
Saya harap wanita itu adalah kamu!
Tiba-tiba perasaan Ayasha terasa gamang ketika mendengar ucapan Darial tersebut, sambil menatap wajah pria itu yang terlihat serius dan sungguh-sungguh dalam ucapannya.
Jika dulu saat bersama Rafael, pria itu tidak pernah berucap seperti Darial, hanya jalan begitu bagaikan air saja hingga mereka melakukan pertunangan. Padahal sangat berharap Rafael berkata seperti ‘Aku ingin yang menjadi istriku adalah kamu.’ Tiap wanita jika kekasihnya berbicara seperti itu pasti langsung berbunga-bunga ya, karena tahu mau dibawa kemana hubungan mereka berdua.
“Saya ingin yang menjadi istriku adalah kamu. Maukah kamu menjadi istriku, Ayasha?” Darial kembali berucap dengan seuntaian pertanyaan.
Ayasha jangan mengambil keputusan apapun, kamu belum begitu mengenal Kak Darial. Selami dulu karakternya, cari tahu dulu tentang dirinya, bukankah kamu pernah dengar tentang Kak Darial jika dia playboy di warung nasi gudeg. Cukup masa lalu menjadi pelajaran yang amat menyakitkan, jangan terulang lagi ... Batin Ayasha.
“Semuanya butuh waktu dan proses Kak Darial, kita baru saling mengenal.”
Darial agak sedikit mencondongkan dirinya agar lebih dekat dengan Ayasha yang masih duduk bersandar. “Baiklah semuanya memang butuh proses, tapi mulai sekarang saya sudah menyatakan jika saya menginginkan mu menjadi istriku. Saya akan bicarakan langsung dengan mama kamu mumpung beliau ada di sini,” pinta Darial, serius, nadanya terdengar agak sedikit memaksa.
Keluh sudah lidah Ayasha dibuatnya, harusnya dia senang jika Darial serius dengannya, tapi justru ini tidak yang dia kira.
Darial tidak lagi melanjutkan pembicaraannya dengan Ayasha, pria itu beranjak dari duduknya lalu beranjak menghampiri Mama Rara yang sedang duduk santai.
“Tante, bisa bicara sebentar?” tanya Darial sembari mendaratkan bokongnya di atas sofa.
“Oh ... bisa, silakan.”
“Tante, saya mohon maaf sebelumnya, mungkin saat ini kurang tepat untuk berbicara tentang hal ini. Namun karena Tante ada di sini, saya ingin menyampaikan perihal hubungan saya dengan Ayasha. Memang kami belum ada sebulan saling mengenal, tapi saya sudah ada niatan serius dengan anak Tante. Saya ingin melamar anak Tante, Ayasha,” ucap Darial, wajahnya terlihat serius saat berkata-kata.
Mama Rara yang awalnya mendengar secara santai, tiba-tiba saja jadi ikutan serius, lalu menatap Ayasha dari tempat duduknya, hati Mama Rara semakin sedih mendengarnya, harapan ingin memiliki Ayasha menjadi menantunya benar-benar pupus di depan mata. Restu yang diminta Rafael untuk kembali meraih Ayasha seolah-olah tak berhasil, Allah tak berkenan dan tak mengabulkan doa anaknya.
Mama Rara dalam diamnya mencoba menenangkan hatinya yang gusar. “Tante terima dengan baik maksud Darial, tapi seyogianya kalian berdua saling mengenal dulu kepribadian masing-masing. Karena pernikahan itu bukanlah ajang main-main, butuh kesiapan mental antara dua belah pihak bukan dari satu pihak saja. Jika kalian berdua sudah benar-benar siap kejenjang pernikahan, pintu rumah kami terbuka menerima lamaran kamu kembali bersama keluarga kamu,” tutur Mama Rara berusaha bijaksana.
“Baik Tante, saya akan memastikan hubungan kami berdua. Hanya saja dengan saya berbicara seperti ini ke Tante, agar tidak ada pria manapun mendekati Ayasha walau katanya saudara. Ayasha kekasih dan calon istri saya!” ucap Darial, luar biasa percaya dirinya.
Mama Rara tersenyum kecut dengan pria yang duduk di hadapannya, dan sepertinya pria itu lupa, dia tak bertanya kepada Mama Rara, merestuikah hubungannya dengan Ayasha? Lalu pria itu tak berusaha membuat calon mertuanya suka, simpati dengan calon menantunya. Tidak! Ya walau Mama Rara bukan mamanya Ayasha, tapi Ayasha kan bilangnya itu mamanya. Jadi Mama Rara sekilas bisa menilainya.
Darial benar-benar to the point kepada Mama Rara tanpa basa-basi. Mungkinkah Darial memang seperti itu sifatnya? Atau memang dia egois karena untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Entahlah!
Satya dan Amelia yang baru saja kembali dari coffe shop dan masih berada di ambang pintu, ikutan terkejut mendengar Darial melamar Ayasha pada mama Rara, lalu mereka berdua saling bersitatap, bingung!
“Masalah ada pria lain yang menyukai Ayasha, Tante tidak bisa menghentikan perasaan orang lain. Namun itu adalah ujian dalam hubungan kalian berdua, begitu juga dengan wanita yang mungkin saja ada yang menyukaimu, apa perlu Tante minta kamu menghentikan perasaan itu pada wanita itu. Semuanya kembali kepada hati kalian masing-masing, jika memang Ayasha tulus mencintaimu dia pasti akan menjaga perasaanmu walau kamu sedang tidak bersamamu, begitu juga dengan kamu sebaliknya, jika kamu benar-benar mencintai Ayasha, maka kamu tidak akan tergoda oleh wanita lain.”
Jleb juga ya perkataan Mama Rara, untuk kedua kalinya hati Darial tersentil dari wanita yang berbeda. “Jika kamu menginginkan pasanganmu setia, maka ceklah dirimu sudah pantaskah buat wanita itu, sudah setiakah kamu untuk diri sendiri, lanjut kata Mama Rara.
Darial bergeming ...
“Saya beli salad buat Tante,” jawab Amelia, sembari menyodorkan bungkusan makanan itu.
“Makasih Amel,” jawab Mama Rara.
Darial kembali bersikap biasa saja, lalu kembali ke ranjang Ayasha. Ujung ekor mata Satya dan Amelia sama-sama mengikuti pergerakan Darial.
Tak lama ponsel Darial berdering, pria itu berpamitan pada Ayasha untuk keluar sebentar untuk menjawabnya. Namun tak selang berapa lama pria itu kembali ke dalam ruangan lalu berpamitan pada gadis itu karena ada pekerjaan yang membutuhkan kehadirannya.
...----------------...
Club Malam
Bilangnya ada urusan pekerjaan yang membutuhkan dirinya, namun kenyataannya pria bule itu mengendarai mobilnya ke salah satu club malam yang ada di salah satu hotel ternama.
“Hai, Darial ... akhirnya kamu mau juga ke sini,” ucap Leo yang sedang menyesap winenya.
Darial berdecak kesal. “Ck ... Bukannya kamu yang memaksaku untuk ke sini,” jawab Darial ketus, sembari menghentakan bokongnya dengan kasar.
“Wow ... kamu udah hampir tiga bulan loh tidak ikut bersenang-senang bersama! Jangan bilang kamu udah insaf jadi casanova! Aku mau kasih barang baru nih, masih original ... Belum tersentuh!” sahut Leo sambil mengerlingkan kedua matanya pada pria bule itu.
Pria itu memutar malas kedua bola matanya, lalu menegak segelas kecil wine yang disuguhi oleh Leo. “Buat kamu aja, aku udah insaf!” jawab Darial.
Leo tercengang, lalu menepis tangan wanita yang sibuk memijat benda pusakanya. “What ... Insaf! Aku gak salah dengar! Cewek mana yang bisa buat kamu insaf. Paling insaf nya hanya sebentar aja!” ejek Leo.
“Aku sudah berhasil mendekati wanita yang kuinginkan, aku serius dengannya,” sahut Darial.
Leo tidak percaya dengan ucapan teman bulenya, dengan melambaikan tangannya ke arah sebelah kanan, tiba-tiba seorang wanita muda dengan mengenakan baju sexy yang mengundang syahwat laki-laki, melangkah anggun, kemudian Leo memberikan kode pada wanita itu. Dan wanita itu pun menjatuhkan dirinya ke pangkuan Darial, lalu langsung menyerang bibir pria bule itu dengan ganasnya.
Tak jauh dari meja Darial dan Leo beserta para wanitanya, ada sosok pria dengan tatapan berapi-api, rahangnya pun mengetatkan, kedua tangannya sudah terkepal dengan kuatnya hingga kuku bukunya memutih, ternyata ada untungnya dia mengikuti kekasih Ayasha itu, saat tak sengaja melihat Darial masuk ke lobby hotel tempat dia menginap sementara.
bersambung ...
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komentarnya, kembang kopi, vote dan lain-lainnya. Makasih sebelumnya.
Lope Lope sekebon 🌻🌻🌹🌹🌹🌹🍊🍊🍊