
"Dzifa" panggil Lutfi.ia melihat Dzifa yang tengah duduk di sofa yang berada di kamar mereka dengan tatapan kosong.
"Kenapa Hem?" tanya Lutfi.
"Teteh gak papa kan ya?apa dia bisa membiasakan diri disana?" tanya Dzifa
"Insya'alloh.kamu jangan khawatir?"
"Apa ini baik?"tanya Dzifa tanpa mengalihkan tatapannya
" Insya'alloh.Dzif anak kita sendiri yang mau kita tak memaksanya untuk masuk lingkungan pesantren.Dzif ia memilih masuk ke lingkungan yang sehat.kita sebagai orang tua gak perlu khawatir."
"Tapi Fi" rajuknya.
Lutfi memegang tangan Dzifa "Aku tau kamu khawatir, tapi Insya'alloh semua akan indah pada waktunya."
Keputusan ini adalah hal tersulit bagi Dzifa tapi ini adalah hal yang sangat baik menurut Lutfi.Jarang ada anak yang meminta masuk pesantren, meminta karena ia tak mau terjerumus pada pergaulan yang salah.ia ingin mendapatkan kehidupan yang sehat dan bermanfaat.
Lutfi sangat antusias namun ia diam saat Dzifa menolak permintaan sang anak.Ia membiarkannya meluapkan semua yang ia rasakan.nemun setiap malam, saat Dzifa mengeluhkan perihal Afifah putri pertamanya ia selalu menasehatinya dengan lembut, memberi motivasi dan pencerahan.
Hingga akhirnya Dzifa mengiyakan.Ia merelakan berjauhan dengan Afifah.Dzifa selalu berkata kalau adik-adiknya yang minta masuk pesantren insyaalloh tanpa berpikir lama ia kan langsung mengiyakan tapi untuk Afifah rasanya Cukup berat, Entah apa yang menjadi beban nya untuk melepaskan putrinya ke pondok.
"Tidur yuk?" ajak Lutfi.Dzifa hanya merespon dengan Anggukan.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Keesokan paginya Dzifa di suguhkan dengan kedatangan Ais dan keluarga.juga sahabat lainnya.
"Masih pagi udah kunjungan Is?" tegur Dzifa
"Emang ngapa?" tanya Ais acuh
"Aji mana?"
"Masuk pesantren lah"
"Ko kamu masukin?emang itu kemauannya?"
"Enggak," Jawab Ais"Tapi Abi nya yang bersikeras memasukannya ke pesantren"
"Kenapa?"tanya Dzifa yang di balas dengan Gedikan bahu dari Ais
Khairul tersenyum" Aa' Aji itu perlu agama yang baik dan lingkungan yang sehat agar ia bisa disiplin dalam mengelola waktu."Jawabnya.
"Dirumah Aa' selalu bermain.kadang lupa belajar dan lainnya.aku juga khawatir ia kecanduan pada Handphone dan melihat yang bukan seharusnya ia lihat karena Ais gak bisa selalunya mendampingi."
"Iya bener" sambung Ais
"Kecemasan A' Khairul sama dengan Ku" Timpal Arya."Nah Dzif, kamu harus bersyukur kita dengan susah payah memasukan anak kita kepesantren sedangkan anak mu ia sendiri yang meminta"
"Afifah minta?" tanya Khairul dan Ais bersamaan.
"Iya"
"Subhanalloh"
Ais dan Khairul saling tatap dengan mata yang berkaca-kaca lalu beralih pada Dzifa dan Lutfi"Sungguh bahagia aku mendengarnya"
"Tapi Dzifa sempat nolak" Ucap Sandi
"Kenapa?" tanya Khairul
Dzifa menghela nafas pajang sebelum ia menjawab"Dia anak perempuan ku, putri pertama ku, Sulit untukku berjauhan.sedari ia bayi sampai saat ini aku tak pernah jauh darinya.Beda dengan Alfi dan kedua adiknya mereka aku bebaskan bila nenek - nenek nya menginginkan untuk mengajaknya bermain atau menginap.Ibuku pernah Bilang maaf karena mengekang mu untuk tidak berjauhan dari Ibu, semua Ibu lakukan agar Ibu bisa menghabiskan waktu dengan mu sebelum ada yang menjemputmu dan membawa mu pergi.itu yang terUcap dari Ibu dan selalu di angguki Ayah.Anak perempuan akan pergi ketika tiba masanya ia di pinang oleh laki-laki.tanggung jawab kita hilang saat pinangan itu di terima memang takan ada yang namanya mantan anak tapi waktu kebersamaan kita akan jauh berkurang."
"Fa" Ucap Ais.Ais merasakan hal itu karena ia memiliki satu Putri.
"Is, Sulit bagi ku untuk melepaskan putri ku Is, memang anak-anakku banyak.akupun sayang pada mereka tapi Afifah berbeda dia takan sekuat yang lain karna ia perempuan"
"Dzif, Afifah ingin menjadi penghapal al-qur'an agar bisa memberikan kamu dan Aku mahkota di surga.ia ingin jadi wanita tangguh dan cerdas sepertimu, ia ingin membanggakanmu dengan caranya" Ucap Lutfi
"Jangan sesali dan kekang iya.aku paham mau mu dan juga ingin mu tapi kita juga harus pahami apa yang di ingin Afifah selam itu baik" Sambung nya.
"Duhhhh pagi-pagi udah melow" Ucap Bima yang baru saja memasuki ruang keluarga di temani sang istri
"Ganggu suasana aja Lu" Ucap Sandi
"Suasana apa?"
"Isssshhhh"
"Awali Pagi dengan senyuman bukan tekukan apa lagi tangisan" Ucap Bima, Ia tau apa yang tengah di bahas namun ia tak mau Dzifa terus bersedih..
"Serah dah"