Brittle

Brittle
Menginap



...•••••••••••••...


...Jangan terlalu mencintai jika tak ingin disakiti begitu dalam.......


...•••••••••••••...


...***...


Reagan melirik Arinta yang duduk berseberangan dengan nya. Cewek itu hanya diam dan fokus pada makanan nya. Entah apa yang terjadi sehingga Arinta berubah menjadi kulkas berjalan seperti itu. Arinta tidak berbicara pada nya dari tadi sore. Sampai mereka makan malam pun cewek itu tetap bungkam dan menyuruh Bi Ina untuk duduk bersama mereka.


Walau Reagan belum mau berbicara padanya. Tapi setidaknya Arinta mau bertanya beberapa hal kepada Reagan. Namun kini, istrinya itu hanya menatap datar kearahnya dan tidak mau berbicara sama sekali.


Seharusnya Reagan yang marah disini bukan Arinta.


Huh, menyebalkan. Cewek dan segala pemikirannya sangat menyebalkan.


"Assalamualaikum."


Mereka bertiga sontak menatap kearah asal suara tersebut. Seorang wanita paruh baya yang masih cantik dalam umurnya berdiri menatap mereka.


Arinta membelalakkan matanya kaget. Tak percaya jika Renata datang ke apartemen mereka. Ini adalah pertama kalinya wanita itu datang kesini setelah hari pernikahan.


Lalu tanpa pikir panjang lagi, Arinta bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Renata. Memeluk mertuanya itu dengan sedikit canggung.


"Apa kabar B-bun?", tanya Arinta dengan gugup saat memanggil Renata. Ia masih belum terbiasa saja.


Renata tersenyum sambil mengelus puncak kepala menantunya, "Baik. Kamu juga baik kan?."


Arinta menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis.


"Kenapa kemari Bun?", celetuk Reagan tanpa mengalihkan perhatian nya dari makanan yang ada dihadapannya. Malah suara cowok itu terdengar tidak suka melihat Bunda nya datang.


"Dasar malin kundang!", Renata memukul kepala Reagan dengan beberapa buku tebal yang ada di tangannya. Membuat cowok itu meringis kesakitan. Lihat lah, Bunda nya itu tidak pernah benar-benar sayang kepadanya. Hanya ada Xavier di mata wanita yang telah melahirkannya itu.


"Ibu tiri."


Tuk


"Bunda pecat ya kamu jadi anak. Sana cari orang tua baru", ketus Renata dan mengambil duduk tepat di samping Reagan. Mengabaikan putranya yang tengah menahan rasa sakit. Dua kali di tabok dan itu dengan beberapa buku yang tebal puls. Untung saja kepala Reagan buatan Tuhan, kalau buatan manusia sudah pasti hancur.


"Makan Bun?", tawar Arinta ramah.


"Ah, enggak usah Bunda udah makan tadi", tolak Renata dengan halus.


"Bagus lah, enggak buang-buang nasi", sahut Reagan yang membuat Renata bersiap-siap untuk kembali memukul kepala cowok itu. Namun Reagan lebih dulu menghentikan nya.


"Dosa loh Bun, aniaya anak sendiri", ujar Reagan memperingati.


"Kata siapa kamu anak Bunda. Kamu itu anak yang diantarkan pas hujan-hujan di depan teras rumah", balas Renata.


Reagan menyeringai, "Terus Bunda enggak curiga gitu, kalau aku anak selingkuhan Ayah dengan cewek lain?."


Renata melotot menatap Reagan, "Ih dasar mulutnya minta di ruqyah. Anak siapa sih kamu?."


"Anak dapat", sahut Reagan datar dan kembali fokus dengan makanan nya. Membuat Renata banyak-banyak mengelus dada sabar.


Arinta yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Reagan dan Renata itu adalah pasangan ibu dan anak yang cukup unik. Dan mereka itu juga sama-sama keras kepala dan egois.


"Itu apa Bun?", Arinta melihat kearah paper bag dan beberapa buku yang ada di atas meja.


"Oh, ini Bunda bawain beberapa buku untuk kalian ujian nanti. Dan juga sedikit camilan buat kamu", jawab Renata dan memberikan paper bag itu kepada Bi Ina yang sudah selesai makan.


Arinta tersenyum tulus, "Makasih Bun."


"Ah, enggak usah sungkan. Kamu itu juga anak Bunda. Bunda udah kenal kamu dari bayi, tapi sayang waktu kita berjumpa saat itu sangat singkat", Renata menatap nanar Arinta yang duduk dihadapannya. Mengingat kembali wajah Arinta kecil yang sangat menggemaskan. Bahkan wajah cewek itu tidak banyak berubah. Cantiknya alami dari kecil.


"Yang diperhatiin dulu itu anak, bukan orang lain", cetus Reagan sambil menegak air sebagai penutup acara makannya.


"Ngapain bapak-bapak kayak kamu Bunda perhatiin. Enggak guna."


Uhuk uhuk uhuk


Reagan terbatuk-batuk setelah mendengar ucapan sang Bunda, "Astagfirullah nyonya, tuh mulut kurang sajen kayak nya."


Renata mencebikkan bibirnya kesal, "Emang kurang sajen, Ayah kamu dia pergi ke luar kota lagi."


Lalu Renata menatap Arinta dengan sedih, "Betul kayak gitu?", cicitnya pelan.


Arinta mengerjapkan matanya pelan. Ia tidak paham akan maksud dari mertuanya itu, "Ma-maksud nya Bun?."


"Apa iya Ayah kamu punya selingkuhan diluar kota sana."


Arinta gelagapan saat melihat mata Renata yang berkaca-kaca. Sepertinya Renata sangat mencintai Xavier. Sampai membuatnya lupa untuk percaya pada dirinya sendiri.


"Enggak usah percaya apa yang dibilang Reagan. Bunda kayak enggak tau aja, setan dikasih wujud ya kayak gitu jadinya", sahut Arinta lalu menuntun Renata untuk berpindah duduk kearah ruang keluarga.


"Tapi sekarang Ayah udah enggak kayak dulu. Dia lebih sering ngabisin waktunya di kantor. Pulang nya pas Bunda udah tidur dan pergi sebelum Bunda kebangun. Selama ini Bunda berusaha buat positive-thinking. Tapi setelah dengar apa yang dibilang Reagan, Bunda jadi takut", Renata menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menangis sesenggukan.


Itulah mengapa Arinta tidak ingin terlalu mencintai. Karena cowok itu hanya sebuah titipan. Kalau enggak diambil Tuhan, ya diambil cewek lain.


Dan Arinta tidak ingin menangis hanya karena hal itu.


"Bunda harus yakin dong dengan kekuatan cinta kalian", Arinta mengusap punggung Renata. Berusaha menenangkan mertuanya itu. Ini semua karena Reagan. Sepertinya gelar yang Arinta berikan itu tidak lah salah. Dimana ada Reagan, disitu ada masalah.


"Bunda berusaha buat yakin. Tapi coba aja kamu bayangin, hidup selama dua puluh tahun dengan orang yang itu-itu aja. Pasti sebagai manusia biasa, Ayah juga punya rasa bosan", Renata mengambil tissue yang diulurkan Arinta. Menghapus air matanya dengan masih sesenggukan. Hatinya memang sangat sensitif sekali.


Arinta tersenyum, "Karena dua puluh tahun itu lah, seharusnya Bunda lebih yakin kalau Ayah itu tipe cowok yang setia. Jika memang Ayah itu tipikal orang yang mudah bosan. Seharusnya dia udah selingkuh atau bahkan ceraiin Bunda pas usia pernikahan kalian masih sangat muda. Tapi dia enggak lakuin itu, karena dia menunjukkan kalau dia adalah tipe cowok yang setia hanya pada satu wanita. Seharusnya Bunda bersyukur punya suami kayak Ayah", ujar Arinta panjang lebar.


"Mungkin pada waktu itu karena ada Reagan?", tanya Renata dengan menatap polos menantunya.


"Ayah itu orang besar, berpengaruh, terkenal dimana-mana terlebih dikalangan kaum wanita. Kalau Ayah memang orang yang kayak gitu. Seharusnya pas tau Bunda hamil, Ayah udah minta Bunda buat gugurin kandungan. Dengan segala kuasanya dan sifatnya yang diktator. Apa yang enggak bisa dia lakuin?", jawab Arinta dengan seulas senyuman di bibirnya. Sangat menenangkan.


"Jadi Ayah enggak selingkuh kan?."


Arinta terkekeh pelan. Mengapa wanita itu terlihat seperti abg labil yang takut pacarnya diambil.


"Positive-thinking aja, mungkin Ayah emang lagi banyak kerjaan. Jangan mikir yang aneh-aneh Bun, nanti cepat tua", hibur Arinta.


"Bunda kan emang udah tua", jawab Renata.


"Siapa bilang. Kalau disandingkan sama Reagan, Bunda itu kayak kakaknya tau. Bunda masih cantik kok."


Renata menatap penuh minat Arinta, "Beneran?."


"Iya", Arinta menganggukkan kepalanya.


"Berarti Bunda masih laku dong?."


Arinta menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung harus menjawab apa.


"Sadar umur aja kenapa Bun", Reagan datang dan mengambil duduk tepat di samping Renata.


"Diam kamu. Dasar anak setan", Renata menatap sinis putranya itu. Lalu membelakangi Reagan, tak ingin melihat wajah anaknya yang selalu minta dipukul.


Sementara Reagan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Apakah benar ia ini adalah anak dapat. Punya Ibu kok kayak gini amat ya Tuhan.


"Bunda malam ini nginap disini ya Rin. Boleh kan?."


"Boleh."


"Enggak!. Enggak boleh", protes Reagan dengan suara yang lantang. Enak saja mau menginap. Baru saja semalam Reagan bisa tidur dengan nyenyak.


Renata menoleh kearah Reagan dan menatap datar cowok tersebut, "Yang nanya kamu siapa?", ketusnya dan kembali menoleh kearah Arinta. Menatap penuh harap menantunya tersebut.


Lalu satu anggukan dari Arinta membuat Renata berteriak girang. Sedangkan Reagan, langsung mengabsen nama-nama binatang.


"Bun", Reagan menghadang Renata yang hendak menggiring Arinta menuju kamar mereka.


Renata menyingkirkan tubuh Reagan, "Awas sana!, orang syirik hidupnya enggak pernah tenang", sinisnya dan menuntun Arinta untuk menaiki anak tangga.


"Argh, sial!", Reagan mengusap wajahnya frustasi. Sepertinya Reagan akan kembali begadang untuk malam ini. Bagaimana bisa ia tidur tanpa memeluk anaknya.


Tapi perasaan Reagan saja atau bukan. Ia merasa kalau Arinta tengah menghindari nya. Ah, entahlah.


Kemudian Reagan mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. Setelah sambungan terhubung, Reagan pun langsung berujar dengan datar, "Tuan besar Xavier, harap pulang cepat dan bawa istri anda untuk pergi dari sini."


...~Rilansun🖤....