
Dua hari Siska meninggal dan dua hari itu pula Arya tak pulang,terakhir Luna bertemu dengan Arya saat di pemakaman dan itu pun hanya selintas,saat di pemakaman ia menegur Arya namun Arya melongos begitu saja,tak menghiraukannya.
Ada rasa kesal dan sesak saat di perlakukan seperti itu oleh laki-laki yang sangat ia sayang tapi pertengkaran terakhir yang membuat Arya begitu kesal hingga membuatnya membnting pintu dengan keras.
Memang ia yang salah karena ia meninggikan egonya tanpa peduli pada apa yang Arya kerjakan.waktu itu ia merasa Iri terhadap Dzifa dan Lutfi yang baru minggu lalu pulang berlibur dari london lalu di teruskan ke Kairo,setelah acara resepsi di sambung lagi berlibur ke Singapura,siap coba yang tak merasa iri akan keberuntungan pasangan itu.mungkin memang rejeki tengah berpihak pada mereka.
Ting tong ting tong
Suara bel pun berbunyi,Luna berjalan keluar dari kamarnya saat melewati ruang tamu ia sekilas melihat jam,jam tengah menunjukan pukul 10 malam.
"Siapa ya,apa Arya?"tanyanya dalam hati.
ceklek
"Assalamualaikum"Ucap Ibu Ami ibunya Arya dan Bunda Lina.
"Waalaikumsalam"Jawab luna"Ayo masuk buk,bun"Ucap nya sopan setelah menyalami ke du orang tuanya itu.
"Kenapa malam-malam berkunjung buk,bun.tumben?"tanya Luna saat setelah Ibu dan Mertuanya duduk.
"Ibu kebetulan baru saja pulang dari teman ibu,lalu bertemu dengan bunda mu,ya udah ibu mampir!"jawab ibu Ami.
"Gimana kabar kamu nak?"tanya Bunda Lina.
"Aku baik-baik saja bun.eh ia tunggu sebentar aku ambil minum dulu."Ucap Luna sambil berdiri dan beranjak pergi ke dapur.
"Sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan oleh menantu!"ucap Ibu Ami setengah berbisik.
"Kenapa Jeng bisa bicara seperti itu?"tanya Bunda Lina heran.
"Apa Arya melakukan sesuatu!"Ucapnya tanpa menghiraukan pertanyaan dari besannya.
"KDRT maksud Jeng?"tanya Bunda lina namun ibu Ami menggeleng
"Aku percaya anakku takan menyakiti wanita dengan tangannya,namun mungkin dengan lidahnya."
"Lalu?"
"Kita tanya Luna baik-baik,mudah-mudahan dia bersedia bercerita."jawab Ibu Ami yang di angguki oleh Bunda Lina.
"Bun,Buk maaf gak ada apa-apa di rumahnya,cuma ada ini saja."Ucap Luna.
"Iya gak papa nak!"jawab ibu Ami.
"Dimana Arya?"tanya bunda Lina.Luna pun kembali murung.
"Duduk sini di tengah-tengah bunda dan ibu!"titah Ibu Ami.
"Mau cerita?"tanya Bunda.dan diangguki Luna,Luna pun menangis sejadi-jadinya.membuat ke dua ibu itu menatap bingung.
"Ko nangis,Arya nyakitin kamu sayang?"tanya Ibu Ami.Luna menggelengkan kepalanya.
"Menangislah,setelah kamu siap kamu boleh cerita!"Ucap Bunda Lina dan di angguki nya,selang beberapa lama Luna pun kembali tenang.
"Bun apa salah,bila Luna ingin berlibur seperti Dzifa dan Lutfi?"tanya Luna.kedua orang tua itu pun menyeringai bingung 'sesimple inikah'
"Ya enggak lah nak!"jawab bunda Lina
"Bun,Aku ingin bisa berlibur seperti mereka,jalan-jalan berdua bersama Arya layaknya pasangan lain!"rengek Luna
"Arya hanya mengucap maaf.Aku tak butuh kata itu Bun."Rengek Luna lagi.kedua orang tua itu menghembuskan nafasnya berat.
"Nak,untuk apa Arya berucap maaf"tanya Ibu Ami.
"Karena ia gak bisa nedunin keinginanku buk,aku hanya ingin menikmati kebersamaan ku dan dia buk,aku ingin seperti pasangan lain!"
"Kalau pasangan lain bercerai kamu mau bercerai juga?"pertanyaan itu membuat Luna,bunda Lina,dan Ibu ami membelalakan matanya.
"Abang?"Ucap Luna.
"Dek,Rasa iri mu itu akan menghancurkan rumah tangga mu!"ucap Aksa.
"Luna gak iri Bang!"
"Lalu???"Luna terdiam"Luna iri terhadap apa yang di miliki orang lain itu termasuk penyakit hati,kamu tau itukan???Luna kamu sudah mengambil jalan besar dengan berani menikah di usiamu yang masih sangat muda,Abang excited dengan keputusanmu,Abang mengira kamu telah dewasa dengan mengambil keputusan sebesar ini.tapi ternyata abang salah,abang kecewa Dek,sangat kecewa!"Ucap Aksa
"Apa yang salah dari Luna Bang?"tanya Luna kesal karena ia merasa di pojokan oleh kakaknya itu.
"Kamu gak merasa salah dek?"luna pun mengangguk"Astagfirullah,Dek menikah itu menciptakan sakinah mawadah warohmah bersama-sama.sakinah adalah dengan cara kamu saling dengan pasangan mu lalu nanti mawadah warohmah akan mengikuti dengan berjalannya waktu.Astagfirullah kalau Ayah tau ia akan marah pada mu dek,sungguh!"Ucap Aksa geram dengan kepolosan Luna.
"Sa,jaga emosimu nak?"
"Lun,masalah kamu ingin berlibur bicarakanlah dengan Arya baik-baik,jangan sampai masalah ini berlarut-larut."Ucap Ibu Ami.
"Iya,nak nanti akan berdampak buruk.dengarkan apa yang menjadi penghambat Arya tak menuruti kemuanmu.dan kamu harus bersikap dewasa dalam menghadapi masalah."sambung Bunda Lina.
"Dek,iri pada kebahagiaan orang lain adalah sebuah dosa dan taukah kamu rejeki dan kebahagiaan akan menjauh karena iri adalah ketidak bersyukuran mu pada apa yang Alloh berikan.hilangkan rasa iri di hatimu supaya rumah tangga mu selalu baik-baik saja,dan satu lagi masalah sepele seperti itu sungguh Abang jijik mendengarnya!"jawab Aksa Sinis.
"Abang makanya nikah biar tau apa yang di rasain adek!"Ucap Luna
"Dan kakak gak akan nikah dengan orang macam kamu yang kekanak-kanakan."jawab Aksa dan Luna pun cemberut seketika.
"Ini adalah ujian supaya kamu lebih dewasa kedepannya.Ibu pamit kakak sudah menjemput ibu di bawab,besok ibu kesini lagi."Ucap Ibu Ami pamit.ia pun berjalan keluar sambil memegangi dada nya ada rasa sesak saat mendengar Luna merajuk ia tau anaknya hanya buruh kecil yang tak mungkin bisa memenuhi segala kemauan Luna dengan secepat kilat,ia harus berjuang dulu demi mendapat sesuatu apa yang dia mau.ada rasa sesal salah ia mengijinkan anaknya menikah di usia muda dan masih belum bisa berdiri tegak di pijakannya sendiri.
"Lun,tau ngak dengan sikap kamu barusan itu membuat hati Bu Ami sakit!"Ucap Aksa.
"Abang?"tegur Bund Lina
"Iya Bun!"Aksa pun menunduk.
"kenapa Abang berkata seperti itu?"tanya Luna.
"Hati mana yang tak sakit bila sang anak tak mampu membahagiakan sang menantu.Lun,minta maaf lah pada suami mu jangan biarkan masalah sepele ini berlarut-larut."Ucap Aksa.
"Iya bang."
"Abang dan Bunda pamit"ucap Aksa.
"Iya hati-hati"
"Inget belajar dewasa!"ucap Aksa.Luna pun segera menutup pintu apartemennya setelah menjawab salam yang di acapkan bunda dan kakaknya itu.
tak lama suara pintu apartemennya terbuka kembali.
"Maaf"Lirih laki-laki dengan suara serak pada Luna yang masih mematung membelakangi laki-laki tersebut.