FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Perhatian Rafael



Jika di ruang tamu Satya sedang melancarkan misinya pendekatan dengan Amelia, maka berbeda hal dengan kondisi pasangan mantan tunangan di dalam kamar. Ayasha sudah membuka kedua matanya namun masih terlihat lemah dan lesu, Dokter yang menjaga kembali memeriksa kondisi Ayasha.


“Mbaknya harus istirahat total dulu ya, badannya sangat kelelahan, dan terpaksa di infus untuk membantu pemulihannya,” ucap Dokter menjelaskan.


Ayasha hanya bisa mengangguk pelan, sudah lemas tak berdaya untuk menjawab, namun dia  bisa melihat Rafael yang menemaninya di sisi ranjang.


Teh manis hangat yang ada di atas nakas diambilnya oleh Rafael. “Minum dulu ya, Aya,” pinta Rafael, gelas yang diambil terpaksa ditaruhnya kembali ditepi nakas, kemudian tangan kanannya menyelisip ke bagian punggung belakang Ayasha, dengan maksud untuk membantunya bersandar di headbord ranjang.


Ayasha tak mampu menolak saat ini, memang dirinya butuh bantuan untuk menopang dirinya, salah satu tangan Ayasha pun merangkul leher Rafael, dan hal itu membuat hati pria itu menghangat.


Setelah Ayasha terlihat nyaman dengan posisi bersandarnya, barulah pria itu kembali mengambil minum dan membantu memberikannya ke Ayasha.


“Mau makan bubur ayam?” tanya Rafael setelah membantu gadis itu menyesap teh hangatnya.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, menolak tawaran Rafael. Ayasha tahu jika Rafael masih mengingat dirinya ketika sakit pasti ingin makan bubur ayam.


“Jangan menolaknya ya, tadi aku sudah pesan sama chef restoran untuk membuatkan bubur ayam kesukaanmu. Biasanya kalau kamu sakit, suka minta aku bawakan bubur ayam kan,” kata Rafael penuh perhatian.


Benar saja tebakan Ayasha, jika Rafael masih hapal kebiasaannya dari kecil ketika sedang sakit. Gadis itu hanya bisa tersenyum tipis saja.


“Dokter berhubung Aya sudah sadar, saya ingin dokter memeriksa badan saya di kamar sebelah,” pinta Rafael, sembari beranjak dari duduknya.


“Baik Pak,” jawab Dokter tersebut.


Sebelum ke kamar sebelah, pria mencondongkan dirinya sejenak ke hadapan Ayasha. “Aku tinggal sebentar ya, aku mau periksa bekas tendanganmu ini,” ucap Rafael pelan. Ayasha hanya bisa menautkan kedua alisnya, tapi hatinya tertawa sembari melirik bagian bawah Rafael yang kayaknya kelihatan mengembang. Pria itu hanya bisa mengusap tengkuknya ketika dapat lirikan dari gadis itu.


...----------------...


Satya dan Amelia yang masih duduk di sofa, langsung berdiri ketika melihat Rafael bersama dokter keluar dari kamar.


“Om Rafael, Ayasha nya sudah sadarkah?” tanya Amelia.


“Sudah.”


Amelia bergegas ke kamar dan meninggalkan Satya begitu saja, pria itu hanya bisa garuk-garuk kepalanya yang tak gatal setelah ditinggal Amelia ke kamar, kemudian pria itu memilih meninggalkan kamar sebentar.


Rafael bersama dokter ke kamar sebelah, pria itu langsung memberitahukan keluhan tentang si otongnya serta keluhan badannya yang tadi tiba-tiba mual dan lemas, membuat sang Dokter tersenyum simpul.


“Agak bengkak ya Pak, pasti ini sangat nyeri sekali,” kata Dokter melihat si otong.


“Dokter sebenarnya saya juga punya keluhan yang lain, sudah beberapa tahun yang lalu bagian intim saya tidak mampu berdiri tegak seperti tidak ada gairah,” kata Rafael.


“Sebelumnya sudah berobat kemana saja?”


“Saya baru sekali periksa ke rumah sakit dan belum dilanjutkan kembali.” Ada rasa penyesalan kenapa dulu dia mengabaikan, sedangkan sekarang baru muncul keinginan untuk bertanya semenjak si otong sudah dua kali kena tendangan sama Ayasha.


“Tapi yang anehnya beberapa hari ini setelah dapat tendangan dari wanita yang di sebelah, dia mampu berdiri tegak lama walau esok hari tidak lagi,” kata Rafael jujur.


Setelah Dokter memeriksa sebentar keadaan si otong, Rafael menaikkan kembali celana panjangnya.


“Sebenarnya banyak faktor yang membuat keperkasaan pria menjadi loyo, tapi jika mendengar kalau keperkasaan Bapak bisa berdiri tegak lama karena tendangan wanita di sebelah, berarti ini ada hal yang menyangkut dengan psikis Bapak sendiri. Bisa jadi ini akibat tingkat stress yang terlalu tinggi dalam kurun waktu yang lama, hingga berpengaruh dengan keperkasaannya. Tapi biar lebih jelasnya mungkin harus di periksa lebih teliti lagi di rumah sakit. Untuk saat ini nanti saya akan berikan obat antibiotik agar bengkak dan nyerinya hilang.”


Rafael akui dirinya memang sangat stres semenjak kepergian Ayasha lima tahun yang lalu, bukan hanya stres memikirkan perusahaannya. Analisa dokter untuk saat ini masih masuk akal dan bisa diterima oleh Rafael.


“Satu lagi Pak Rafael, coba di ingat-ingat pola hidup beberapa tahun ke belakang ini, seringkah mengonsumsi obat suplemen kesehatan atau obat- obatan yang lain, minuman beralkohol, rokok karena itu bisa jadi satu penyebabnya.”


Rafael mengerutkan keningnya, mencoba mengingat kembali gaya hidupnya. “Tapi kira-kira punya saya bisa kembali normalkah Dokter?” Mulai ada rasa khawatir, apalagi umurnya yang sudah menginjak 35 tahun belum memiliki keturunan. Sesak juga rasa hatinya, menikah pun tidak akan bisa memberikan nafkah batin buat istrinya. Dilema.


“Setiap penyakit, insya Allah ada obatnya Pak Rafael, hanya satu yang tidak ada obatnya yaitu kematian. Selama kita berikhtiar, berdoa dan bertawakal insya Allah pasti akan sembuh kembali,” balas Dokter, meyakinkan pasiennya.


“Amin Dokter, saya ingin keperkasaan saya normal kembali ... Saya ingin sekali menikah dan memiliki keturunan sendiri,” jawabnya sembari tertunduk lesu.


...----------------...


Kamar sebelah ...


Amelia memijit kedua kaki Ayasha secara bergantian, mau ajak bicara rasanya tidak enak setelah melihat sahabatnya masih terlihat lemas.


“Cepat sembuh ya Ayasha, biar kita bisa nongki cantik lagi,” ucap Amelia.


“Mmm ...,” gumamnya seraya menikmati pijatan Amelia.


Ceklek!


Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, ternyata yang masuk Rafael dengan membawa nampan ditangannya. Amelia menoleh ke belakang.


“Aya, bubur ayamnya sudah jadi ... isi perut dulu ya,” kata Rafael begitu lembutnya, membuat bulu kuduk Amelia merinding saat mendengarnya.


Amelia bangkit dari duduknya di atas ranjang, kemudian meraih nampan tersebut dari tangan pria itu.


“Om biar aku aja yang nyuapin Aya,” pinta Amelia. Rafael tidak bisa berkutik kalau sudah ada bodygourdnya Ayasha, dengan rasa terpaksa dia menyerahkan nampannya.


“Malam ini Aya menginap di sini sampai sembuh,” kata Rafael sembari menatap Ayasha dari jarak jauh.


“Aku juga menginap di sini Om, buat temenin Aya, kan gak mungkin Aya sendirian di sini. Lagi pula Aya hanya punya aku disini, jauh dari orang tua dan saudaranya, ” celetuk Amelia.


Rafael hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam, dirinya terasa tersindir dengan ucapan Amelia. Pria itu menatap lekat wajah layu Ayasha, andaikan saja tidak ada Amelia, mungkin dengan senang hati dia ingin berada disisi gadis itu.


Sementara di kamar yang berbeda di lantai 3, Satya sedang melaporkan kejadian yang menimpa Ayasha serta menunjukkan video yang sudah beredar di aplikasi tok-tok, ke sekian kali Mama Rara mengelus dadanya, dan menghembuskan napas beratnya.


“Sudah waktunya kita menemui Ayasha ... dia sedang sakit sekarang, Pah,” kata Mama Rara.


 


bersambung ...


 


Kakak Readers, mampir yuk ke kisah Arash dan Almira sudah terbit ya .... temenin ya perjalanan mereka berdua. Makasih sebelumnya


Lope lope sekebon 🌹🌹🌹🍊🍊🍊🌻🌻🌻


 



 


...----------------...