Silakan duduk Kak Darial, mohon maaf di sini tidak ada bangku hanya ada karpet aja, jadi duduknya dibawah,” kata Ayasha, memecah ketegangan yang terjadi diantara mereka berdua.
Darial melepaskan jabatannya kemudian menatap hangat Ayasha. “Gak pa-pa kok Aya,” balasnya kemudian pria itu kembali menatap Rafael.
“Oh iya Om Rafael tadi katanya mau balik ke hotel, nanti kalau kelamaan disini bakal dicariin sama calon istrinya mbak Delia.” Sangat terpaksa gadis itu kembali menyebut dengan panggilan Om di depan Darial, entah karena ingin menghargai perasaan Darial atau memang mengingatkan status Rafael.
Pria itu menatap kecewa Ayasha, batinnya merutuki dengan kehadiran pria yang mengaku sebagai kekasih Ayasha, pria yang pernah dia lihat di hotel dan di restoran kopi tempuan. Pria yang membuat hatinya memanas dan bergejolak, sama seperti saat ini juga.
“Besok kamu tetap masuk kerja, kalau aku telepon tolong diterima,” titah Rafael, nada bicaranya sedikit memaksa. Ayasha hanya bisa tersenyum kecut dengan kalimat perintah yang dilontarkan Rafael.
Sebelum pria itu keluar dari rumah Ayasha, Rafael menatap Ayasha dan Darial secara bergantian. “Jangan lama-lama menerima tamu pria, apa kata tetangga di rumahmu ini!” celetuk Rafael.
Tanpa dikasih tahu, Ayasha juga paham ... sebenarnya tidak ubahnya saat Rafael datang ke rumahnya, mereka hanya berdua saja, namun Rafael sudah memberitahukan jika dia saudaranya kepada tetangga sebelah rumahnya. Apalagi tadi sebagai buktinya Rafael sempat menunjukkan foto mereka berdua saat Ayasha masih duduk dibangku SMU ke ibu sebelah rumah agar lebih meyakinkan.
Darial hanya tersenyum tipis mendengarnya namun dia tidak menimpalinya.
Dengan langkah tergontai ditambah hati yang sangat kecewa, terpaksa Rafael keluar dari rumah kontrakan Ayasha, sedangkan gadis itu hanya mengantarnya sampai teras rumahnya. Rafael sangat berharap dirinya ditahan untuk tetap berada disana, tapi itu hanya harapan kosong saja, karena Ayasha membiarkan pria itu masuk ke dalam mobilnya.
“Kita kembali ke hotelkah Pak?” tanya sang sopir.
“Tidak ... pindahkan mobil ini ke ujung sana,” pinta Rafael. Sang sopir hanya bisa mematuhi perintah atasannya. Rafael ternyata tidak ingin kembali ke hotel, tapi mengawasi keberadaan Ayasha dan Darial dari kejauhan.
Sepeninggalnya Rafael, Ayasha bergegas sebentar ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk Darial dan dirinya sendiri.
“Silakan diminum Kak Darial, hanya ada teh manis,” kata Ayasha, sembari ikutan duduk.
“Terima kasih.” Darial menyesapnya teh yang di sajikan oleh Ayasha, begitu juga dengan Ayasha.
“Dia benar saudaramu?” tanya Darial dengan tatapan menyelidik.
“Iya Om Rafael saudaraku, dari pihak papa. Kebetulan saya baru tahu jika saudara saya pemilik baru hotel,” jawab jujur Ayasha.
Darial bernapas lega. “Syukurlah kalau memang dia saudaramu, karena saya melihat sorot matanya berbeda denganmu.”
Ayasha hanya bisa terdiam, kemudian kembali menyesap teh hangatnya. “Itu hanya perasaan Kak Darial saja, oh iya Kak Darial ada apa bisa ke sini?”
“Tadinya saya menjemputmu ingin ngajak makan malam diluar, tapi kata bagian resepsionis dari pagi sudah pulang.”
“Mmm ... tadi saya ada keperluan mendadak diluar jadi terpaksa izin.” Tidak mungkin Ayasha bilang sakit, karena saat ini dia masih mengenakan baju kerjanya, nanti akan kentara berbohongnya. Dan tak mungkin dia bercerita tragedi di hotel.
“Kalau begitu kamu mau makan diluar bersamaku sekarang?”
“Maaf Kak, badan saya agak capek, lain kali saja bisa kan.”
Ada raut wajah kecewa yang terbit di wajah tampan Darial atas penolakan Ayasha, sejujurnya gadis itu memang sudah lelah.
“Bagaimana kalau kita pesan makan delivery saja, dan makan sama-sama disini ... sama saja kan,” cetus ide Ayasha.
Pria itu mengulas senyum tipisnya dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda menyetujuinya. Dan mereka berdua pun berdiskusi saat memesan makanan.
bersambung .....
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, dan jangan lupa hari Senin minta votenya dong buat Ayasha. Makasih sebelumnya 🙏🙏
Mohon maaf ya Om Rafael, Ayasha sudah ada yang punya 😁😁😁