
"Bukan...
"Lalu?"tanya Dafa
"Sedikasihnya aja kak!"jawab Lutfi
"Atau kalian gak...
"Itu Urusan pribadi gak usah kakak tau pamali."Jawab Dzifa
"Hemmm Curiga kakak?"Ucap Zahra.
"Gak Usah suudzon!"
"Bukan mau suudzon tapi sebelum nikah kan...
"Bongkar aja bongkar !"Ucap Dzifa memotong ucapan Zahra.Dafa dan Lutfi melihat ke arah Dzifa yang memotong ucapan Zahra
"Adek?"Ucap Dafa sambil menatapnya tajam.
"Kepo ih"Ucap nya sambil berjalan ke arah Lutfi dan merangkul tangannya lalu mengajaknya pergi menjauh.
"Eh kakak belum selesai!"teriak Dafa
"Kak Dafa sama Aja kaya Kak Zahra Kepo!"Jawab Dzifa
"Sayang!"Ucap Lutfi saat berada di tangga.
"Manggil sayang sama aku atau ke Aluna?"
"Kamu lah!"jawab Lutfi
"Ada apa?"
"Kenapa gak jawab tadi?"tanya Lutfi
"Kan gak boleh,itu urusan pribadi kita cukup kita aja yang tau gak usah di umbar.lagian aku risih di tanya hal-hal yang vulgar!"Ucap Dzifa,Lutfi pun tersenyum.
"Kita ke toko yuk?"ajak Lutfi
"Gak ada mobil Fi.."jawab Dzifa
"Maksud ku besok kita langsung ke toko ya,aku mau liat kerja Arya,Ais dan Luna kaya giman?"
"Luna?"
"Iya,Luna bantuin sebelum kita pulang."
"Oh gitu ya.Fi sholat isya dulu lalu kita tidur kayanya Aluna udah ngantuk!"Ucap Dzifa.sebelum ia masuk ke kamarnya
"Aluna mau tidur bareng kita"
"Hemm"
"Emang boleh?"
"Boleh lah,biasanya juga kalau Kak Dafa pulang ke sini Aluna sama Alina suka nginep bareng aku."
"Oh ya udah,aku shalat dulu ya"Ucap Lutfi.Dzifa pun mendekati tempat tidur dan membaringkan Aluna yang sudah mengantuk.Lutfi menggelengkan kepalanya melihat Dzifa yang yang ternyata memiliki sifat ke ibuan.
tok tok tok
Lutfi pun berjalan ke arah pintu
"Ada apa kak?"tanya Lutfi karena melihat Zahra menggendong Maulana yang tengah menangis.
"Om,Ana mau endong"Ucap Maulana yang ada di gendongan Zahra,Lutfi pun menggendongnya tak lama Dzifa keluar dan mengambil alih maulana.
"Ada apa?"tanyanya pada Zahra
"Maulana nangis gara-gara kamu gendong Aluna.Alina juga nangis di bawah ngamuk2."jelas Zahra
"Cih,kebiasaan kalian yang bikin aku yang repot."cibir Dzifa,Zahra hanya terkikik geli entah kenapa anaknya atau anak kakak nya selalu saja nempel sama Dzifa meskipun mereka jarang sekali ketemu.
Dzifa pun turun kebawah dengan menggendong Maulana di ikuti kakak dan Suaminya
"Kenapa Sayang."Ucap Dzifa saat setelah ia ada di dekat Alina yang menangis di gendongan Sali.
"Ate gendong hiks hiks"Ucap Alina.
"Eh kak nih Maulana udah tidur!"Ucap Dzifa pada Zahra.
"Secepat itu?"tanya Lutfi tak percaya.
"Anaknya kan tadi habis ngambek dan nangis jadi kecapean di elus2 bentar juga tidur jadi gak repotin"Jelas Dzifa sambil menyerahkan Maulana pada Zahra
"Pawang anak."Ucap Dafa.
"Makanya jangan bisa bikin nya aja."cibir Sali.
"Kamu juga gak bisa nenangin Alina."
"Alina kan sama Aluna gak bisa di pisahin.pas Alunanya di bawa,yah Alina nya ngamuk.Apalagi di bawanya sama ate nya yang selalu manjain mereka ya pantes lah ngamuk susah di dieumin."jawab Sali.
"Udah-udah ambil tuh Aluna di atas."Titah Dzifa.Awalnya Dzifa ingin mengajak baby-baby itu menginap di kamarnya namun melihat perdebatan ini bikin Dzifa kesal.
"Jangan Asbun (Asal bunyi)."kesal Sali
"Emang bener,biar nanti kamu hamil lagi bareng Dzifa."Jawab Dafa.
"Nih."Ucap Dzifa menyerahkan Alina yang baru saja tidur Pada Dafa
"Kok bisa?gimana caranya?"tanya Lutfi.
"Simpan baby nya di dada.kepalanya di pundak bacain sholawat di telinganya dan elus sejalur kebawah biar rasa lelah dan capek nya jadi kantuk.itu juga kata ibu.Udah ahhh aku mau tidur capek tau,kak Sali bawa Aluna di kamar ya,biar aku tidur nyenyak.Jangan bisanya pada bikin aja."Ucap Dzifa sambil berjalan ke arah Dapur.
"Kenapa ke dapur?"tanya Lutfi
"Haus!"teriak Dzifa."
"Cepet bikin Dzifa hamil."ucap Dafa sebelum berjalan ke arah tangga.Lutfi hanya tersenyum menanggapi apa yang di ucapkan kakak ipar nya itu.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?"tanya Dzifa yang baru kembali dari dapur.
"Gak apa kok!"ucap Lutfi sambil mengambil gelas yang ada di lengan Dzifa lalu meneguknya.
"Kalau minum itu duduk jangan berdiri."Ucap Dzifa.
"Hehe..
"Jangan nyengir,isiin lagi buat nanti di bawa ke atas."ucap Dzifa dan di angguki Lutfi.
"Dek.kamu tuh ya gak boleh nyuruh-nyuruh suami pamali!"Tegur Erdin.
"Hehe,gak papa kan Fi?"tanya Dzifa.
"Ya enggak apa,asal jangan tiap hari."
"Mana pernah tiap hari aku nyuruh-nyuruh kamu?"
"ya siapa yang bilang suka tiap hari cuma bilang jangan tiap hari,Udah istighfar jangan emosi."jawab Lutfi menenangkan Dzifa.ia tau Dzifa lagi masanya emosinya yang sering naik turun.
"Makanya kalau biacara...
"Udah istighfar"Ucapnya sambil membekap mulut Dzifa lalu melepaskannya.
"Kak bawa apa dari Sukabumi?"tanya Dzifa pada Sali yang baru saja datang ke ruang keluarga.
"Kakak cuma bawa kue kue dari sana!tapi gak tau di simpen dimana sama Ibu."
"Ck.Aku lagi pengen ngemil."Ucap Dzifa"Kulkas Ibu isinya semua sayuran!"
"Emang pengen Apa?"tanya Lutfi
"Martabak kayanya enak."Ucap Dzifa
"Pesen nih."titah Lutfi sambil menyerahkan handphone nya.
"Makasih Hubby"ucap Dzifa sambil mengecup pipi Lutfi yang di saksikan kakak dan kakak iparnya.Lutfi yang di kecup sekilas menatap Dzifa tajam ia merasa malu karena ini bukan di kamar namun sedang ada di luar kamar.Dzifa yang merasa di tatap oleh semuanya segera mengalihkan pandangannya pada handphone Lutfi dan memesan apa yang ia ingin.
"Alhamdulillah"Ucap Zahra
"Why?"Tanya Dafa
"Dek gimana rasanya?"Goda Zahra pada Dzifa dan Lutfi
"Apa?gak usah kepo deh"jawab Dzifa sinis tanpa mempedulikan Lutfi yang menaikan Alisnya seolah bertanya 'maksudnya apa?'
"Lutfi gemukan ya sekarang?"Ucap Zahra mengalihkan pembicaraan karena Dzifa sudah menjawab dengan sorot mata tajam nya.
"Iya kak,tau gak sekarang BB nya berapa?dulu 55 sekarang udah mau 70"Jawab Dzifa antusias membuat Lutfi menggaruk tengkuknya menahan malu.
"Ya biarin lah,tapi gak kelihatan gendut kok!"Ucap Zahra
"Bagus lah Dzifa biar ngangkat kamu nya kuat!"Sambung Erdin."Biar cepet punya celengan kaya Abang"
"Cih,Ujung-ujungnya nyebelin!"jawab Dzifa kesal
"Suka masak gak dek?dulu kan goreng telor aja pasti gosong!"Sindil Sali.
"Curiga Lutfi yang masakin!tapi ko Dzifa kurus-kurus aja ya?"tanya Zahra.
"Aku yang masak donk!"jawab Dzifa
"Gak percaya!"Ucap Zahra sambil melirik Lutfi
"Memang Dzifa yang masak kak!"Bela Lutfi
"Serius?"
"Hehehe kan di ajarin sama Chef?"
"Chef siapa?"tanya Sali
"Chef Lutfi!"jawab Dzifa.
Mereka pun melanjutkan perbincangannya sampai ibu dan Ayah mereka pulang.