Dzifa

Dzifa
Akhir kesabaran Bima



Bima masuk kedalam rumah setelah tiga kali mengucapkan salam tak ada yang menjawab, ia masuk dengan menenteng kantung berisi Roti bakar kesukaan Mami dan Papih Alexa.


"Assalamu'alaikum" Ucap Bima saat melihat Papih dan Mamihnya ada di ruang baca.


"Wa'alaikum salam.


" Kamu sudsh pulang nak?"tanya Mamih, Bima pun mendekat dan mencium tangan mertuanya itu.


"Sudah Mih, Ini ada cemilan" Ucapnya sambil menyimpan kantung makanan itu di atas meja.


"Alhamdulillah, Mamih ke belakang dulu ya, ambil minum dan memindahkan ini ke wadah.kamu mau minum apa nak?" tanya Mamih lembut.


Kelembutan dari Mamih dan Papih Alexa membuatnya merasa serba salah akan situasi dan kondisi saat ini.


"Teh aja Mih, Nak Bima nya jangan di kasih kopi terus gak baik" Ucap Papih seraya tersenyum.Bima pun balas senyum dan mengangguk.


"Bagaimana kerjaannya Nak?"tanya Papih selepas menaruh buku yang sedari tadi ia baca.


" Alhamdulillah lancar, sangat lancar!"


"Syukurlah" ia menarik nafasnya dalam"Bagaimana dengan putriku?"


Bima terperangah"Apa maksud Papih?"


"Jangan selalu kau tutupi nak, kami tau semuanya"


"Pih"


"Kamu tinggal dengan Papih dan Mamih nak, kami tau semua.namun kami hanya bisa diam, maafkan kami" Ucap Mamih yang baru saja datang.


"Tak ada yang perlu di maafkan dari mamih dan papih, yang harus nya meminta maaf adalah aku karena aku belum bisa menjadi kepala keluarga yang baik"Ucap Bima menunduk


"Kamu tak gagalna.kami bersyukur memiliki menantu sebaikmu" Ucap Papih.


"Kamu pantas bahagia nak" Lanjutnya dengan suara berat.ada beban di hatinya.


Bima menatap Papih dalam, menuntut suatu penjelasan tapi beberapa menit berlalu Papih maupun Mamih tetepa diam.


"Bahagiaku adalah Ridho dari kalian." Ucap Bima


"Kami Ridho asal kamu bahagia nak, sudah cukup apa yang di lakukan putri kami untuk menyakiti hatimu." Ucap Mamih.


"Apa kamu tak lelah dengan apa yang terjadi?" tanya Papih.Bima pun menatap tak percaya akan pertanyaan itu.


"Pih"


"Jawablah nak Jujurlah pada kami" Ucap Papih seraya beranjak dan duduk di sebelah Bima.


"Walau itu pahit, kami terima."


"Pih"


"Kamu lelah kan dengan semua ini?" tanya Papih menunduk"Lepaskan"


Kata yang sebenarnya ingin ia dengar dari mertuanya namun saat ia mendengarnya,Entah mengapa kata itu menjadi pisau yang sangat tajam.


"Pih"


"Jangan bohongi kami lagi nak?Kamu akan tetap jadi anak kami" Ucap Mamih yang sudah berderai air mata di samping Bima.


"Mih, Aku sayang pada anak mamih, sama sayangnya dengan kalian" Ucap Bima dengan mata yang telah berkaca-kaca.


"kami tau itu nak, Hati mana yang tak sakit saat anaknya sedang ada di jurang perpisahan, tapi kami pun berpikir untuk apa di pertahankan bila akhirnya ada yang tersakiti.kami tak Ridho bila rumah tangga kalian yang tak sehat ini terus di pertahankan" Ucap Papih.


"Pih"


"Nak, Pikirkanlah kamu pantas bahagia"


"Apa bila aku melepaskannya, papih dan Mamih apa akan masih menganggapku anak?"


Mamih dan Papih saling Pandang, mereka pun berhambur memeluk Bima."Kamu masih anak kami"


Mereka bertiga menangis, Bahagia karena menantunya akan tetap menganggapnya orang tua, bahagia karena bisa melepaskan beban yang setiap hari berkecambuk di dada, namun Duka karena mereka tak bisa mengantarkan rumah tangga anaknya pada keberhasilan.


"Maafin Alexa" lirih Mamih.


"Sebelum ia mintapun Bima telah memaafkannya.maafkan Bima atas kegagalan ini"


"Mamih dan Papih orang tua keduaku, aku tak pernah menganggap kalian mertua, meski memang kalian mertua.Aku pun tak penah membeda-bedakan kalian dengan orang tua ku karena bila aku melakukan itu, celakalah aku, aku tak mau masuk neraka karena aku tak berlaku adil.berat menjadi seorang laki-laki saat ia telah menikah.tuntutan adil ada di garis depan supaya menciptakan ke rukunan."


"Nak, kami bangga memikiki menantu seperti mu." Ucap Papih"Istirahatlah, kamu pasti lelah."Titanya


"Baik, Apa Alexa sudah pulang?" Keduanya menunduk lalu menggeleng.Bima tersenyum kecut"Aku istirahat dulu, kalian jangan malam-malam tak baik untuk kesehatan."


"Iya nak" Bima pun berlalu, tak selang beberapa lama Mamih menangis dalam pelukan Papih sakit itu yang ia rasakan.


Kesalahan ada pada anaknya, namun ia tak mampu berbuat apa-apa.Mereka tak siap kehilang Bima.laki-laki yang penuh dengan Cinta dan juga tanggung jawab.


"Pih, Apa ini teguran?" tanyanya


"Mih, Ini bukan teguran, ini suatu nikmat Alloh meski perih kita harus tetap bersyukur di hadapkan dengan situasi ini, memang berat tapi ini terbaik untuk mereka.Rumah tangga yang tak sehat akan berbuah penyakit bagi salah satu di antara mereka, Alexa putri kita sudah tak mampu kita ingatkan.disini Bima yang tersakiti mih, Dia titipan Alloh, kita harus merelakannya meski sulit, ia pantas bahagia,ia tak pantas terikat dengan Alexa yang berlaku semaunya, sudah cukup 4 tahun ini ia merasakan tersakiti."


"Pih"


"Istigfar mih, Ikhlaslah, Relakan ia mencari kebahagiaannya." Ucap Papih.


Jangan tanyakan bagaimana perasaannya HANCUR pasti.namun ini lah takdirnya.


Bima yang sedari tadi berdiri di balik Guci besar mendengar semuanya.


"Mih Pih, kalian akan tetap jadi orang tuaku.mungkin ini saatnya,dimana ujian yang Alloh beri amenemui akhir."


"Atas ijinmu Ya rob aku akan menjatuhkan talak untuknya" Ucap Bima dengan mata tertutup.


Alexa yang berdiri di hadapannya mematung ada rasa tak percaya dengan apa yang Bima ucapkan.seperkian detik ia sadar.


"Keluar kamu dari rumah ku" Usir Alexa teriak.membuyarkan lamunan Bima dan membuat orang tuanya bangun dan menghampiri sumber suara.


"Ada apa ini Alexa?" tanya Papih.


"Kamu, telah menalakku, terimakasih" Ucapnya sambil tersenyum kecut.


"Banci kau"


"Lexa"


"Apa Bim, kamu kan udah nalak aku, aku terima.ku tunggu kamu di meja Hijau" Ucap Alexa sambil menunjuk wajah Bima.


"Iya"


"Kamasi barang-barang mu, keluar dari rumah ini"


"Alexa" Bentak Papih"Pergi!"


"Papih ngusir aku"


"Iya, kamu sudah sangat mengecewakanku."


"Pih" tegur mamih.


"Intropeksi dirilah, kalau kamu sudah mengerti kenapa ku berlaku seperti ini, ka.u boleh kembali." Ucap Papih"Nak, maafkan Lexa."


"Pih"panggil Alexa


" Ini buah dari apa yang kamu lakukan"Ucap nya pada Alexa"Nak, istirahatlah di kamar tamu dulu"Titah Papih.


Bima pun mengangguk dan berlalu, ia tak bisa berkata-kata apa-apa lagi.


Lelah pisik dan hati itu yang tengah ia rasakan.


Perjalanan nya berakhir tragis tapi mungkin ini jalan yang telah di suratkan tuhan.


🍀🍀🍀🍀🍀


Janga lupa tinggalkan jejak ya,


like ya dari setiap up terus menurun.


apalagi votenya.


tapi aku bahagia, terimakasih udah sempetin baca.