
Dzifa dan teman-temannya tengah menunggui Arya yang sedari tadi hanya melamun.Luna sahabatnya telah berpulang menghadap sang ilahi setelah berjuang melahirkan putri-putrinya.
"Ya" Panggil Lutfi
"Fi, gimana ini?" tanya Sandi.
"Jangan bikin panik!" tegur Willy.
Dzifa pun mendekat pada tempat duduk Arya"Arya"Panggil Dzifa sambil menepuk pundaknya,Arya pun menoleh.
"Dzif" Ucapnya lirih
"Mana dua jagoan mu Ya?" tanya Dzifa dengan mata yang clengak clinguk mencari keberadaan dua anak Arya
"Dzif" Panggil Arya
"Apa?"
"Dzif...
" Jangan larut dalam kesedihan Ya,kamu masih punya 2 jagoan mu dan putri kecilmu yang butuh cinta dan perhatian darimu"Arya diam
"Dua jagoan mu dan putrimu itu mereka butuh kasih sayang dan perhatian dari mu, jangan ratapi dia yang sudah lebih dulu berpulang bersama anak bungsumu, jangan buat dia tak tenang karena kamu tak mengkunjung mengikhlaskan kepergiannya."
"Kenapa...
" Apa yang kenapa?jangan mengeluh lagi Ya, aku tak suka mendengar seorang laki-laki mengeluh"Ucap Dzifa sakras.
Hati Dzifa bergetar, ingin sekali ia mendengarkan jeritan hati sahabatnya itu namun ia tak mau, mengingatkan Arya pada masa-masa indah bersama Wanita yang telah meluluhkan nya.
"Alloh telah mengambilnya,Beserta bayi perempuan yang sangat-sangat ia harapkan, ia sering iri pada ku kenapa Alloh memberi 2 jagoan yang bisa menemaniku sedangkan dia hanya bisa memandangi dari jauh, ia selalu bilang ingin sekali aku punya anak seperti Afifah, aku bisa menguncir rambutnya bisa aku ajak dia masak bersama.....
"Manusia hanya bisa berencana Ya"
"Alloh lebih menyayanginya ketimbang aku Dzif" Keluh Arya.
"Ya,Semua atas kuasanya.kamu tak boleh bicara seperti itu.mana Arya yang siap memperjuangkan kebahagiaan orang-orang terdekatnya.Ayo Ya kamu harus bangkit,Aku percaya kamu bisa membesarkan ke 3 anak mu dengan Cinta dan kasih sayang yang kamu miliki.Anak kamu semua butuh kamu Ya."
"Ya, sudah seminggu kamu menelantarkan mereka.jangan buat mereka kehilangan sosok Ayah pula" Ucap Sandi
Arya diam, iya dia punya dua jagoan dan satu bidadari yang harus ia besarkan.mereka butuh cinta dan kasih sayang.meski sekarang sudah tak ada Luna tapi ia harus bisa membesarkan ke 3 anaknya dengan baik.jangan sampai anak-anaknya kekurangan cinta dan harta.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Dzifa mengendus kesal karena sedari tadi ia harus terus mengejar ke dua anaknya yang tengah aktip kesana kemari.
"Kenapa?" tanya Lutfi.
"Liat tuh ke dua anakmu" Ucap Dzifa
Lutfi tersenyum,kedua anaknya sungguh sangat aktip melebihi Alfi dan Afifah.Lutfipun menepuk tangan.Kedua anaknya yang tengah asik pun menoleh lalu mereka berlarian menghampiri Lutfi yang baru saja pulang.
"Istirahatlah, biar aku yang jaga" Dzifapun mengangguk mengiyakan.
"Ayah Susu" Ucap Alfi pada Lutfi yang baru saja berhasil menggendong ke dua anak yang baru berusian 15 bulan itu.
"Ayah, kakak mau makan" Ucap Afifah di belakang Alfi.
Lutfi pun menghela napas panjang, tak mungkin ia meminta bantuan pada Dzifa sedangkan dia sudah melihat betapa lelahnya Dzifa mengurus ke 4 anaknya.
Lutfi berjalan ke arah dapur tanpa menjawab perkataan ke 2 anaknya, namun kedua anaknya tetap mengekor padanya.tanpa di suruh Kedua anaknya duduk di kursi meja makan menunggu pesanan nya segera di buatkan oleh Ayahnya.
"Ayah, Alfi juga mau"
"Mau Apa Aa'?tanya lutfi
" Mau mie"
"Oh, sebentar"Ucap Lutfi.
" Ajak main dulu adek ya!"Titah Lutfi yang di angguki keduanya.
Menjadi suami sekaligus Ayah adalah hal yang di inginkan setiap kaum laki-laki.lelah yang ia rasakan setelah seharian bergelut dengan pekerjaan tergantikan ketika ia melihat anak-anak nya tertawa bahagia bersama.sungguh sederhana namun luar biasa.
ke aktipan anak-anak dan juga kepintaran yang mereka perlihatkan di hadapan orang tuanya adalah obat lelah yang paling mujarab.
Badan lelah setelah bergelut dengan semua rutinitas terganti dengan kata-kata yang mereka lontarkan, dengan candaan yang mereka lakukan dan banyak lagi.
Bahagia, ia kebagian sederhana namun bermakna.
Dzifa melihat Lutfi yang tengah bergelut dengan alat-alat dapurnya.memang Lutfi laki-laki yang di idamkan semua wanita karena Lutfi adalah suami yang baik, pengertian, jago masak, jago menjaga anak-anak, dapat di andalkan dalam berbagai masalah rumah
"Teh" Panggil Nura
"Eh Ra"
"Teteh beruntung punya suami kaya Aa' orang nya baik dan juga penyayang." Ucap Nura sambil menatap Lutfi yang baru selesai membuat susu untuk ke dua anaknya.Dzifa hanya tersenyum menanggapi perkataan Nura.
"Ra, kamu gak ke malaysia lagi?"
"Insyaalloh bulan besok Nura akan kesana bareng semua keluarga untuk wisuda" Ucap Nura
"Sukses ya"
Nura tersenyum lalu mengangguk"Sudah ada rencana?"
"Selepas wisuda aku mau membereskan semuanya dan kembali tinggal di jakarta"
"Oh, Berapa usia kandungan Nisa sekarang Ra?katanya ia sedang hamil?"tanya Dzifa sambil berjalan ke arah taman belakang.di ikuti Nura, memang tempat yang paling nyaman di rumah Dzifa adalah taman belakang yang memiliki kolam ikan karena Dzifa sangat senang sekali memakan olahan ikan yang ikannya masih fress jadi Lutfi berinisiatif membuatkan kolam di halaman belakang.selain itu taman itupun sudah sangat mirip dengan kebun karena ada banyak sayuran yang di tanam Lutfi dan Dzifa, pikir mereka, mereka ingin mengenalkan anak-anaknya dengan sayuran yang mereka makan, dari proses menanam hingga ke tahap memasak.
"Sudah 3 bulan katanya Teh?"
Mereka pun sampai di taman, Dzifa mengajak Nura duduk di bale-bale
"Kamu kapan nyusul?"
"Nyusul apa teh?"
"Nyusul nikah?"
"Do'ain aja ya teh" Ucap Nura
"Teteh akan selalu mendo'akan semua orang terdekat teteh.Eh iya ada apa kamu tumben"
"Tidak apa teh, aku cuma mau pesan baju untuk ku."
"Baju untuk?"tanya Dzifa
"wisuda dan juga baju untuk sehari-hari sama cadarnya ya teh" Ucap Nura
"Mau pesan berapa dan ukurannya?"
"Satu untuk wisuda namun syar'i ya teh,5 untuk sehari-harinya dengan berbagai motip, model dan warna juga cadar!" Jelas Nura
"kenapa gak ke toko langsung?"
"Aku gak mau sendiri teh, kalau sama Dek Gani, Dek Gani nya suka ngeburu-buru.
" Oh gitu, gini aja gimana, besok kamu ke toko teteh usahain ada di toko besok ba'da dzuhur.Teteh akan pilihin yang terbaik untuk mu"Ucap Dzifa.
"makasih teh, teh dulu teteh kan nikah muda bagaimana kok bisa teteh sama Aa' mempertahankannya."
" Nikah di usia yang sangat labil adalah hal yang sangat sulit, banyak paham yang datang dan juga banyak pula wejangan yang kadang bertentangan dengan apa yang kita inginkan.Ego yang mendominasi menjadikan apa yang kita harapkan sering kali tidak terarah dengan baik.sebenarnya nikah mau di usia berapa pun tak ada bedanya, semua tergantung pada bagaimana kita menyikapi suatu permasalahan dengan kepala dingin dan solusi yang di pikirkan secara matang.hilangkan sifat keras kepala namun tanamkan mendengerkan pendapat pasangan , dari saling mendengarkan kita bisa menilai seberapa dewasa dan bijak dia dalam menyikapi permasalahan.
Umur bukanlah tolak ukur, menikah adalah ibadah, bila sudah siap menikah, menikahlah karena dengan menikah berarti kita telah menyempurnakan separuh agama kita.nikah bukan permainan tapi nikah suatu ke seriusan.karena mengemban tanggung jawab itu sungguh sangat berat.niatkanlah dulu dalam hati dengan kesungguhan dan karena nya insyaalloh semua akan baik-baiak saja."