Dzifa

Dzifa
Perpisahan?



"Yang" Panggil Bima pada Nura sang istri


"Iya, Ada apa Mas?"


"Mau nanya boleh?"


"Nanya apa?" tanya Nura sambil duduk di sebelah Bima.Mereka sekarang ada di ruang tv.


"Kemarin aku masih kurang paham atas penjelasan Dzifa soal sholat yang gak boleh di tukarkan"


"Oh itu, sebenarnya aku juga masih belum paham betul Mas, Namun yang aku tau di hidup ini kita di tuntut ikhlas dalam melakukan sesuatu jangan sampai kita pamrih, apa lagi kita melakukan hal yang berhubungan dengan pahala.Pahala itu tak terlihat dan tak ternilai.Uang itu bernominal sedangkan pahala juga sama namun yang membedakan adalah terhitung dan tidaknya."


"Terhitung dan tidaknya?"


"Hemm, Gini.Contohnya kalau Mas bekerja keras mas akan menemukan hasil yang lebih dari gajih Mas biasa.sedangkan pahala pun begitu kalau mas bekerja keras insyaalloh Mas akan mendapatkan pahala yang cukup besar.namun Mas gak akan tau berapa nominal pahala yang di dapat."


"Lalu maksud jangan menukar?"


"Iya shalat itu jangan di tukar dengan kebutuhan duniawi kita, Cukup kita Ucapkan syukur pada Alloh atas pemberiannya untuk hari ini dan di selamatkan Dunia juga Akhirat"


"Pemberian?"Nura mengangguk


"Pemberian itu mencakup banyak hal Mas, Salah satunya Pemberian Rejeki, Pemberian kemudahan, Nikmat Sehat dan Hal lainnya."


"Jadi Cukup kita berdo'a mengucapkan Syukur dan juga Minta di selamatkan dunia dan Akhirat?" tanya Bima


"Iya, Juga jangan lupa kita minta Ampun pada Alloh atas apa yang kita perbuat, Mau yang di sengaja atau tidak"


"Dek, Bukankah Alloh tempat kita mengadu, mencurahkan semua keluh kesah yang ada"


Nura tersenyum, Suaminya ini sungguh sangat banyak bertanya mengenai Islam, dan itu membuat ia sangat-sangat bahagia"Bukankah meski kita gak mengadukan dan menceritakan kepada-NYA, IA telah tau, IA lebih tau dari pada kita sang pemilik Badan Mas"


"Alloh Maha tau apa yang baik dan Buruk untuk Umatnya.Yang harus Umatnya lakukan adalah berjuang menjadi lebih baik dan Ikhlas melakukan segala sesuatu."


"Kalau soal Rejeki?"


"Satu hal, Selama Kita masih bernafas Alloh akan memberikan kita rejeki.Hanya yang patut kita syukuri adalah Besar dan kecilnya.Jangan mengeluh,Cukup Perbaiki hari dari hari sebelumnya"


"Subhanalloh, Begitu ya dek, Makasih penjelasannya." Ucap Bima


"Sama-sama Mas." Jawab Nura"Rencana Mas kedepannya bagaimana?"


"Huffffh Mas berniat mengajak Willy dan Sandi membuka Usaha.Sesuai dengan Bisnis yang sebelumnya Mas kuasai"


"Mas yakin?"


"Iya, Mas yakin.Hanya mungkin Adek akan mas kasih Nafkah kurang dari sebelumnya, tapi tenang Mas usahakan akan memberikan sebagaimana mestinya"


"Mas, Yang Mas beri sudah lebih dari Cukup.aku gak keberatan kok soal itu.yang terpenting Mas jangan lupa Shalat"


"Makasih dek"


"Gak perlu Berterimakasih Mas,Apapun yang Mas Lakukan selagi baik dan untuk kebaikan kita bersama aku dukung."


"Istrinya Mas Bima lah" Jawab Nura dengan senyum manisnya


"Terimakasih Bidadariku"


"Sama-sama My Hubby"


Bahagia itu sederhana, berbagi ilmu dan berbagi pikiran.Saling mencurahkan, Saling mendukaung dan saling menguatkan.


🌼🌼🌼🌼🌼


Dzifa tengah menangis di kamar, Ia tercengang saat Anak perempuannya menginginkan pindah sekolah ke Pesantren yang ada di Bandung.


"Jangan Nangis" Ucap Lutfi.


"Tapi Fifah hiks..


"Sayang, Kita Cari solusinya ya tapi kamu harus tenang Dulu"


"Fi, kenapa Fifah ingin masuk pesantren?apa ia kekurangan ilmu di rumah?" tanya Dzifa


"Sayang, Afifah bilang ia tak mau ketergantungan pada handphone.ia ingin seperti Aji hidup bermasyarakat dan menuntut ilmu langsung pada Guru.juga ia ingin belajar Mandiri.Ia kakak tertua ia harus memberikan Contoh yang baik untuk adik-adiknya kelak.Di usianya saat ini aku gak percaya dia bisa berpikir sedewasa itu.namun saat aku berbicara pada Mamah mamah bilang Fifah berbeda dengan kita ia memiliki tanggung jawab sebagai kakak sedangkan kita tak memiliki Adik makanya pemikiran kita agak berbeda dengan Fifah.Meskipun aku memiliki Adik tapi Alloh lebih sayang terhadap adikku jadi aku tak ada di posisi Fifah."


"Apa kah kamu ikhlas?"


"Yang, ikhlas gak ikhlas kita harus ikhlas.kita turuti saja apa yang ia mau, selagi itu baik"


"Aku pikirkan dulu"


"Ya sudah, Jangan nangis lagi"


"Fifah anak pertama Fi"


"Aku tau"


"Dia Wanita satu-satunya Fi"


"Iya"


"Sulit Fi"


"Istigfar Fa, insya'alloh semua akan baik-baik saja" jawab Lutfi


"Bandung Fi?"


"Seminggu sekali kita ke bandung Fa"


"Tapi...


" Tidur ya, jangan di pikirin.Besok kita bicara sama Umi kan sekarang Umi dan Abi tinggal di Gegerkalong gak jauh dari pesantren yang di mau Afifah."


🌼🌼🌼🌼🌼