Dzifa

Dzifa
Memberi ilmu Yang mempuni



Menegangkan memang pergi untuk mengecek kesuburan meski di temani sahabat tetap saja Bima merasakan gugup yang amat membelenggu.


Sedangkan Di rumah Dzifa tengah menjamu semua sahabat-sahabatnya yang datang.mereka saling bercerita melepas rindu.


"Dzif, suami mu kemana?" tanya Arya.


"Lagi pergi sama Bima" Jawab Dzifa.Berbohong adalah hal tak baik bukan.Meski pada akhirnya akan mendapatkan banyak pertanyaan.


"Kemana?"


"Ke Rumah sakit" Jawab Dzifa sambil tersenyum


"Siapa yang sakit?" tanya Ifat.


Dzifa hanya mengedikan bahu, Bima lebih berhak menjelaskan dan juga ia tak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Bima.


"Serius Dzif"tanya Danu penasaran


"Udahlah, sebentar lagi juga mereka akan pulang, di tunggu aja"


"Ahhhhh kamu mah bikin penasaran"


"Eh iya,kalian tau kemarin aku ngajuin froposal kerja sama ke kantornya Bima tapi saat rapat aku gak ketemu Bima malah ketemu orang lain namanya Xana namun sekertarisnya Dedy." Ucap Sandi


"Dedy, Bukanya itu sekertarisnya Bima?" tanya Ifat.


"Iya Yang" Jawab Sandi.


"Sepertinya dia mengundurkan diri" Ucap Arya


"Mengundurkan Diri?" tanya Wina kaget


"Hem, waktu itu aku ketemu dia di Mall,kita sempat ngobrol"


"Ngapain kamu ke Mall?" Tanya Ifat"Cari daun Muda ya?"tuduhnya


"Aku beli buku-buku buat anakku yang pertama yang sekarang udah masuk Pesantren" Jawab Arya"Jangan Suudzon"


"Hehe, seriusan kamu ngelepas anak pertamamu?" Tanya Ifat lagi


Arya tersenyum kecut"Iya, ini demi kebaikannya"


"Kaya Aji donk" Timpal Ais"Aji juga kayanya bakal masuk Pondok"


"Kalian gak kasihan sama anak kalian" Ucap Wina sambil menimang anak keduanya yang sedari tadi tak mau di ajak duduk


"Aku single Daddy,Di rumah hanya sebentar karena harus kerja, Si Bungsu juga kayanya bakal di masukin pesanteren gak mungkin kan aku ngerepotin Ibu mertua ku terus.memang Ibuku ada tapi Ia sering sakit-sakitan aku gak mungkin ngerepotinnya.lagi pula aku udah ngobrol sama keluarga ku baiknya kaya gimana.Memang sesak harus berjauhan sama Anak tapi apa mau dikata ini sudah jadi keputusan yang baik karena aku gak mungkin bisa ngejaga, ngedidik dan juga bekerja.Aku sadar tanganku dan Lidahku tak semulus seorang ibu" Jawab Arya.


Arya setelah Luna meninggal memang menjadi sosok yang lebih dingin.ia lebih menyibukan diri dengan Bekerja dan mengurusi anak.menyempatkan waktu untuk berlibur bersama anak-anaknya adalah hal pokok yang selalu ia lakukan.ia tak mau anak-anaknya merasa kehilangan.ia pun sekarang lebih condong mempersiapkan untuk masa depan Anak-anaknya.Ia tak mau bila anak-anaknya kekurangan di masa depan.


"Iya benar Ya,Meskipun aku seorang Ibu tapi ilmu agama ku tak mempuni untuk mendidik anakku dengan baik, aku ingin ia lebih dekat dengan Allah tuhan nya, karena dengan ia lebih dekat dengan tuhanya ia pun insyaalloh memiliki sifat baik, dan akan menjaga sikap dan sifat ketika ia masuk kedalam masyarakat" Jawab Ais.


"Bagi Orang tua melepas anak itu sangat menyedihkan.tapi demi kebaikan kita harus melakukannya.Insyaalloh kita akan mendapatkan Buah dari apa yang kita lakukan" Sambung Dzifa.


"Afifah pun?" tanya Wina.


"Tidak lah, ia tak di masukan kepesantren.namun entah nanti setelah menginjak remaja." Jawab Dzifa "Aku dan Lutfi melihat anak ku bisa kami atur dan ia juga taat akan aturan yang ada.Kami juga sedikit membatasi pergaulannya.Semua ibu pasti memiliki rasa Khawatir karna takut anaknya salah jalan, Sama seperti aku.tapi untuk berjauhan dengan Afifah itu sangat sulit"terang Dzifa


"Laki-laki dan Perempuan berbeda Ais." Jawab Dzifa.


"Sebenarnya laki-laki dan perempuan sama dari segi menuntut ilmu, Namun laki-laki harus kuat sekuat Baja dan hati selembut sutra.maka harus dilatih dan didik sejak dini.tanggung jawab seorang laki-laki amat besar maka ia harus di didik agar ia bisa menghadapi dunia dengan ilmu yang mempuni.menurutku tak buruk saat aku memilih pesantren untuk ku titipkan anak-anak ku disana.Aku berharap mereka bisa menjadi Hafiz Al-Qur'an agar bisa memberi mahkota pada aku dan Luna di yaumil Akhir.menjadi penyelamatku dari siksa api neraka, Bukan hanya itu, inginku agar mereka paham batasan-batasan pergaulan.taulah kalian pergaulan jaman sekarang bagaimana?segala sesuatu mudah kita cari dan lihat hanya dengan handphone.maka aku ingin membentengi harta titipan Allah ini dengan ilmu agama yang mempuni." jelas Arya.Hening itu yang terjadi di ruangan yabg awalnya riuh dengan Gurauan


"Assalamu'alaikum" Ucap Bima dan Lutfi bersamaan memecahkan keheningan di ruangan tersebut.


Anak-anak yang ada di ruangan terpisah segera datang karena mendengar suara Lutfi dan Bima.


"Om" Teriak Afifah


"Hallo Frincess" Ucap Bima setelah di salimi Afifah, Anak lainpun bergantian menyalimi Lutfi dan Bima.


"Om bawa Apa?" tanya Aji


"Ais Anak mu Gercep ya" Ucap Bima seraya tersenyum.


"Pasti" Jawab Ais yang tetap pokus pada Anak bungsunya yang sedang bermain dengan Baby kembar Dzifa.


"Om bawa jajanan, bau kedalam dan Bagi-bagi ya" Ucap Bima sambil memberikan satu kantong makanan pada Aji.aji pun hanya mengangguk


"Maksih Om" Ucap Afifah dan Alfi bersamaan.Tak lama Aji dan yang lainpun mengucapkan terima kasih sebelum mereka berlalu.


"Dari mana aja?" tanya Wina sedikit sinis.


"Dari Rumah sakit" Jawab Bima.


"Bagaimana Hasilnya?" tanya Dzifa setelah menyalimi Lutfi.


"Sesuai dengan apa yang di ucap Lutfi semalam, Alhamdulillah gak ada yang perlu di khawatirkan, hanya harus rutin minum obat, dan jaga pola makan dan tidur" Jelas Bima


"Juga olah raga" sambung Lutfi.


"Memang sakit Apa?" tanya Nura yang sedari tadi hanya menyimak.


"Sakit......." Ucap Bima ragu-ragu.


"Epek terlalu tergiur pada Dunia" Sindir Dzifa tanpa Dosa.


"Khem, sepertinya aku harus pindah haluan" Ucap Bima yang tak di mengerti oleh orang sekitarnya."Menjadi pembisnis kaya mu sepertinya akan menjadi pilihan menarik"sambungnya.


Lutfi langsung membuang bantal ke muka Bima, Hingga membuat Bima tertawa tanpa menghiraukan tatapan Bingung dari semua orang.


"Kamu stres Bim?" tanya Danu


"Gak"


"Sebenarnya kamu sakit Apa sih?" tanya Ais yang sudah gereget dengan tingkah Bima


"Aku sehat, Cuma ya benar kata Dzifa aku terlalu semangat mengejar dunia yang tak ada Habisnya.jadi ya berefek pada tubuhku.tapi tenang Aku udah mutusin buat hidup sehat dan gak terlalu memporsir waktu kerja seperti dulu." Jawab Bima


"Syukurlah"


Mereka pun mengobrol kesana kemari.bahkan waktu makan pun mereka memilih pesan makan-makanan dari luar.


Bima pun menceritakan kalau ia tinggal di sebelah Rumah Dzifa.Rumah yang persis seperti Rumah Hantu karena tak terurus.