
Amelia telah kembali ke kamar 515 dengan salah satu pelayan restoran yang membawa minuman hangat dan beberapa makanan, dan satu lagi gadis itu ternyata minta dibawakan kotak P3K. Setelah semua pesanan diletakkan di atas nakas yang ada di sisi ranjang yang ditempati Ayasha, Amelia permisi keluar dari kamar, lagi pula masih ada dokter yang masih memantau keadaan Ayasha yang belum sadar.
Gadis itu menghampiri Satya yang sedang duduk di sofa panjang dengan tangan mengusap wajahnya yang mulai tampak memar. Amelia memberanikan diri untuk duduk di sampingnya.
“Mas Satya.”
“Mmm ...,” gumam Satya tanpa menoleh ke samping.
Amelia membuka kotak P3K nya dan meletakkannya di atas pangkuan kemudian mengeluarkan kapas yang sudah mengandung cairan alkohol pembersih luka, tak lama gadis itu mengapit dagu Satya tanpa permisi.
“Kalau dipanggil itu nengok dong Mas Satya,” kata Amelia agak kesal namun tangannya sudah mengusap kapas tersebut ke beberapa luka yang ada di wajah Satya.
Andaikan bisa dilihat secara langsung, wajah Satya tampak merah merona bak anak gadis, kedua matanya juga tidak berkedip mendapat perhatian tiba-tiba dari gadis yang dia sukai semenjak awal berjumpa. Berbanding terbalik dengan wajah Amelia yang nampak biasanya saja, padahal tangannya sudah keringat dingin saat pertama kali mengusap wajah tampan Satya walau menggunakan kapas.
Andaikan ada monitor detak jantung, kedua orang ini degup jantungnya bagaikan orang sedang lari maraton, saling berlomba menuju garis finish.
Satya masih tertegun dengan sentuhan lembut Amelia yang begitu telaten mengobati wajahnya yang turut babak belur dan memar. Sedangkan Amelia ingin sekali mengalihkan wajahnya ketika dia sangat terpaksa beradu tatap saat mengolesi salep khusus memar di bagian mata Satya.
Bayangkan saja posisi wajah mereka berdua sangat dekat, deru napas mereka berdua pun saling bisa merasakan, hangat ...
Duh aku kok deg-deg-degan ya sama Mas Satya, waktu sama Mas Rian gak begini banget.
Aduh Mas Satya kok wajahnya bisa setampan ini ya ...duh mana masih wangi banget lagi badannya pasti parfumnya mahal nih.
Ketika sudut bibir Satya di olesi salep oleh Amelia, pria itu menahan tangan Amelia, hal itu sontak membuat gadis itu terkesiap.
“Kamu kenapa mau mengobati luka di wajah saya, padahal saya lagi menunggu giliran untuk diobati oleh dokter?” tanya Satya, dengan tatapan menyelidik
Bibir Amelia mengerucut terlihat tidak suka dengan pertanyaan Satya. “Saya masih punya hati Mas Satya, melihat wajah Mas terluka, apalagi semuanya gara-gara saya. Kalau Mas Satya gak suka saya obati ya udah tunggu aja dokternya,” balas Amelia kesal, sembari menyentak tangan Satya yang masih menahan tangannya, namun tak bisa terlepaskan.
Pria itu tersenyum hangat melihat Amelia bermuka masam. “Kamu marah dengan saya?” kembali bertanya Satya, namun terasa ambigu buat Amelia, maklum mereka baru berkenalan, belum saling mengenal. Amelia sendiri saja juga terkejut setelah mengetahui jika Satya asisten pribadinya Rafael, kenapa juga harus ketemu dan berkenalan dengan orang yang berkaitan dengan mantan tunangan sahabatnya.
Satya sebenarnya agak heran dengan Amelia, setelah memergoki calon suaminya telah berselingkuh tapi tidak sedikit pun menangis meraung-raung, atau berteriak histeris, ini malah tampak biasa saja, beneran cinta gak sih sama Rian pikir Satya penuh tanda tanya. Karena kebanyakan yang Satya ketahui pasti wanita akan menangis histeris karena sakit hati.
Dapat pertanyaan yang aneh, Amelia memalingkan wajah dari tatapan menyelidik Satya. “Hey Amel, kenapa jadi buang muka dengan saya!” Pria itu berkata sangat lembut, kemudian menyentuh dagu Amelia agar gadis itu menatapnya kembali.
Ooh sekarang gantian pipi Amelia yang merah merona, boleh gak sih Amelia ngumpet dibalik selimut, walau baru pertama kali bertemu dan berkenalan tapi mampu membuat Amelia malu dan keringat dingin. “Buat apa saya marah, itu hak Mas Satya kalau mau menolak untuk di obati sama saya. Lagi pula saya juga merasa tidak enak ... Mas Satya tadi telah menghajar Mas Rian padahal saya kan gak minta tolong,” jawab Amelia agak pelan, kemudian gadis itu tertunduk.
Satya masih memegang tangan kanan Amelia, lalu bibirnya kembali tersenyum. “Saya tidak bilang tidak suka di obati olehmu Amel, saya hanya tidak enak hati denganmu. Apalagi hatimu pasti saat ini pasti sangat terluka dengan calon suamimu.”
Amelia memberanikan diri menatap lekat iris mata pria yang ada dihadapannya, begitu jernih dan tajam hampir sama dengan tatapan Rafael. “Hati saya memang sangat terluka, tapi bukan berarti saya tidak memperhatikan orang yang telah membantu saya. Ini bentuk rasa terima kasih saya atas pembelaan Mas Satya, padahal kita baru bertemu dan berkenalan beberapa jam yang lalu,” ungkap Amelia dari lubuk hati yang paling dalam.
“Membela seseorang tidak perlu mengenal lama Amel, jika memang dia sudah bersalah maka harus diberi pelajaran, jangan didiamkan saja.”
Amelia mengangguk pelan. “Mas Satya boleh lepasin tangan saya,” pintanya, karena sedari tadi dia melihat Satya belum juga melepaskannya, padahal tangannya nyaman dipegang sama Satya tapi ya begitu agak gak enak masa baru pertama kali kenalan langsung main pegang tangan aja pikir Amelia.
DEG!
Semakin berdebarlah jantung Amelia, rasanya ingin jatuh melantai. Kedua netra Amelia membulat sangat lebar.
What! Apa maksudnya ... aduh Ayah tolong anakmu ini. Aku malu Ayah ... batin Amelia.
“Eeh maaf saya hanya bercanda, jangan dianggap serius ya,” lanjut kata Satya, setelah melihat reaksi mimik Amelia yang mencengangkan, padahal itu sebenarnya ungkapan hatinya sendiri.
“Eeeh ... iya Mas Satya,” jawab kikuk Amelia, buyar sudah apa yang sempat dipikirkan.
Aduh Amel kenapa pikiran kamu sampai sejauh itu, ini baru kenalan loh. Belum lagi habis putus sama Mas Rian.
“Boleh minta diobati yang sebelah sini, Mel,” pinta Satya menunjuk pipinya sebelah kiri.
“Eh ... iya Mas.” Buru-buru gadis itu mengolesi salep di wajah Satya dengan rasa kikuknya.
Boleh gak sih Mel, aku deketin kamu ... kamu kan sudah gak punya calon suami. Aku serius pengen genggam tangan kamu sampai ke pelaminan.
Ingin rasanya Satya bilang seperti itu, akan tetapi ada rasa tidak enak, masa baru saja putus hubungan langsung dipepet, tapi kalau gak buru-buru dipepet bisa diambil orang.
Perasaan Satya mulai maju mundur nih, apalagi dia memang ada rasa waktu pertama kali bertemu Amel.
Sabar Satya ... tunggu waktu yang tepat, sekarang usahakan terlihat biasa saja, biar Amel tidak risih ... batin Satya lagi berkata pada diri sendiri.
“Terima kasih ya,” kata Satya, setelah Amelia selesai mengobati wajahnya.
“Sama-sama Mas Satya, saya juga makasih banyak,” jawab Amelia, sembari merapikan isi kotak P3K.
“Mmm ... saya boleh minta nomor handphone kamu gak?” tanya Satya.
Amelia kembali menganggukkan tanda membolehkan, Satya pun memberikan ponselnya kepada Amelia.
Alhamdulillah dapat nomor handphonenya, semoga ini awal yang baik, dan semoga aku berjodoh dengan Amel.
bersambung ....
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya ... biar tambah semangat menghalunya. Makasih sebelumnya.
Lope lope sekebon 🌹🌹🌹🍊🍊🍊🍊🌻🌻🌻