Dzifa

Dzifa
Kekecewaan Wina



"Kak Dzifa,anter yuk?"ajak Wina pada Dzifa yang sedang memotong-motong Tomat yang akan di jadikan sambal,membantu Lutfi menyiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi liwet.


"Kemana?"


"Nyari karedok!"jawab Wina


"Emang karedok itu enak?"tanya Dzifa.


"Enak banget,aku pesen satu pedes,dan jangan yang masak yang mentah !"jawab Lutfi


"Beneran enak?"tanyanya masih tidak percaya.


"Udah yuk?"ajaknya sambil menarik lengan Dzifa keluar dari dapur.


"Terus yang lain!"


"Ais Ifat mau ikut?"ajak Wina saat melewati ruang tamu,


"Mager!"jawab Ais tanpa mengalihkan pandangan dari handphone nya.


"Enggak lagi seru!"jawab Ifat yang tengah asik dengan handphone nya


"Kalau kalian Lun,Sis ikut gak?"


"Kemana?"tanya Luna


"Nyari karedok!"


"Nitip aja 1 yang mentah ya cabe nya 5 biji aja!"


"What?"ucap Siska


"Apa?"tanya Luna


"ikh lo mesen makan cabe nya banyak bener,mau bikin bangkrut si ibu warung lo?"tanya Siska.


"Udah pesenin aja kaya gitu?elu mau?"tanya Luna pada Siska


"Pesen satu tapi cabe nya satu aja!"ucap Siska.


"Kita juga!"ucap Ais.


"Gak lu aja gw mah minta dari lu aja,lagi pula namanya Aneh,gak yakin doyan gw!"ucap Ifat


"Jadi Luna satu cabe nya 5,Ais satu,Siska satu cabe nya satu"ucap Wina dan di angguki Siska,Luna dan Ais.


"Ya udah yuk kak?"ajaknya


Dzifa dan Wina pun pergi keluar rumah dan berjalan ke warung Ceu Mimin di jalan mereka bertemu dengan Ainun dan juga Adi.


"Eh ada kang Adi dan dek Ainun!"ucap Wina sambil tersenyum.


"Eh neng Wina,mau kemana neng?"tanya kang Adi.


"Mau ke warung ceu Mimin kang!,akang dari mana mau kemana ini th?"tanya Wina


"Jemput istri dari rumahnya Bi Ami neng,neng Sama siapa?"


Wina terpaku saat ia mendengar kata 'istri' istrinya kang Adi adalah Ainun adik kelasnya yang mengejar-ngejar Lutfi semasa dulu.kenapa dia tak tau,baru aja setengah tahun dia pindah ke kota kang Adi laki-laki yang dia inginkan ternyata sekarang sudah menikah.kang Adi memberinya begitu banyak harapan namun harapan tinggallah kekecewaan,ya Wina sangat kecewa.


"Itu Dzifa kang,Istrinya Lutfi!"jawab Ainun


"Lutfi kan masih sekolah kenapa sudah menikah?"tanya kang Adi.


"Gak tau lah kang.mungkin....


"Hus,jaga bicaranya ya Ainun.kak Lutfi menikah bukan karena suatu kesalahan dia menikah karena sudah siap secara lahir dan batin juga karena di pilih kan oleh orang tuanya!"ucap Wina memotong pembicaraan Ainun sehingga Ainun tak bisa meneruskan Ucapannya.


"Oh seperti itu!"jawab Kang Adi sambil manggut-manggut.


"Kang Adi kapan nikah sama Ainun?"


"3 bulan yang lalu!Dan sekarang Ainun sedang mengandung!"jawab kang Adi


"Harusnya kan Ainun masih duduk di bangku sekolah SMA kelas 10 kan?"


"Iya,namun dia memutuskan untuk menikah dan berhenti sekolah,Eh iya kalau Lutfi bagaimana sekolahnya?"


"Kak Lutfi dan kak Dzifa tetap sekolah karena sekolah adalah prioritas utama bagi mereka."jawab Wina


"Kewajiban dan prioritas seorang istri itu adalah keluarga terutama Suami,bukan?bukan untuk sekolah,karena wanita ujung-ujungnya akan tinggal di rumah mengurus Suami,Anak dan Dapur"Ucap Kang Adi.


Dzifa memegang tangan Wina dan berkata"Memang benar,Surga istri ada di suaminya maka prioritas Istri adalah suaminya benar bukan?namun mengenai pendidikan suamiku memprioritaskan itu untuk ku karena ia ingin suatu saat bila kita memiliki anak,Aku sebagai seorang ibu biasa menjadi guru bagi anak-anaku,bisa menanamkan aqidah dan tauhid yang kuat terhadap nya,Rasulullah SAW menganjurkan kita wanita mengutamakan pendidikan,mengapa?karena wanita adalah guru paling penting jika ingin menyiapkan generasi yang berkualitas.


Sedikit bercermin tentang sejarah,suamiku pernah menceritakan tentang peranan Khadijah istri nabi SAW,Khadijah seorang istri yang sangat mencintai suaminya,berdiri mendampingi Nabi,untuk menolong,menguatkan,dan membantu Sehingga dengan nya Alloh meringankan beban nabi.


Wanita harus jadi kuat,bijaksana bisa jadi tempat bersandar bagi suaminya,menjadi penyemangat dan juga peringan bebannya."jelas Dzifa


"Memang,tapi apa kamu bisa membagi waktumu?"tanyanya seolah meremehkan.


"Apa anda juga bisa membagi waktu?"tanya Dzifa balik.hingga membuat kang Adi terdiam.


"Time is maney bukan?"tanya Dzifa sambil tersenyum.


"Gak ada yang bisa membagi waktu dengan baik kecuali hari libur dan malam hari!"jawab Wina.


"Yes,semua orang punya kesibukan,Aku dan suamiku pun sama,apalagi seorang suami memikul tanggung jawab yang besar terutama mencari nafkah,Jujur aku tak bisa membagi waktuku,tapi sebisa mungkin aku belajar meringankan bebannya,berada di sampingnya,dan menguatkannya!"jawab Dzifa membuat Kang Adi tak mampu menjawab


"Kang kesibukan itu di miliki setiap orang bukan hanya untuk kaum laki-laki dan perempuan yang bekerja saja bahkan wanita yang di rumah pun kadang tidak bisa membagi waktunya dengan baik dan juga akang jangan meremehkan wanita jangan anggap wanita itu lemah jadi harus terus mengurus rumah.wanita juga bisa berkarya dangan baik."Ucap Wina.


"Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bersolek dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu,dan dirikanlah shalat,tunaikan zakat dan taatilah Alloh dan Rosul-Nya.Sesungguhnya Alloh bermaksud menghilangkan dosa dari kamu,Wahai Ahlul bait,dan membersihkan kamu se bersih h bersih nya,benarkan?"tanya Wina memotong ucapan kang Adi.kang Adi hanya menganggukan kepala.


"kalau tidak salah makna dari ayat tadi artinya tetaplah di rumah dan janganlah keluar tanpa ada kebutuhan,keluar rumah boleh namun harus bisa berhati-hati,jelasnya harus tutup Aurat dengan baik,Ia kan kak?"tanya Wina sambil melirik ke arah Ainun yang menggunakan pakaian ketat meski berhijab.


"Iya"


"Kalau soal bersolek,bersolek lah untuk menyenangkan suamimu dan jangan di umbar, benarkan?namun menurutku boleh bersolek untuk memperlihatkan citra seorang suami di hadapan publik,karena suksesnya seorang suami dapat dilihat dari apa yang di kenakan oleh istrinya,namun tidak berlebihan seperti toko emas berjalan.betul tidak kang?"tanya Wina pada Kang Adi.


Kang Adi merasa malu atas kata-kata yang di ucapkan Wina,Kata-katanya bak sindiran.ia melihat ke arah istrinya yang bermax up secara berlebihan,berpakaian ketat dan perhiasan yang sungguh mencolok.


"Alloh tidak senang dengan orang yang berlebihan lebihan bukan?lihatlah kakak ku dengan yang ia miliki....


ucapan Wina tidak selesai karena Lutfi langsung membekap mulutnya.


"Eh kangAdi,gimana kabarnya?"tanya Lutfi


"Alhamdulillah Ufi sehat,gimana kabar Ufi?"


"Alhamdulillah"


"Mau kemana Ufi?"tanya Kang Adi.


"Ngusulin istri sama adek,katanya mau ke warung eh malah nyangkut disini."jawab Lutfi sambil melepas bekapannya lalu merangkul Dzifa.


"Oh,ya udah att akang duluan!"ucap Kang adi.


"Oh ia Akang,silahkan!"


Kang Adi dan Ainun pun pergi,Lutfi menatap tajam pada Wina.


"Gak baik kamu berlaku seperti itu!"ucap Lutfi sinis.


"Maaf"


"Minta maaf sama kang Adi jangan sama kakak!"jawab Lutfi sambil menggandeng Dzifa dan berjalan meninggalkan Wina


"Kak,aku sebel sama dia,dia memberi begitu banyak perhatian dan harapan palsu pada ku dan dia juga berkhianat"Ucap Wina yang sudah meneteskan Air matanya.


"Siapa dia?"tanya Lutfi pada Wina,Wina hanya diam tak menjawab.


"Dia orang lain Wina,bukan siapa-siapa kamu,kalau dia datang ke rumahmu memintamu pada orang tuamu dan orang tuamu menerimanya,barulah kamu perjuangkan dan pertahankan!cukup jangan nangis!"Ucap Lutfi sambil mengusap-ngusap punggung Wina,Dzifa pun mendekat dan memeluk Wina


"Alloh menyayangi mu,tunggulah Alloh akan mengirimkan laki-laki terbaik nya untukmu!"Ucap Dzifa.


"Udah gak usah melow-melowan kakak mau ke tempat bi ningsing mau minta di masakin tutut di rumah."


"Tutut?"Ucap wina sambil melepaskan pelukannya


"Iya"jawabnya


"Sekalian sama beulut"


"kalau belut mah mintanya sama mang Ucup gih!"


"Yah,ya udah aku kerumah mang Ucup dulu,kakak beli karedok"ucap wina sambil berlari meninggalkan Dzifa dan Lutfi.


"Aneh deh adik kamu!"


"Dzifa"panggil Lutfi


"Hemm"


"Masih marah?"


"Marah kenapa?"


"Soal Ainun yang tadi ada di rumah mang Ucup"


"hem"


"Jangan marah lah"


"Enggak kok"


"terus?"


"Apa?"


"nanti tidur bareng ya?"


"Ogah?"


"Dosa lo?"


""Dirumah banyak orang UFI jangan macem-macem"


"Satu macem"


"Apa?"


"Peluk"Ucap Lutfi sambil merentangkan tangannya,dengan wajah yang di buat selucu mungkin.


"hahahahaa"tawa Dzifa keras,Lutfi pun tersenyum dan menghampiri Dzifa lalu memeluknya.


"Nah gitu donk,jangan marah lagi oke"


"oke!"