Dzifa

Dzifa
Jahil di jahili



Setelah ke jadian di mall waktu itu Dzifa lebih bijak dalam mengelola pengeluaran.ia selalu mendiskusikan segala sesuatu pada Lutfi tentang apapun yang ia akan beli.ia memisahkan antara kebutuhan rumah dan kebutuhan di luar rumah.


Dulunya Dzifa sangat terobsesi pada motor sport namun sekarang ia tak lagi tertarik,entah kenapa saat Lutfi bilang akan membelikannya motor untuknya. Dzifa dengan terang terangan menolak.


Mungkin sekarang Dzifa berpikir kalo uang yang ia dan Lutfi hasilkan jika di belikan pada suatu hal yang jarang-jarang di pakai itu akan mubadzir sedangkan kemanapun Dzifa pergi Lutfi selalu menemaninya menggunakan mobil pemberian Abinya,dan soal motor Lutfi pun telah memiliki motor yang sekarang di gunakan Arya.iya jarang mungkin bisa di bilang tak pernah membawa motor setelah ia menikah,makanya ia meminta Arya menggunakannya.


Dan soal rumah yang di berikan oleh orang tua Dzifa sebagai hadiah pernikahan nya.berangsur-angsur Lutfi dan Dzifa mengisinya namun belum mereka tingali.


Rencananya mereka akan pindah seminggu sebelum acara resepsi pernikahannya.acara resepsi yang akan di adakan di rumah itu dengan mengundang guru-guru,teman-teman sekolah,tetangga dan sanak saudara mungkin juga rekan kerja orang tuanya dan Lutfi sendiri.


Resepsi pernikahannya pun akan di adakan sehari setelan acara kelulusan itu rencana yang sudah di setujui oleh orang tuanya dan juga Lutfi dan Dzifa sendiri.


Pernikahan Lutfi dan Dzifa itu bukan karena cinta namun karena ketaatan pada perintah orang tua,agama dan ikhlas.itu yang menuntun mereka dalam membangun rumah tangga.


Semua orang tak ada yang sempurna dalam membina rumah tangga,namun karena ke ikhlasan dan saling dalam segala hal membuat rumah tangga mereka utuh.


Saling mengingatkan itu adalah kunci dari keutuhan namun cara yang di gunakan pun harus lah beretika,ingatkanlah pasangan ketika kita tengah jauh dari keramayan. jangan membuat dia malu,karena bila kamu membuatnya malu berarti kamu mempermalukan diri kamu sendiri.dan ingatkanlah ia dengan cara yang baik,jangan sakiti hatinya dengan ucapan kotor mu,apalagi dengan upatan - upatan yang tak pantas di tujukan pada manusia.


Perbedaan bukan berarti penghalang untuk menjadi satu kesatuan.namun perbedaan akan menjadikan sebuah ke harmonisan yang tak di sangka-sangka.


"Dzifa,besok ulangan kenapa gak belajar?"tanya


"Hehe males"


"Awas lo kalor nilainya jeblok"


"Gak akan!"ucap Dzifa


"Ya udah belajar yuk!"ajak Lutfi


"Enggak ahh males"


"Fa"ucap Lutfi sambil membuka bukunya.


"Curiga"Ucap Dzifa sambil melirik ke arah Lutfi


"Heheee"tawa Lutfi cengengesan,Dzifa tengah menebak apa yang di pikirkan Lutfi


"Nomer 24 aku gak ngerti"ucap Lutfi.Dzifa dan Lutfi sudah merubah panggilannya menjadi aku kamu,itu karena setelah ketahuan Ayah dan ibunya Dzifa saat mereka sedang berkunjung ke rumahnya.


"Kalo gak salah rumus nya ada di halaman 164"Ucap Dzifa yang sedang asik menonton televisi dan memakan camilan.


"Sini lah,ajarin!"ucap Lutfi sambil memegangi kakinya Dzifa supaya Dzifa ikut duduk lesehan.


"Gak mau lagi seru!"ujar Dzifa


"Cepet!"ucap Lutfi


"Ganggu banget ikh!"Ucap Dzifa menepis tangan Lutfi yang memegangi kaki Dzifa


"Fa"Ucapnya memelas.


"Oke,tapi lo yang nyuci piring ya!"ucap Dzifa.


tak beberapa lama setelah mengambil buku,Lutfi menyusul Dzifa ke Dapur.


"Ko banyak?"ucapnya saat melihat wastapel yang di penuhi gelas dan piring kotor.


"Emang banyak!"


"Kamu jaili aku ya!"tuduh Lutfi


"Enggak!"Elak Dzifa.sebenarnya iya!


"Dari kapan gak nyuci piring?"


"Kemarin apa dua hari lalu ya.lupa!"ucapnya enteng


"Kenapa gak di cuci-cuci?"


"hehe,males dan capek!"ucap Dzifa cengengesan.


"Bantuin dulu!"ucapnya sambil memegangi sabun pencuci piring.


"Gak mau!"


"Oh oke,gak dapet pahala donk!"Ucap Lutfi


"Huuuuh, kamu yang bilas aku yang sabunin!"ucap Dzifa sambil menggulung lengan bajunya.


"Gitu donk nurut!"ujar Lutfi sambil mencawil hidung Dzifa.


"Basah!"ucapnya


"Kan namanya juga Air"sambil mencolek pipi Dzifa


"Jangan colek-colek,aku bukan sabun colek"


"Kata siapa kamu cabun colek!"


"terus ngapain colek-colek.Ah nyebelin!"


"Iya nyebelin tapi kenapa ya katanya nyebebelin tapi ko di pelukin!"Goda Lutfi tanpa melihat ke arah Dzifa


"Bukanya kamu yang suka minta di peluk!"


"Emang iya,tapi kamu juga kan!"


"Kata siapa?"ucap Dzifa yang wajahnya sudah memerah karena malu.


"Kata aku lah,siapa lagi yang tidur bareng kamu,kalo bukan aku!"ucap Lutfi sambil menyimpan piring terakhir yang ia cuci.


"Udah udah udah iya iya puas!"ucap Dzifa sambil mencubit lengan Lutfi dan berlalu pergi ke ruang nonton TV.


Lutfi mengaduh memegangi tangannya yang pedas karna di cubit Dzifa.ia pun ter senyum melihat tingkah Dzifa"Lucu"itulah yang terucap saat melihat punggung Dzifa berlalu dari pandangannya.