
...••••••••••••••...
...Cukup kamu sampai mati......
...•••••••••••••...
...***...
"Om Liko!, kata Bunda ndak boleh anyak-anyak cewek, ntik macuk api nelaka, mau?", omel Argan saat melihat Riko yang tersenyum-senyum seperti orang gila sambil melihat layar ponselnya.
Riko pun lantas menoleh dengan wajah masam. Emang tidak diragukan lagi kalau Argan itu anaknya Reagan. Anak sama Bapak sama aja. Sama-sama mulut bon cabe.
"Bocil diam aja!, enggak usah sok tau", sahut Riko yang membuat Argan langsung melompat naik keatas pangkuan cowok tersebut. Membuat Riko refleks menangkap si kecil dengan mata yang membelalak. Jika jatuh, alamat sudah Riko dibunuh oleh Reagan.
"Kadu onty Piona, mau?", ancam Argan dengan mata yang melotot menatap Riko.
Riko gelagapan dan menyengir, "Beli pecawat gimana?", ujarnya mencoba untuk bernegosiasi.
Argan tersenyum miring dan menepuk pelan pipi sahabat Ayah nya itu, "Lego tambah pesawat besar", bisiknya yang membuat Riko kontan mengucap. Kayaknya si kecil mempunyai bakat untuk menjadi perampok. Habis sudah uang gajinya. Mana tuh uang tabungan untuk menikah lagi.
"Pesawat atau Lego, pilih salah satu", Riko menatap tegas Argan yang sudah turun dari pangkuannya dan berdiri sambil bersidekap menatapnya. Benar-benar bossy.
"Lego tambah pecawat atau kadu onty Piona?", Argan sama sekali tidak terintimidasi oleh Riko.
Riko lantas menghela nafas pasrah, "Iya-iya", balasnya dengan sepenuh hati. Riko merasa menyesal telah menuruti permintaan bocah itu untuk datang kerumahnya. Jika tau begini, Riko tidak rela meninggalkan kasurnya yang nyaman.
"Yeay!, thank you uncle Liko yang gantengnya cetengah", teriak Argan girang seraya mencium sekilas pipi Riko.
Cowok itu mendengus dan memutar bola matanya jengah, "Apa sih cita-citanya?", gumam Riko pelan yang ternyata dapat di dengar oleh Argan.
"Jadi pilot lah", sahut bocah tersebut dengan fokus memainkan pesawatnya. Memegang mainannya tersebut sambil berlari mengelilingi sofa yang diduduki oleh Riko.
"Ih, pilot cepat mati", celetuk Riko.
"Ih, belalti Om Liko gak pelcaya cama Tuhan. Istighfal Om, udah tua", ujar Argan yang membuat rahang Riko terasa ingin copot seketika. Itu pas bayi mulutnya diolesi minyak angin kali ya.
"Bunda!, kalau Om-om dulhaka masuk api nelaka yang mana Bun?", seru Argan memanggil Arinta yang tengah asik bermain puzzle bersama saudari kembarnya.
"Jahannam", balas Arinta tanpa menoleh kearah putranya.
"Tuh dengelin, neraka namnam."
Riko yang mendengar itu antara ingin tertawa dan mengumpat melihat tubuh gembul nya yang berlari dengan memegang pesawat.
"Jahannam pinter", ucap Riko seraya menepuk pelan bokong Argan saat bocah itu berjalan melewatinya.
Argan berhenti dan menatap horor Riko, "Tambah pecawat dua!."
"Iya-iya, ampun tuan muda."
"Nah bagus, kacung emang halus holmat sama bos", cerocos Argan yang membuat Riko menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Argan", tegur Arinta saat mendengar ucapan Argan yang kurang sopan. Sebenarnya itu salah Riko juga, sebab cowok itu lah yang mengajari putranya kata-kata seperti itu. Dan Argan yang emang pada dasarnya beo serta memiliki ingatan yang tajam, lantas selalu mengingat setiap kata-kata yang di dengarnya.
"No Algan, but Alganteng", ujar Argan yang terdengar seperti slogan. Membuat tiga orang yang berada di sana hanya bisa memutar bola matanya malas.
"Wusss, wusss, eh", Argan berhenti berlari ketika pesawatnya tak sengaja menabrak sesuatu. Lantas lelaki kecil itu mendongak keatas dan tersenyum sumringah saat melihat siapa orang yang ada dihadapannya.
"Pap-"
"Ssstt", Reagan buru-buru membekap mulut Argan saat anaknya itu ingin berteriak memanggilnya. Dan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, menyuruh Argan untuk tidak berbicara.
"Arganteng, awas kepalanya jedot", celetuk Riko dengan pandangan yang fokus kearah ponselnya.
"Om Liko gantengnya setengah, awas Onty Piona kabul", sahut Argan membuat Reagan terkekeh pelan.
"Bunda kenapa?", tanya Reagan berbisik lirih sambil menatap Arinta yang sepertinya badmood. Terbukti dengan cara istrinya itu yang seperti setengah hati menyusun puzzle.
"Lindu Papi, katanya", sahut Argan dengan berbisik juga.
Reagan tersenyum dan mengelus sayang rambut putranya. Ia memang tidak membawa keluarga kecilnya bersamanya mengikuti perjalanan bisnis kali ini, karena si kembar yang sudah mulai bersekolah selama seminggu ini.
Lalu Reagan berjalan mengendap-endap dengan Argan yang berada dalam gendongannya. Menghampiri Arinta dan Rea yang membelakanginya. Cowok itu melirik Riko yang sudah tengkurap di atas sofa sambil bermain ponsel. Membuat Reagan ingin sekali menendang sahabatnya itu.
Langkah Reagan terhenti saat Rea berbalik dan menatapnya tanpa ekspresi. Kemudian Reagan dengan cepat mengisyaratkan pada putrinya itu untuk tidak memberitahu jika dirinya sudah pulang.
Rea menatap Papi nya sebentar lalu beralih menatap Argan yang juga menirukan isyarat seperti Reagan.
Setelah itu Rea kembali menatap puzzle yang ada di atas meja dengan acuh. Membuat Reagan menghela nafas lega dan kembali melanjutkan langkahnya.
Namun itu tak berlangsung lama saat Rea berceletuk yang membuat Reagan berdiri mematung.
"Bunda, Papi pulang", Rea berujar dengan datar sambil menyusun puzzle nya.
Arinta yang mendengar itu sontak berbalik ke belakang. Menatap Reagan yang sudah menggendong putranya.
Lantas lengkungan sabit itu muncul begitu lebarnya di bibir Arinta. Tanpa aba-aba lagi perempuan itu bangkit dari duduknya dan berlari kearah Reagan. Memeluk tubuh Reagan yang terhalangi oleh Argan.
Reagan tak urung mengulum senyumnya. Setidaknya pelukan Arinta setimpal dengan suprise nya yang gatot, gagal total.
Argan yang merasa paham akan situasi pun lantas turun dengan sendirinya dari gendongan Reagan. Tak ingin mengganggu acara menyalurkan rindu antara orang tuanya itu.
"Kenapa?, rindu, hm?", bisik Reagan sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil istrinya.
Arinta tidak menjawab. Ibu dua orang anak itu membenamkan wajah sedalam-dalamnya ke dada bidang Reagan. Menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh suaminya.
"Seharusnya yang lari kayak gini itu Rea, bukan kamu", ujar Reagan melihat kearah putrinya yang masih sibuk bermain puzzle. Seperti tidak ada kerinduan untuk Ayahnya.
Arinta sontak melepaskan pelukannya dan menatap jengkel Reagan, "Nyebelin!."
Reagan terkekeh pelan dan mencium sekilas kening Arinta.
"Papi", Argan menarik ujung jas yang dikenakan Reagan, membuat Papi nya itu menunduk sambil mengangkat sebelah alisnya, "Papi bawain yang Algan minta?", bisiknya sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Agar Arinta tidak dapat mendengar ucapannya.
"Apa?, Argan minta apa?", tanya Arinta saat mendengar ucapan putranya. Percuma ditutup-tutup kalau bicaranya aja kayak orang yang lagi teriak.
"No Algan, but Algan-"
"Minta apa?", sela Arinta dengan menatap tegas Argan.
Reagan berjongkok, menyamaratakan tinggi tubuhnya dengan Argan. Lalu menyerahkan sebuah paper bag berisi iPad terbaru yang diminta oleh Argan, "Punya Arganteng", ujar Reagan seraya mengelus surai cokelat gelap itu.
Argan tersenyum sumringah dan mencium seluruh permukaan wajah Reagan, "Yeay, Papi calon macuk curga", ujar si kecil yang membuat Arinta menggelengkan kepalanya. Reagan terlalu menuruti apa yang di mau oleh anak-anaknya. Arinta tidak ingin apabila Argan dan Rea terbiasa menganggap bahwa semua yang mereka inginkan bisa didapatkan dengan mudah. Dan menyepelekan apa itu namanya sebuah perjuangan.
Lalu laki-laki kecil itu segera berlari kearah Riko. Menepuk cukup keras punggung Riko yang tengkurap.
"Bantu Algan, Om Liko gantengnya yang udah penuh", ujar Argan membuat Riko menghela nafas dan langsung mendudukkan tubuhnya dengan tak ikhlas.
"Bantu ap-, Eh bocil, nyuri dimana tuh apel di gigit", Riko kaget saat melihat Argan yang memegang sebuah iPad dengan merk yang sudah sangat terkenal itu.
"Papi dong. Kan Papi nya Algan kaya", sahut Argan dengan sombong.
Membuat Riko memutar bola matanya dan kemudian melirik kearah dua orang yang tengah asik berpelukan.
"Woi, nyet. Buat gue mana?", teriak Riko menginterupsi Arinta dan Reagan.
"Kalau udah nikah", balas Reagan datar.
Riko lantas mengusap dadanya berkali-kali. Mencoba sabar dengan keluarga abnormal tersebut. Lalu ia membawa Argan ke atas pangkuannya. Membantu bocah itu untuk menghidupkan benda persegi tersebut.
"Rea, kemari", Arinta memanggil putrinya. Membuat Rea mendongak lalu berjalan pelan kearah orang tuanya. Tanpa ekspresi sama sekali, benar-benar datar.
"Hm?", Anak perempuan itu mengangkat sebelah alisnya setelah sampai di depan Reagan dan Arinta.
Reagan tersenyum dan berjongkok, "Papi bawain Rea macam-macam buku", ujarnya seraya menunjukkan beberapa buku kepada putrinya itu. Dari yang berbahasa Inggris, Indonesia dan Jerman. Reagan tau jika Rea saat ini sedang tertarik mempelajari bahasa Jerman, makanya ia membelikan lebih banyak buku yang berbahasa Jerman.
"Makasih", ucap Rea sambil menerima paper bag yang berisi buku-buku tersebut.
"Rea gak rindu Papi?", tanya Reagan merasa terluka melihat respon Rea yang biasa-biasa saja. Tidak ada kecupan terima kasih seperti yang dilakukan oleh Argan tadi.
Rea menatap sejenak Reagan. Kemudian langsung memeluk leher Papi nya itu, "Lindu", gumamnya diantara ceruk leher Reagan, membuat cowok itu tersenyum dan mengelus surai panjang putrinya. Rea memang begitu, ditanya terlebih dulu baru mau mengungkapkan apa yang tengah dirasakannya.
"Makasih Papi", ujar Rea sambil menatap wajah Papi nya.
"Sama-sama", Reagan menciumi seluruh permukaan wajah putrinya.
Setelah itu Rea tidak sengaja menatap sesuatu yang ganjil di area leher Reagan. Lantas ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh sambil berujar, "Sakit?."
Reagan mengernyitkan keningnya tak paham lalu ikut menyentuh sekilas lehernya dan melihat tangannya yang terdapat bercak berwarna merah muda.
Arinta yang merasa penasaran pun turut jongkok untuk melihat kearah leher Reagan. Dan matanya dibuat lebar seketika saat melihat bercak lipstik yang sudah sedikit memudar di kulit leher suaminya.
Tentu saja Arinta tidak bodoh, itu pasti bekas cap bibir seorang perempuan. Jantung nya terasa lemas seketika. Tubuhnya seperti mati rasa. Ini yang selalu Arinta takuti dari sebuah hubungan, yaitu pengkhianatan. Ia takut dikecewakan terlalu dalam sehingga membuat hatinya tertikam dengan sangat ganas. Kebahagiaan yang ia rasakan ternyata sangat lah singkat.
Lalu tangan Arinta terulur bergetar hendak menyentuh leher Reagan, "Si-siapa?", tanyanya terbata-bata.
"Ini...", Reagan tampak bingung bagaimana menjelaskannya kepada Arinta.
"Jangan bilang lo selingkuh setan", tuding Riko menatap horor Reagan. Jika benar, maka Reagan adalah cowok terbodoh yang menyia-nyiakan istri secantik dan sebaik Arinta. Arinta itu adalah paket komplit.
"Diam lo sat!", ketus Reagan membuat Riko kicep dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Rin, ini-"
"Hanya orang bersalah yang menjawab dengan terbata-bata", seru Arinta pelan dengan menatap terluka kearah suaminya itu. Lalu ia berdiri sambil memalingkan wajahnya.
Reagan pun lantas ikut berdiri dan memegang pundak Arinta, "Enggak Rin, ini itu-"
"Bekas bibir gue."
Semua orang yang berada di ruang keluarga itu sontak menoleh kearah dua orang yang sedang berjalan memasuki ruangan.
"Hah?, maksudnya gimana?", celetuk Riko tak paham. Jangankan Riko, Arinta pun tidak paham. Bagaimana bisa Zidan yang mencium leher Reagan. Apakah cowok itu sudah gila.
"Nih bumil satu ini ngidam lihat gue cium leher Reagan pakai lipstik", sahutnya sambil cemberut menatap Gina yang sudah santai duduk diatas sofa sambil memakan camilan diatas meja. Benar-benar seperti tidak bersalah.
Istrinya itu menyuruh Zidan melakukan hal gila tersebut tepat disaat Reagan baru saja turun dari pesawat. Membuatnya menjadi pusat perhatian di bandara. Mungkin saja mereka berfikir jika Zidan dan Reagan adalah pasangan yang kelainan seksual.
"Beneran Gin?", tanya Arinta kepada Gina yang terlihat mengangguk singkat membuat Arinta menghela nafas lega. Serta mendongakkan kepalanya keatas, mencegah cairan bening yang tadinya sudah berkumpul di pelupuk mata untuk jatuh.
Kecemasan Arinta tidak berarti apa-apa.
"Terus kenapa kamu ngomongnya gagap?", Arinta menatap sinis Reagan.
"Ya gak mungkin aku bilang kalau ini cap bibir Zidan, kan aneh", sahutnya sambil bergidik ngeri membayangkan adegan di bandara tadi.
"Ya kan-"
"Rin, mau sirup", pinta Gina menyela ucapan Arinta. Membuat cewek itu refleks menoleh kearah sahabatnya yang sudah menatapnya dengan memelas.
"Oh, bentar. Aku ambil dulu", ujar Arinta lalu bergegas ke arah dapur. Bahaya kan kalau keinginan bumil tidak dipenuhi. Bahkan ia sudah melupakan kekesalannya terhadap Reagan.
"Ngerepotin", sarkas Reagan seraya melirik Riko, Zidan dan Gina yang telah mengganggu quality time keluarga kecilnya.
Kemudian Reagan langsung menyusul Arinta ke dapur. Setelah mengantarkan Rea ke kamarnya terlebih dahulu. Sedangkan Argan, si beo kecil itu duduk dengan anteng di samping Riko dengan fokus bermain iPad miliknya. Bahkan menulikan telinganya terhadap sekitarnya.
Reagan berjalan mengendap-endap menghampiri Arinta yang berdiri membelakanginya. Istrinya itu tengah meletakkan minuman dan camilan keatas nampan. Lalu Reagan langsung memeluk Arinta dari belakang yang membuat cewek itu sontak menoleh kaget.
"Reagan!."
"Gimana Rin?, tadi jantung nya mau copot?", bisik Reagan tak menghiraukan pekikan Arinta. Sebenarnya Reagan antara ingin ngakak dan cemas saat menatap mata Arinta yang berkaca-kaca melihat lehernya tadi.
"Enggak", jawab Arinta ketus seraya memalingkan wajah.
Reagan tersenyum tipis dan mengecup pipi istrinya sambil berujar dengan lirih, "Aku gak mungkin selingkuh kalau punya istri kayak kamu. Cuma kamu sampai mati."
Cup.
...~Rilansun🖤....
...L A S T...
Baby A. R