Dzifa

Dzifa
Cita-cita



Waktu telah menunjukan pukul 12:30 Lutfi melirik ke arah Dzifa yang tengah asik mengobrol bersama teman-teman ceweknya.entah apa yang Dzifa dan teman-teman nya hingga Dzifa mengabaikan pesan yang di kirim Lutfi ke handphone nya.


Lutfi merasa kesal karena pesannya tak mendapat balasan.


📨Lutfi


"Dzifa,shalat dulu"


"Dzifa shalat"


"Dzifa,shalat dulu nanti di lanjut ngobrolnya"


"Dzifa😤"


Seperti itulah pesan yang Dzifa kirim,namun Dzifa tidak membukanya sama sekali meskipun handphone nya sedang ia pegang.


Entah kesabaran Lutfi telah hilang atau bagaimana ia pun menghampiri Dzifa yang tengah asik itu.


"Ada apa?"tanya Ifat pada Lutfi.


"Dzif?"ucap Lutfi dengan nada sedikit meninggi dan tatapan yang tak bisa di artikan.


Dzifa mengusap tengkuknya yang tertutup hijab,ia merasa jika Lutfi marah padanya karena ia mengabaikan pesan yang sedari tadi di kirim.


Dzifa pun berdiri tanpa mengucapkan apapun dan menunduk lalu ia menghampiri Lutfi.memegang lengan Lutfi dan sedikit menyeretnya.


Iya tak mau Lutfi asal bicara dan ujung-ujungnya akan membuat orang-orang curiga akan statusnya.


"Woy pacaran tau tempat lu"teriak Ais


"Apa?"tantang Dzifa pada Ais.


"Kemana?"tanya Bima yang baru masuk ke kelas entah dari mana


"Shalat!"


"oh,ya udah sono"jawabnya.


Lutfi dan Dzifa pun pergi dari kelasnya menuju ke mushola sekolah.


"Kenapa sih?"tanya Dzifa


"Enggak"


"Ko jutek?"


"Emang harus gimana?"


"Ya ya terserah lo"


"Ko lo gw lagi?"


"oh ia lupa!"sambil tersenyum menampakan sederet gigi putih yang rata.


"Dzif,Umi pernah bilang biasakanlah menghargai orang dengan memanggil menggunakan panggilan yang baik."


"Ikh kaku bener sih?"


"Aku ini siapa kamu?"


"hem"jawabnya sambil celengan clinguk melihat takut ada orang"Husband?"


"Ya berarti?"


"Iya pak ustadz"jawabnya sambil berlalu mendahului Lutfi.Lutfi yang di tinggal di belakang hanya bisa tersenyum melihat Dzifa yang tengah kesal.


"Posisi kita sama,tugas dan tujuan kita sama,maka maafkanlah aku yang terlalu banyak bicara!"lirih Lutfi.


"khem?"suara Deheman seseorang yang ada di belakang Lutfi.Lutfi pun menoleh dan terkejut.


"Sejak kapan bapak disana?"tanyanya pada Pak Ardi kepala sekolah di SMA tersebut


"Baru saja?Bergumam apa kamu barusan?"tanyanya


"hemmm?"Lutfi bingung untuk menjawab apa dia sudah terlihat pucat karena keterkejutannya melihat Pak Ardi ada di belakangnya.


Pak Ardi mendekatinya dan tersenyum"Bapak sudah tau semua,jangan gugup seperti itu."Ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak Lutfi


"Tau apa pa?"tanyanya bingung


"Ufi,Ufi"ucap Pak Ardi sambil menggelengkan kepalanya


"Pak?"


"Nya terang atuh jang Ufi(ya tau lah lutfi),da urang th tatanggaan (karena kita tetanggaan)"


"Serius?"


"Nya muhun atuh jang!(ya benak nak!)"sambil menepuk kembali pundak Lutfi"Bapak teh Abahna Jang Ilham,Emut keneh sareng jang ilham?(Bapak itu Abah (Ayah)nya Ilham,masih ingat sama ilham?)"tanya Pak Ardi


"Emut pak,anjeuna masih di kobong?(ingat pak,beliau masih di kobong)"tanya Lutfi.


"Tos nikah sataun kapengker(Sudah menikah setahun yang lalu),ayeuna nju neraskeun sakola di Kairo sareng bojona!(sekarang lagi sekolah di kairo bersama istrinya!)sareng neraskeun usaha aki na(dan meneruskan usaha kakeknya)"jelas Pak Ardi


"Syukur alhamdulillah"


"Ujang bade di teraskeun kamana,ke tos rengse sakola didideu?(kamu mau di terus ka kemana,kalau sudah selesai sekolah disini)."


"Duka acan terang?(Belum tau?)"Jawabnya sambil menunduk,ia mengingat kembali ke inginan Dzifa yang ingin melanjutkan sekolah di London,sedangkan bila ia mengikuti ke inginan Dzifa apa dia bisa membiayai sekolah Dzifa dan dirinya di negri orang,dan siapa yang akan menjaga dan meneruskan usahanya?.


Pak Ardi tau ada hal yang menjadi beban Lutfi saat ini,karena sebenarnya iapun tau tentang pernikahan Dzifa dan lutfi yang di sembunyikan dari publik karena mereka yang masih sekolah.


"Diskusi kan lah dengan kepala dingin!"sambil berjalan melewati Lutfi


"Dia ingin sekolah di London"lirihnya tanpa sadar.


Pak Ardi membalikkan badannya dan tersenyum"Tabayyunlah!"


"Apa?"tanya Lutfi sambil mendongkakkan kepalanya menatap pak Ardi


"Hehe,,,bapak tau tentang mu dari Abi mu,dia sohib bapak waktu di pesantren.Oh ia bertanyalah pada ia dan carilah solusi yang menguntungkan untuk ke duanya,namun bila kamu sanggup bertanggung jawab dengan keinginannya kamu harus ikhlas melepasnya keluar negri."jelas pak Ardi.


"Saya masih belajar Usaha!"


"Ilham pun dulu seperti mu,mengeluh karena tak memiliki usaha atau pekerjaan namun dia ingin sekali menikahi Hasna anak Ustad Abdullah,ia pun berbicara pada ku dan aku menyarankannya membantu kakeknya dan keluar dari pondok,namun masih bisa ikut belajar di pesanten(ngalong)dan setelah itu alhamdulillah dia bisa menikahi wanita pujaannya dan bisa berprestasi hingga mendapatkan Beasiswa di kairo dan setelah itu ia memboyong istrinya untuk sekolah bersamanya di sana!"


"Beruntung sekali kak Ilham !"


"Iya dia beruntung namun tak seberuntung dirimu,kamu mendapatkan Dzifa wanita yang berprestasi,dan mandiri.dan juga kamu dalam segi materi telah mapan dengan kerja keras mu sendiri, kamu merintisnya dari nol dan itu luar biasa.sedangkan Ilham ia hanya meneruskan atau bisa di bilang hanya sebatas karyawan.ingatlah Asal ada tekad dan ke inginan yang kuat Alloh akan memudahkan apa-apa yang kamu cita-cita kan.yakinlah Alloh maha segalanya."jelas pak Ardi menyemangati Lutfi


"Iya pak,Bapak benar!"jawab Lutfi dengan senyuman.


"Ya sudah,Ayo sholat sebelum bel masuk berbunyi lagi" ajak pak Ardi dan di Angguki Lutfi.


☺☺☺


"Katanya nyuruh shalat tapi aku udah selesai dia masih aja belum dateng!"gerutu Dzifa"Nyebelin banget sih !"


Lutfi yang melihat Dzifa kesal karena dia tak mengikuti nya saat hendak mau ke mushola.ia hanya tersenyum.


"Dzifa"teriak pak Ardi.


"Iya Pak!"jawab Dzifa sambil menoleh ke arah samping mesjid dimana Pak Ardi dan Lutfi yang baru saja selesai mengambil wudhu.


"Sedang apa?"


"Tidak sedang apa-apa pak! baru selesai sholat pak"jawab Dzifa terbata-bata.


"Oh,ya sudah kalau begitu,kembalilah kekelasmu!"ucap pak Ardi,sambil berjalan masuk ke mushola


Dzifa pun berdiri pergi dari sana tanpa menoleh pada Lutfi.


🙂🙂🙂


"Dzifa Aneh deh lo?"ucap Bima


"Apa?"tanyanya sekarang ia masih ada di kelas dengan beberapa anak yang masih membereskan buku-bukunya.sudah dari 10 menit yang lalu bel pulang berbunyi


"Aneh banget"


"Iya Anehnya apa?"


"Ya lo ko nurut banget sama si Lutfi?"


"Males gw bahas itu,tanya yang lain lah"


"Cihhh,curiga gw?"


"Serah lo!"jawabnya sambil berlalu meninggalkan tempat duduknya"Gak usah curigaan,suudzon itu temennya setan"teriak Dzifa satelah berada di ambang pintu.


"Sialan lo...