
...••••••••••••••••••••...
...Terkadang kita merasa telah menggenggamnya dengan sangat erat. Namun, kita lupa jika sesuatu yang digenggam terlalu erat bisa hancur nantinya. Lalu dia akan menghilang menjadi serpihan kenangan yang menyakitkan.......
...•••••••••••••••••••••...
...***...
Renata menatap sendu kearah wajah putranya yang terlihat bahagia. Binar kebahagiaan yang jarang sekali ditunjukkan Reagan. Walau tampangnya datar, tapi Renata paham kalau saat ini putranya itu sedang sangat bahagia.
Renata tahu jika ada perempuan lain yang mungkin sedang menangis diluar sana saat ini. Tapi Renata harus bagaimana. Disatu sisi ia adalah seorang ibu, dan kebahagiaan anaknya adalah prioritas bagi seorang ibu. Namun, disisi lain ia juga seorang perempuan. Perempuan mana yang tak sakit hatinya disaat telah digunakan lalu dicampakkan begitu saja. Renata merasa harga dirinya sebagai perempuan juga ikut tercoreng. Dan itu karena Reagan, putra satu-satunya.
Tapi saat ini perannya adalah seorang ibu. Dan kebahagiaan Reagan adalah nomor satu.
"Oke, kalau gitu kita langsung aja keacara intinya. Untuk itu kami persilahkan kepada tokoh utama malam ini untuk maju kedepan dan saling menukar cincin", kata MC bergema di ballroom salah satu hotel terkenal di Jakarta.
Reagan yang baru saja mengobrol dengan teman-temannya lantas mencari Laily dan menggandeng tangan perempuan itu untuk maju kedepan. Untuk segera mengikat Laily dengan sebuah gelar tunangan.
"Duh, si mbak nya shy-shy cat ya", Laily yang mendengar godaan dari MC tersebut sontak bersemu merah. Kan ia malu digoda didepan orang ramai seperti ini.
Reagan menatap penuh puja kepada Laily. Perempuan itu sangat-sangat cantik malam ini. Ralat, Laily memang selalu tampil cantik dimata Reagan.
Diiring dengan alunan piano klasik dan ditemani oleh orang tua mereka. Reagan mengambil tangan Laily. Memegang dengan lembut jari-jemari perempuan nya. Namun teriakan nyaring seseorang menggunakan mic membuat Reagan terkejut dan refleks menjatuhkan cincin yang baru saja akan ia sematkan di jari manis Laily.
"BERHENTI!", teriak seseorang dari arah depan ballroom.
"Gina?", tanya Renata bingung melihat keponakannya yang datang menggunakan pakaian casual dan terlihat sangat murka.
Gina melirik orang-orang dengan datar lalu ia menoleh menatap Papa nya dan memberi isyarat kepada pria itu agar menyuruh anak buahnya untuk membawa para tamu keluar.
Setelah para tamu keluar dan hanya tersisa keluarga serta para sahabat. Lantas Gina berjalan mendekat kearah dua sejoli yang tengah dilanda kebingungan itu. Laily menatap penuh tanya kepada Gina, dari mana saja sahabatnya itu. Datang-datang langsung buat keributan.
"Apa maksud lo?", tanya Reagan dingin. Tak suka acara yang telah ditunggu-tunggu nya harus tertunda.
Gina tersenyum miring dan melirik Laily yang mengernyitkan dahi, "Lo cantik malam ini. Tapi sayang acara lo harus gagal juga didetik ini", bisiknya tepat ditelinga Laily.
"Apa maksud lo Gin?", ujar Laily, "Gue enggak paham."
"Lo emang enggak harus paham. Karena yang harus paham disini itu dia", Gina menunjuk sinis Reagan dengan jari telunjuknya.
Reagan mematung. Cowok itu paham kemana arah pembicaraan Gina saat ini. Tapi ini bukan saat yang tepat untuk membahas hal itu. Setidaknya tunggu sampai ia dan Laily bertunangan.
"Bukan sekarang waktunya Gina", Reagan menatap tajam serta menusuk kearah Gina. Berharap cewek itu paham akan maksudnya.
Gina terkekeh pelan. Kekehan yang mengejek, "Bukan sekarang?, jadi kapan?, tunggu anak lo lahir?", ujarnya sarkas. Membuat orang-orang yang belum tahu tentang masalah itu langsung berbisik-bisik dengan segala asumsi mereka.
"A-anak?", tanya Laily terbata-bata. Ia mungkin tak sepintar Gina dan Arinta dibidang pelajaran. Tapi ia juga tidak terlalu bodoh untuk mengartikan ucapan Gina.
"Iya, anak", jawab Gina santai.
"Gina!", bentak Reagan membuat semua orang terkejut kecuali Gina tentunya. Sebab tidak ada yang dapat menggertaknya kecuali ia mengaku salah.
"Maksud lo apa Gin?", Laily mendekat dan memegang lengan Gina. Memaksa cewek itu untuk bercerita.
Gina menatap datar kepada Laily. Ia sebenarnya sangat kasihan melihat wajah gelisah dan ketakutan sahabatnya itu. Tapi ia juga kasihan dengan nasib Arinta bila pertunangan ini akan terus berlanjut.
Dan, itu semua karena sepupu brengs*k nya.
"Ikut gue sekarang", Reagan menarik paksa tangan Gina untuk keluar. Namun langsung ditepis dengan kuat oleh cewek itu.
"Jangan sentuh-sentuh gue!, gue jijik mengakui kalau lo sepupu gue!", sinis Gina yang mendapat bentakan dari Renata.
"Gina!."
"Apa Tante?", tanya Gina menantang, "Mau marahin aku?, seharusnya yang Tante marahin itu anak Tante sendiri. Anak yang selalu disayangi ini!."
Laily menatap bingung kepada mereka. Sungguh, ia merasa seperti orang dungu ditengah-tengah keramaian ini, "Gina lebih baik lo ngomong apa maksud lo lakuin semua ini. Jangan berbelit-belit", ujarnya.
"Justru cowok brengs*k ini yang berbelit-belit", tunjuk Gina pada Reagan, "Dia udah buat hidup sahabat gue susah. Cowok lo ini, udah buat Arinta sengsara!", ujar Gina dengan emosi yang membara.
Deg
Lalu Laily menatap terkejut kearah Reagan yang juga tengah menatapnya. Laily perlahan mundur disaat Reagan mencoba menggapai tangannya. Laily merasa kecewa, dan ia juga merasa dikhianati. Sialnya itu dilakukan oleh dua orang yang sangat berarti untuknya.
Ternyata cinta dan sayang yang Laily rasakan selama ini, bukanlah murni miliknya. Apa yang ia genggam selama ini, ternyata tidak pernah benar-benar ada dalam genggamannya.
"Bajing*n", desis Laily membuat Reagan berhenti dan mematung ditempatnya. Jantungnya terasa berhenti berdetak mendengar umpatan kasar dari kekasihnya. Perempuan yang sangat Reagan puja setelah Bundanya.
"Kenapa lo bohong sama gue. Kenapa kalian enggak kasih tau gue sama sekali. Kalian anggap gue ini apa!", teriak Laily marah lalu berlari keluar dari ballroom diikuti oleh kedua orang tua gadis itu. Reagan ingin mengejar tapi langsung dicegah oleh Gina. Ada masalah yang lebih penting dari itu.
Reagan mengusap frustai rambutnya. Semuanya berakhir, telah usai tanpa sisa sedikitpun. Lalu ia mendongak dan menatap sinis sepupunya itu.
"Lo terlalu ikut campur kedalam hidup gue", ujar Reagan datar plus dingin.
"Kalau ini enggak menyangkut Arinta, gue juga ogah ikut campur masalah lo. Buang-buang waktu", jawab Gina tak kalah datar.
"Emangnya Arinta siapa lo?, sampai segitunya lo belain si cupu!", ujar Reagan tersulut emosi.
Gina mengepalkan tangannya, "Dia itu lebih dari sekedar sahabat buat gue. Dia itu lebih penting dari lo yang notabenenya sepupu gue. Gue pernah ngerasain kehilangan adik gue Reagan", tubuh Gina bergetar, membuka luka lama itu memang sangat menyakitkan, "Dan gue enggak mau kehilangan adik untuk kedua kalinya. Lo tanya Arinta itu siapa?, Dia adik gue!. Gue sebagai kakaknya, enggak terima lo gituin adik gue!", tambah Gina membuat seluruh keluarga terkejut. Mereka tidak pernah melihat Gina berbicara sepanjang ini dengan nada yang terdengar marah dan menyedihkan.
"Dan Tante!, Tante itu orang tuanya. Kenapa Tante enggak bilang sama Reagan kalau apa yang dilakukannya itu salah. Kenapa Tante tetap melanjutkan pertunangan ini. Tante juga perempuan kan, Tante juga pernah merasakan hamilkan?. Tapi Gina yakin, Tante pasti enggak tau gimana rasanya hamil tanpa seorang suami!", Gina tersenyum miring diakhir kalimatnya.
Renata menunduk, "Tapi Tante seorang ibu Gina. Kebahagiaan anak Tante itu nomor satu", ujarnya pelan tapi masih dapat didengar, sebab tidak ada orang yang berbicara. Semuanya diam menyaksikan.
Renata paham jika ia salah karena tidak menghentikan Reagan. Suaminya juga menolak Reagan untuk tetap melanjutkan pertunangan dengan Laily. Tapi Renata bersikeras membujuk Xavier agar Reagan tetap bertunangan. Untuk kebahagiaan putranya, apapun Renata lakukan. Dan berakhir dengan Renata yang menang berhasil membujuk Xavier.
Namun, suaminya itu tidak mau menghadiri acara pertunangan putranya. Pria itu pergi keluar negeri dengan alasan kerja. Padahal Renata paham, jika Xavier sangat kecewa padanya dan juga Reagan.
Tapi, Renata harus bagaimana lagi. Posisinya sangat sulit.
"Tapi sebelum jadi seorang Ibu. Tante itu seorang anak perempuan. Apa Tante terima kaum Tante dilecehkan begitu aja?. Sekarang Gina baru tau, dari mana sifat egois Reagan itu berasal!", sarkas Gina mendapat teguran dari Rihanna-Mama nya. Bagaimana pun Renata tetaplah tantenya, kakak perempuan dari ibunya.
"Lanjut sayang!, Lanjut!."
"Pukul dong Gin. Payah lo. Enggak seru ah, masa cuma adu mulut doang!"
"Si Reagan sekali-kali dibogem enggak apa-apa kali. Biar enggak sok tampan terus tuh anak!"
"Dia emang ganteng bodoh. Emang nya lo, muka seribu lima. Reagan itu limited edition, namanya juga blasteran. Ya, kalah sama kita yang belepotan!"
"Lo aja yang belepotan", ujar Zidan tak terima.
"Sial-"
"Diam lo!", Gina melempar mic yang dari tadi dipegangnya kearah Zidan dan Riko yang asik beradu mulut.
Dua laki-laki yang sedang memegang piring berisi makanan itu, lantas langsung menjatuhkannya dan bergegas bersembunyi dibelakang tubuh besar Revo.
"Mamp*s. Berisik sih!", ejek Revo menatap lurus kedepan. Hanya mereka bertiga yang hadir. Ardean?, cowok itu tidak datang dengan alasan sakit. Mereka memaklumi, sebab jarang-jarang si kembaran es batu itu sakit.
Gina mendekat kepada Reagan, "Jangan coba-coba lari dari tanggung jawab lo dude", bisik Gina seraya menepuk bahu Reagan. Kemudian cewek itu berlenggang pergi tanpa menghiraukan orang-orang yang berada didalam ballroom tersebut. Untung saja neneknya tidak dapat hadir. Kalau tidak mana berani Gina berbicara seperti itu kepada Tante nya. Tapi disini Reagan lah yang bersalah, dan Gina hanya meminta keadilan untuk Arinta.
...***...
Sementara itu ditempat lain. Arinta menatap penuh minat kearah gulali dan es krim yang dipegangnya. Ini yang ia inginkan tapi tak berani bilang kepada Raka. Habisnya adik cowoknya itu cepu banget sih.
Sekarang Arinta sedang berada di pasar malam. Suara orang-orang yang tengah bermain permainan bercampur aduk bagaikan paduan suara dengan sahutan-sahutan orang-orang yang berjualan. Benar-benar sangat ramai dan gaduh.
"Kayak anak kecil banget sih lo", Arinta terkejut dan mendongak kesampingnya disaat kepalanya terasa dielus.
Arinta tersenyum canggung, "Makasih", ujarnya tulus. Membuat cowok yang disampingnya ikut tersenyum.
"Terkadang hal yang sangat menyakitkan itu akan sangat membekas di ingatan. Maka nya, lo harus melupakan sesuatu yang buat lo sakit. Karena gue yakin, lo pasti enggak mau kenangan buruk tercetak di ingatan lo kan?. Ya iyalah mana ada orang yang mau buruk-buruk, semuanya kalau bisa itu kenangan yang baik-baik", ujar cowok itu bertanya dan menjawabnya sendiri.
Arinta tersenyum. Bukan senyuman canggung seperti beberapa detik yang lalu. Tapi senyuman manis nan tulus yang membuat siapa saja orang yang melihatnya akan terpukau.
Benar, semua kenangan buruk itu harus dilupakan bukan disimpan.
...~Rilansun🖤....