FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Penyakit



Dua jam berlalu ...


Delia dengan wajah yang memucat ditemani oleh Pak Tony, sekarang mereka berdua berada di ruang praktek Dokter spesialis kandungan, setelah Delia sempat pingsan dan di tolong oleh beberapa suster, Pak Tony meminta anaknya untuk di periksa.


Rangkaian pemeriksaan telah dilalui oleh Delia, mulai dari test darah, cek urine, kemudian USG abdomen. Sekarang semua hasil pemeriksaan sudah dipegang oleh Dokter Mira.


“Selama ini Mbak Delia, setiap menstruasi datang perutnya sangat terasa sakit kah? dan darahnya begitu banyak melebihi batas normal? Dan masa menstruasinya melebihi 7 hari, terkadang bisa 10 atau 14 hari?” tanya Dokter Mira.


“Beberapa bulan ke belakang, iya Dokter.”


Dokter Mira sejenak menatap Pak Tony yang berada di samping Delia. “Maaf Mbaknya sudah menikahkah? dan sering berhubungan intimkah? Lalu di saat berhubungan intim, perut bagian bawah suka terasa sakit?” Dokter Mira sangat berhati-hati mengucapkannya pertanyaannya.


“Anak saya belum menikah Dokter, jadi tidak mungkin melakukan hubungan intim yang dilarang oleh agama saya,” jawab Pak Tony.


Delia menundukkan pandangannya, lalu merematkan tangannya diujung kemejanya. Rasanya sangat tidak mungkin dia berkata jujur di hadapan bapaknya sendiri, sudah bisa dipastikan akan murka jika tahu kebenarannya.


Dokter Mira seakan tahu apa yang sedang ditutupi oleh pasiennya, melihat Delia tertunduk seperti itu.


“Sebenarnya anak saya sakit apa, Dokter?” tanya Pak Tony.


Dokter Mira kembali menatap Pa Tony, kemudian menghela napas pendeknya. “Begini Pak dan Mbak Delia, hasil pemeriksaan yang telah kita lakukan ... Di sini Mbak Delia mengidap kanker serviks stadium dua.”


Kedua netra Delia terbelalak, kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya dengan hasil pemeriksaannya.


“Kanker serviks stadium dua,” kata Pak Tony mengulang ucapan Dokter Mira.


“Iya, saran saya Mbak Delia harus mulai mengikuti pemeriksaan CT scan untuk lebih memastikan kankernya, lalu mulai melakukan prosedur pengobatan seperti kemoterapi atau radiasi, tindakan terakhir ya operasi pengangkatan rahim sebagai langkah terakhir,” kata Dokter Mira.


Delia tersenyum kecut mendengarkan penjelasan Dokter Mira. Pak Tony menghembuskan napas berat, kenyataan pahit yang harus dia terima mengetahui kedua orang yang dia sayangi mendapat musibah atau balasan atas perbuatannya.


Wanita yang sudah divonis mengidap penyakit yang menyeramkan buat kaum wanita, tidak berkata apapun, namun hatinya sedang mengumpat kesal pada wanita yang bernama Ayasha, dia masih saja menyalahkan Ayasha.


“Untuk sementara saya akan resepkan beberapa obat yang harus di konsumsi,” kata Dokter Mira sambil menuliskan resep, lalu memberikannya.


“Terima kasih Dokter,” jawab Pak Tony menerima kertas resepnya.


Delia masih saja terdiam saat keluar dari ruangan Dokter Mira, sedangkan Pak Tony sudah malas untuk bertanya dengan anaknya.


“Tembuslah obatnya, dan pikirkan apa yang akan kamu lakukan di masa depan! Penyakit yang kamu dera bukanlah penyakit biasa, Bapak sudah malas menanyakan apa penyebabnya, hanya kamu yang tahu apa yang telah kamu lakukan selama ini. Penyakit itu merupakan teguran buat hambanya serta salah satu pengguguran dosa jika ikhlas menerima dengan lapang dada.” Nasihat Pak Tony.


Delia menyunggingkan bibirnya saat mendapatkan teguran dari bapaknya. “Aku tidak butuh ceramah Bapak!” sahut Delia sangat ketus, lalu menyambar kertas resep obat tersebut.


Pak Tony mengelus dadanya saat anaknya bernada ketus padanya, lalu menatap nanar Delia yang telah pergi menuju apotik.


“Harusnya Ayasha yang mendapat kan penyakit ini! Bukan aku! Benar-benar bodoh dukun itu!” gumam Delia sendiri, geram.


...----------------...


Yogyakarta.


Rumah Sakit.


Rafael sudah menarik dirinya dari ranjang Ayasha ketika Dokter dan perawat datang, namun berbeda dengan Darial, dia tetap siaga berdiri di samping Ayasha bagaikan penyelamat gadis itu.


Satya mengajak Rafael untuk berbincang sesaat dengan Pak Abshori dan Bu Tutik setelah menyelesaikan pengobatan Ayasha.


Rafael sangat berterima kasih banyak dengan pasangan suami istri tersebut, dan Pak Abshori pun banyak memberikan wejangan pada Rafael untuk menjaga dirinya dari hal-hal tersebut, agar bisa meminimalisirkan jika ada hal seperti itu lagi, karena hati orang tidak akan pernah ada yang tahu, entah baik atau buruk.


Usai berbincang singkat, Rafael dan Satya mengantar pasangan suami istri tersebut ke lobby rumah sakit, lalu meminta sopir hotel untuk mengantar ke tempat tujuan Pak Abshori.


Rafael  masih berdiri di luar lobby rumah sakit dengan tatapan kosong saat mobil yang membawa Pak Abshori meninggalkan rumah sakit.


“Pak Rafael,” panggil Satya, yang melihat terlalu lama bosnya mematung.


Rafael menoleh pelan. “Kita, kembali ke kamar Pak,” ajak Satya.


“Sepertinya saya tidak kembali ke kamar, sebaiknya saya kembali ke hotel. Kamu kembali saja ke atas, dan kabarin keadaan Ayasha yang terbaru,” Rafael menjawab dengan perasaan sedih.


Satya mendesah, lalu mencoba memahami apa yang dirasakan oleh Rafael. “Kemungkinan besok saya akan mendapatkan data tentang Darial,” kata Satya, biar bosnya kembali semangat.


 “Ya saya tunggu, Satya,” jawab Rafael sembari menepuk bahu asistennya. Kemudian pria itu menuruni anak tangga yang ada di luar lobby hotel, dan terus berjalan menuju arah gerbang rumah sakit.


Satya ikutan sedih melihat kepergian bosnya begitu saja. Bosnya sedang berusaha menekan ego diri sendirinya yang sangat bertentangan dengan isi hatinya, yang sebenarnya ingin selalu berada di sisi Ayasha, namun dengan hadirnya Darial membuat dia tersadar jika dia tidak boleh menuruti kehendaknya sendiri, dia harus menghargai perasaan Ayasha.


Cinta itu saling mendoakan, bukan karena dia dekat kemudian kita jatuh cinta, bukan! Justru karena dia senantiasa selalu ada di doa kita, maka cinta itu jadi sebuah kebaikan di hadapan Allah. Cinta tak harus memiliki, iya! Kalau dengan orang lain dia bisa bahagia! Dan kenapa kita  harus mengekang perasaan cinta itu yang ada di hati kita? Aku mencintaimu karena Allah.


Itulah yang saat ini dirasakan oleh Rafael terhadap Ayasha, selalu mendoakannya dalam setiap sujudnya, dan selalu minta hal-hal  yang baik-baik untuk wanita yang dicintainya.


Awan biru mulai tertutup dengan awan hitam yang tiba-tiba saja lewat, cuaca cerah menjadi gelap gulita padahal waktu masihlah siang, hembusan angin dingin dan wangi air yang membasahi tanah pun mulai tercium. Setetes demi setetes, air dari langit pun turun ke bumi, Rafael pun menengadahkan wajahnya ke atas menatap langit gelap itu dan membiarkan tubuhnya dibasahi oleh air hujan, semakin deras air yang turun semakin deras pula air mata yang membasahi pipinya.


“Aku sangat mencintaimu, Ayasha!” teriak Rafael di tengah jalan.


Di saat yang bersamaan Ayasha sontak tersadar dari pingsannya yang begitu lama lalu kedua netranya menatap pria yang ada di hadapannya sekarang, Darial!


 bersambung ....


Mungkinkah Rafael akan menjadi sadboy, dan Darial menjadi pemenang hati Ayasha. Atau Ayasha tidak berjodoh dengan keduanya? Dan mungkinkah Delia kembali ke Jogja untuk menghilangkan nyawa Ayasha, karena dendam kesumatnya?? Ikuti terus ya Kakak Readers sampai tamat.