Dzifa

Dzifa
Season 2



Bismillahirrahmanirrahim


Assalamualaikum readers,cerita cinta tentang Dzifa sudah selesai ya,namun ini dilanjut dengan cerita semua teman dan sahabat Dzifa juga si kembar tapi tetap ada Dzifa dan Lutfi beserta anak-anaknya.


Mudah-mudahan ceritanya bisa bermanfaat untuk sedikit menambah wawasan atau pelajaran,dan mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang pantas dan ada kekeliruan didalam novel ini.


Juga Mohon dukungannya dengan like,komen and vote ya 😁


🙂🙂🙂


Lutfi dan Dzifa tengah ada di salah satu lingkungan pesantren di kota bandung ia berniat berkunjung ke rumah Khairul dan Ais.Ais memutuskan untuk ikut Khairul setelah ia menikah.dan sekarang ia tengah hamil lagi anak ke 3 nya sama halnya dengan Dzifa,Dzifa pun tengah hamil anak ke 3 nya ia tak mengikuti program kb sama hal nya dengan Ais,pikirnya mereka ingin memberi beberapa anak di rumah tangganya selagi mereka masih muda.supaya nanti tinggal membesarkan anak-anak nya yang tak terpaut umur yang terlalu jauh,meski ribet karena anak-anaknya yang masih kecil dan ia tengah mengandung lagi ia tak merasa lelah karena semua yang ia lakukan bernilai ibadah,meski sulit tapi bila di barengi dengan lillahita'ala semuanya akan mudah,apalagi memiliki suami yang siap siaga dalam membantu mengasuh dan mendidik anak-anak mereka.


"Afifah,jangan lari-lari nak!"Ucap Dzifa mereka sekarang sedang ada di halaman rumah Alm kakek Lutfi yang sekarang di tempati Ais dan Khairul beserta Aji dan Naumi putra dan putri mereka.


"Nda bunda!"jawab Afifah


"Umi,Aunty Aji pergi dulu ya!"pamit Aji pada Dzifa dan Ais


"Mau kemana sayang?"tanya Dzifa


"Mau ke sekolah,mau ngaji!"jawab Aji.Afifah pun mendekat karena melihat Aji berpakaian rapih dan menggendong tas.


"Mau kemana A?"tanya Afifah


"Mau ngaji!"


"Boleh Afifah ikut?"


"Boleh,tapi kakak kotor ganti dulu sana!"titah Aji pada Afifah ya mereka terpaut usia 1 tahun jadi Aji memanggil Afifah kakak,dan kenapa Afifah memanggil Aji dengan sebutan Aa' karena itu adalah panggilan semua anggota keluarganya.


"Boleh bunda?"tanya Afifah pada Dzifa yang sedang melihat tingkah anak ke duanya yang sangat lucu yang sedang bermain dengan Lutfi di pekarangan rumah itu


"Boleh donk,tapi jangan nakal ya nak!"


"Ya sudah aku mau ganti baju dulu ya,A'tungguin!"Ucapnya dan ia pun berlalu pergi.dan Aji pun setia menunggu di bale-bale.dan berangkat setelah Afifah menghampiri nya tak lupa bersalaman dan mengucapkan salam.


"Ais,A Khairul dimana?dari tadi aku gak lihat?"


"Aa ke pesantren Dzif,ia mengecek untuk acara tabligh akbar besok!"jawab Ais


"Naumi?"


"Naumi ikut Arda ke Braga !"


"Udah lama ya Arda menikah tapi belum di kasih keturunan!"lirih Dzifa


"Iya,hampir 3tahun mereka menikah makanya mereka selalu membawa Naumi,untuk sedikit mengalihkan ke sedihanya."


"Iya,aku gak nyangka ternyata dia yang dulu pernah menyakiti ku menjadi keluarga ku!"


"Alloh maha kuasa Dzif."


"Iya,luar biasa!"


"Ujian itu semua datang dari Alloh,kamu harus mengikhlaskan apa yang terjadi di masa lalu,berusahalah menjadi yang lebih baik lagi."


"Iya kamu benar Is,dulu kita gak tau jodoh kita dan jalan hidup kita itu bakal kaya gimana.apakah senang,bebas seperti kita dulu"Jawabnya dengan tersenyum lebar"Atau sulit,seperti rumitnya rumus matematika.Dan aku menemukan semuanya,Susah senang bercampur jadi satu di dalam rumah tanggaku,mungkin bukan aku aja kamu juga kan?"


"Iya Rumus yang sangat-sangat menguras otak."jawabnya dengan tersenyum lebar seperti Dzifa."Ujian datang dari mana aja ya?meski kita di awali dengan saling ketertarikan"


"Iya"


"Semua tak luput dari ujian,meski saling cinta tapi tak bisa saling mempertahankan apalah daya."jawabnya"pasti akan masuk jurang perpisahan jua!"


"Perpisahan dalam rumah tangga itu ibarat berjalan di jalan kecil yang menghubungkan antara kolam satu dan lainnya,bila kita tak hati-hati dalam berpijak kita akan terjatuh.Dan susah untuk berdiri kembali"


"Kayanya lebih mudah mecahin rumus matematika waktu SMA ya dari pada ngejalanin biduk rumah tangga."


"Iya,Dulu aku gak pernah mikirin esok harus bagaimana?,makan apa?sedangkan sekarang aku di tuntut untuk bisa membagi hasil suami dengan telaten agar cukup,contohnya seperti memasak,mana ada aku mikir besok masak apa?tapi sekarang aku harus nyediain makanan untuk kedua anakku dan suamiku,harus bebenah rumah,mengajari anak dari mulai ngaji,berpakaian,disiplin dan sebagainya.mungkin itu yang orang tua kita jalani dulu."jelas Ais sambil membayangkan betapa jauh berbeda nya hidup sendiri dan setelah punya suami.Tanggung jawab yang membuat seseorang lebih dewasa.


"Dan kita gak pernah berpikir kesana!"sambung Dzifa


"100 untuk mu!"jawabnya sambil di iringi dengan tawa begitu pun Dzifa


"Kamu,jalanin rumah tangga dengan diawali saling tau satu sama lain.namun aku berbeda!"jawab Dzifa


"Tapi kamu hebat"


"Hebat,karna dia!"tunjuk Dzifa pada Lutfi"Aku jauh dari islam is,tapi aku punya pelengkap,Dia suami yang sabar,sangat-sangat sabar."


"Tujuan kita menikah adalah menyempurnakan separuh agama kita,jadi Alloh akan mengirimkan laki-laki untuk perempuan agar mereka bisa saling menyempurnakan.Aku sama sepertimu Dzifa,tapi aku punya Aa' yang jauh lebih dewasa dari ku."


"Pernahkah kamu berselisih?"


"Pernah,kamu?"


"Kalau aku jawab pernah,iya namun kalau aku harus berterus terang,maaf itu aib ku!"


"Aku pun takkan mengoreknya Dzif?"merekapun tertawa bersama.


"Fabiayyi alaa'i robbi kuma tukadzdziban"


"Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu Dustakan?"mereka pun tertawa bersama.


"Sungguh nikmat menjadi istri dan ibu!"Ucap Dzifa setelah mengakhiri tawanya


"Nikmat yang tiada tara dan tidak pernah terduga!"


"Namun jangan salah bagi Suami seorang istri dan anak adalah Musuh yang sewaktu-waktu akan menjerumuskannya pada suatu ke madharatan."jawab Dzifa saat ia mengingat suatu keterangan yang di ucapkan salah satu ustadz di acara televisi.


"Maka dari itu,kita harus benar-benar menjaga iman kita jangan buat celah setan tertawa bangga atau kehancuran rumah tangga kita.kita harus bekali anak-anak kita dengan ilmu agama yang kokoh."


"Sekokoh-kokoh nya pondasi pasti akan runtuh juga Is?"


"Enggak Dzif,itu semua tergantung kita yang menjalani."


"Maksudnya?"tanya Dzifa yang tak mengerti maksud dari Ais.


"Bekali anak-anak kita dengan iman niscaya kita akan bahagia dunia akhirat dan bekali diri kita dan suami kita dengan iman juga kepercayaan utamanya saling dalam segala hal karena dengan itu kita akan bisa membentuk rumah tangga surgawi yang Alloh janjikan,tutupi semua aib pasangan dan saling mengingatkan dalam kebaikan,menegur dalam keburukan.Rumah tangga ku juga belum sampai di titik terbahagia namun aku bersyukur.Dzif,kadang aku suka merasa iri melihat kebahagiaan orang lain namun aku selalu di tegur suamiku 'jangan melihat orang lain ketika bahagia saja,namun lihatlah mereka ketika mereka kesusahan dan bantulah mereka' kata Aa' dengan kita melihat orang kesusahan lalu kita bantu kita bisa melihat kebahagiaan mereka dan kitapun bahagia,dengan membantu mereka aku selalu mengingat kebaikan Aa saat pertama kali aku bertemu dengan nya,sungguh subhanallah begitu besar kebaikannya"jelas Ais yang telah meneteskan Air mata


"Iya Is,Aku tau.Aku juga sama sepertimu selalu di tegur Lutfi ketika aku bertemu dengan iri terhadap sesama.kebahagiaan itu kita yang buat buat orang lain.cara yang utama agar kita bahagia adalah dengan bersyukur!"Ucap Lutfi


"Kita harus Bahagia,dan menciptakan rumah tangga yang di ridhoi Alloh"Ucap Ais sambil menggenggam tangan Dzifa


"Dan mendidik anak kita menjadi shaleh dan shalehah."sambung Dzifa


"AMIN"Ucap Lutfi,Arda,Humairah,dan Khairul yang sedari tadi mendengarkan dan memperhatikan mereka berbincang