
Hari berganti hari,bulan berganti bulan semua di jalani dengan penuh kebahagiaan acara pelepasan ketua Osis pun telah di di laksanakan,begitupun liburan semester.
Dzifa dan Lutfi menghabiskan waktu di toko karena di waktu liburan toko selalu di suguhkan dengan pengunjung yang membludak.stok yang berkali lipat pun habis terjual itu adalah buah dari kerja keras dan kejujuran ke duanya.
Dzifa pun senang karena pakaian yang didesign olehnya selalu langsung di produksi oleh Lutfi,tak jarang Lutfi memakainya sebagai semple untuk di lihat para pelanggannya.
Dzifa dan Lutfi bagai sepasang perangko dan kop surat yang selalu berdampingan,kemanapun selalu bersama,tak ada pertengkaran ataupun sejenisnya,mungkin karena Lutfi belajar untuk lebih dewasa dan mengimbangi kemauan Dzifa,begitupun Dzifa banyak perubahan yang terlihat darinya dimulai dari dandanan nya iya sekarang lebih tertutup meski belum berhijab,kebiasaan bangun siang dan bermalas²an pun sudah sedikitnya ia tinggalkan.dan mengenai ibadah,ya Dzifa yang dulunya sering bolong² sholat nya sekarang iya selalu tepat waktu dan selalu menyempatkan shalat sunah.
Lutfi yang melihat perubahan Dzifa pun bersyukur karena setidaknya ia bisa mengajak Dzifa sedikit demi sedikit ke jalan yang lebih baik.
Mengenai malam pertama?jangan di tanya "BELUM" kenapa? di antara mereka meski setiap hari bertemu,bercanda bersama bukan berarti sudah ya?masih ada kecanggungan yang mendominasi di antara mereka berdua.
Mereka selalu bersama layaknya pasangan yang sedang di mabuk Cinta hihihi,mungkin bisa di bilang mereka sedang menjajaki masa pacaran halal.pacaran setelah menikah.
"Lengket banget kaya perangko"Ucap Umi Santi yang sedang berkunjung ke toko dimana Dzifa dan Lutfi menyibukan diri
"Apa sih mi?"jawab Lutfi.sedangkan Dzifa tersenyum malu karena di goda oleh sang Ibu.
"Tumben umi kemari?"tanya Lutfi sambil mencium punggung tangan sang ibu di ikuti Dzifa
"Emangnya gak boleh?"jawab Umi Santi sambil meraih kursi yang ada di dekat kassa.
"Bukan gak boleh mi,cuman tumben saja"
"Umi dengan siapa kemari?"tanya Dzifa yang sudah selesai melayani pembeli.
"Umi lagi nungguin ibu kamu sayang,Umi pengen shopping"ucap Umi Santi cengengesan
"Kamu mau ikut?"tanya Lutfi pada Dzifa
"Hahaha aku bukan emak - emak?"jawabnya tanpa malu.
"Sayang kamu gak mau beli dress dan ber hijab seperti Umi dan Ibu?"tanya wanita paruh baya yang baru saja datang.
"Ibu"ucap Dzifa dan langsung memeluk sang Ibu.
"Kenapa Umi gak di peluk"ucap Umi santi merajuk.
Dzifa yang melihat Uminya merajuk hanya tersenyum dan langsung memeluk Uminya dan berbisik"Maaf Umi ku sayang,tadi kan aku lagi di kassa"
"Iya gak papa sayang"ucap Umi sambil mengelus kepala Dzifa.
"Kamu mau imut sayang?"tanya Ibu Laras pada Dzifa
"Hehe,gak bu males"
"Bilang aja gak mau muter-muter mall pilih - pilih pakaian"jawab sang ibu dengan wajah kesal,kenapa anaknya tak berubah menjadi wanita pada umumnya(dalam sisi lain berpakaian)
"Di sini juga banyak pakaian buk!"jawab Dzifa
"Ya sayang di sini juga banyak,malah pakek banget tapi ini itu baju laki² bukan untuk perempuan"
"kata siapa?"ucap Dzifa"Tuh di sebelah sana ada baju - baju perempuan limited edition."jawabnya sambil menunjuk ke arah kanan nya yang terdapat beberapa semple baju perempuan limited edition design dia sendiri.
"Wah anak Umi udah nambah yah jualannya?"tanya Umi pada Lutfi
"Itu semua hasil karya Dzifa Mi?"jawab Lutfi
"Oh ya Umi mau lihat donk?"ucap Umi dan langsung beranjak dari duduknya berjalan menuju tempat dimana baju karya menantunya itu di pajang dan di ikuti oleh semuanya.
"Wah wah wah,absurd ni toko kalo koleksi nya kaya gini"ucap Sang ibu setelah melihat hasil karya anaknya
"Bu,ini itu gak absrut.perfect"ucap Dzifa yang bahagia melihat hasil karyanya
"Ini baju anak muda yang menurut Umi kekinian!namun apa ada syari?"
"Insyaallah secepatnya Mi,Setelah pembelian toko di sebelah juga perenopasiannya selesai."ucap Lutfi
"Kapan?"
"Setahun lagi mungkin?"
"Lama banget,keburu jamuran donk nak?"ucap Ibu Laras
"Kalian terhambat dalam pendanaan ya?"tanya Umi Santi
"hempt enggak juga Mi,Cuman Lutfi katanya mau beli dulu rumah jadi uangnya kepake dulu untuk itu"jelas Dzifa
"Gimana kalo pake uang Ibu aja,ya itung² injem!"Ucap Ibu Laras
Dzifa dan Lutfi saling pandang saat mendengar Bu Laras mengucapkan itu.
"Umi juga ada kok tabungan,gimana kalo itung-itung Investasi,gimana jeng?"tanya Umi Santi pada Laras
"Ya saya sih setuju,gimana menurut kalian?"
"Nanti kami pikirkan dulu ya Bu,Mi"Ucap Dzifa.Ibu Laras pun tersenyum melihat Dzifa berucap Ibu laras melihat bukan seperti Dzifa yang biasanya mengambil keputusan sepihak tanpa berpikir panjang.
"Iya,nanti bila kami sudah mendapatkan keputusan kami akan hubungi Ibu dan Umi"Sambung Lutfi
Tak terasa Air mata Ibu Laras pun menetes"Anak Ibu udah besar"lirihnya
"Ibu,kenapa nangis?"tanya Lutfi.
"Enggak Ibu cuman terharu kalian bisa bersikap seperti itu,menyelesaikan masalah dengan kepala dinging dan bermusyawarah,Ibu bangga nak"ucap Ibu Laras sambil mengelus punggung lutfi,Setelah mendengar Ucapan itu Dzifa mendekat pada sang Ibu dan memeluknya.
"Udah ah Jeng,ayok kita berangkat keburu sore!"Ajak Umi Santi.
"Iya Jeng?"Sambil melepaskan pelukannya"Kamu beneran gak mau ikut sayang?"tanyanya pada sang Anak
"Ogah"Ucapnya sambil mengecilkan bahu.
"Kenapa?Umi yang traktir."
"Enggak ah Mi,Makasih tawarannya,aku gak suka keliling-keliling belanja gituan,belanja kebutuhan rumah aja males"jawab Dzifa
"Ibu,Ibu ngidam apa sih,kenapa D di ga beda sama kakaknya?"tanya sekaligus sindirin Lutfi.
"Hahaha,gak tau Ibu juga aneh rasanya ko bisa punya anak seabsrut ini"
"Ibu ikh nyebelin"jawab Dzifa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha,kapan lagi ngebuli kamu?"ucapnya sambil menyolek hidung Dzifa
"Gak usah colek-colek aku bukan sabun colek"
Ibu Laras dan Umi Santi terkekeh karena melihat kelakuan anak²nya yang begitu menggemaskan.
☺☺☺
"Kenapa Arda akhir-akhir ini berubah?"