
Lutfi dan Dzifa tengah senang karena rumahnya selalu ramai setelah Afifah kembali dan melanjutkan kuliah di Universitas dekat rumahnya.
"Dzif" panggil Arya
"Hem"jawabnya sambil terus mengulek sambal.mereka sekarang tengah di dapur Arya membuat minuman dan Dzifa, Afifah juga Nura tengah memasak sedangkan Bima dan Lutfi ada di halaman belakang
"kapan mau ke Bandung?"
"Emang kenapa?"
"Kangen aja ngumpul bareng, sama mau nawarin bisnis ke A' khairul"
"Sambil nyelam minum air itu mah" Sindir Dzifa
"Hehe iya" Jawab Arya Kikuk.
"Belum ada rencana sih Ya" jawab Dzifa"Kamu sendiri aja atuh kesananya"
"Malu"
"Ngapain malu"
"Ya gak ngapa-ngapa sih" Jawabnya
"Tanyainnya sama Lutfi gih" titah Dzifa
"Oke" Jawabnya sambil berlalu dengan membawa nampan berisi 3 gelas minuman
"Aneh,aneh aja.Udah tua juga masih aja malu" Guman Dzifa
"khem" Dehem Nura
"Kenapa?"
"Teteh barusan Gibah" tegurnya"Maaf bukan....
"Astagfirulloh" Ucap Dzifa menyela"Tak apa Nur, makasih udah ngingetin"
"Iya, Sama-sama" Jawabnya.
mereka pun kembali melakukan pekerjaannya.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Pekerjaan yang cukup menumpuk membuat Dzifa masih terjaga, sedangkan Lutfi telah tertidur dari 2 jam yang lalu.
"Setelah Ayah meninggal kerjaanku bertambah, belum lagi harus bulak balik liat ibu karena gak mau tinggal bareng" Gumamnya sambil menghela nafas
"Khem" Deheman Lutfi membuat Dzifa terperanjat kaget.
"Ko Bangun?" tanya Dzifa
"Kamu belum tidur?" tanya Lutfi tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan Dzifa.
"Belum, baru beres ngurusin kerjaan"
"Jangan terlalu di porsir nanti sakit yang" Ucap Lutfi.
"Iya."
"Besok kita ke rumah Ibu ya" Ucap Lutfi.
"Iya, tapi setelah aku ke kantor ya"
"Iya, kakak kamu kenapa gak tinggal bareng ibu?"
"Kan suaminya masih tugas di luar negri jadi belum bisa"
"Kalau Afifah yang jaga Ibu gimana?" Usul Lutfi
"Afifah?kenapa harus Afifah?Afifah tinggal disana gitu?Enggak lah"
" kalau gitu kita aja yang pindah, kan ibu gak mau pindah kesini"
"Enggak Lutfi"
"Yang ingat suatu pepatah gak?"
"Apa?" tanya Dzifa ketus
Lutfi menghela nafas panjang, ini lah tantangannya kalau menghadapi pasangan yang keras kepala dan cepat marah' Untung Sayang' pikirnya.
"Iya tau"
"Ya makanya kita harus pilih salah satu" Dzifa meliril Lutfi"Sekarangkan Ibu hanya di temani Bi Muti dan Pak Sam, Ibu pasti kesepian.nah sebagai tanda bakti kita.kita sebagai anaknya haruslah mengalah akan ke inginannya"
Dzifa diam, mencerna apa yang di Ucap Lutfi
"Dzif,kalau semisal kamu ada di posisi ibu bagaimana?kamu harus berpikir kesana"
"Akan ku pikirkan" Jawab Dzifa sambil merebahkan tubuhnya lalu tertidur mambelakangi Lutfi.
Hal biasa, bila setelah beradu pendapat Dzifa selalu membelakanginya.itu menandakan kalau hatinya gundah dan belum bisa mengambil keputusan.
"Semoga Alloh memberikan jawaban yang baik.tenangkanlah hatimu Sayang.aku akan dukung segala keputusanmu." Ucap Lutfi seraya membelai rambut dzifa dari belakang.Ia pun mengeratkan pelukan pada pinggang Dzifa dan mulai terlelap.
Hidup takan berhenti karena pilihan selalu ada berulang-ulang kali dan menuntut jawaban yang baik untuk kedepannya.bila salah mengambil keputusan itu akan merugikannya esok atau lusa.
"Aku takut salah dalam menentukan Pilihan Fi" Ucap Dzifa lirih sambil mengelus tangan Lutfi yang ada di pinggangnya
Ibu adalah Cahaya baginya.Ibu yang selalu ada untuknya, Ibu juga yang memberi kasih sayang tulus padanya.
Bidadari tak bersayap, madrasah pertamanya.ia tak ingin ada di posisi ini namun apalah daya ia harus memutuskan.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Keesokan Harinya Lutfi dan Dzifa tengah berkunjung ke rumah Ibu nya.
Dzifa tertegung melihat Sang Ibu tengah duduk di kursi gantung dengan tatapan kosong.
"Apa aku akan mengalami hal itu?bila aku di tinggal kamu!"pertanyaan yang sukses membuat Lutfi menatap Dzifa lalu menatap ke arah sang Ibu mertua
" Jangan kau lakukan seperti itu.bila salah satu di antara kita Alloh jemput.ikhlaskan jangan meratap"
"Ikhlas itu gampang terucap tapi sulit di jalani"
"Dekatkan diri kepada Alloh.Itu jawabnya."
"Bu" Ucap Lutfi "Assalamu'alaikum" ucapnya bersamaan dengan Dzifa.
"Eh kalian, Wa'alalikum salam" Jawabnya.
"Ini, aku bawain kue buat Ibu" Ucap Dzifa.
"oh, makasih"
"Bu, ada yang mau Dzifa omongin"
"Duduk dulu baru bicara" Ucap Ibu Dzifa.
"Sementara waktu aku, Suamiku dan Afifah akan bulak-balik kesini untuk tinggal barenag ibu" Ucap Dzifa.
"Gak usah, ngerepotin.kamu kan udah berkeluarga"
"Gak papa buk" Jawab Lutfi.
"Ibu gak mau ngerepotin kalian.lagian kakak kamu juga akan pulang 2 bulan lagi dan menetap di sini"
Dzifa melirik kearah Lutfi sebentar, lalu beralih pada ibunya"Gak papa buk, sebelum kakak kembali kita akan bergantian untuk menginap disini, nemenin ibu"
"Kamu kan sibuk, ibu udah biasa sendiri gak papa.lagian rumah kita juga hanya beda beberapa blok."
Ibu Dzifa memiliki sifat yang sama seperti Dzifa keras kepala dan tak mau membebani juga merepotkan orang.meskipun dengan anaknya sendiri.
"Ya sudah kalau seperti ibu maunya ibu.namun bolehkan kita mengunjungi ibu dan menginap disaat kita tidak sedang sibuk" Ucap Lutfi.
"Iya boleh" Jawab Ibu.
Lutfi dan Dzifa pun bernafas lega.menghadapi Ibu harus seperti menghadapi Dzifa pikir Lutfi, tak perlu keras namun harus bisa mengolah kata dengan baik memiliki inti tujuan yang sama namun dengan kata yang halus agar tak mendapat penolakan dan tak menyinggung.
"Ya sudah, kalian istirahatlah.ibu akan masak buat kalian " Jawabnya.
Ibu Dzifa pun bergegas ke dapur.sedangkan Dzifa Dan Lutfi masuk kekamar Dzifa.
"Alhamdulillah" Lirih Dzifa.Lutfi pun menatap Dzifa lalu mencium pucuk kepalanya seraya tersenyum.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Aduh udah lama banget gak up.maaf yah π